
Lagi-lagi Rangga tidak memakai 'pengamannya' dengan alasan nggak tahan lagi dan itu sudah tentu sangat membuat Ara kecewa dan kembali mendiamkannya.
Padahal sudah diingatkan berulang kali alasannya nanti-nanti dan nggak nikmat pakai 'itu'.
Hampir dua minggu berlalu sejak kepulangan Rangga dan Ara dari Singapura.
Selama itupun Rangga harus kalang kabut seperti orang gila karena Ara selalu mendiamkan nya.
Ara gadis yang cerdas, didepan semua orang dia akan terlihat biasa-biasa saja, tapi begitu berdua dia akan berubah menjadi es batu yang luar biasa kaku.
Rangga hampir mati gila rasanya, sungguh tak sanggup bila harus menerima hukumanya dalam waktu lebih dari ini.
Seperti pagi ini, harusnya mereka mempersiapkan diri untuk acara kemping yang telah dijadwalkan akhir minggu ini sebelum libur semester ganjil. Tapi Ara santai seolah-olah tak ingin pergi.
Rangga masuk ke kamarnya, dilihatnya Ara tengah memasukkan beberapa pakaiannya ke tas kecil.
" Mau kemana sayang bawa baju?"
" Mau nginep rumah mama.., mama pulang hanya satu minggu..." Jawabnya tanpa menoleh.
Seperti inilah keadaan mereka dalam dua minggu ini, Ara tetap akan menjawab yang ditanyakan Rangga, tapi dia tidak akan pernah memulai bicara.
Rangga bingung, sudah beribu kali dia minta maaf dan berjanji tidak akan lupa lagi, tapi entahlah kalau kepepet mana bisa ditahan lagi.
" Sayang...., kamu tidak kangen kakak.." Tanya Rangga dengan melepas kaosnya di depan Ara.
Ara segera membuang muka saat tau apa yang diperbuat Rangga.
Dasar si cengeng mesum gila..
Ara berteriak-teriak dalam hati melihat Rangga yang melepas semua pakaiannya di depan Ara.
Ara memundurkan badanya sedikit demi sedikit.
" Sayang..., bantu kakak mandi please.., lihat ini sangat sakit, kakak terluka parah, lihat ini..." Ucapnya menunjukan lengan dan kakinya yang terluka akibat jatuh saat mengemudi dengan melamun sepulang sekolah tadi, memikirkan hubungannya dengan Ara yang kacau akhir-akhir ini.
Ara yang melihat lengan bawah dan lutut Rangga yang terdapat luka robek yang lumayan panjangpun tak sampai hati. Gadis itu bergegas mengambil kotak P3K dan mengobati lukanya.
" Ayo sini diobatin dulu, dan pakai handuknya!!! " Ucap Ara tanpa menoleh.
Rangga mengulum senyumnya.
Walau marah sekalipun untungnya Ara selalu menurut apa yang diminta Rangga dan tetap selalu menyiapkan kebutuhan nya.
Kecuali 'itu', Rangga pun tahu diri untuk tidak memintanya saat istrinya merajuk.
Percuma saja, nggak akan asyik katanya.
Ara menyiapkan semua keperluan mandi Rangga dengan baik.
" Masuk situ" Tunjuk Ara pada bathup.
Walaupun marah Ara tidak berteriak yang berlebihan pada Rangga, membuat Rangga semakin tergila-gila.
Rangga masuk ke bathup tanpa air, kepalanya disandarkan pada salah satu sisinya dan Ara pelan- pelan membasuh rambut nya terlebih dahulu.
Saat merasakan usapan lembut pada kepalanya Rangga memejamkan matanya.
" Sayang..., kakak minta maaf..., kakak minta ampun...sudah ya..kita baikan, kakak capek kaya gini terus..." Ucapnya tulus.
" Apa kamu tau sayang, kakak sampai turun berat badan dua kilo karena ini?" Ucapnya lebay. Ara mual mendengarnya, mau ketawa gengsi dong dia.
Setelah membasuh rambut Rangga, Ara pun membersihkan tubuh Rangga yang lainya. Menyiramnya dengan selang shower dari atas sampai bawah.
Rangga hanya diam menatap Ara yang menyabuni seluruh tubuhnya, sekuat tenaga Rangga menahan gejolaknya.
Di tatapnya wajah istrinya itu dengan tatapan yang tajam, tapi istrinya tak menunjukkan reaksi apa-apa.
__ADS_1
" Kamu nggak cinta kakak lagi?" Tanya Rangga dengan dada yang bergetar, miris..., disaat dia berdebar bertalu-talu seperti saat ini, lawannya hanya kaku dan cuek.
Ara terkejut dengan pertanyaan Rangga yang tiba-tiba.
Matanya menatap mata Rangga yang terlihat sendu menatapnya.
" Diamlah..., ini sudah selesai, bilas di shower sana..." Ucap Ara dan berlalu keluar kamar mandi.
Rangga terpaku ditempatnya.
Menatap punggung Ara yang hilang dibalik pintu.
Sementara Ara luruh ke lantai di depan pintu kamar mandi yang telah di tutupnya. Gadis itu menangis tersedu-sedu.
Aku cinta..
Tapi kakak harus dihukum..
Agar kakak tidak mengulangi lagi..
Ara takut hamil kak...tolong pahami Ara...
Puas menangis dan takut Rangga keburu keluar dari kamar mandi, Ara segera turun ke lantai bawah untuk membantu bibi dan mommy Tara masak.
***
Pulang sekolah sesuai rencana, Ara pulang ke rumah Syakieb bersama Hana dan Adnan, sementara Rangga masih membantu Yuda mengurusi persiapan pelaksanaan kemping akhir minggu ini.
