
Selama perjalanan ke bandara keduanya terus cekikikan tertawa kecil mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Lihatlah, bahkan rambut Rangga masih basah tanpa sempat dikeringkan lagi.
Dan Ara?, gadis itu juga sama, jilbabnya kini lembab karena tak sempat mengeringkan rambutnya, untung saja gadis itu memakai jilbab warna hitam.
Mommy Tara hanya mengulum senyum melihat kedua anaknya yang terus tertawa-tawa dibelakang kursinya. Bagaimana tidak, saat memasuki kamar mereka yang berantakan dengan baju terserak kemana-mana dan suara tawa canda mereka dikamar mandi membuat mommy urung untuk masuk lebih dalam.
Sebagai orang dewasa dan penuh pengalaman tentu mommy sangat tahu apa yang tengah terjadi.
" Mau lagi nggak?" Goda Rangga.
" Ishhh, nggak lagi deh...capek!!" Sahut Ara dengan bibirnya yang ingin kembali tertawa. Rangga gemas dan mengusap pucuk kepalanya yang tertutup jilbabnya.
"Buka aja dulu jilbabnya, sini kakak ngin-anginin rambutnya biar kering, nanti kamu masuk angin gimana?" Ucap Rangga penuh penyesalan, coba tadi nggak usah nambah, pasti nggak kaya gini.
" Iya sayang, ini ada handuk. Keringin rambutnya dulu.." Mommy menyerahkan sebuah handuk ke tangan Rangga dengan mengulum senyum.
Ara semakin memunduk karena malu, sementara daddy Hen, tertawa kecil dengan menggelengkan kepalanya.
" Masa muda, masanya bercinta..." Lirihnya yang masih bisa di dengar kedua muda dibelakangnya dengan wajah merah semerah tomat masak.
" Oh iya sayang, hampir lupa.." Rangga menepuk keningnya begitu mengingat sesuatu.
Dan mengangkat sedikit bokongnya, mengeluarkan dompetnya dari kantong celana belakang nya
Saat dompet itu terbuka Ara dapat melihat ada gambar masa kecil mereka disana, juga foto pernikahan mereka yang digunting kecil seukuran pasfoto. Ada rasa sejuk dalam hati melihat betapa Rangga memprioritaskan dirinya.
Bahkan Arapun tak menyimpan foto apa-apa di dompetnya.
" Ini sayang ambilah..."
Rangga menyerahkan dua kartu pada Ara.
" Ini penghasilan mandiri kakak dari blog dan youtube kakak, sedangkan ini hasil joinanku dengan Denis dan kak Bagas, kamu yang pegang semua ini sayang. Kamu istriku, semua kebutuhanmu akan menjadi tanggungjawab kakak sekarang"
Ara mengangguk patuh. Dan tersenyum semanis mungkin.
" Terimakasih kak, semoga semua ini selalu menjadi keberkahan kita, semoga Allah selalu meridhoi kita, semoga rizki halal dan thoyyiban yang selalu mengalir untuk kita dan..." Ara menjeda ucapannya.
" Dan...?" Tanya Rangga dengan mengernyitkan dahinya.
" Babby InshaAllah.." Bisik Ara ditelinga Rangga.
" Hahhh, apa?, kau..."
" He..he.., ya siapa tahu?, kakak aja nggak pernah pake!!" Sindir Ara.
Rangga terdiam sesaat. Sempat ada ragu dalam hatinya. Tapi melihat senyum di wajah Ara membuatnya tenang.
" Memangnya kamu nggak keberatan??"
" Awalnya sih iya, tapi semakin kesini malah pengen malah"
" Kok bisa?"
" Iya bisa lah, biar aja kakak pergi kan ada bagian kakak yang tertinggal disini, InshaAllah..." Ara mengelus perutnya pelan.
Rangga terpaku sejenak, fikiranya kosong. Tidak pernah sama sekali berfikiran sejauh memiliki anak.
Rangga merasa merinding, dan badanya tiba-tiba panas dingin.
Anak?
Gue bahkan tak pernah memikirkan nya.
Tapi andaikan itu ada...
Ahh....
Gue jadi daddy??? Gue??
Daddy Rangga...
