
Waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tapi aktivitas di rumah keluarga Syakieb sudah sangat padat.
Paman Syahril, papa dan Adnan terlihat sedang berdiskusi dengan serius di ruang kerja.
Hana membantu mama Neela mempersiapkan keperluan yg akan dibawa ke Dubai. Ardi terlihat menggeret beberapa koper besar dengan kedua tanganya menuju ke lantai bawah.
Bi Marni dengan telaten membuat sarapan untuk seluruh keluarga di bantu Brian. Ya...Brian yg sejatinya sangat bercita-cita sebagai chef harus tandas demi keluarga.
Lalu dimana Ara?
Ara saat ini sedang menggaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal.
Gadis itu duduk bersila di depan ruang TV, dengan setumpuk tugas sekolah yg menunggu dikerjakan. Tugas selama tiga hari tidak sekolah.
Ceklek.
Pintu ruang kerja terbuka, muncul tiga pria dari dalam, dengan dua diantaranya menenteng tas kerja.
" Belum selesai juga mut..." Tanya Adnan saat melintas di depan Ara.
Ara hanya menggeleng sedang tangan dan matanya fokus pada buku.
Ardi turun dari atas dengan Bianca digendongannya, mama dan Hana juga terlihat menuruni tangga.
Mata Ardi nyalang menatap Ara yg sedang fokus dengan tugasnya.
Tiba-tiba
Pluk!!!
" Ah!!!!, sakit...hik...hik.." Teriak Ara dengan mata yang berkaca-kaca hampir menangis.
Tepukan majalah mendarat di kepala Ara. Sakitnya tidak seberapa tapi terkejutnya yg hampir membuat jantungnya lepas.
Semua mata menatap tajam pada Ardi. Terkejut!!!, ya mereka terkejut bukan main dengan yg Ardi lakukan.
" Ardi " Teriak mereka yg ada disana.
Ardi menatap Ara dengan wajah yg kesal.
" Bianca bilang lo ciuman sama Rangga, bener nggak??!!" Bentak Ardi, suaranya menggelegar bagai petir yg menyambar.
Bianca mengkerut dalam gendongannya.
Brian yg ada di dapur segera berlari ke ruang TV, dari sana masih terlihat dan terdengar dengan jelas apa yg terjadi. Brian segera menyambar Bianca yg nampak ketakutan melihat Ardi marah.
" Ng..enggak, I..itu...bu..bukan...." Ucap Ara terbata-bata. Tubuhnya barasa bagai tersengat listrik yg luar biasa. Wajahnya tertunduk sangat dalam.
" Itu bukan apa Lili!!!!" Kini papa Syakieb ikut menatap putrinya tajam, begitu pula Adnan dan mama Neela.
" It..itu ka..kak..Rangga yg mencuri nya...." Ucap Ara dengan air mata yg mengalir deras.
Adnan dan papa terlihat menghembuskan nafasnya.
Ardi menggenggam erat gumpalan tanganya.
Lagi-lagi Rangga melakukannya, dulu dan sekarang sikapnya sama saja. Suka memaksa dan hobby nyosor.
" Brengsek!!!, liat aja gue patahin nanti hidungnya..." Umpat Ardi kesal, dan segera kembali ke kamarnya dan Ara.
Bruak!!!.
Dihempaskan nya daun pintu itu dengan kasar.
Semenjak Ardi tahu kalau Rangga adalah Aga kecil yg menjadi saingannya dahulu, rasa benci masa lalu timbul kembali.
__ADS_1
Bagaimana tidak, sejak bayi bahkan sejak dari kandungan Ara adalah teman sekaligus kembarannya.
Tapi semenjak usia empat tahun, mereka bertemu Aga dirumah kakek Al Ghifari.
Pria kecil yg dia tahu bernama Aga itu terus saja menyerobot Ara darinya.
Selalu ikut-ikutan kemanapun mereka pergi, bahkan tidur pun dia selalu berada diantaranya.
Puncaknya saat mereka berusia enam tahun dan Rangga delapan tahun, pria kecil itu dengan beraninya mencium Ara.
Bahkan saat itupun Ardi meninju hidungnya. Geram dan marah menguasai hati Ardi.
" Putra Hen itu, dari kecil sampai sekarang hobby nya nyuri cium..., daddy nya mantan siapa sih ya..." Sindir papa Syakieb pada mama Neela, membuat ruangan yg tadinya tegang menjadi mencair. Sementara mama Neela hanya menunduk malu.
Dalam hati diapun mengakui sikap Rangga dan daddy nya benar-benar sebelas duabelas.
Papa Syakieb mendekati putri tunggalnya itu. Menghapus air matanya, mencium pucuk kepalanya dengan sayang.
" Jaga diri baik-baik selama papa dan mama pergi..." Bisiknya sambil membawa putri tercintanya kedalam pelukan.
Ntah kenapa kepergian kali ini sangat berat dirasakan oleh papa Syakieb.
Ntah kenapa hatinya serasa diremas, tapi pria baya itu selalu berusaha berfikiran positif.
Mereka kini sudah berada di halaman rumah. Mereka berangkat dengan dua mobil. Paman Syahril nampak memasuki mobil yg dikendarai Adnan, disana telah ada papa Syakieb.
Sedangkan mama , Hana dan Ara dikemudikan oleh Brian.
Ardi tidak mengantar ke Bandara karena harus berangkat latihan ke sasana tinju pagi ini dan mengantarkan Bianca pulang.
