
---Happy Reading---
Haaa~ Hufff~
Sudah berapa aluna berdiri disamping pria tinggi yang sedang sibuk memilihkan gaun pernikahannya yang permintaannya sangat sulit yaitu, gaun yang tertutup. Jika ingin memiliki gaun yang tertutup pakai saja daster rumahan yang panjangnya sampai lantai jika aluna yang memakainya.
"Ini aku sudah mengambil tiga gaun, semoga kau suka coba kau pakai dan tunjukkan kepadaku." ujar adam sembari memberi 3 gaun kedekapan aluna kemudian ia berjalan santai kearah sofa didalam ruang tunggu.
Aluna hanya bisa menghela nafas lalu masuk kedalam ruang ganti, dibantu dengan beberapa pelayan wanita yang sudah sedari tadi mengikutinya. Aluna memakai gaun yang sangat ia suka sejak ia masuk, dan ini terlihat sangat dirinya adalah seorang tuan putri.
Aluna keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju ruang tunggu yang hanya sudah banyak mama, papa, adam dan aksa serta istrinya, rizka. Aluna berdeham keras saat keluarganya sibuk dengan masing masing, aluna ditatap dengan berbagai ekspresi diwajah papanya, abangnya maupun adam calon suaminya.
"Yaa ampun! Cantik sekali putri mama ini, kita ambil yang ini saat kamu sedang berjalan kepelaminan." ujar mama dengan semangat disetujui oleh rizka, sedangkan tiga pria itu masih terpesona dengan kecantikkan aluna. Aluna menatap adam yang sedang melamun menatapnya. "Bagaimana menurutmu?" tanya aluna dengan sedikit malu karena ditatap begitu intens oleh adam.
"Cantik." ucap adam yang langsung membuat rizka menyorakkinya dan alun pun langsung segera masuk kedalam menggantikan gaun kedua.
"Kenapa dia masuk? aku belum memotonya." ujar aksa yang baru sadar dari lamunannya. Rizka pun menepuk lengan suaminya, "habisnya kamu melamun ya keburu luna masuk kedalam." omel rizka dibalas cengiran oleh suaminya, aksa.
Aluna keluar lagi setelah mengganti gaun kedua, lumayan dirinya suka namun tidak terlihat ia adalah pengantinnya. Begitupun dengan mama dan rizka yang melihat gaun kedua ini serasa biasa saja tidak seperti yang pertama, aksa dan papa juga merasa gaun ini sedikit aneh untuk dijadikan gaun pernikahan.
"Gantilah yang satu lagi." ucap adam yang langsung diangguki oleh aluna. Dengan segera ia masuk kembali dengan menggantikan gaun terakhir didalam ruang ganti namun sebelum masuk keruang ganti ia melihat gaun yang sudah menjadi incarannya setelah gaun pertama.
Ia menunjuk gaun itu dan menyuruh pelayan mengambilnya, dia akan menyoba setelah gaun terakhir yang dipilihkan oleh adam. "Tolong ambilkan gaun itu untukku, aku akan menyobanya setelah gaun ini."
"Baik nona, kami akan mengambilkannya untukmu."
Aluna keluar dengan gaun pilihan adam yang terakhir, dan itu disetujui oleh semua orang didalam ruang tunggu. "Tinggal satu gaun lagi, coba mama pilih terlebih dahulu." ujar mama yang baru saja mau memilih gaun terakhir namun ditahan oleh aluna, "no mom, i have one. Aku sudah memilih untuk gaun yang akan ku gunakan nanti."
"Seperti apa?" tanya adam dan aksa berbarengan karena mereka merasa gaun yang dipilih gadis itu sangat terbuka, "tenang saja, tidak terlalu terbuka kok. Tunggu ya, aku akan menyobanya dan membiarkan kalian tidak mengecewakanku." ujar aluna lalu masuk kedalam dengan mencoba gaun yang ia pilih sedari tadi.
Aluna keluar dari ruang ganti dengan langkah yang sangat anggun, dadanan diwajahnya juga berbeda dari pertama dan kedua. Adam lagi lagi dihipnotis oleh kecantikkan yang diberi oleh gadisnya ini. "Kamu benar benar sangat memukau sayang. Mama suka, kita ambil gaun ini!" ujar mama membuat luna mengulumkan senyumannya lalu memandang kearah ketiga pria yang berbeda umurnya itu.
"Papa juga setuju, tidak terlalu terbuka juga."
"Abang juga," ujar aksa yang diangguki oleh rizka yang sedang menggandeng manja kesuaminya. Adamnya yang masih diam karena terpukau dan pesona yang dikeluarkan oleh gadisny itu membuat dirinya tidak bisa berkata kata.
