Childhood Love Story

Childhood Love Story
Kado terindah


__ADS_3

Klatak!!!


Rangga menjatuhkan empat tespec dengan dua garis merah itu dengan tangan bergetar. Dadanya berdebar bertalu-talu saking bahagianya.



" Alhamdulilah ya Allah, Masya Allah..Tabbarakallah " Seru Rangga dengan mata yang memerah menahan tangis bahagianya.


Sebenarnya Rangga sudah feeling akan hal ini, karena dahulupun dia merasakannya saat Ara hamil twins, tapi melihat Ara yang santai dan tidak menunjukkan gelagat apapun membuat Rangga mengubur harapan yang sempat ada.


Bahkan berulang kali Rangga ingin memastikan, tapi sejauh inipun tidak ada sikap dan perilaku Ara yang berubah. Setahu Rangga saat hamil twins dulu mereka sama-sama mabok, sama-sama merasakan ngidam, muntah dan sebagainya.


Tapi lihatlah, saat ini hanya Rangga yang terlihat tersiksa, jadi Rangga tidak mau membesarkan harapannya dari pada harus merasakan kecewa. Dengan melihat langsung tespec ditanganya ini, apalagi empat dengan hasil yang sama. Membuat Rangga benar-benar merasakan rasa bahagia yang membuncah.


Brughh..


Rangga menjatuhkan tubuhnya untuk bersujud sukur.


" Pak Rangga..., pak Rangga kenapa?" Tanya beberapa dosen senior dan juga beberapa asdos seperti dirinya diruangan itu, saat melihat gelagat aneh Rangga.


" Sa..saya hanya sedang bersyukur, akhirnya istri saya hamil lagi.... Alhamdulillah.." Ucap Rangga dengan mengusapkan lengannya untuk menghapus air matanya.


Ini adalah kado terindah selama hidupnya.


" Istri??" Tanya mereka terkaget.


" Iya Pak..istri..." Jawab Rangga dengan tersenyum dan menunjukkan cincin kawin yang berada dalam kalungnya sebagai buah liontin.


Mereka tekejut tak percaya, sementara Profesor Adinata sahabat profesor Pramana tersenyum.


" Selamat Rangga, semoga kandungan istrimu selalu sehat dan lancar terus sampai melahirkan..."


" Terimakasih prof..." Ucap Rangga dengan santun.


Satu persatu dosen dan asisten dosen yang berada di satu ruangan itu memberikan selamat padanya.


Mereka hanya syok, asisten dosen yang badas dan tampan ini rupanya telah beristeri.


Hebatnya lagi dia jujur dan tidak menutup-nutupi statusnya.


Kalau cowok selain Rangga mungkin menyembunyikan statusnya, apalagi dia digilai banyak wanita. Jangankan dicolek, dilirik Rangga aja sudah luar biasa bersyukurnya. Ibaratnya, para gadis bisa saja merangkak memohon untuk sekedar bisa dilihat oleh Rangga. Tapi sayangnya, ini Rangga. Pria pilihan Ara.


Pria yang jelas-jelas terbukti akhlaknya kayak gimana.


" Istri anda kerja dimana pak Rangga?" Tanya seorang wanita sesama asdos.


" Istri saya masih kuliah.." Jawab Rangga dengan tersenyum.


" Oh gitu..., kuliah dimana pak?" Tanya yang lainnya.


" Disini juga..." Jawab Rangga lagi.


" Hahhh....masa sih pak?"


" Anak mana pak?"


" Waduh yang mana ya jadi kepo"


Ucap beberapa dosen senior di ruangan itu heboh.


" Anak fakultas kedokteran" Jawab Rangga.


" Hahhh, iya kah? Siapa ya?" Tanya asdos Aji Wasesa.


" Lailia Nafeesa Anara.." Jawab Rangga


"Maksudnya Ara itu?" Tanya Aji lagi, asdos pembimbing Ara dan Lenox.


" Loh...kok? Ara bukanya pacar Lenox?" Tanya Dosen pengajar di Fakultas Ara.


" Bukan pak, Ara istri saya.." Ucap Rangga tegas.


" Wahhh, Ara ya..Ara itu cerdas loh, cantik lagi dan kalem banget anaknya lho. Kamu pinter milih istri.." Ucap salah satu ibu dosen senior.