" Kang mas nggak pamit mbak Sari dulu?" Tanya papa Syakieb pada paman yg terlihat santai meninggalkan keluarganya.
Paman Syahril hanya tersenyum tipis.
" Hubungan kami bukan seperti suami istri seperti kalian, hubungan kami sebatas simbiosis mutualisme..." Jawab paman Syahril datar.
" Intinya bukan pernikahan seperti yg kalian bayangkan..." Lagi-lagi paman Syahril membuat papa bingung.
" Yo wes lah kang mas...ora mudheng aku..." Papa Syakieb nyerah, rasa ingin tahunya lenyap.
Paman hanya tersenyum.
***
Bugh!!!!
Tinju Ardi mendarat tepat di hidung Rangga saat pemuda itu baru saja membuka helmnya di depan rumah Ara pagi ini.
Rencananya dia akan menjemput Ara sekolah pagi ini, dan berniat membantu tugasnya yg barangkali belum selesai.
Tapi apa yg didapatkan membuatnya meringis menahan sakit.
Darah segar nampak menetes pada seragam pramukanya.
" Lo selalu saja nggak punya sopan santun, dari dulu kelakuan lo sama saja dasar Aga si mesum cengeng!!!" Guman Ardi sambil berlalu begitu saja tanpa peduli akan Rangga yg kesakitan.
Rangga mematung beberapa saat lamanya. Bahkan dia tak menyadari ada dua buah mobil memasuki halaman rumah Ara.
Hana yg turun lebih dulu sangat terkejut melihat keadaan Rangga.
" Kak Rangga kenapa hidungnya?" Teriak nya sambil berlari ke arah Rangga yg kini duduk di teras rumah Ara.
Ara yg mendengar nama Rangga disebut pun segera keluar dari mobil dan melihat pada arah pandang Hana.
Ara segera mendekati Rangga dan Hana.
__ADS_1
" Ayo diobatin di dalam kak, masuk dulu.." Ucap Ara sedih, gadis ini sangat bisa menebak apa yg telah terjadi.
" Nggak ada Marvel, Ardipun jadi " Batin Brian. Ada senyum tipis sangat tipis dari wajahnya.
Pemuda berambut gondrong itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, dengan santai berjalan kearah Rangga.
" Mampus lo.." Geram Brian saat melihat pada Rangga.
Rangga hanya bisa mengepal kan kedua genggaman tanganya saat mendengar geraman Brian.
****
Sepanjang jalan menuju sekolah, Rangga hanya diam saja. Berbagai tanya berkecamuk dalam fikiran nya.
Kenapa Ardi ngomong seperti itu.
Dan tinjunya ini, sepertinya aku pernah merasakannya juga dahulu.
Ya Tuhan..., apa yg telah aku lewatkan disini.
Beberapa murid tampak kasak kusuk melihat Ara dalam boncengan Rangga.
Ara segera turun dan berlari menghampiri Natasya dan Vera demi menyelamatkan diri dari tatapan tajam fangirling Rangga.
Sedangkan Hana dan Adnan mampir ke rumah bunda untuk mengambil beberapa buku yg masih ada di dalam kamarnya.
Rangga menatap Ara yg berjalan dengan sahabatnya itu tepat di depannya, saat tepukan pada pundak mengagetkan nya.
" Hai kak...." Sapa Jessica.
" Kok masih sekolah bukanya nanti udah berangkat kak.." Tanya Jessica saat Rangga tak menyahuti sapaannya.
" Hanya melengkapi berkas saja.." Jawaban dingin.
Fikiranya masih berputar-putar pada kejadian-kejadian yg terjadi akhir-akhir ini. Kenapa kini sosok Lilinya merujuk pada diri Ara???.
" Jess, lo pernah ke Borobudur atau Prambanan gak?" Tanya Rangga memastikan.
" Pernah..." Jawab Jessica jujur.
Rangga meraba dadanya mengeluarkan liontin Naruto dari dalam bajunya.
" Lo punya kalung kaya gini nggak?" Tanya Rangga dengan jantung yg berdetak kencang.
Jessica mengamati kalung itu dan berdecih.
" Ya nggak punya lah, punya juga gue buang kak, kalung jelek gitu buat apa!!!" Sahut Jessica santai.
Ntah kenapa ada rasa lega dihati Rangga.
Fix gadisnya bukan Jessica, lalu siapa??.
Seperti hari jum'at sebelumnya, Ara dan seksi rohis sibuk di ruang OSIS. Beberapa anak sedang menyusun nasi kotak dan keperluan lain.
Rangga telah menyelesaikan berkas-berkasnya dengan bapak kepala sekolah. Dengan tegap pemuda itu berjalan ke ruang OSIS untuk merapikan berkas-berkasnya dan diserahkan pada Yuda, penggantinya sementara. Yuda adalah kandidat kuat penggantinya.
Saat memasuki ruangan OSIS mata nya menangkap pada sosok yg dirindukan sepagi ini.
" Kenapa melamun..?" Tanyanya dengan suara datar. Rangga berusaha bersikap biasa pada Ara di depan warga SMU Bhakti.
" Nggak papa..." Ucapnya sambil matanya menatap hidung Rangga yg terlihat memar akibat tinju Ardi pagi tadi.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like nya ya guy's πππ
Terima kasih sebelumnya ππΌππΌππΌ