
Seluruh keluarga besar Syakieb sudah duduk dimeja makan untuk makan malam bersama, kecuali Ara.
"Lili mana sayang?" Tanya mama Neela pada Rangga.
" Emm..., ma..masih demam " Ucap Rangga kikuk.
" Biar Aga yang bawain nanti ke atas mah..." Lanjutnya.
Marvel meliriknya sekilas, entah kenapa Rangga merasa geram dengan perilaku Marvel. Seolah-olah menunjukkan permusuhan padanya. Apa salahnya??
Merekapun makan malam diselingi obrolan ringan dan canda tawa yang dikarenakan ulah lucu Bianca yang ada dalam pangkuan Brian.
Selama Ardi tak ada, sosok penggantinya adalah Brian.
Rangga membawa nampan berisi nasi beserta lauk pauk dan juga air minum untuk Ara.
" Sayang.., nih makan dulu.." Rangga menyodorkan nampan pada Ara yang nampak cemberut.
" Lili nggak minta makan, siniin dalaman Lili, udah gila yah..Jaka Tarub aja nggak segitunya, yang dicuri juga cuma selendang Nawang Wulan..." Ucap Ara geram.
" Yahhh.. kan intinya mencuri untuk mendapatkan bidadari ya..wajar-wajar aja lah"
"Sejak kapan mencuri adalah hal wajar.."
"Tentu sejak abang termehek-mehek sama kamu sayang, abang sungguh melehoy tiap kali deket bidadari ku ini..., apalagi polos begini..."
Dengan gemas Rangga meraba dada Ara yang terlihat menonjol tanpa penghalang, tentu saja langsung mendapat tepisan kuat dari gadisnya.
Rangga tertawa melihat Ara yang menaiki kursi dan menggapai- gapai papper bag diatas lemari.
"Biar sini kakak ambilin, tapi janji nggak boleh durhaka sama suami.
" Entahlah kalau itu"
"Ye...kok gitu sih???, nggak takut dikutuk malaikat?"
" Ya takutlah..."
" Nah itu tahu..., sini turun, biar kakak yang ambil"
Rangga meraih pinggang ramping itu dan digendongnya didepan tubuhnya.
Ara yang takut jatuh langsung melingkarkan kakinya dipinggang Rangga dan mengalungkan tangannya dileher Rangga.
Mereka terdiam membisu, menikmati rasa yang menjalari tubuh mereka. Remaja yang sama-sama baru merasakan sentuhan yang melenakan itu saling tatap dalam diam. Rangga mendesakkan kepalanya pada dada Ara.
Membuat Ara semakin meremas tengkuk Rangga.
Tok..tok..
Pintu diketuk dari luar. Ara gelagapan dan segera merosot turun.
Rangga mendesah dan mendecak sebal.
" Ck..besok pokonya gue harus bawa Lili kerumah daddy.." Batinya sambil melangkah duduk dimeja belajar. Padahal hari ini malam Minggu, apa iya Rangga masih sibuk belajar.
Ceklek.
__ADS_1
Ara membuka pintu dan menyembulkan kepalanya keluar.
" Princess..., Bian biar disini dulu ya.., brothy mau jemput Zura dulu.." Brian berdiri didepan pintu dengan menggandeng Bianca.
Ara yang telah menutupi dadanya dengan jaket Rangga membuka lebar pintunya.
" Oh kalian mau keluar juga ya, ya udah biar Bianca, brothy bawa aja.." Ucapnya salah paham karena melihat Ara yg memakai jaket.
"Nggak.., kami nggak kemana-mana kok, sini Bian sama om..." Rangga tiba-tiba muncul dari belakang Ara dan menarik Bianca masuk.
"Beneran nggak mau keluar nih?" Tanya Brian menatap Ara yang mencari jawaban pada mata adik sepupunya ini.
Semenjak ada Bianca, Brian jarang pulang ke apartemen nya. Bahkan dia juga jarang tidur dirumah papa tirinya.
Marvel dan paman Sahril pun sama, mereka lebih tenang tinggal dirumah Syakieb.
Walaupun cuma sehari dua hari kadang Marvel dan Dian juga mengunjungi rumah kecil mereka dan membersihkannya.
"Masih demam ya..?" Tanya Brian dengan tangan menyentuh dahi Ara.
" Udah baikan kok brothy, cuma deman dalam hati aja.." Jawabnya dengan mata melirik pada Rangga. Sedangkan Rangga tersenyum simpul mendengar sindiran Ara.
" Dasar bocah.." Guman Brian dengan berlalu meninggalkan kamar pasutri baru itu.
Rangga bermain dengan Bianca di tempat tidur, sesekali Bianca menaiki punggungnya, adakalanya Bianca juga mengacak-acak rambutnya yang panjang.
Suara tawa keduanya bahkan sampai terdengar keluar ruangan.
Rumah sepi, karena Marvel dan Dian mengunjungi Profesor Pramana, ayah Denis.
Sedangkan Adnan sejak sore ke rumah mertuanya.
Ara memilih menyingkir dan duduk di sofa, membalas beberapa chat dari Vera yang curhat dengannya.
