
Dirumah bersama yang mereka sebut "White base" itu anak-anak berlarian kesana kemari.
Vera memangku putra ketiganya yang berusia 5bulan, sementara Vino disampingnya sambil senyam senyum menatap ponselnya.
" Jangan nganggu kak Rayya dong yang..." Vera menabok pundak Vino.
" Ha..ha..ha..kali aja tongkat Rayya udah berkarat..." Tawa Vino pecah, di sambut oleh tawa Marvel yang menggelegar.
Brian hanya tersenyum sambil mengelus perut Numa pelan.
" Aku rasa iya deh..., secara udah umur dua tujuh baru buka segel, perlu diasah dulu kayaknya.." Sahut Lenox, dengan tangan merangkul Wari mesra.
" Ck kayak lo enggak aja!!, jadi kapan lo merried!!, punya lo juga keburu jamuran!!" Sahut Marvel.
" Dihh, enggak cuy!!, punya gue rajin gue asah, ya kan sayang....?" Lenox menaik turunkan alisnya dengan menatap Wari.
" Nggak ada!!!, apaan..." Bentak Wari malu.
" Awas lo macem-macem sama adik gue!!" Teriak Ardi yang baru muncul dari arah dapur bersama Hana dan Azura.
" Nggak macem-macem lah, cuma semacam doang ya nggak yang..." Lenox lagi-lagi melirik pada Wari yang malu-malu.
Beberapa kue dan makanan ringan memenuhi meja ruangan yang sangat lebar itu.
" Harusnya tadi gue minta abang jemput Lili dulu ya, sebelum abang langsung kesini..." Keluh Hana menyesal saat melihat suaminya muncul dari pintu samping untuk bergabung. Hana langsung menghampirinya dan mencium tangan suaminya, lalu membantu melepaskan jasnya.
" Emang kenapa?, Rangga kemana?" Tanya Adnan.
" Rangga ada meeting mendadak, mungkin bisa sampai malam. Jadi nggak bisa kesini..." Sahut Marvel.
" Jadi adik kecil nggak kesini....? antar Saga kerumah mommy pah..." Rengek Saga, bahkan pria kecil itu terlihat hampir menangis.
" Besok saja, adik kecil udah tidur. Besok om Rangga juga pasti kesini..." Ardi mengelus rambut Saga.
" Ayah..., tolong main itu..." Tunjuk Shine pada piano di samping pilar tinggi di ruangan itu.
" Ayah nggak jago boy, tante Vera ahlinya..." Ucap Marvel pada Shine.
Shine menatap Vera penuh permohonan, bahkan kedua matanya berkedip-kedip lucu.
Vera menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.
" Okey mau lagu apa..?" Vera berdiri setelah menyerahkan Saka yang tertidur pada gendongan Azura. Ya, dari semua yang sudah menikah, disini hanya Azura yang belum ada tanda-tanda kehamilan.
" Love is gone, Slander and Dylan Matthew..." Seru Shine.
" Dih seleramu melankolis amat Shine " Seru Bianca.
" Promise by NSYNC aunty. That my favorite song.... Dan juga isi hatiku...." Sahut Sunny cepat.
" Isi hati?" Brian tertawa kecil mendengar omongan ponakanya itu.
" Yes uncle, isi hatiku pada......." Sunny gelagapan saat menatap mata Vino yang bertabrakan dengan matanya. Dia takut om Vinonya tahu bahwa dia sedang naksir putrinya.
" Pada...?" Lanjut Dian dengan tersenyum manis.
" Bun..., you know who's she is!!" Sunny menubruk tubuh bundanya dan menyembunyikan kepalanya di dada wanita tercintanya itu karena malu.
Semua yang ada disana tertawa melihat tingkah menggemaskan Sunny.
" Seperti ada bibit Rangga baru disini" Bisik Adnan pada Ardi.
" Beda dong bang, Rangga cengeng pol. Sunny ini tegas dan berani maju" Sahut Ardi.
Akhinya malam ini Vera berperan sebagai, pisnis yang menuruti request-an para audiens.
Pertama dia memainkan lagu permintaan Shine, lalu Sunny, terus Brian, terus Vino sendiri request lagu romantis untuk dia dan Vera sendiri.
Tapi saat Marvel minta satu lagu, Vera segera menolaknya.
" Capek Vera brothy, brothy main sendiri lah, situ juga pianis loh..." Tolak Vera halus.
