
---Happy Reading---
Sesampai dinegara asal, aluna beserta keluarga dan adam beserta kakeknya lanjut menuju ke rumah milik aluna. Bagi adam masalah sudah kelar namun belum bagi alex. Alex sampai saat ini masih diam tidak ingin berkata kata, sampai aluna merasa alex sangat berbeda dari biasanya.
"Kakek apa ada yang sedang dipikirkan saat ini?" tanya luna yang saat ini duduk disebelah alex dalam mobil. Alex hanya melirik sekilas lalu. "Tidak." jawabnya dengan singkat. Jawabannya yang sangat dingin itu membuat luna semakin penasaran. "Tidak itu bukan jawaban, jadi apa ada masalah?"
"Ya."
"Apa itu boleh diketahui oleh aluna?" alex menghela nafas dan lebih memilih diam dibandingkan menjawab pertanyaan gadis disampingnya itu. Demi gadis kecil itu selamat ia jadi semakin tidak bisa bertemu dengan abangnya walaupun benar ini masalah masa lalunya yang berlanjut sampai keponakan kesayangannya terkena imbas.
Sesampai dirumah, aluna langsung masuk kedalam kamarnya karena ia sangat kelelahan dalam perjalanan panjang ini begitupun dengan mama anzel. Sedangkan yang pria masih terjaga walaupun kelahan pun berada diruang kerja papa ranz.
"Kek, apa yang sebenarnya kau pikirkan saat ini?" tanya adam yang sedari awal memperhatikan tingkah alex yang hanya diam saja walaupun ia juga melihat bahwa aluna tadi mengajak alex untuk berbicara tapi tetap alex tidak berbicara.
"Tidak ada."
"Tidak bukan jawaban kek, itu yang aksa tau." celetuk aksa membuat alex mendengus berpikir dua bersaudara ini jawabannya sama saja.
"Hanya ada sedikit mengganggu dikepala kakek, tidak penting."
"Jika tidak penting tidak mungkin kakek memikirkannya sampai mengacuhkan orang, adam tau pasti itu tentang masalah tadi. Ucapan kakek mika." jelas adam membuat alex menatapnya dengan tatapan kosong. Lagi lagi alex melamun dan mengacuhkan ketiga pria itu.
"Kakek? Ceritakanlah, apa yang sedang mengganggu pikiran kakek sebenarnya?"
"Kakek merasa masalah ini belum kelar total." balas alex yang baru membuang nafasnya sebanyak banyaknya. Adam dan aksa mengernyit bingung dan saling lirik lirikkan. "Maksud ayah apa?" tanya ranz.
"Kakek merasa, mika sengaja menyuruh kita untuk meninggalkan negara itu agar kita semua tidak melihat hari terakhirnya.."
"Terakhirnya apa?"
"Gak mungkinkan.. Maksud perkataan kakek mika gak mungkin.." ujar adam dengan menggelengkan kepala sedangkan aksa tidak mengerti maksud dari pembicaraan alex dan adam.
"Maksudnya apa sih? Bisa diperjelaskan?"
"Maksudnya ucapan kakek mika adalah agar kita semua tidak melihat hari dimana ia meninggal karena.." Papa tidak melanjutkan kalimatnya walaupun putranya menunggu kelanjutannya, adampun langsung menyambunginya. "Karena dibunuh."
"HAH!? Yang benar? Tidak mungkin, masalahkan sudah selesai tidak mungkin kakek mika dibunuh."
"Masalah belum selesai aksa! Kita dipulangkan kesini hanya ingin melindungi orang yang tidak tau masalah apapun seperti mamamu dan adikmu." jelas alex yang tidak bisa menahan emosi. Aksa terkesiap lalu menngerjapkan kedua matanya karena terkejut dibentak oleh pria tua yang bukan kakek kandungnya melainkan kakek temannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, lalu apa yang kita lakukan disana setelah menyelamatkan luna?"
"Bertoleransi, kakek mika meminta syarat begitupun dengan wanita itu." jawab adam. Alex memejamkan matanya lalu berdiri dari duduknya menuju keluar ruangan tersebut, sebelum benar benar keluar ia berbicara apa yang ingin ia sampaikan.