"Sepertinya adam saat ini tidak bisa berkata kata, kita pilih gaun yang kamu pilih, sayang." Aluna tertawa senang lalu memeluk mamanya dengan erat, lalu ia melangkah mendekat kearah adam yang belum sadar jika dirinya sudah berdiri didepan pria itu.
__ADS_1
Cup!
"Sadarlah!" ucap luna lalu masuk kedalam ruang gantinya lagi dan adam yang mendapatkan kecupan ringan dipipinya langsung mengerjapkan matanya dengan serasa memerah dikedua telinganya itu.
"Cie, merah telinganya cie! Malu tuh malu.. Hahaha!" ledek aksa kepada adam yang masih berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang dua kali lipat berdetak.
"Diamlah kau!" geram adam yang kesal karena aksa selalu meledekkinya, tanpa henti.
"Aku sudah memilihnya tiga gaun itu, setelah itu kita akan kemana?" tanya aluna kepada adam yang sudah tiba tiba berdiri didepan adam lagi tanpa sadar pria itu. "Kau, sampai kapan kamu ingin mengagetiku hah?" tanya adam kepada gadisnya lalu merangkulnya dengan erat.
"Hehe, jadi setelah ini kita kan kemana?" tanya aluna kepada adam namun adam hanya bisa menatap mamanya, mamanya berdehem, "selanjutnya kita akan ke tempat undangan, aluna mau warna apa kartu undangannya?" tanya mama.
"Pasti maroon dan gold." saut rizka yang sekali menebak langsung diangguki oleh aluna, "iya! Maroon dan Gold, i love that colors."
Mama dan papa menghela nafas, pasti tidak jauh jauh dari warna kedua itu. "Baiklah, tidak ingin yang lain?"
Aluna menggeleng, "tidak." lalu ia mendongak menatap adam yang sedang fokus kearah jalanan. "Kalau kamu mau warna apa adam?"
Adam masih tidak menjawabnya, lalu aluna memanggilnya dengan panggilan sayang membuat adam menunduk dan hampir saja mereka berciuman jika saja aluna tidak memutar tubuhnya dengan berjalan membelakangi jalan. "Sayang!"
"Ah? Apa? Kamu nanya apa?"
"Kamu melamunin apa sih? Aku nanya kamu mau warna apa dikartu undangan?" adam menggarukkan tengkuk lehernya yang tak gatal, "aku maroon, kamu?"
"Gold. Tuh kan ma, kita berdua ini serasi dia milih maroon aku milih gold!" ucap luna dengan ekspresi senang. Mama dan papa hanya mengangguk mengiyakan karena memang aluna dan adam sepertinya tidak akan jauh jauh dari warna maroon dan gold, karena acara mereka banyak dengan dua warna itu.
"Mama, itukan adat orang lain, mengapa kita harus ikut ikutan?"
"Mama dulu sama papamu juga begitu jadi ikutilah adat uyutmu. Mama duluan." ujar mama dengan menarik lengan papa. Sedangkan aksa dan rizka langsung pamit karena keduanya ingin berkunjung kerumah sakit berkonsultasi dengan dokter yang sudah dijanjikan.
"Baiklah, baiklah.. Kalau begitu kami pamit terlebih dulu, bye ma pa~ Hati hati dijalan." ujar aluna sambil menggandeng lengan adam yang hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah gadis kecilnya yang sangat menggemaskan dimatanya ini.
"Kalian juga!" teriak mama sampai membuat semua pengunjung menatap kearahnya membuat papa yang berada disampingnya langsung menarik dan merangkul istrinya agar tidak berisik mengganggu pengunjung lain.
Sepanjang perjalanan didalam mall, aluna tidak berhenti untuk mengayunkan jemari mereka berdua yang sedang bertautan manisnya dan adam yang hanya tersenyum dan tertawa merespon dari cerita gadis kecilnya itu yang sangat gembira menceritakan semua kisah tentang temannya dan sahabatanya, apa lagi tentang citra yang sudah melahirkan bayi perempuan yang sangat mirip dengan stefan.
"Dan aku berharap putrinya citra perilakunya tidak seperti ayahnya yang sangat playboy dan penuh jailnya itu." jelas aluna yang berharap keponakannya itu tidak mengikuti jejak ayahnya. "Lalu kalau kamu mau punya anak perempuan atau laki?" tanya adam kepada gadis kecilnya. "Tentu saja aku ingin sepasang kalau bisa, aku tidak memedulikan jika anak pertamaku perempuan atau laki karena hanya satu yang kuharap kepada bayi itu."
"Apa?"
"Tentu saja kesehatannya, aku ingin dia sehat dan selamat." adam mengangguk setuju perkataan gadis kecilnya, tentu banyak sekali sepasang suami istri yang ingin memiliki anak yang dikandungnya sehat dan selamat. "Aku juga akan mementingkan keselamatan dan kesehatan dari si ibu yang melahirkan."
