Childhood Love Story

Childhood Love Story
Cinta dan kepercayaan?


__ADS_3

Ara menerobos kamar Adnan, Hana menoleh saat seseorang tiba-tiba masuk kamarnya.


" Han..., sweater atau jaket, hoodie boleh deh sini...cepet..." Ara berdiri tepat dibelakang Hana yg sedang menyusun jam tangan Adnan.


Hana terkejut dengan penampilan Ara yg acak adul. Rambut acak-acakan, tanktop yg kusut, dan kissmark di mana-mana.


"Hemmmp..ha..ha..ha..." Hana tertawa terbahak melihat sahabatnya itu.


" Kamu kabur dari kak Rangga?" Hana menatap tajam pada mata Ara.


Ara mengangguk mengiyakan.


Hana membuka lemari bajunya dan mengeluarkan hoodie nya.


" Nggak boleh gitu Li, dosa loh..., harusnya kamu lebih tau tentang itu kan...." Ucap Hana lagi.


"Mereka tersiksa loh Li, kalo harus terus-menerus menahan..., ingat juga tentang laknat malaikat" Lanjut Hana.


Ara termenung, memang benar...


Tak seharusnya Ara begini, lari disaat suaminya ingin.


" Wuah...stempel nya banyak banget, kak Rangga keren juga.." Goda Hana sambil mencolek dagu Ara.


" Ish..apaan sih, ..." Ara tersipu malu mengingat apa yg telah dia lalui bersama Rangga beberapa saat lalu.


Badanya terasa hangat setiap kali mengingatnya.


"Celana juga dong Han..." Ucap Ara setelah selesai memakai hoodie nya.


" Emang nggak sakit dipakein celana??, mau rok ada nih.."


tanya Hana heran. Matanya tertuju pada bawah pusat Ara.


" Emang kenapa sakit??" Ganti Ara yg heran.


" Emang belum ya..?" Tanya Hana lagi.


" Belum apa..?" Ara benar-benar nggak ngerti maksud Hana.


" Dimasukin, kaya gini..."


Hana membuat lingkaran dari jari jempol dan telunjuk dengan tangan kanan, lalu memasukan jari telunjuk tangan kirinya.


" Maksudnya???" Ara semakin bingung.


Hana langsung ngeh, berarti belum emang. Dan Hana hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


" Ya sudahlah, lupakan.." Ucap Hana berlalu meninggalkan Ara menuju lemari untuk mengambilkan celana untuknya.


"Hemmm, hebat juga kak Rangga bisa menahan melihat kebeningan Lili..hi..hi.., liat aja berapa lama kak Rangga bisa..."


Batin Hana dengan seringai tipis di bibirnya.


*


Ara menuruni tangga dengan topi hoodie membungkus kepalanya. Di depan ruang TV Ara dapat melihat, papa, Marvel dan Adnan sedang membahas sesuatu.


Sedangkan Rangga dan Brian sedang duduk di karpet bermain dengan Bianca.


" Kamu kenapa mut?, demam?" Tanya Adnan melihat adiknya.


Semua menoleh padanya. Ara mengangguk dan berlalu menuju dapur.


"Jangan lupa minum obat penurun demam sayang.." Sambung papa.


Sementara Ara hanya membentuk simbol oke pada jarinya.


Rangga tersenyum tipis dibuatnya.

__ADS_1


" Tentu saja bang, adek abang demam cinta"


Rangga beranjak berdiri mengikuti Ara menuju dapur, perutnya pedih minta diisi, pulang sekolah lupa belum makan.


" Kakak lapar sayang..." Bisiknya saat mereka telah berada di dapur.


" Iya.., duduk sini, makanya kalau pulang sekolah itu ganti baju trus kesini makan, bukannya melakukan ....." Ara tidak melanjutkan ucapannya. Malu sendiri kan dia.


"Bukan melakukan apa?" Tanya Rangga sambil cengengesan.


Ara menekan pundak Rangga dan menundukkan di kursi meja makan. Wajah gadis itu memerah seperti kepiting rebus.


Rangga manut saja saat Ara menuangkan nasi dan lauk pauknya.


" Baru makan sayang?" Tanya mama Neela yg keluar dari dapur kotor bersama bi Marni.


" Iya mah, mari makan mah..." Ucap Rangga sopan.


" Sok atuh..." Mama Neela mengelus pundak putra dari lelaki masa lalunya.


Aroma rendang yg gurih dan nikmat menguar sampai ke sudut-sudut ruangan. Dian muncul terakhir kali dengan membawa beberapa tepak persegi berisi rendang daging yg masih mengepulkan asap.


Marvel yg mencium aroma masakan favoritnya segera menuju dapur.


" Bungkus dua tempat wife..., satu buat Profesor Pramana.." Instruksi nya pada Dian yg sedang mengotakin rendang.


Dian tersenyum dan mengangguk.


" Kak Dian nggak bosen masakin brothy rendang terus?, liat perut brothy udah buncit kaya gitu..." Ucap Ara disela kunyahanya.


" Nggak masalah buncit, asal bisa buncitin Dian tiap malam mah...." Ucap vulgar Marvel dengan menyesap bibir Dian di depan semua orang yg ada di dapur.


" Marvel!!, ih ada anak kecil disini!!" Teriak mama Neela.


" Elaaah...tante, ini kan salah satu contoh seperti yg om Syakieb bilang, romantisme bumbu keharmonisan, ya kan tan..." Ucap Marvel sambil mencubit kedua pipi tantenya.


" Ya..iya, tapi tidak didepan mereka kamu begituan kali..." Ucap mama Neela nggak sependapat dengan keponakan super badungnya itu.