Ara membaringkan tubuhnya yang lelah, dikasur yang sangat dirindukanya.
Dan ternyata diapun terlelap dengan cepat.
" Emmmm...." Geliat Ara saat merasakan air menetes diatas keningnya, tak lama kecupan lembut mendarat di sana.
" Kakak...." ucap Ara.
" Sayang..., ampun.., jangan diemin kakak lagi please.., kakak nggak kuat lagi.." Tangis Rangga pecah di pundak Ara.
Sumpah!!!, dia nggak kuat lagi.
Dua minggu hidup seperti orang asing rasanya mau gila baginya...
Arapun ikut menangis, perlahan dibelainya rambut Rangga yang menutupi sebagian wajahnya.
Rangga menaikkan kakinya di kasur. Dipeluknya tubuh istrinya yang tidak dapat dipeluknya seperti ini selama dua minggu ini.
" Sayang, jangan hukum kakak seperti ini, kakak nggak sangup. Kakak bisa mati.." Bisiknya lirih.
" Tapi kakak janji jangan nakal lagi, janji jangan terburu-buru lagi" Ucap Ara.
" Janji sayang, kakak janji..." Jawab Rangga dengan antusias.
Mereka pun berpelukan, saling menangis dan saling memohon maaf untuk kesalahan mereka masing-masing.
Mereka tertidur sambil berpelukan setelah melepaskan rindu mereka yang terpendam, cukuplah dengan seperti ini, Rangga sudah sangat bahagia sekali.
*
Sore hari aktivitas dirumah Syakieb sudah semrawut tak karuan.
Bianca heboh mendengar kabar nenek angkatnya akan pulang sore ini.
" Hole...hole..momo mau pulang..." Teriak gadis kecil itu.
Ara yang duduk disampingnya hanya tersenyum dan mengelus rambut Bianca.
" Nty...Bian mau cucu..." Pinta gadis kecil itu.
__ADS_1
Ara mengangguk dan beranjak melangkah ke dapur, kepalanya berdenyut-denyut terasa pusing luar biasa.
" Kamu nggak papa mut?" Adnan menempelkan punggung tanganya pada kening Ara yang sedang membuat susu untuk Bianca di dapur.
Adnan mengamati wajah adik tersayangnya yang terlihat pucat.
Hana juga terlihat mengamati wajah Ara dengan serius, dagunya maju mengisyaratkan diapun bertanya kenapa.
" Nggak papa, cuma pusing..." Lirihnya.
Azura masuk ke dapur dengan membawa serta Bianca di gendongannya.
" Zu aku pengen ngomong bentar bisa?" Ara menarik lengan Azura.
" Iya bentar, Bian duduk sini, ini susunya dan dihabisin ya..., mmy bicara dulu sama nty Ara boleh ya?"
Bianca mengangguk dan segera menyesap susunya.
" Ada yang serius Li?" Tanya Azura setelah mereka ada di kamar bawah.
" Aku cuma dapet haid satu hari bulan ini Zu, awalnya aku kira macet, udah aku tunggu satu minggu ini nggak ada juga..., kenapa ya?"
" Biasanya siklus haid terganggu itu karena banyak faktor Li, bisa karena hamil, stress, minum pil penunda kehamilan, perubahan hormon dan lain-lain, setahuku itu sih Li tapi lebih jelasnya nunggu momo lah..." Ucap Azura
" Atau kamu jangan-jangan---"
" Ya nggak lah!!, aku nggak hamil..." Sela Ara saat tau arah bicara Azura.
" Sayang..." Panggil Rangga dari luar kamar.
Ara membuka pintu kamar bawah, Rangga berdiri didepan pintu dengan Bianca di gendongannya.
" Sini cayang..ayo mandi.." Azura mengambil alih Bianca dari gendongan Rangga dan membawanya ke kamar untuk dimandikan.
Rangga menatap Ara yang terlihat pucat.
" Kamu sakit sayang?, ke rumah sakit yuk.." Rangga tampak cemas melihat Ara, apalagi tadi Adnan bertanya keadaan Ara padanya.
" Ngga sakit, hanya pusing.." Jawab Ara dan masuk lagi ke kamar.
Membaringkan tubuhnya di kasur Ardi, di peluknya bantal Ardi erat.
Dari video call terakhirnya itu, sampai hari ini Ardi tak pernah memberi kabar lagi.
" Kamu kangen Ardi??" Tanya Rangga lembut.
" Nggak juga.." Jawab Ara
Rangga nampak berfikir sesaat, terlintas sesuatu dari benaknya.
" Kamu takut hamil?" Kali ini Rangga berusaha masuk ke inti masalah Ara.
Dua minggu ini dia pun dihantui rasa bersalah, bahkan sampai tak bisa tidur.
" I..iya..hik..hik..." Pecahlah sudah tangis Ara, sesuatu yang dipendamnya dua minggu ini tak dapat lagi ia tahan sendiri....
Rangga segera memeluknya dengan erat. Memberi segenap kekuatan dan ketenangan.
Pelukanya terasa hangat dan nyaman.
Pelukan yang mengisyaratkan bahwa ada aku disisimu maka tenanglah.
" Momo...momo..hole momo pulang...."
Teriakan Bianca membuat mereka melepaskan pelukan, dan Rangga segera menghapus air mata Ara.
" Tenang sayang, jangan stress, maafkan kakak yang lagi-lagi membuatmu menangis .." Rangga sungguh merasa tertampar setiap kali Ara menangis karenanya.
__ADS_1
Karena yang ia tahu Ara tidak pernah gampang menangis dari kecil. Tapi bersama nya entah kenapa mata Ara selalu basah.