
Massachusetts, USA. Tiga hari yang lalu.
Rangga terus menangis tanpa tau harus berbuat apa.
Depresi yang dideritanya luar biasa menyiksanya.
" Ell....tolong carikan aku tiket ke Jakarta secepatnya..." Ucap Rangga lemah.
Suaranya sudah sangat habis begitupun tenaganya. Rangga benar-benar seperti mayat hidup.
Bersyukur Rangga masih bersandar pada Tuhanya dengan terus beristighfar, kalau tidak tentu dia akan menjadi gila karenanya.
Yang ditunggu hanya kabar dari Jakarta, tapi sampai hari ini tak juga satupun yang menghubunginya, bahkan tak ada satupun yang mengangkat telponnya.
Sepanjang hari ini benar-benar hari terberat untuk Rangga selama hidupnya.
" Sayang..hu..hu..hu..." Lirihnya frustasi, dengan tangisnya yang memilukan. Tidak sesuap makananpun yang masuk dalam perutnya dari kemarin.
Membuat Elliot dan Adam ikut bimbang.
Melihat keadaan Rangga yang seperti itu, sebagai sahabat mereka berdua tidak tega membiarkan Rangga melakukan perjalanan jauh sendiri.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mendampingi Rangga kembali ke Jakarta dengan resiko bertumpuknya tugas mereka. Tapi tidak masalah, persahabatan di atas segalanya.
Rumah Sakit Mutiara Hati, Jakarta.
" Linda tolong selamatkan cucuku...." Mommy Tara mengiba, menangis memohon sahabatnya untuk menolong Ara dan twins.
" Hon, sudah.... Bersabar sayang..." Daddy Hen memeluk mommy yang tampak pucat tiga hari ini.
Flashback on.
Ardi dan Azura berlari mendekati Bianca dan Ara yang merintih kesakitan.
Ara terlihat pucat dan berkeringat dingin sembari tanganya terus memegangi perutnya.
" Sakit.......hik...hik..., ini sakit bang..." Tangis Ara memilukan.
" Hua...hua...nty Ala ini cakit...cakit tanan Bian..." Demikian juga rintihan Bianca yang mengeluh tanganya sakit karena terkilir akibat tarikan sambaran keras preman tadi.
Azura menggendong Bianca dan membujuknya agar diam, sementara Ardi segera membantu Ara bangkit.
" Sssshhhh..., sakit bang..." Desis Ara lagi dengan menggigit bibirnya demi mengurangi rasa sakit yang hebat.
" Sabar Beb, Leon sudah memanggil ambulan, sebentar lagi sampai.."
" PRINCESS..." Teriakan Marvel mengejutkan Ardi.
Marvel berlarian di lorong bersama Brian menuju tempat mereka.
Dengan cepat Ardi melepaskan jasnya dan menutupkanya pada kepala Azura.
" Tutup wajahmu Zu..." Ucap Ardi lembut.
Marvel dan Brian mematung sesaat melihat tampilan keempatnya.
Brian mendekati Azura dan meminta Bianca untuk digendongnya.
" Bian sini sama om..." Ucap Brian lembut. Biancapun mengulurkan tanganya untuk berpindah ke gendongan Brian.
Ardi melirik dengan tidak suka melihat interaksi mereka.
" Zu...kamu???, mana tutup wajahmu??" Brian terkejut melihat Azura yang terus memegangi jas Ardi yang tersampir di kepalanya dan terus digenggamnya melingkar menutupi pucuk hidungnya.
"Mereka merenggutnya paksa" Jawab Ardi cepat.
" Brengsek!!!, yang mana orangnya!" Tanya Brian geram.
Ardi menunjuk seorang preman yang telah dibekuk teman-teman Ardi.
Brian dengan wajah dinginya melangkah mendekati preman tersebut dan...
Plaaak!!!
Plaaak!!!
Wajah preman tersebut banyak belur ditangan Brian.
" Ha..ha..ha., kau pikir dengan menangkap kami kandungan gadis itu akan selamat!!!, tidak akan!!!, kau akan menangis darah karena telah menyakiti adikku!!! Cuihhh!!!" Preman bertato di tangan Choach Ardi memberontak dan membuang ludah ke arah Ara.
Marvel murka melihat itu semua.
Duak!!
Duak!!
