Childhood Love Story

Childhood Love Story
Paris


__ADS_3

Didalam sebuah kamar hotel di Paris, Perancis.



" Kita pulang aja besok Bi...." Ucap Ara dengan memanyunkan bibirnya.


" Loh kenapa?, masih 2 hari lagi kan?" Jawab Rangga dengan tangannya lihai menggosok rambut basah Ara.


" Masa disini hampir satu minggu, tapi kamu mengurungku terus dikamar begini Bi..., kalau cuma gitu-gituan mah di rumah juga bisa!!" Ucap Ara dengan nada kesal.


" Mmmbbbhhh ha..ha..ha.., gitu-gituan???biar gitu-gituan kamu juga suka kan?" Rangga gemas bukan main melihat tingkah Ara yang manyun dan imut.


" Terpaksa Lili mah...." Jawab Ara geram.


" Nah!!, kok gitu sih? Buktinya kamu nurut aja.., nggak pernah nolak juga.." Rangga menciumi punggung Ara yang terbuka.


" Mana boleh aku nolak Bi..., emangnya kamu mau aku dibakar di neraka?" Sahut Ara kesal.


" Ya nggak mau lah, makanya aku ajakin kamu ke surga tiap hari, dari pagi siang sore malem, subuh..." Bisik Rangga dengan bibir menempel ditelinga Ara.


" Surga Dunia kita sayang...." Lanjut Rangga dibarengi dengan mengigit geram pundak Ara.


"Awwww sakit.., kamu KDRT mulu Bi... Lili adukan ke polda metro baru tau rasa kamu.." Ucap Ara dengan mendorong kepala Rangga agar sedikit menjauh.


" Astaghfirullah, kamu suka nonton gosip ya!!, mau ikut-ikutan viral kayak artis itu!!" Rangga mengecup bekas gigitannya.


" Jadi istriku ini mau jalan-jalan keluar?, nggak mau diajakin jalan-jalan ke surga?, udah bosan gitu?" Rangga memutar kursi Ara agar menghadap padanya.


" Ya iyalah Bi..., masa udah nyampai kesini, liat Menara Eiffel aja cuma dari balkon doang"


Rangga sungguh gemas melihat tingkah Ara yang imut banget saat ini. Rangga juga heran, kenapa tiap kali berdua bersama istrinya bawaanya pengen rebahan dikasur melulu. Entah ada magnet apa yang ada ditubuh istrinya ini, membuat nya pengen nempelin dia terus.


Dan dia menyadarinya tidak hanya sekarang ini saja, tapi dari semenjak mereka kecil juga sudah ada magnet yang menarik Rangga untuk terus menempel pada Lilinya.


" Kamu pakai pelet apa sebenarnya yang?" Peletmu benar-bener ampuh" Rangga meraih jemari Ara dan mengulum nya, membuat Ara meringis cemas.


" Sudah Bi..., cukup. Badan Lili sakit semua ini...."


Rangga tersenyum tipis menatap wajah Ara yang memang terlihat ada gurat kelelahan disana.


Maafkan aku sayang..


Aku benar-benar tidak mampu menjinakkan 'my something' jika itu kamu..


Seolah-olah dia sangat tahu rumahnya yang tepat itu adalah kamu...


" Bi...?, melamunin apa?" Ara menepuk pipi Rangga pelan.


" Apa kau mencintaiku sayang?" Bisik Rangga.


Ara hanya mengangguk dan langsung memeluk erat tubuh Rangga yang semakin macho.


" Ya udah, yuk...kita keluar.... Bersiaplah.."


" Beneran??, kita jalan-jalan?" Ara melonjak kegirangan, matanya berbinar-binar.


Rangga tersenyum dan mengangguk, tangannya terulur mengusap rambut Ara dengan sayang.


" Love you sayang..., always.." Bisik Rangga


" Me too Bi...." Sahut Ara yakin.


...****...


Tiga minggu setelah kepulangan mereka diisi dengan kekisruhan luar biasa.


Ara yang terus-terusan uring-uringan karena Rangga yang terus menerus mengganggunya dalam mengerjakan skripsinya sampai-sampai memilih untuk minggat kerumah orang tuanya.


