
Empat sahabat itu kini sudah duduk mengitari meja bundar di Birdman cafe.
Vino tampak pucat dan sedikit terlihat kurang sehat, seolah-olah beban berat menghimpitnya.
Sebenarnya Denis dan Rayya sudah melihat perubahan perilaku Vino sejak mereka kunjungan ke museum saat tregedi Ara terjadi beberapa hari lalu.
" Sebenarnya ada apa bro?" Rayya memulai pembicara mereka dengan tenang.
Nampak Vino berulang kali mengusap wajahnya.
" Gu.. gue u..udah lakuin do..dosa besar pada a..adek gue sendiri bro?" Kata-kata Vino terdengar serak, bergetar dan terbata-bata.
" Adek lo??, maksud lo Vera??"
Vino pun mengangguk membenarkan.
"I..ini maksudnye dosa besar kaya gimana nih?, lo udah berani pukul dia atau gimana?" Tanya Denis terlihat khawatir, dia berharap yang difikiranya tidak benar.
" Gue...gue....akhhh..." Vino tak mampu mengungkapkan kata-katanya.
" Lo suka Vera gue tahu, sejak dia masuk sekolah ini fokus lo cuma dia gue juga tahu, tiap hari bahan omongan lo cuma dia gue juga tahu.., gue harap yg gue fikirkan sekarang salah.." Denis menatap tajam pada mata Vino.
Vino tercengang dengan ucapan Denis, memang benar Denis ini jenius, dan mempunyai feeling yg kuat. Prediksinya selalu tepat, mangkanya usaha trading saham antara dia, Rangga dan Gama Bagaskara kini maju dengan pesat.
Vino memulai untuk bercerita.
Flashback on
" Kak, kakak antar kak Rangga ke Bandara malam ini?" Tanya Vera dengan tanktop dan celana pendek super ketatnya memasuki kamar Vino. Jelas Vino terbelalak melihat casing Vera yg membuat siapa saja langsung langsung tegang.
" Ver!!, ganti baju sana, kakak gak suka liat lo pakek baju kayak gini..." Bentak Vino.
"Apaan sih kak Vino, orang di rumah juga..." Lawan Vera.
" Sebentar lagi si Darren ke sini, cepat gan---"
" Hai Vin..."
Sebelum Vino selesai bicara ternyata Darren sudah berdiri di depan kamar Vino.
Vino segera menyambar selimutnya dan membungkus tubuh Vera seketika.
" Sorry Darren, adik gue dalam pose yg tidak patut untuk dilihat" Ucapa Vino dengan segera mendorong Vera keluar, kekamar adiknya itu, yang tepat di sebelah kamarnya.
Darren yang terlanjur melihat bagaimana seksi nya Vera hanya bisa menelan ludahnya kasar.
" Adek lo udah punya pacar belum Vin?" tanya Darren saat mereka sudah kembali duduk di depan PS yang ada di kamar khusus samping kolam renang.
"Nggak tau gue.." Jawab Vino asal, ada kekesalan dalam hatinya, entah karena apa.
Tiba-tiba hatinya merasa gelisah saat memikirkan Vera akan memiliki kekasih.
"Kalo gue macarin adek lo, lo setuju ngga Vin?"
Jeddaaar !!!!
Rasa nyeri tiba-tiba meremat-remat hati seorang Vino.
Adik yang dibawa mamanya beberapa tahun silam, sebagai adik angkat nya. Tak pernah ia membayangkan akan semua ini sebelum nya.
Apalagi beberapa tahun lalu, saat dia tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Bahwa Maya Veranika yang dia tahu sebagai sepupunya ternyata hanya anak adopsi dari om dan tantenya.
" Jangan, adek gue masih kecil " Jawabnya spontan dan dengan tatapan kosong.
__ADS_1
" Tapi gue janji akan menjaganya dengan baik, sumpah Vin.." Ucapanya meyakinkan Vino.
Vino terdiam membisu, otaknya buntu seketika.
" Lo tunggu lah dulu, gue bicarain dulu sama Vera" Kata-katanya meluncur begitu saja tanpa ia rencana.
Setelah beberapa jam mereka bermain PS dan ngobrol membahas klub basket mereka, Darren pun pamit pulang. Dan seperti biasanya Vino mengantarnya ke depan.
Saat melintasi taman samping tampak mama dan Vera sedang menyirami kebun bunga kecil mereka.
" Sore tante..." Darren berusaha membangun interaksi dengan Vera dan calon mertuanya cie..cie..
Dan sepertinya Vino tidak suka itu, pria muda bertahi lalat di bawah bibirnya itu melipat tangannya di dada dengan mata menatap tajam pada Vera.
Vera yang centil tersenyum manis pada Darren, membuat Vino muak.
" Hai kak, udah mau pulang ya..." Sapa Vera seperti biasa.
" Kenapa buru-buru Darren, papa Vino sebentar lagi pulang, kita bisa makan malam bersama..." Ucap mama Vino ramah.
Papa Vino dan papa Darren adalah teman satu kantor.
Darren yang terus menatap Verapun akhirnya mengangguk.
Dengan meminjam baju Vino, akhirnya Darren mandi dan bersiap sholat jamaah bersama papa Vino dan Vino ke masjid samping rumah mereka.
Selama makan malam bersama mata Darren terus saja mencuri pandang pada Vera. Sebenarnya bukan sekali dua kali Darren datang kerumah Vino, sering menginap malah.