Ahhhhh, bisa mati bahagia gue, Ya Allah..
Rangga menatap Ara dengan penuh makna yang tersirat di matanya.
" Beneran nggak apa-apa?" Tanya Rangga memastikan lagi.
" He..emmm"
__ADS_1
" Lalu sekolah kamu sayang?"
" Bisa home schooling kan?, suamiku kan calon guru besar, pasti bisa bantu.. Ya kan?" Ara menaik turunkan alisnya dengan menggemaskan.
Rangga menatap wajah ayu itu tanpa berkedip. Lama dan sangat lama dia menatap wajah itu, seolah-olah berusaha menfotocopy dalam benaknya.
Paling cepat dua tahun aku pulang sayang...
Tetaplah menjadi Liliku...
Tetaplah teguh dalam cintamu...
Ya Allah kutitipkan dia padamu...
" Ssttt..., kenapa melamun??"
" Nggak melamun sayang, hanya saja kamu cantiknya kebangetan, sampai-sampai mataku nggak mau kedip.."
" Gombal"
" Rangga Bayu Wijaya nggak pernah menggombal sayang, yang diucapkan selalu kenyataan.." Ucap Rangga tegas.
" Apa iya?"
"Nggak percaya dia" Rangga mencubit pipi Ara gemas.
Mobil sudah memasuki kawasan bandara, papa juga sudah meminggirkan mobil agar Rangga dan yang lainya turun terlebih dahulu sebelum papa menuju ke area parkir.
Denis cs, papa mama, oma dan Azura Bianca juga sudah datang lebih dulu.
Rangga mengapit erat pinggang Ara. Dan Arapun terus menempel dengan memeluk erat lengan Rangga.
" Biar abang yang bantu chek in dek.." Adnan meminta paspor dan berkas Rangga.
Rangga mengangguk dan menyerahkan berkasnya pada Adnan dengan tangan bergetar.
" Kuatkan hatimu dek, semua akan indah pada waktunya.., jaga diri baik-baik " Bisik Adnan yang sangat tahu bagaimana keadaan hati Rangga saat ini.
" InshaAllah bang, Amiinn..." Rangga mengeratkan lagi pelukanya.
" Pesawatnya pukul 03.00 kan Ga?, tunggu sini aja deh, masuknya mepet waktu aja nggak papa..." Denis mengelus punggung Rangga pelan.
Sebagai sahabat dari kecil, tentu Denis paham betul dengan Rangga yang terlihat gelisah dan tidak tenang sedari tadi.
Semakin berkurangnya waktu semakin teriris pedih hati keduanya.
Panggilan pengeras suara untuk penumpang keberangkatan luar negeri telah terdengar.
Rangga menghembuskan nafasnya berat.
" Sayang, kakak pamitan dulu ya.." Ucapan nya lirih.
Pemuda itu sebenarnya sangat enggan melepaskan belitanya pada tubuh istrinya.
Ara mengangguk mengiyakannya. Tapi tangannya tak mau lepas dari tubuh suaminya barang sedetikpun.
Kini genggaman tangannya perpindah pada ujung kaos Rangga.
Gadis itu terus mengikuti kemanapun langkah Rangga yang sedang berpamitan pada mereka yang mengantarkannya hari ini.
Mama Neela memeluk papa Syakieb dan menangis melihat adegan mengharukan di depanya.
" Kau tau kan sayang, putri kita Lailia Nafesaa Anara itu seperti apa?, Putri kita itu tahan banting, dari masih embrio saja dia sudah diuji bertubi-tubi oleh Allah, than you see.., dia selalu mampu bangkit" Bisik papa Syakieb untuk menenangkan istrinya.
Rangga dan Ara kini mendekati keduanya.
" Pah...Mah..., Rangga kembalikan dulu Lili pada kalian se---" Bibirnya bergetar tak mampu meneruskan kata-katanya.
Papa langsung memeluk Rangga dengan erat.
"Papa akan jaga, dengan sepenuh jiwa raga papa, kamu fokus belajar. Tetap tenang dan jangan lupakan ibadah" Pesan papa Syakieb.
" Mah..." Rangga kini memeluk mama Nella dengan tangis nya yang mulai pecah.