"Aksa dan ranz. Kalian cukup diam saja, ini masalah keluarga kami, kami tidak ingin membebankan kalian dan kalian yang jadi korbannya cukup.. Cukup satu orang saja yang dikorbankan dulu." ucap alex lalu melangkah keluar dari ruangan itu dengan menuju kamar tamu tempatnya dengan adam.
Adam diam, aksa dan papa pun diam. Lalu ranz mengangguk setuju, "yang dikatakan kakek adam benar, kita berdua bukan keluarganya jadi aksa mulai sekarang jangan ikut campur urusan mereka, istirahatlah adam jangan terlalu memaksakan diri." Setelah mengatakan itu ranz langsung keluar dari ruangannya dan bertujuan menuju istrinya yang kemungkinan sudah tidur.
Aksa dan adam terdiam, lalu adam menatap aksa yang merasa dirinya tidak dapat membantu. "Kau tidak perlu merasa terbebani, apa yang diucapkan oleh kakek ada benarnya. Ini masalah keluarga kami, mungkin kakek tidak ingin keluarga kalian terkena karena masalah kami. Karena dulu juga ada satu keluarga yang kekeh ingin membantu keluarga kami tapi takdir berkata lain. Jadi mengertilah."
Aksa mengangguk. "Ya, aku mengerti. Lebih baik kau yang mengatakan kepada aluna sendiri karena diriku tidak tega untuk melarangnya. Aku duluan." aksa meninggalkan adam sendiri yang termenung karena memikirkan cara bagaimana memberi tahu aluna agar tidak ikut campur masalahnya.
Dipagi hari suasana yang dulunya penuh tawaa saat ini beda dari sebelumnya, suasana sekarang berubah seperti tidak ada kebahagiaan yang datang diwajah satu persatu seperti sekaranga aluna menatap satu persatu yang sudah duduk dikursi meja masing masing.
"Pagi semua! Ada apa dengan raut wajah kalian semua?" tanya aluna yang hanya disenyumi oleh mamanya. "Tidak ada apa apa sayang, kemarikan piringmu. Mau makan apa?"
"Nasi goreng aja minumnya susu." anzel mengangguk lalu menyendoki nasi goreng yang berada dimangkuk besar kedalam piring putrinya kemudian menuangkan segelas susu dari kotak. "Silahkan sayang, habis sarapan kamu langsung ngampus kan?" aluna mengangguk, dan sarapan saat ini hanya diisi oleh aluna dengan mamanya.
"Iya, tapi masuk siang. Abang masuk ngampus pagi apa siang?"
"Siang, kenapa? Mau bareng?" Aluna mengangguk semangat. "Iya, bolehkan?" Aksa mengangguk. Sedangkan adam ragu ragu ingin mengajak aluna atau sekedar mengantarnya saja. "Apa sore nanti luna ada waktu?" tanya adam.
"Jika ada atau tidak ada kabari diriku." Aluna mengangguk paham lalu selesai sarapan ia langsung kembali kekamarnya dan melanjutkan tugas yang belum selesai minggu yang lalu.
Benda pipih berbunyi dan bergetar disebelahnya. Ia langsung mengangkat saat sudah melihat siapa yang menelponnya. "HEI! DARIMANA SAJA KAMU? DIHUBUNGI DARI KEMARIN TIDAK BISA! AKU KHAWATIR KAU, KAU TAU ITU?!" teriak seseorang yang membuatnya menjauhi benda itu segera dari telinganya yang mungkin saja sudah memerah.
"Iya! Iya! Bisakah kamu bicara dengan volume biasa? Telingaku serasa ingin pecah."
"Habisnya, kau dihubungi sejak seminggu terakhir ini tidak diangkat. Iya maafkan aku, aku tidak bisa tidur akhir akhir ini karena memikirkan kalian berdua tau." orang disebrang sana langsung menutup mulut dan memukulnya dengan kesal karena mulutnya asal ceplos saja.
"Apa? Kau memikirkan siapa lagi selainku?" tanya aluna yang langsung diralat oleh orang itu. "Tidak, tidak ada. aku hanya mengkhawatirkanmu dan kedua orang tuamu." aluna mendengar itu langsung tersenyum menggoda. "Abangku tidak?"