Rangga tersenyum dan mengangguk, jelaslah dia pinter milih istri. Orang dia menyeleksinya aja dari bocil.


" Masih ingat nggak malam Dies Natalis tahun lalu, dia main gitar solo waktu itu...wah belum bisa move on saya dari kebadasan Ara mencabik gitarnya " Ucap seorang dosen wanita yang lainya.

__ADS_1


" Eh iya ya..., baru ingat saya. Waktu itu Ara keren banget.." Sahut yang lainya lagi.


Rangga mengangguk dengan senyum bangganya mendengar para dosen mengagumi istrinya.


Alhamdulillah...


Beruntunglah aku


Mendapatkanmu adalah anugerah terindah..


Kau adalah separuh jiwaku..


Kau adalah separuh nafasku..


...***...


Sepeninggal Rangga, Ara segera meluncur ke rumah Wijaya. Disana juga telah berkumpul para sahabat dan kerabat. Mereka membuat berbagai macam hidangan, karena hari ini giliran surprise birthday untuk calon young daddy. Mommy Tara yang mengetahui kehamilan Ara beberapa hari lalu begitu bahagia. Mereka bertekad untuk benar-benar menjaga calon cucu mereka dengan baik.


Tapi masalah besar nya, setelah sidang skripsi usai...Ara wisuda. Dan setelahnya adalah Koas..., dalam keadaan hami?.


" Selamat ya..Ra..."


Ucapan selamat dan do'a-do'a kebaikan dari sahabat dan kerabat menguatkan tekat Ara. Nggak papa lah hamil di situasi yang berat. Memang rencana Allah seperti itu, maka jalani sajalah dengan iklas. Setiap ada kesulitan tentu ada jalan keluarnya bukan.


Tetapi masalah besar kini justru datang, disaat Ara sedang mempersiapkan masakan kesukaannya yaitu sop bakso tahu. Tiba-tiba saja aroma bakso membuatnya mual luar biasa.


"Hoek...hoek....hoek..."


Dan begitulah..


Disaat Rangga mulai merasa berkurang rasa mual dan muntahnya kini justru giliran Ara yang harus terkapar mabok karena kehamilannya.


" Istirahat dulu sayang.... Minum dulu air jahenya.." Ucap mama Neela.


" Hmmmm" Ucap Ara.


" Ssshhh, pusing mah. Lili tiduran dulu saja ya mah..." Pamit Ara pada mamanya.


Wajah Ara benar-benar pucat dan pias.


Perlahan-lahan dia naik tangga menuju kamar Rangga.


Ara memijit keningnya pelan, kemarin Ara sempat heran, kenapa hanya Rangga yang mual muntah. Tapi tidak tahunya dia harus merasakannya belakangan.


Tapi biarlah..


Ini proses, nikmati dan jalani sajalah..


Kalau tidak begini tentu tidak ada rasa nano-nanonya saat hamil.


Diberikan kepercayaan oleh Tuhan dengan kembali diberikan titipan saja sudah sangat bahagia. Kalau cuma harus membayar dengan mual dan muntah saja itu tentu tidak masalah bagi Ara.


Setelah beberapa lama berfikir dan melamun akhirnya Arapun tertidur karena terlalu lemas.


" Emmmmhh, hoek..hoek.." Ara terlonjak dari tidurnya saat tiba-tiba perutnya kembali melilit.


" Ini sayang minum.." Rangga menyodorkan segelas air hangat. Pemuda itu telah duduk di pinggir kasur.


" Bi...sudah pulang.., acaranya dibawah---"


" Sudahlah, pentingan kamu sayang. Terimakasih sudah repot-repot buat acara untuk kakak..." Rangga menarik Ara dalam pelukannya.


" Iiihhh..., nggak!!. Sanaan ihhhh, kakak bau....hoek...hoek..." Ara berlari kekamar mandi dengan terburu-buru.


" Ap..apa?. Gue bau??..masa sih?.." Rangga mengakat tangan kanan dan kirinya dan membaui ketiaknya.


" Wangi gini kok..." Gumamnya, tapi sejurus kemudian dia tersenyum.


Fix, istri gue benar-benar hamil


Alhamdulillah ya Allah...


Rangga turun ke kebawah setelah mandi dan berganti baju untuk menemui para sahabat dan kerabatnya.


Sementara Ara meletoy... Gadis itu benar-benar tidak bisa dekat dengan Rangga.