Marvel pun beranjak berdiri, menduduki kursi yang baru saja ditinggalkan Vera.
__ADS_1
" Yah...Sunny mau belajar, Sunny pengen bisa..." Sunny tiba-tiba duduk disela paha Marvel
" Bukanya kamu sukanya pegang senjata boy?, kok tiba-tiba banting stir.." Bisik Marvel.
" Uncle Brian bilang, cewek suka cowok lembut yah..." Bisik Sunny.
" Memangnya Shanum suka kamu main piano?" Tanya Marvel.
" Iya, dia tadi bilang nggak ada yang bisa ngalahin mamanya. Kalau ada yang bisa itu berarti keren. Sunny ingin jadi keren Yah..."
Marvel tersenyum dan mengelus rambut putranya. Putra-putranya harus berhasil dalam hidup ini. Berhasil dalam hidupnya dan juga cintanya.
...***...
Sementara itu, setelah pulang dari KUA. Rayya memboyong Hanum langsung kerumah pribadinya, tak jauh dari kantor.
Rumah ini dibelinya dari hasil gajinya selama ini.
" Ini rumah kita, silahkan masuk..." Rayya membuka pintu dan mempersilahkan Hanum masuk.
" Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum..." Ucap Hanum sebelum memasuki rumah.
Hanum melangkah dulun ke dalam rumah, lalu disusul Rayya dibelakang.
Rayya menunjukkan bagian-bagian rumah itu secara lengkap pada Hanum, karena disinilah nanti mereka akan berbagi hari, menghabiskan hidup bersama.
" Apa kau suka?" Tanya Rayya.
" Apapun pemberian suamiku, aku pasti akan suka.." Jawab Hanum sambil menatap mata Rayya.
" Emmmhhh, kakak pesankan makan dulu..." Rayya meraih ponselnya. Tiba-tiba dia berasa gugup berduaan dirumah besar begini bersama Hanum.
" Tidak usah, Hanum masak saja kak.."
Ucap Hanum, jarinya menarik lengan kemeja putih Rayya agar menurunkan ponsel dari telinganya.
" Emmhhh, ta..tapi..." Lagi-lagi Rayya terlihat kebingungan dan salah tingkah.
Hanum tersenyum kecil, dan melangkah mendekati Rayya.
Tubuhnya yang lebih pendek dari Rayya mendongak ke atas, gadis itu berjinjit dan mengecup bibir Rayya sekilas.
" Ahh..." Des*ah Rayya sembari memejamkan matanya.
Hanya kecupan sekilas saja mampu membangkitkan rasa yang luar biasa.
Rayya membingkai wajah Hanum dengan kedua telapak tangannya.
Mungkin ini sudah biasa bagi Hanum, karena dia adalah yang kedua, tapi Rayya menjadi insecure saat ini. Bisakah dia memberikan yang lebih pada Hanum, melebihi saat pertama Hanum dengan suami terdahulunya.
Drrttt...drrttt..
Ponsel disakunya bergetar-getar.
" Ya..." Jawab Rayya malas.
" ............................"
" Haduuuh!!, kok gitu sih!!, nggak bisa gue. Yang lain aja!!"
".............................."
" Ya deh!, ya deh!, gue berangkat! . Sialan!!" Umpat Rayya kesal.
" Hussttt...., ucapan dijaga kak!!" Hanum menepuk bibir Rayya pelan.
Rayya tersenyum dan nyengir.
Bagaimana tidak kesal, malam pertamanya harus terganggu dengan deadline berita yang harus di masak malam ini juga. Tidak bisa ditunda.
" Kakak, harus ke kantor lagi nggak papa kan Num..." Pamit Rayya dengan wajah kecewanya. Kecewa berat karena istrinya sudah mulai maju, dianya harus mundur.
Rayya memeluk Hanum erat, bibirnya menempel lama pada kening Hanum.
" Iya nggak papa, Hanum tunggu..." Bisik Hanum lagi dengan berjinjit agar sampai ke telinga Rayya.
__ADS_1
" Bersiaplah sayang...." Bisik Rayya ditelinga Hanum.
" Siap pak suami..." Balas Hanum dengan genitnya.
Rayya gregetan banget melihat ini, ternyata menikahi janda ada untungnya juga, dia lebih menantang dan berpengalaman.
Tanpa pikir panjang Rayya menyesap bibir Hanum, mengeksekusinya sedemikian rupa, mengikuti naluriah nya.