" Sayang kamu mau kemana bawa koper?" Tanya Rangga heran, saat baru pulang meeting dengan Denis dan Bagas.

__ADS_1


Lamarannya untuk mengajar di kampus Ara belum ada perkembangan yang terlihat, jadi dia memutuskan untuk membantu di kantor daddy dan turun tangan dalam usaha bersamanya dengan Denis dan Bagas.


" Lili minta ijin Bi..., dua minggu ini Lili mau ngadem kerumah papa, sekalian mau fokus dengan skripsi Lili.."


" Nggak boleh, disini juga adem kok yang..., disini juga bisa fokus kok, kenapa kesana?"


Ara menghela nafasnya berat. Bagaimana bisa ngadem jika Rangga terus-terusan menempelinya terus, bawaanya justru semakin panas.


Bagaimana bisa fokus jika setiap kali Ara bersiap duduk memangku laptopnya, tetapi tangan Rangga selalu sibuk *****-***** kemana-mana.


Ara menggeret kopernya hendak keluar kamar tapi langsung berhenti saat suara dingin Rangga mengagetkannya.


" Kakak berjanji nggak akan mengganggu mu sayang, jangan pergi..."


" Bohong.." Sahut Ara tanpa menoleh.


" Sumpah sayang, sumpah.... Kakak bantuin deh sebagai gantinya..." Janji Rangga.


Pria muda itu bergegas meraih koper Ara dan disingkirkannya cepat.


" Habis ashar kita ke kerumah Vino yuk?, katanya ada Hanan, baru pulang dari Mesir.." Ucap Rangga


" Alhamdulilah..., akhirnya pulang juga bang Hanan, kirain udah mentok di Kairo aja dia..." Ucap Ara.


" Yuk cuzzz buru...." Lanjut Ara dengan tangan menyambar handuk dan berlalu menuju kamar mandi.


" Ya elah buru-buru amat bu..., saking kangennya sama mantan..." Sindir Rangga.


Ara berhenti seketika dan langsung membalikkan badanya.


" Bi....tolong deh!!!, kalau ngomong yang hati-hati. Setiap ucapan itu doa Bi..., Kakak mau begitu?, Lili jadi mantan bang Hanan?" Ara menggelengkan kepalanya pelan.


Rangga jelas nggak mau lah!!, ditepuknya berulang-ulang bibirnya sambil terus beristighfar.


" Astaghfirullah, maaf sayang...ampun sayang..." Rangga berlari menubruk istrinya itu.


" Ya sudahlah jangan diulangi lagi..." Ara mengusap rambut Rangga yang menjuntai menutup sebelah matanya.


" Nanti aja, udah ada nadzarnya sayang..." Jawab Rangga dengan tangan yang ikut merapikan rambut Ara, menyematkan setiap helaiannya ke belakang telinga Ara.


" Nadzar??"


" Iya sayang, kakak hanya akan potong rambut saat nanti jika kakak jadi daddy...." Ucapnya sendu.


Ara menunduk menyembunyikan matanya yang telah berembun karena mengingat twins.


" Sudahlah..., mandi yuk. Kakak pijitin punggungnya...huppp" Tanpa menunggu jawaban Ara, Rangga langsung mengangkat Ara dalam gendongannya menuju kamar mandi.


...***...


Beberapa mobil telah terpakir di depan rumah Vino sore itu.


" Nah itu mobil brothy Marvel udah datang juga, wah asyik nih seru pasti..." Seru Ara.


" Seru?? Kok??" Tanya Rangga heran.


" Penasaran??. Cukup kakak perhatikan saja interaksi antara double S saat ketemu Shanum nanti..." Ucap Ara dengan tersenyum manis.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya dengan benar Rangga membukakan pintu Ara dan merekapun berjalan beriringan memasuki pintu samping rumah Vino.


" Mommy...mommy..mommy...." Teriak kedua anak Vera dan Rasya Adnan Syakieb.


Ara merentangkan tangannya dan segera berjongkok menunggu ketiganya menghambur padanya.


Sementara double S berjalan santai kearahnya dengan kedua tangan bersedekap di dada.


" Mommy punya ini..." Ara mengeluarkan lima coklat dari tasnya. Tiga dibagikan kepada Shanum, Saga dan Rasya.