" Masa sih Rangga bau??, itu karena ngidam kamu aja sayang.." Ucap mommy Tara.

__ADS_1


" Entahlah mom..." Desis Ara sedih.


" Ya sudahlah, mulai besok Rangga nggak usah pakai parfum lah, atau kalau nggak ganti aja parfum yang aromanya kamu sukai.." Ucap daddy Hen bijak.


" Hemmm, betul itu.." Sahut papa Syakieb.


" Sayang sini, ayo potong kuenya dulu.."Rangga menarik tangan Ara agar mengikutinya.


Arapun berjalan mengikuti Rangga, tapi agak berjauhan.


" Sini sayangku, apaan sih masa sama suaminya jauhan gitu.." Rajuk Rangga.


" Tapi..memang mual, emmppp..." Ucap Ara sedih dengan menutup hidung dan mulutnya.


" Ckk..ya udahlah, kakak mandi lagi..." Rangga kembali ke atas untuk mandi dan berganti baju.


" Lili masih mending, dulu Neela setiap hari maunya Hen yang masakin telur puyuh lada hitam. Yang suaminya siapa, yang disayanginya siapa?" Sindir papa pada mama.


" Loh..., ya sayang kamu lah yang... Kok masih dipertanyakan sih!!" Sahut mama Neela.


" Kalau Tara beda lagi, dia lebih "ekhhem" saat hamil Rangga..." Ucap daddy.


" 'Ekhhem' apaan?" Tanya papa penasaran.


" Nafsunya tinggi Kieb, gue sampai merinding waktu itu..." Bisik daddy pada telinga papa.


" Oh...pantesan.... " Sahut papa.


" Pantesan??"


" Pantesan anak loe mesumnya nggak ketulungan.." Papa menggelengkan kepalanya pelan.


Tapi dia sungguh bersyukur, Rangga yang sekarang tidak seperti Rangga dahulu yang selalu menatap putrinya dengan tatapan mesum. Tatapan Rangga kini terkendali.


Dari segi watak sikap Rangga yang memang pendiam dan santai. Sekarang lebih terlihat ramah dan berkharisma.


Tak..tak...tak..


Rangga berlari turun dengan baju yang telah terganti.


" Nah.., bau nggak? " Tanya Rangga langsung memeluk istrinya.


"Nggak, tapi ini bau bedak bayi Lili deh..."


" Iya emang..." Jawab Rangga


" Tapi jadi nggak macho dong, baunya jadi kayak bayi..." Ara tertawa kecil.


" Nggak papa, semua akan akang lakukan demi nyai...., nyai senang, akang girang...." Bisik Rangga.


" Ckck modus ini mah....." Sahut Ara.


" Ya iyalah...bagi akang yang penting naninu lancar, jungkir balik pun akang rela...." Rangga menggigit bibirnya geli saat Ara menggerakkan mulutnya nyinyir mengikuti setiap ucapan Rangga.


Acara dilanjutkan potong kue dan makan malam bersama sahabat dan kerabat.


" Kok Lenox nggak datang sih..." Ara sesekali menatap Arah pintu ruang keluarga yang mengarah ke ruang tamu.


" Lo nungguin siapa?" Tanya Natasya.


" Lenox..., gue titip sate kambing di depan SMU Bhakti..."


" Nah, mang Sholeh kan udah nggak jualan lagi..." Ucap Natasya.


"Assalamualaikum...." Sapa Wari mengagetkan Ara dan Natasya.


Wari berjalan beriringan dengan Lenox dengan sebuah papper bag ditanganya.


" Nih.., cepet makan.." Ucap Lenox ketus.


" Loh dapet ya?, kata Natasya mang Sholeh udan nggak jualan.." Ara menerima papper bag dengan penuh rasa penasaran.


" Kak Lenox langsung kerumah mang Sholeh minta dibuatkan kak, bahkan kak Lenox rela ke pasar dulu untuk beliin daging kambingnya..."


Beberapa yang mendengar ucapan Wari membesarkan matanya terkejut.


" Putra Maha Dafran ini....., apa belum move on dari Lili, Hen....?" Papa berbisik pada daddy.

__ADS_1


" Lo kan pakar membaca raut wajah, kok lo tanya gue. Mana tau gue..." Jawab daddy.


" Yang kubaca sih sudah, tapi......"


__ADS_2