" Tenang sayang..., fokus pada tujuanmu di sana. Kami akan jaga Lili.."
Rangga mengusap air matanya dan menggenggam erat tangan Ara membawanya mendekati kedua orang tuanya.
" Dadd, Rangga....pa--" Ucapnya terbata-bata.
" Son, dad yakin kamu mampu. Daddy tahu kamu bisa melewati ini dengan mudah, pergilah dengan tenang son, raih cita-citamu, istrimu serahkan pada kami.." Daddy Hen menepuk pundak putranya berulang.
__ADS_1
Sementara Ara semakin mempererat genggamannya pada kaos Rangga.
" Mom..." Rangga menubruk tubuh mommynya yang telah lebar merentangkan tangan untuknya.
" Do'a mommy selalu menyertaimu sayang, jaga diri baik-baik, makan yang teratur. Jangan begadang bikin konten youtube terus. Ingat kamu pewaris Wijaya, semua juga akan menjadi milikmu nantinya..."
" Terimakasih do'anya momm, Rangga pamit.."
Kini tinggal bagaimana berpamitan dengan cintanya ini. Gadis itu terus menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menahan tangis.
Rangga melepas genggaman Ara pada kaos nya dengan pelan.
Meraih tangan itu dan digenggamnya.
" Sayang...., kakak pergi...." Bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
" Tunggu kakak kembali ya..." Lanjutnya.
Ara semakin menunduk lagi. Rangga sangat tahu kekasihnya sedang menyembunyikan air matanya.
Panggilan dari pengeras suara kembali terdengar.
"Dek, sudah waktunya..." Adnan berusaha mendekati mereka dan menunjuk telunjuknya pada arloji yang melingkar di tanganya.
" Sayang kakak berangkat, aku titipkan hatiku padamu, aku titipkan sepenuh rasa percayaku padamu, aku cinta kamu sayang..." Rangga memeluk erat Ara untuk terakhir kalinya.
Dikecupnya dalam kening istrinya dengan penuh untaian doa tulus disana.
Dilepaskannya semua beban hatinya, dipasrahkanya semua kepada Tuhannya.
Ya Allah, aku percayakan dia padaMu..
Aku titipkan dia padaMu..
Tetapkanlah hatinya hanya untukku..
Ya Allah, aku berserah hanya padaMu...
" Sayang, selamat tinggal...I love you..."
Pelan Rangga melepaskan rengkuhanya, menghapus air mata kekasihnya dengan kedua jempolnya.
" Lili lepaskan kakak dengan ikhlas..., semoga yang kau cita-citakan segera terwujud, pergilah kak..., dan cepat kembali...I love you too..."
Ara meraih tengkuk Rangga yang jauh lebih tinggi darinya. Dikecupnya kening Rangga dengan mata terpejam, lalu turun ke kedua mata Rangga dan terakhir mengecup singkat bibir merah itu.
" Bismillahirrahmanirrahim..., pergilah sayang..." Lepasnya iklas.
Rangga tak kuasa menahan untuk tidak menangis melihat ketabahan Ara.
Ditariknya lagi tubuh istrinya kembali ke pelukannya.
" Ga..., waktunya Ga..." Denis mencoba mengingatkan.
" Emm ya..." Ucapnya.
Entah bagaimana caranya, akhirnya Rangga telah masuk ke dalam, Ara terus menatapnya dengan penuh doa dihatinya.
" Kak!!, begitu nyampai langsung kabarin ya!!" Teriak Ara saat Rangga telah beberapa langkah menjauh.
Pemuda itu menoleh dan membuat kode Oke dengan kedua jarinya.
Tapi saat matanya melihat ke kerumunan manusia yang lalu lalang di bandara.
Matanya tanpa sengaja melihat sosok Lenox ada disana.
Dia ada di sini...
Apa dia juga mau melepaskan ku...
Atau dia tak sabar menunggu hari esok??
Brengsek kamu Lenox.
Sementara itu Lenox yang memang sengaja datang ke bandara untuk memastikan kepergian rivalnya, merasa teramat lega.
Aahhh, akhirnya...
Now, it's time for me to act..
__ADS_1
Just wait Ara, you will be subdued in my charm...