
---Happy Reading---
Diperjalanan, aluna dan aksa hanya diam sambil mendengarkan lagu korea Punch - Say yes ft moonbyul. Lagu ini favoritnya aluna dan rizka, dan mengingat rizka aluna melirik kearah abangnya yang fokus menyetir dan menatap lurus kearah jalanan saja. "Apa ada yang ingin kamu katakan luna?" tanya abang yang tiba tiba, alun terkesiap kaget. "Hah?"
"Kamu sedari tadi melirik kearah abang terus menerus ada apa?" tanya aksa yang merasa ada sesuatu hal yang ingin dikatakan oleh adiknya. "Tanya saja abang akan menjawabnya." Lanjutnya membuat mata berbinar aluna muncul segera. "Benarkah, abang akan menjawabnya? Tapi aluna minta jujur." balas aluna yang seketika membuat aksa merasa menyesal memperbolehkan adiknya bertanya sesuatu kepadanya. "Iya apa?"
"Apa benar, gadis yang abang dekati adalah Rizka?" Aksa terkejut sampai membelokkan kedua matanya walaupun pandangannya tetap menghadap kedepan. "TAU DARIMANA HEH?!" pekik abangnya. Membuat aluna segera menutup telinganya lalu memukul punggung abangnya. "AW! Sakit lun!"
"Habisnya abang tiba tiba memekik gitu, emang ya kalian cocok jadi pasangan. Sama sama memekik kalau lagi bicara." ucap luna membuat aksa tersenyum kesemsem. "Tentu saja, kami cocok. Tapi bagaimana bisa kau mengetahuinya?"
"Gebetanmu itu bang, tidak sengaja keceplosan tadi saat menelpon diriku."
"Ahh, begitu? Pasti lucu dia." gumam abangnya yang langsung dapat delikkan mata dari luna namun tidak dilihat. "Abang, sejak kapan?"
"Apanya?"
"Pedekatenya lah, apa kalian sudah lebih dari pedekate sampai rizka memanggilmu dengan nama bintang?"
"Kalau boleh jujur, abang.. sudah pernah menyatakan perasaan abang kepadanya namun-" Aluna langsung memekik. "Seriusan?! Kapan?" pekiknya dengan cara memotong ucapan abangnya. "Seminggu yang lalu sebelum kita pergi kenegara itu."
"Wahh benarkah? Lalu hari ini kalian akan bertemu dan rizka akan menjawabnya?" Aksa mengangguk malu. "Ya ampun ternyata terjadi juga, kaka ipar sahabat sendiri, haha."
Aksa menatap adiknya heran. "Kamu mengharapkan salah satu sahabatmu dekat dengan abangmu ini?" aluna mengangguk tanda iya. "Tentu saja, aku mengharapkannya karena jika kaka iparku sahabat sendiri rasanya sudah tidak canggung lagi dan gampang untuk diajak curhat. Aluna setuju kok kalau abang sama rizka."
Aksa memeluk luna membuat adiknya panik karena abangnya tidak fokus kedepan lagi. "Abang fokus sama nyetirnya ihh! luna masih mau hidup." Tak! "Aw! Sakit abang." pekiknya kesakitan karena aksa menyentil dahinya tiba tiba.
"Kamu tidak fokus ya? Kita sudah sampai didepan kampus, yang tandanya abang sudah tidak menyetir. Sana turun waktu sebentar lagi kelas akan dimulai." Aluna langsung menepuk dahinya. "Ah iya, abang makasih sudah mengantar luna. Sampai jumpa." Aksa mengangguk. "Ya, sampai jumpa."
Aluna langsung lari masuk kedalam gedung setelah keluar dari mobil ia seperti kesetanan. Aksa tertawa sendiri melihat adiknya yang sangat menggemaskan itu, lalu ia menuju kampusnya yang tinggal membelok kanan dan masuk kewilayah parkiran kampus miliknya.
Sesampai didepan kelas, aluna langsung mengintip apa sudah ada dosen atau belum. Aluna menghela nafas sampai tidak menyadari bahwa dosennya berada dibelakangnya. "Aluna Nada? Kamu tidak ingin masuk."
"Aduh kaget! Ah hahh, bapak mengejutkan saya." ucapnya setelah membalikkan tubuhnya dan mendapati dosennya yang tersenyum menggelengkan kepalanya menatap mahasiswinya ini. "Masuk, bukakan pintu saya kerepotan ini."