Perkataan adam bertujuan kepada gadis kecilnya, aluna yang mengerti maksud dari perkataan adam langsung malu dan menundukkan wajahnya yang ia rasa sudah memerah. "Udah, udah, kita jangan bahas tentang bayi lagi."
"Kenapa? Kan katamu, bayi sangat menggemaskan jika baru lahir dengan pipinya yang tembam?"
__ADS_1
"Tentu, tapi bicarakannya sudah sampai disini cukup. Aku malu." ujarnya lalu menyembunyikan wajahnya didada adam yang langsung membalasnya dengan elusan dibelakang rambut aluna dengan lembut. Adam juga tertawa kecil melihat tingkah lucu dan imut dari gadisnya.
"Ah iya, kamu kapan lulus kuliah?"
"Bentar lagi, kenapa begitu?"
"Tidak apa apa, aku hanya ingin bertanya apa kamu ingin bekerja setelah kuliah?" tanya adam dengan pelan, aluna terdiam lalu mendongakkan kepalanya agar bisa menatap raut wajah prianya dengan leluasa, digelengkannya kepala mungilnya, "tidak, aku tidak ingin bekerja selain menjadi ibu rumah tangga disampingmu."
Adam tersipu malu lalu menyubit hidung mungil gadisnya dengan gemas, "Sejak kapan kamu pintar menggombal? Hem?"
"Tidak tau, yang intinya setiap didekatmu aku ingin selalu menggodamu dan melihat wajah tersipumu yang sungguh sangat manis dimataku."
"Baiklah, kau menang gadis kecil. Bisakah kamu mendongak dan menatap wajahku lagi." pinta adam membuat aluna mendongak saat ingin berbicara adam sudah bertindak.
"Apa ka-"
CUP!
Dikecupnya dengan pelan dan manis tepat dibibir gadisnya, disela menyium adam tersenyum saat ia menatap mata terkejutnya gadis itu. "Kau selalu membuat diriku tidak bisa menahan diri untuk menciummu kau tau itu, sayangku gadis kecil?"
Aluna yang langsung tersadar langsung mendorong dada adam untuk sedikit menjauh darinya lalu dengan segera ia membalikkan badan dengan berlari pergi meninggalkan pria itu yang sedang menahan senyum dengan menggigit bibir bawahnya, adam mengejar gadis kecilnya yang berlari menjauhnya dengan menutup bibir manisnya itu dengan kedua tangannya.
"Hei, aluna.."
"Gadis kecil!" panggil adam yang membuat semua orang menatapnya, namun ia acuhkan karena ia semakin mendekat kearah gadisnya yang sedang malu malu kucing itu. "Kau sangat menyebalkan." ujarnya meneriaki adam yang sudah merangkulnya dengan sayang.
Adam mengangguk senang, "dan pria yang menyebalkan ini calon suamimu, gadis kecil." bisik adam lalu membawa aluna keluar dari gedung mall, karena cuaca sudah mulai gelap sudah lama mereka berkeliling didalam mall tanpa melakukan apapun selain berjalan bersampingan dengan melakukan hal mesra yang membuat keduanya nyaman. Adam mengajak gadis kecilnya ketempat yang sepi namun indah untuk segi pemandangan yang tak lain bukit tinggi yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau lalu memandang kearah bawah sana yang terdapat kota kota yang menyala dengan berbagai lampu.
Sesampai di atas bukit, adam mengajak luna untuk keluar dari mobil dan duduk diatas kap mobil seperti dulu sebelum dirinya pergi selama dua tahun meninggalkan gadis kecilnya dikota ini.
"Aku jadi ingat saat kamu mengajakku kemari dan menjelaskan bahwa kamu ingin pergi meninggalkanku selama dua tahun. Gak nyangka aku diajak kemari lagi." ujar aluna tiba tiba seperti membaca pikirannya sejak tadi.
Adam merangkul gadisnya dengan erat sambil menatap pemandangan yang berada didepan, "gak nyangka juga kita sebentar lagi akan menikah dan memiliki keluarga kecil yang kita inginkan sejak dulu." Aluna tertawa merdu, "dan yang aku gak nyangka ternyata main pertunangan sejak kecil itu sangat seru sampai kejadian seperti ini."
"Dan yang gak nyangkanya takdir benar benar seperti apa yang ku harapkan."
"Memangnya apa yang kamu harapkan?" tanya aluna kepada adam, pria itu hanya tersenyum manis sembari menatap gadis kecilnya..
---Bersambung---
Terima kasih sudah mengikuti kisah aluna dan adam cerita mereka sebentar lagi akan segera berakhir..
Klik tanda suka, klik tanda hati jika ingin dimasukkan kedalam perpustakaan kalian, dan follow diriku jika kalian ingin.
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi, sampai jumpa!