Sampai hari ini bahkan Vera belum jujur dengan masalahnya dengan Vino pada sahabatnya.
Vera selalu minta saran ini itu tentang masalahnya tetapi selalu bilang pada sahabatnya bahwa yang mengalami adalah temanya.
Ara sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap Vera yg drastis, gadis centil, urakan dan bar bar, berubah menjadi pendiam dan terlihat sesekali melamun dan murung.
Setelah hampir satu jam kamarnya bising dengan suara tawa dan celotehan Bianca, kini Ara tidak mendengar apa-apa lagi, kamarnya kini senyap dan tenang.
Ara menoleh melihat ke arah ranjang, dimana Bianca tidur diatas perut Rangga yang juga terlihat lelap.
Perlahan Ara mendekati ranjang, mengusap pipi Bianca, lalu merapikan rambut gadis itu.
"Semoga kelak menjadi gadis sholehah yang ber-ilmu, berbudi pekerti dan berhati lembut..." Bisiknya di telinga Bianca, dikecupnya kening gadis yatim piatu itu dengan sayang.
Lalu tanganya meraih wajah suaminya, mengelus pipi Rangga, bibirnya maju mengecup kening Rangga yang terlihat nyenyak.
Tampan, suaminya sangat tampan. Hanya dengan melihatnya saja Ara merasa nyaman dan tentram.
" Semoga senantiasa menjadi suami idamanku, imamku, penyabar yang sabar, love you kak..semoga kita tetap bersama 'til jannah...".
Tangannya mengusap rambut Rangga pelan.
" Aamiin..." Suara lirih keluar dari bibir Rangga.
__ADS_1
Ara melotot mendapati Rangga yang kini tersenyum dengan mata yang menatap nya tajam.
"Terimakasih do'a nya sayang.." Rangga menarik lengan Ara sehingga Ara terjatuh diatasnya, untung pergerakan mereka tak mengganggu Bianca.
Rangga membelai bibir Ara, menatap nya dengan tatapan mendamba. Ara sungguh tau apa yang ada di otak suaminya.
Gadis itu tersenyum dengan manis dan berbisik.
" Mau..?"
" Tentu saja..." Jawab Rangga tegas.
Ara mendekatkan wajahnya pada Rangga dan mencoba mengecup bibir Rangga sebisanya. Kaku, tapi tetap bisa membuat Rangga mabuk.
Lama kelamaan kecupan berubah menjadi lum*t*n yang menggelora.
Bahkan tangan nakal Rangga telah menjarah kemana-mana.
" Nty takit lambut Bian.." Ucap Bianca saat rambutnya yang ada disamping perut Rangga tetindih tubuh Ara.
"Ahhh..ma..maaf Bian" Ucap Ara gelagapan.
Mereka kini duduk bersila di atas kasur.
"Napa bibil nty Ala melah, bibil om Langga juga melah..." Mata gadis itu menatap bibir keduanya yang terlihat merah dan membengkak.
Ara dan Rangga saling tatap sejurus kemudian senyum malu-malu menghiasi bibir mereka.
" Emm..nggak papa, ayok om antar ke bawah, mungkin mmy udah pulang..." Rangga menyesap bibirnya sendiri dan merapikan baju dan rambutnya, lalu menggendong Bianca.
*
Rangga masuk kamar saat waktu sudah sangat larut, pemuda itu ikut membantu menyelesaikan berkas-berkas yg akan dibawa papa mertuanya untuk meeting dengan clien bisnisnya besok ke Singapura.
Papa Syakieb sangat senang dengan keberadaan Rangga yg sangat membantu. Otak encernya tak diragukan lagi, tapi hanya satu orang yg selalu mengatainya bodoh dan itu adalah Marvel.
Adnan juga semakin kagum dengan adik iparnya ini, meski terkesan cuek dengan urusan bisnis nyatanya Rangga sungguh sangat mampu dan bisa diandalkan.
Ya, tak sedikitpun Rangga tertarik dengan dunia bisnis, karena impianya hanya satu, yaitu menjadi pengajar.
Entah mengapa membagi ilmu yang dimilikinya kepada orang lain lebih membuatnya bahagia dari apapun juga.
Blok dan youtube yang dikelolanya berisi rumus-rumus simpel yg mempermudah belajar para pengikutnya. Penjelasannya sangat lugas dan mudah dipahami, bahkan sampai saat ini youtube nya memiliki ribuan follower.
Rangga menghampiri Ara yg tertidur dengan masih mencepol rambutnya.
Perlahan tangannya membuka ikatan karet pada rambut Ara. Dan merapikan rambut indah itu diatas bantal, diciumnya rambut hitam panjang dan wangi itu dengan mata terpejam.
Dia meletakkan karet itu diatas nakas.
Rangga merangkak melangkahi Ara dan berbaring disamping gadis itu.
" Aku tak punya doa khusus untukmu sayang, hanya satu..., semoga Allah selalu meridhoi kita.."
Cup.
Kecupan dalam di kening istrinya dia berikan dengan setulus hati dan sepenuh jiwanya.
__ADS_1
"Love you my childhood lover, and now you are my lover forever..."
Rangga memejamkan matanya dengan tangan yg melingkar di perut Ara.