Sementara yang dua masih dipegangnya.

__ADS_1


" Thank you mommy" Ucap mereka dan masing-masing mengecupi pipi Ara.


Ketiga tangan mungil itu memegangi ujung-ujung dress Ara, dan mengikuti langkah kaki Ara yang melangkah ke arah anak kembar Marvel.


" Kalian nggak mau ini?" Tanya Ara pada keduanya.


" No mommy, buat Shanum saja..." Jawab Shine malu-malu.


" Sunny ??" Tanya Ara


" Shanum suka cokelat, buat dia saja..." Ucap Sunny dengan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona merah.


Ara melipat bibirnya kedalam dan melirikkan matanya pada Rangga.


Rangga ikut mengulum senyumnya dan langsung paham dengan apa yang dibilang Ara 'seru' tadi.


" Mirip kamu jaman dulu Bi...." Bisik Ara.


" Masa sih aku lebay kayak mereka..." Rangga mengusap telinganya yang tiba-tiba panas menahan rasa malunya.


" Kamu lebih parah Bi...., kamu lebih lebay..." Bisik Ara lagi.


Rangga tertawa kecil dan meraih Saga untuk digendong nya.


Mungkin jika twins masih ada tentu mereka akan sepantaran...


Ya Allah jika Engkau masih mempercayakan titipan kepada kami..


Hamba mohon segerakan...


Rangga terus memohon dalam hati, untuk segera mendapatkan pengganti twin. Karena Rangga sangat ingin menebus semua yang terlewat saat keberadaan twin dahulu.


Rangga berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga dan melindungi Ara sepenuh hatinya.


Biarlah masa lalu menjadi kenangan terindah atas keberadaan twin walaupun sebentar.


" Kenapa Bi..." Ara mengelus lengan Rangga yang melamun saat Hanan melangkah hendak menyapa mereka.


" Ah nggak papa sayang..." Ucap Rangga langsung mengecupi pipi Saga dan menyerahkan nya pada Vino.


" Lailia...Rangga...."


Sapa pria muda yang terlihat tampan dan teduh. Matanya yang santun, senyumnya yang manis dan wajahnya yang cerah menyejukkan siapa saja yang melihatnya. Ya, dia adalah Zaidan Hanan Abqori.


" Hanan...apa kabar?" Sapa Rangga dengan tangan yang terentang memeluk Hanan.


" Alhamdulilah, seperti yang terlihat Ga..."


Hanan menepuk-nepuk pundak Rangga yang kokoh dan tinggi.


" Lo terlihat happy Ga, auranya badas banget kamu..." Hanan menabok punggung Rangga.


" Gimana nggak happy, hasrat tersalurkan halal. Gimana auranya nggak badas, orang istrinya dibikin gempor tiap hari..." Sahut Marvel sok tahu.


" Ha...ha..ha.. " Suara riuh tawa menggelegar di ruang keluarga, dan jelas didominasi oleh suara para pria.


" Bang, udah nemu ukhti-ukhti belum nih?" Bisik Ara pada Hanan.


Hanan tersenyum menatap Ara, gadis yang pernah bersarang lama dihatinya. Gadis yang pernah memporak-porandakan hatinya, saat dia harus memaksakan hatinya untuk ikhlas mendengar pernikahan Ara waktu itu.


" Alhamdulillah sudah, nanti abang kenalin. Do'akan lancar ta'arufnya ya Ra..."


" Aamiin...semoga lancar bang, Ara ikut senang..." Ucap Ara dengan air mata menetes di sudut matanya.


" Ssttt.., cuplah...nggak usah nangis lah...." Bisik Hanan pelan.


Semakin dibisiki seperti itu Ara semakin terisak. Sebenarnya tangisan Ara adalah tangisan bahagianya, karena terlepas dari bebanya selama ini. Tetapi ditanggapi lain oleh sudut pandang Rangga.


Rangga yang melihat Ara menangispun merasa ngilu. Apalagi melihat Hanan kebingungan untuk mendiamkan Ara.

__ADS_1


Suasana menjadi sedikit melow karena kejadian tersebut.


__ADS_2