__ADS_1
Tendangan maut Marvel bersarang di perut bangsat itu.
Plak!! Plak!!
Tamparanya bercap merah di kedua pipi preman bertato, yang kini berpindah ke cekalan Brian.
Marvel akan berubah menjadi setan manakala siapa saja berani menyentuh princess nya.
Leon yang geram semakin memelintir tangan preman dalam cekalanya.
Kreekk!!!
" Akkhhhh!!!" Jerit preman itu saat Leon semakin memelintir tanganya ke belakang.
" Ampun...ampun...kami hanya disuruh!!. Ampuun..." Jeritnya.
" Siapa yang menyuruhmu Hahhh!!!" Bentak Brian.
" Awalnya kami hanya mengincar gadis itu" Tunjunya pada Ara.
" Tapi ternyata ada putri Linggar Pramudya.., jadi kami merasa dapat jackpot!!" Ucap si preman dengan sesekali meludahkan darah yang memenuhi mulutnya.
Linggar Pramudya???
Mendengar nama kakaknya disebut, Azura langsung membelalakan matanya.
" Kakak?, kau mengenal kakakku?" Azura yang terus menutup wajahnya dan hanya menyisakan matanya dengan jas Ardi, melangkah mendekati preman itu.
" Tentu saja kenal, bahkan aku juga menikmati wajah sekaratnya saat kematian mendekatinya ha...ha..ha.."
Plak!!! Plak!!!
Tanpa rasa takut Azura mendaratkan tamparannya pada kedua pipi preman tersebut.
Suasana tegang seketika.
" Sss....sakit..." Desisan kesakitan Ara membuat telinga Marvel bagai tertusuk kawat berduri.
Dengan cepat dia meraih tubuh Ara dalam gendongannya.
" Ardi cepat kita kerumah sakit sekarang!!!. Brian, mereka urusanmu!!" Ucapnya pada Brian. Dan Brianpun mengangguk patuh.
Ardi mengambil alih Bianca dari tangan Brian dan membawanya mengejar Marvel. Tak lupa tangan sebelahnya menarik sedikit kain lengan baju Azura untuk mengikutinya.
Mereka berlarian di korodor hotel Mahakam, dan kebetulan pula ambulans yang di panggil Leon tadi baru saja tiba.
Flasback off.
Sementara Ara hanya diam saja melamun, tatapanya kosong. Keadaannya saat ini sebelas duabelas dengan Rangga.
Akibat tendangan kuat pada pingganya dan tekanan hebat saat Ara jatuh terduduk mengakibatkan satu dari janinnya tidak selamat. Sementara janin satunya lagi dalam keadaan yang lemah dan kritis.
Dan tepatnya kemarin pagi satu janinnya menyusul gugur saudaranya.
Kabar mengejutkan itu membuat seluruh kerabat dan keluarga Syakib berduka.
Bahkan kakek Al Gifari beberapa kali mengalami serangan jantung.
Ara mematung dengan tatapan lurus ke depan. Tiga hari ini Ara maupun Rangga benar-benar mirip mayat hidup.
" Ra..., makan sedikit yuk..." Bujuk Lenox.
Lenox hampir tak pernah selangkahpun meninggalkan kamar Ara. Walaupun berulang kali Ardi mengusir nya, Lenox hanya akan berpindah ke ruang tunggu depan ruangan.
" Emmmm" Hanya itu suara yang terdengar dan hanya gelengan kecil terus menerus.
" Kau tidak kasihan dengan babby.., mereka akan sedih melihat mommynya seperti ini Ra, Apa kamu tega??" Bujuk Lenox lagi.
"Hik...hik...hikk.." Tangis Ara pecah. Lagi..
Akan terus seperti ini, Ara selalu seperti ini dalam dua hari ini.
Tidak ada satupun yang bisa membujuk nya makan.
Hari-hari nya hanya dihabiskan dengan menangis dan menangis. Ara benar-benar terpuruk saat ini.
" Sayang...makan dulu ya.., sedikit saja ya nak.." Kini ganti mama Neela berusaha membujuk Ara, tapi reaksi Ara sama saja. Tak bergeming sama sekali.
Sementara itu Rangga yang kini masih dalam pesawat menuju Jakarta terlihat tertidur karena kelelahan menangis.