__ADS_1
"Ah iya, sini saya bantu pak. Silahkan pak." Ujarnya sambil membukakan pintu setelah membantu mengangkat barang yang berada ditangan dosennya sendiri.
"Selamat siang semua? Apa kabar?" tanya dosen setelah aluna sudah duduk disamping kedua sahabatnya yang menatap dirinya tanda tanya. Rizka pun langsung mendekatkan diri lalu berbisik. "Mengapa kamu bisa bareng dengan dosen?"
"Beliau sedari tadi berada dibelakangku dan mengejutkanku." Rizka mengangguk. "Jadi yang memekik aduh kaget itu kamu lun?" tanya citra yang juga ikutan berbisik. Aluna mengangguk sambil menghirup udara sebanyak banyaknya karena nafasnya merasa terasa sesak karena habis berlari dari gerbang sampai kelasnya.
"Habis lari maraton kau?"
"Iya, dari gerbang sampai sini." Rizka dan citra menggelengkan kepala dan kompak mengucapkan. "Gila." Kepala aluna mengangguk. "Iya, aku memang gila. Tapi temanmu ini yang lebih gila, masa pdkt sama abangku tidak cakap cakap."
"Masa?!" pekik citra sekaligus diomeli langsung oleh dosennya karena dirinya berbicara. "Citra! Jangan berbicara saat ada saya."
"Maaf pak." sesalnya dengan menundukkan kepalanya sekilas dan kembali fokus menghadap kedepan sedangkan aluna dan rizka menahan tawa karena citra pertama kali diomeli oleh dosen itu. Citra mendelik tak suka kearah dua sahabatnya lalu bergumam. "Diamlah kalian."
Kelaspun berakhir, tersisalah aluna dengan dua sahabatnya yang sedang menunggu makanan tiba dan dua sahabatnya lagi yang berbeda fakultas itu. "Aluna!! Ku merindukanmu bestie!" Teriak jauh dari mulut stefan, sedangkan citra yang berada dikelas sedikit menutup wajahnya saking malunya memiliki suami seperti pria itu. Disamping stefan, karel yang berjalan sedikit demi sedikit menjauh dan berjalan cepat meninggalkan sahabat yang sudah membuatnya malu setengah mati itu.
"Alunaa!"
"Diamlah! Kau berisik!" bentak citra dan karel serempak membuat stefan seketika diam dan menciut mendapatkan tatapan tajam dari dua orang yang ia sayangi itu. Aluna tersenyum tidak dengan rizka yang sudah tertawa terbahak bahak karena stefan hari ini sangat malang.
"Sibuk apa? Biasanya kamu jika tanpa hape tidak bisa hidup atau menjalani hidup, ini tanpa hape kamu bisa hidup." balas karel yang masih penasaran dengan menghilang kabarnya gadis itu. "Lalu apa pulang ngampus kita bisa ngumpul?"
Aluna menggelengkan kepala. "Sepertinya tidak bisa, aku sudah ada janji dengan seseorang." Karel mengangguk. "Baiklah, jika besok atau lusa bagaimana? Kami ingin tau ceritamu disana, karena kamu menghilang seperti ditelan bumi."
Aluna mengangguk. "Baiklah, tapi aku tidak bisa janji, takutnya ada acara mendadak." jawab aluna, dan karel lagi lagi mengangguk. Sampai ada satu gadis menghampiri karel dari luar kelas, "Karel!"
Stefan menoleh kearah luar kelas dekat pintu, melihat gadis terkenal dikelasnya mahasiswi pindahan pembelajaran dari negara D. "Rel, dipanggil sama ava tuh." karel melirik stefan lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri ava yang bisa dilihat oleh empat sahabat itu lengan karel disentuh lembut namun karel tidak risih.
"Siapa dia?" tanya luna yang tidak tau apa apa, dan wajah gadis itu asing baginya. "Mahasiswi pindahan dan sekelas dengan kami berdua. Dan sepertinya dia mempunyai perasaan terhadap karel, menurut kalian bagaimana? Apa gadis itu sangat cocok untuk karel yang dingin?" tanya stefan yang sengaja ingin memanasi aluna. karena setahunya aluna dulu memiliki perasaan terhadap karel begitupun karel namun keduanya tidak berani mengungkapkan perasaannya.