Tapi entah kenapa sepertinya panah asmara sedang bekerja dan tepat menancap pada hati Darren saat ini.
Vino yang terus memantau mereka berdua merasa geram dan ingin marah.
Vinopun heran dengan apa yang dirasakannya saat ini.
Vino merasa sesuatu tentang Vera akan menjadi topik pembicaraan mereka.
Ada rasa tak rela dengan semua ini, pemuda itu mengendap-endap untuk mencari tahu.
" Om.., Darren mohon ijin untuk menjaga Vera, maksud Darren...emmm, Darren ingin jadi pacar Vera om..." Ucap Darren di ruang tamu saat akan berpamitan pulang.
Papa Vino tersenyum. Mengusap pundak pria muda itu dengan sayang.
" Bicarakan semua dengan Vera, keputusan ada ditanganya" Ucapa papa Vino bijaksana.
" Terimakasih om.." Senyuman hangat dan manis terpancar pada wajah manis Darren.
" Tapi om mohon, berpacaranlah yg sehat, Vera masih butuh bimbingan..." Lanjut papa Vino.
Darren pun mengangguk dengan santun dan berpamitan dengan mengecup punggung tangan papa Vino.
Orang tua mana yang tak luluh dengan sikap manis seperti yang ditunjukkan oleh Darren, apalagi papa Vino juga sangat mengenal baik orang tuanya.
"Kenapa papa mengijinkanya " Tanya Vino dengan nada jengkel saat motor Darren sudah tak terlihat lagi keluar dari gerbang.
" Mengijinkan apa nak?" Tanya papa bingung karena langsung ditodong oleh Vino dengan pertanyaannya yg gaje.
" Vera...." Jawab Vino.
" Darren anak yang baik Vin, dia bisa menjaga Vera.." Lanjut papa.
" Kenapa harus Darren, Vino juga bisa menjaganya!!!" Ucap Vino dengan suara yang sedikit meninggi.
Papa tersenyum, mengelus punggung putranya berharap bisa menurunkan tensi tingginya saat ini.
__ADS_1
Papa hanya mengira bahwa Vino terlalu menyayangi adiknya itu.
" Kamu tidak selamanya bisa menjaganya nak.., Darren bisa.." Papa Vino melangkah beranjak menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Vino.
" Dia bukan adik kandungku, dia juga bukan anak kandung tante, halal bagiku untuk menikahinya kan?"
" Vino!!!!" Bentakan papa membuat mama dan Vera yang ada di kamar TV segera berlari menghampirimu papa dan Vino berada.
Dengan cekalan yang sangat kuat papa menyeret Vino ke ruang kerjanya, diikuti oleh mama.
"Ada apa ini..?" Tanya mama bingung. Vera pun begitu, gadis itu tampak kebingungan. Tak biasanya papa mengeluarkan suara sebesar ini.
" Vera cepat tidur nak, besok sekolah, papa bicara dulu sama kakakmu ini" Ucap papa dengan menekankan kalimat terakhirnya dengan mata yg menatap tajam pada Vino.
Vera hanya mengangguk dan segera masuk ke kamarnya.
Vino kini duduk tertunduk seperti terdakwa yang hendak di adili.
Papa menatap nya tajam dengan mata yang merah menyala.
"Sejak kapan kau tahu?" Tanya papanya.
" Sudah lama.." Jawab Vino tanpa menatap papa dan mamanya.
" Tau apa pa..?" Tanya mama bingung dan cemas, papa membisikkan sesuatu dan membuat mama syok dan segera mendudukkan tubuhnya di sofa, wanita paruh baya itu takut jatuh pingsan tiba-tiba.
"Tarik kembali kata-katamu tadi Vino" Ucap papa yang kini juga sudah duduk, dari nada suaranya sudah tidak seemosi tadi.
" Tidak akan " Jawab cepat Vino.
" Vino..." Papa berdiri dan hendak menampar putra tinggalnya itu.
" Papa mau tampar Vino karena apa pa..?" Lawan Vino dengan berani.
" Salahkah Vino mencintai Vera pa..." Lanjutnya dengan menundukkan kepalanya lebih dalam
Mama menutup mulutnya tak percaya, mama sangat terkejut.
Mama sangat tahu selama ini Vino sangat perhatian dan sayang pada Vera.
Tapi mencintai????
Mama tak habis pikir.
Pantasan saja sikap putranya ini diluar batas selama ini.
Pernah suatu kali saat Vera sakit, dengan cekatan Vino merawatnya bahkan menungguinya dan mengompresnya sendiri sepanjang malam.
Juga saat vas kesayangan mama pecah karena ulah kecentilan Vera, justru Vino yg mengakui bahwa dia yang salah, alhasil uang jajannya lenyap selama dua bulan. Untung saja uang bonus basketnya lumayan banyak.
Dan masih banyak sikap-sikap aneh Vino yang lain.
Mama menghapus air matanya yang meleleh tanpa disadarinya.
Kenapa selama ini mama tak notice dengan sikap aneh Vino selama ini.
Andaikan mama tahu dari awal tentu dia akan segera memisahkan mereka secepatnya.
Bersambung....
Mau tau dosa besar yg dilakukan Vino pada Vera???
Stay tuned ya...
__ADS_1
Terimakasih like nya 😍😍😍