" Ga, we are was arrived in Jakarta. Give me you address bro.." Elliot menepuk pipi Rangga agar terbangun.
Rangga membuka matanya. Dadanya berdebar hebat saat ini.
Ada rasa sesak luar biasa yang membuat nafasnya tersengal.
" Just call my friend named Denis in my cell phone contact, please..." Pinta Rangga.
__ADS_1
Adam mengangguk dan mengeluarkan ponsel Rangga lalu menempelkan pada telinganya.
Beberapa saat kemudian terlihat Denis melambaikan tanganya saat melihat Rangga.
Denis berlari menghampiri Rangga yang benar-benar terlihat kacau.
" Sabar...bro!!!, yang tawakal.." Denis mengusap punggung Rangga yang kini menangis kembali.
Rangga memang cengeng dari kecil!!. Itu harap di garis bawahi. Tapi Rangga hanya menangis karena Ara dan untuk Ara itu yang utamanya.
Mobil Denis meluncur menuju RS. Mutiara Hati.
" Apakah mommy dan daddy mu tahu kamu balik bro?"
" Nggak " Jawab Rangga singkat.
" Bagaimana keadaan Lili Den?" Pertanyaan yang ditakutkan Denis akhirnya terucap dari bibir Rangga juga.
" Kamu bisa melihatnya sebentar lagi.."
Degghh....
Nyut...nyut...
Hati Rangga bagai diremas-remas, rasa sakit yang luar biasa hebat.
Rangga bukan orang bodoh yang tak bisa memahami situasi ini.
Dengan tak satupun orang memberinya kabar saja dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Dan lagi jawaban Denis yang menurutnya ambigu semakin menambah keruh suasana hatinya saat ini.
Rangga meremat dadanya yang sesak saat mobil Denis mulai memasuki gerbang RS.
Kepalanya terasa berkunang-kunang karena tekanan rasa nyeri di dadanya.
Dia takut..
Takut tidak mampu mendengar kenyataan..
Langkah kaki mereka kini menuju dimana Ara dirawat.
Lenox, mama dan papa yang kebetulan berada di kursi ruang tunggu terkejut melihat keberadaan Rangga.
" Rangga..." Ucap papa terkejut.
" Papa..." Rangga langsung menghambur ke pelukan papa Syakieb.
Mereka menangis, mama ikut merentangkan pelukanya pada suami dan menantunya.
Suasana haru itu membuat Lenox, Denis, Elliot dan Adam menitikkan air mata mereka.
" Sayang yang sabar.., Segala sesuatu itu milik Allah, dan akan kembali kepada Allah. Ikhlas nak...ikhlaskan twins untuk kembali kepada pemiliknya.... Allah lebih sayang twins dengan mengambilnya lebih cepat..."
Duaaaaarrrr!!
" J...j..jadi...jadi..." Rangga tak dapat meneruskan kata-katanya.
Jadi? Twins pergi..
Anakku pergi...
Pergi???
" Akkhhhh......" Rangga meremat rambutnya lagi. Air matanya sudah tak terbendung, tumpah ruah bagai air bah.
" Sayang...istighfar nak..." Mama Neela terus menggosok punggungnya.
" Adam katakan padaku apa yang kau dengar ?" Elliot berusaha tidak percaya dengan apa yang di dengar.
" Yang ku dengar dan yang kau dengar itu benar, so the twins have gone.." Bisik Adam dengan nada yang sedih.
Cekrek..
Pintu ruangan Ara terbuka, muncul dari pintu itu mommy, daddy dan Hana, Adnan.
" Rangga?, kamu pulang sayang?" Mommy berlari kecil untuk memeluki putranya.
Daddy Hen pun juga melangkah mendekat, memberikan kekuatan dan dukungan penuh pada putra semata wayangnya itu.
" Son...sabar nak. Apa yang ada di sisimu akan lenyap. Dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal. Putrimu kini telah kekal bahagia disisi Allah....
Ikhlaskan son..."
" Putri dad??"
" Ya..sayang, mereka perempuan..." Bisik mommy.
__ADS_1
Rangga menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
" Masuklah dek..., barangkali dia mau makan jika itu darimu, dua hari ini adikku itu tidak makan sama sekali..., tolong..." Adnan menepuk punggung Rangga dan sedikit mendorongnya untuk masuk ke dalam.