"Cocok saja, oh iya kau pasti akan menjadi pasangan citra disana kan?" tanya luna yang tidak terlalu memedulikan karel dengan gadis lain yang tak ia kenal. Dia hanya menatap stefan yang menatapnya dengan tatapan tak suka, "mengapa tatapanmu seperti itu?"
"Permisi, apa disini ada aluna?" tanya seorang pria kepada karel, karel menatap pria dihadapannya lalu mengangguk, "Ada didalam, anda siapa ya?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum. "Itu bukan urusan anda." Kemudian pria itu berjalan masuk namun lagi lagi ditahan oleh karel, "tapi aluna sahabat saya, tentu saja ada urusan denganku." Pria itu mengangguk lalu menatap aluna yang masih berbicara dengan sahabatnya, dipanggilnya luna dengan nada lembut.
"Luna!" panggilnya membuat luna menoleh dan menatap pria itu dengan senyuman, luna bangkit dari duduknya lalu memeluk tanda selamat datang seperti biasa. "Ka adam, ayo sini aku kenalkan kepada sahabatku." ujar lembut aluna tanpa tau tatapan karel sudah berubah saat aluna memeluk pria lain didepannya.
"Ka adam kenalin dia Rizka, gebetan bang aksa." ujarnya dengan sedikit berbisik dengan status yang rizka miliki. Adampun langsung tersenyum lalu mengangguk, rizka mengulurkan tangan kanannya begitupun dengan adam. "Rizka."
"Adam."
Lalu aluna beralih menatap sepasang suami istri yang memandangnya dengan tatapan bertanya, "Kalau mereka sepasang suami istri, citra sahabat luna begitupun dengan stefan. Dan kalian kenalin dia ka adam teman masa kecilku sekaligus emm apa ya.. Dah itu aja." ujarnya dengan sedikit bingung untuk mengatakan tentang statusnya.
Rizka mengulum senyum dengan sedikit menggoda aluna. "Sekaligus apa hayo??"
"Udah diem, dan cowo yang dideket pintu dia karel, sahabat aku juga." adam mengangguk dan melirik sekilas gadis yang berada disamping karel. "Lalu gadis itu?" Aluna sedikit mengernyit bingung harus jawab apa.
"Mungkin gebetannya." jawabnya dengan asal membuat karel menahan diri untuk tidak berteriak, begitupun dengan stefan yang menahan diri untuk tidak tersedak oleh air liurnya sendiri.
Adam tersenyum senang, ternyata pria yang menahannya masuk secara tidak langsung perasaannya sudah ditolak oleh gadisnya ia pun langsung menatap aluna dengan tatapan lembut. "Sudah tidak ada kelas lagi? Berangkat sekarang bisa?" tanya adam yang langsung disetujui oleh aluna. "Iya, berangkat sekarang aja, sore aku mau istirahat."
Adam mengangguk. "Oke, ayo." ajaknya sambil membantu merapihkan barang gadisnya kemudian merangkul pinggang luna didepan sahabat gadisnya itu. "Aku pergi duluan ya sahabat! Dadahh~"
"Dadah~" balas rizka dan citra sambil menatap punggung luna dan adam yang sudah menjauh dari kelas mereka. Sedangkan stefan dan karel hanya bisa menatap lengan pria yang bernama adam itu merangkul pinggang langsing luna dengan ringannya.
"Dia siapa sih sebenarnya? Kok lengket banget sama luna?" tanya stefan yang penasaran begitupun dengan citra kearah rizka, sedangkan karel hanya diam berdiri yang sampingnya masih ada ava menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Rizka mengambil nafas lalu membuangnya dengan pelan. "Mereka teman kecil, sekaligus tunangan sih menurutku."
"Hah? Kapan tunangannya coba?" tanya citra yang terkejut dengan cerita seperti itu. "Denger ceritanya sih mereka udah saling suka sejak kecil lalu saat dewasa keduanya tambah punya perasaan lebih yaitu cinta, ya gitu perasaannya semakin membesar sesering mereka bertemu." Jelas rizka membuat sepasang suami istri itu mengangguk paham.
Sedangkan karel hanya bisa mengepalkan kedua tangan dengan rahang yang sudah keras karena menahan marah dan kekesalannya. Ia kesal kepada dirinya mengapa dulu dia selalu mengurung niat untuk menyatakan cinta kepada gadis itu? Dan sekarang ia menyesal bahwa gadis itu sudah memiliki takdirnya.
'Apa diriku sudah telat?'
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa like ceritaku dan datanglah keceritaku yang lain.
Terima kasih..