Hanum terlihat bergetar dan menggigil.
Rayya menghentikan ciumannya.
" Kenapa sayang?, kau tidak nyaman?, apa ciumanku buruk..?, katakan padaku. Aku akan memperbaikinya.." Ucap Rayya cemas.
Takut-takut ciumanya nggak sebanding dengan besarnya rasa cintanya. Jadi yang nomor dua itu jelas tidak nyaman, karena Rayya takut dibandingkan.
" Sudahlah, pergilah kerja dulu..." Hanum terlihat canggung dan wajahnya merah padam. Sebentar-bentar menunduk dan menghindari tatapan Rayya.
Tidak ada waktu lagi untuk Rayya berfikir, ponselnya terus saja bergetar.
" Kakak berangkat dulu sayang..., Assalamualaikum.." Rayya memeluk Hanum erat, dan mengecup keningnya lama. Lalu bergegas keluar.
Sepeninggal Rayya Hanum langsung terduduk dilantai....
" Huffttt....huffttt, ya Tuhan...ahhhhh" Hanum mengipas-ngipasi wajahnya yang memerah dan terasa panas dengan ujung jilbabnya.
...*...
Malam semakin larut, Rayya uring-uringan tidak jelas. Kesel dong dia, masa harusnya dia kelonan dengan istri malah terdampar disini.
Salah dia sendiri juga yang tidak ambil cuti.
Rayya buru-buru, merapikan meja kerjanya dengan asal-asalan, setelah selesai mengerjakan tugasnya.
Seperti orang gila Rayya mengebut membawa mobilnya, otaknya saat ini hanya berisikan akan Hanum.
Sampai didepan rumah, Rayya membiarkan mobilnya terparkir di depan begitu saja tanpa sempat memasukkan nya ke garasi.
Langkah kakinya terburu-buru berlari ke kamar mereka, kangen banget pada istrinya yang baru dinikahinya tadi siang.
Tapi saat memasuki kamar, mata Rayya dibuat tak berkedip dengan penampakan di depanya.
Kamar yang begitu indah dengan lampu tidur menghiasi dindingnya, bahkan bau aromaterapi yang segar tercium oleh hidungnya. Kapan istrinya mempersiapkan ini.
Istri cantiknya, berdiri menyambutnya dengan senyumnya yang mengembang cerah. Dada Rayya begitu sesak hampir tak bisa bernafas melihat tampilan yang begitu menyilaukan.
Tubuh molek dengan pakaian tipis menerawang, menampilkan lekuk tubuh yang membuat Rayya tak mampu menelan ludahnya. Rambut hitam panjang yang disanggul acak-acakan, memperlihatkan leher jenjang putih mulus nan indah.
Rayya mengusap wajahnya kasar, mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena suguhan keindahan dari istrinya.
" Mau makan dulu?" Tanya Hanum lembut. Tanganya mengusap rahang Rayya lembut, jemarinya menari di pipi suaminya yang ditumbuhi rambut-rambut halus.
Rayya tercengang akan keagresifan Hanum, tapi itu mungkin saja karena tentu ini bukan yang pertama bagi Hanum.
Rayya yang sudah menahan rasa inginya sejak tadipun dengan cepat mengangkat Hanum dan membawanya ke tempat tidur.
" Kau nakal sayang, tapi aku suka...." Rayya menyambar bibir pink Hanum, gairahnya sudah diubun-ubun sejak melihat tampilan Hanum tadi.
" Ahhhh..." Rayya tiba-tiba menarik diri dari atas Hanum. Dia belum mandi, rasanya tak etis baginya.
Masa yang pertama baginya nggak spesial banget.
" Sayang, kakak mandi dulu bent---"
" Nggak usah kak..., aku suka bau keringatmu..." Bisik Hanum.
Rayya menggelengkan kepalanya geregetan dan tersenyum manis, dipeluknya Hanum dan mulai menciuminya kembali.
" Kak...., kak...." Suara ******* Hanum bercampur dengan racauanya.
" Kak, kak Rayyan Athaya...Kau memang suami kedua bagiku kak, tapi kau yang pertama mendapatkan keutuhanku..." Racau Hanum lagi.
" Kak...kak Rayyan Athaya, tubuhku suci. Kujaga dengan baik hanya untukmu...kak..." Lanjut Hanum lagi dengan mata terpejam.
__ADS_1
Rayya syok dengan apa yang didengarnya.
" Apa?"