"Tentu saja, dia nomer satu yang kupikirkan saat ini, eh?" aluna tertawa sampai ingin menangis mendengar jawaban sahabatnya ini. "Jadi kalian berdua ada sesuatu yang tidak diketahui olehku, begitukah rizka?" tanya luna dengan menyebutkan nama orang sebrang yang tak lain Rizka sahabatnya.
"Ah iya, aku ngaku dan jujur kepadamu. Kami berdua memang ada sesuatu tapi baru pendekatan saja, jadi apa kabar kalian berdua? Apa kalian baik baik saja? Aku pernah bermimpi bahwa kamu disekap lun, semoga saja mimpiku itu tidak-" ucapannya terputus karena luna langsung memotongnya. "Mimpimu benar, dan kenyataan kok. Aku memang disekap oleh musuh, teman kecilku. Yang bundanya dibunuh dengan tragis."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan keadaanmu? Apa kamu trauma?"
"Pastinya diriku trauma tapi sudah tidak apa apa sekarang, ah iya apa kamu sudah menyelesaikan design gaunmu sendiri?" rizka mengangguk walaupun luna tidak melihatnya. "Sudah kok, oh iya, kamu akan memakai gaun juga bukan?"
__ADS_1
"Iya, kenapa gitu?"
"Pasanganmu siapa? Kan ada pengumuman bahwa kita harus membawa pasangan-" "Benarkah itu? Mengapa diriku tidak mengetahuinya?"
Rizka mendengus pelan karena ucapannya diputus lagi oleh aluna. "Tentu saja kamu tidak tau, orang kau seminggu ini tidak hadir."
"Ah iya, gimana dong? Aku harus mengajak siapa?"
"Tunangan masa kecilmu saja, kata bintang dia berada dirumah kalian bukan?"
"Bintang? Kau memanggil abangku dengan bintang? Benar benar ada apanya kalian, pasti lebih dari kata pdkt kan?" Rizka disebrang sana pipinya memerah begitupun dengan suaranya yang gugup. "Ti-tidak, ka-kami baru pdkt kok." Aluna tersenyum. "Tidak percaya tuh."
"Ah sudahlah, aku hanya ingin kita kesana menggunakan gaun yang warnanya sama bagaimana?" Aluna mengangguk. "Baiklah, apa citra sudah tau?"
"Malahan citra yang mengajaknya. Jadi apa kamu mau join dengan kami?"
"Tentu saja, aku akan join, jadi apa warna yang kalian inginkan?" tanya aluna , rizka terdiam sebentar mungkin ia sedikit memikirkan sesuatu. "Biru atau hijau?"
"Emm.. Tunggu sebentar.. Bagaimana dengan warna hijau saja?" tanya aluna kepada rizka, "oke, sebentar aku chat citra dulu... Oke, dia setuju malah dia hanya memiliki gaun berwarna hijau haha, dia mengatakan ini untukmu. 'Terimakasih luna sayang, kau seperti mendengar doa dariku.' itu katanya."
"Haha, aneh sekali dia. Yaudah pesan untuknya jaga kesehatan."
"Yas, sudah aku kirim. Oke aku matikan terlebih dahulu ya, kita lanjutkan nanti." ucapnya yang ingin segera menghubungi seseorang yang sudah membanjiri chat sampah kepadanya. "Pasti kau ingin menelpon bersama abangku ya?"
"Hm, ya. Dadah sayangku~ Muahh~." tut.
Aluna hanya menggelengkan kepala lalu melanjutkan tugasnya sampai ia lupa waktu bahwa kelasnya sebentar lagi dimulai, ia langsung mengebut secepat kilat untuk merapihkan diri dan ia langsung memakai pakaian yang ia senangi.
Sampai dilantai bawah ia bisa melihat abangnya yang sudah salim kepada orang tuanya lalu melirik kearahnya. "Kirain tidak ingin masuk. Ayo berangkat kita sudah hampir telat." aluna mengangguk lalu menyalimi kedua orang tuanya dan berlari masuk kedalam mobil abangnya yang sudah menunggu didepan rumah sambil memanaskan kendaraannya.
"Sudah?" Aluna mengangguk. "Sudah bang, jalan saja." Aksa menjawabnya dengan deheman lalu menggas mobilnya menuju kampusnya dan kampus adiknya.
---Bersambung---
Jangan lupa like dan mampir kecerita lainku.
Terima kasih..
__ADS_1