" Liat cara jalan Lili aja udah jelas, bodohnya si Aga nggak ketulungan.." Lanjutnya.


" Uhukk...uhuuk..uhukk.." Ucapan Marvel membuat Rangga tersedak dengan makanan yg baru akan ditelanya.


Ara segera menyodorkan minum padanya dan sedikit menepuk-nepuk punggungnya.


Mata mama Neela melotot melihat Marvel yg cekikikan, seolah senang dengan derita yang dialami Rangga saat ini.


" Ishhh...., sudah beristri masih juga usil ya kamu....."


"Ah...aduh..aduh..ampun tan, ampun..."


Marvel meringis saat kupingnya dipelintir mama Neela yg sudah geram dengan Marvel.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, setelah membatu mama menyiram taman kecilnya, Ara membantu memandikan Bianca karena Azura lembur jaga perpustakaan.


Gadis itu berlari kecil kekamarnya, saat melintasi ruang kerja papanya, dia dapat melihat Rangga dan yang lainya sedang mendiskusikan sesuatu yg sangat serius, terlihat dari wajah-wajah tegang mereka.


Ara yg cuek hanya menggendikkan bahunya santai.


Saat membuka pintu kamarnya Ara merasa asing.


" Kok kayak ada yang aneh apa ya?" Batinya.


Lagi-lagi Ara cuek dan langsung masuk kamar mandi. Berendam sebentar untuk merilekskan tubuhnya.


Setelah itu membilas tubuhnya di shower. Tangannya menggapai-gapai toilet wardrobe tapi tak ada handuk satupun disana.


Ara menyebulkan kepalanya keluar pintu, tampak Rangga sedang fokus membaca bukunya di sofa.

__ADS_1


"Kak..." Panggilnya.


" Iya..." Jawab Rangga tanpa menoleh, bibirnya terlipat mengulum senyum.


" Yeah..gacha!!! Serunya dalam hati.


" Tolong handuk kak...ntah kemana handuk dikamar mandi nggak ada semua"


Rangga mengangguk dan membuka lemari, lalu berjalan menuju Ara dengan handuk ditangannya.


" Kak ini kecil, yg lain nggak ada ya..?" Suara Ara terdengar oleh Rangga yang masih didepan pintu kamar mandi.


" Ngga ada..., cuma itu.." Ucap Rangga dengan menyembunyikan tawanya.


" Ada kok, coba cari lagi.." Pinta Ara lagi.


" Nggak papalah pake itu aja dari pada kedinginan.." Ucapnya sambil tertawa tanpa suara.


Ara memikirkan ucapan Rangga, bener juga, tubuhnya kini sudah merasakan hawa dingin yg menusuk-nusuk.


"Tapi kakak pergi dulu ya..., Li malu.."


Rangga menutup mulutnya yg hampir tak kuat menahan tawanya.


Pelan Ara membuka pintu, dan keluar dengan ragu-ragu. Handuk kecil hanya sebatas dada sampai paha.


Rangga bersedekap menatap istrinya dari balik pintu balkon kamar mereka.


Matanya menatap tubuh indah istrinya tanpa berkedip. Sungguh mahakarya Tuhan yang istimewa. Punggung putih, rambut tebal hitam, kaki jenjang yg mulus dan seksi. Harus kuat, Rangga harus kuat.


Matanya terpejam beberapa saat.


Inikah yg disebut orang hidup berumah tangga?.


Sesaat lalu papa Syakieb dan lainya memberikan bekal hidup padanya, bahwa hidup berumah tangga harus didasari kepercayaan dan cinta kasih yang kokoh.


Rangga yakin mencitai Ara dengan cinta yang luar biasa, pun Ara.


Tapi kepercayaan??, sedalam manakah Rangga mempercayai Ara???, pun sebaliknya.


Memang mereka sudah saling mengenal baik semasa kecil. Tapi sepuluh tahun mereka tidak bertemu lagi dan tidak saling tahu kisah dibalik sepuluh tahun itu.


Papa Syakieb dan Adnan tadi menyebut satu nama yg selalu menjadi teman Ara selain Ardi di Bandung, dan itu adalah kak Bagas. Gama Bagaskara sahabat Adnan sejak kecil, sahabat tripel A selama mereka di Bandung.


Ara terlihat kebingungan di depan lemarinya.


" Ini daleman pada kemana, bi Marni lupa anter atau gimana sih..." Ara menggaruk rambutnya yg tidak gatal.


Rasa dingin yg merambat membuat Ara menyambar daster panjangnya, daster lengan pendek dengan bahan yg halus dan jatuh.


Gunung kembarnya tampak menantang karena dasar kain yg mengikuti bentuknya.


Rangga membuang muka saat melihatnya. Tubuhnya terasa gelisah dan panas.


"Sialan!!! Lagi-lagi gue terjerat diperangkap gue sendiri.."


Dengan cepat Rangga menyambar pecinya dan melangkah mengambil sarung dan kokonya disamping Ara yg tengah menyisir rambutnya


" Kakak ikut papa ke masjid.." Ucapnya dan berlalu begitu saja.


Ara menoleh menatap punggung Rangga yg hilang dibalik pintu.


" Kenapa lagi dia??, ya Ampun pusing aku..." Ara menepuk dahinya tanda pusing yg luar biasa.


Sebenarnya gadis itu sudah tidak asing dengan sikap Rangga yg seperti itu, dari kecil juga Rangga sering marah-marah nggak jelas.


Mungkin karena Rangga anak tunggal, dan kurang bisa mengekpresikan keinginannya pada orang lain, hingga membuatnya bersikap seperti itu.


Bersambung....

__ADS_1


-------------------------------------------------------------


__ADS_2