Childhood Love Story

Childhood Love Story
Resepsi..


__ADS_3

Pagi ini setelah subuh Rangga dan Ara telah berangkat dengan mobil menuju Jogja. Suasana pagi masih sangat gelap dan sepi, sehingga Rangga bisa memacu mobil sedikit kencang.


" Kalau masih ngantuk tidur lagi aja sayang." Ucap Rangga dengan meraih jari Ara yang dingin.



" Nggak lah..., Lili temanin kakak..." Jawab Ara dengan menyenderkan kepalanya di pundak Rangga.


" Kak..."


"Hem..." Jawab Rangga dengan fokusnya masih tertuju pada jalan di depanya.


" Kak Rangga..."


" Ya sayang..." Rangga menoleh sekilas pada wajah cantik disampingnya.


" Mas......." Panggil Ara lembut dan begitu merdu di telinga Rangga.


Degh!!!


Ciiittttttt...


"Apa sih kakak!!" Teriak Ara terkejut saat Rangga tiba-tiba menginjak rem mobil.


" Kamu itu yang apaan sayang, panggil-panggil mesra begitu saat orang tengah nyetir begini...." Bentak Rangga.


" Jadi nggak mau dipanggil mas?, cuma Jessica yang boleh!!!" Ara bersedekap dan membuang muka ke arah pintu.


Sudah sejak seminggu lalu Ara gatal pingin memanggilnya mas seperti dulu. Tapi...Ara malu, dan giliran dia memberanikan dirinya saat ini, malah seperti ini.


" Ehhhh, bukan gitu sayang.... Duh salah lagi. Pusing gue..." Rangga kembali melanjutkan laju mobilnya saat beberapa pengendara lain mengumpatnya kesal.


" Sayang...." Rangga meraih kepala Ara agar kembali menyender padanya.


" Sayang dengarkan kakak, dari dulu kakak pengen kamu panggil mas...seperti dulu. Tapi...." Rangga terdiam saat ingat kata-kata Ara yang tidak mau bekasan!, karena panggilan mas sudah dibekasin oleh Jessica.


" Babe mau nggak?" Tanya Ara.


" Nggak!!, Ardi manggil kamu kayak gitu..." Sahut Rangga.


" Hubby?"


" Nggak mau, itu panggilan kak Dian buat brothy " Jawab Rangga lagi.


" Emmmm, honey ???" Ara mencoba bernego.


" Itu mah mommy dan daddy!"


" Trus???, maunya apa dong???" Tanya Ara bingung.


" Love..." Jawab Rangga.


" Ihhhh, lebai kalau itu mah..." Ara mencubit perut Rangga dan tertawa geli mendengar kata Love dari mulut Rangga.


" Habibi....abi..bi..., bi sayang...." Ucap Rangga dengan mengigit bibirnya menahan rasa malunya.


Ara yang mendengar ucapan malu-malu Rangga, menyembunyikan wajahnya di belakang lengan Rangga.


Rangga merasakan getaran pada tubuh Ara yang tertawapun ikut melipat bibirnya menahan tawa.


" Emmmmhhh ha..ha...ha.." Tak tahan lagi, keduanya tertawa terbahak-bahak sepanjang jalan.


...***...


Denis dan Vino menatap dekorasi yang telah selesai dikerjakan beberapa saat lalu.


Beberapa kenalan mereka juga sudah datang dan menginap di hotel yang telah disediakan Gama.


Sementara Rangga dan Ara berada di hotel yang berbeda.


Rangga berdebar saat memasuki kamar hotel yang telah direservasinya kemarin.


" Masuk sayang, sekarang tidak harus dua kamar kan?" Sindir Rangga.


" Ishhhh, apa sih...." Ara lagi-lagi mencubit perut Rangga.


" Aduh sayang...., jangan sentuh-sentuh Danger Area..." Ucal Rangga dengan tatapan mata sayu.


" Jangan gitu ahhhh" Ara menutup kedua mata Rangga dengan telapak tangannya.


" Sebentar aja yuk...."


Ahhhh...


Kebiasaan kak Rangga ihhhh


Ara kesal tapi tak bisa menolak. Mau tak mau harus diturutin, daripada dilaknat malaikat.


Sore hari nya mereka menuju ke rumah kakek. Rangga sudah mengontak semua agar mempersiapkan kejutanya.

__ADS_1


Tak sampai satu jam mobil telah masuki pekarangan rumah Al Ghifari yang luas. Banyak mobil terparkir di sana. Dan Ara sangat kenal mobil-mobil yang berjajar rapi disana.


Ada mobil Adnan, dan Ardi juga. Trus ada mobil mertuanya, mobil papanya juga ada.


Nah diujung itu juga ada mobil pembawa masalah..., mobilnya paman Syahril.


" Ada apa kak?, kenapa semua berkumpul disini?, kata kakak kakek...." Ara tiba-tiba merasa khawatir dan cemas. Fikiran buruk akan kakeknya tiba-tiba melintas begitu saja.


" Assalamu'alaikum..." Sapa Rangga dengan mendorong pintu masuk.


" Waalaikumsalam.." Seru beberapa orang dari dalam.


Ara mematung melihat ruangan yang terlihat penuh hiasan.


Rangga menuntun Ara memasuki rumah.


Semua sahabatnya telah ada di sana, tapi mereka terlihat sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri tanpa menyadari keberadaan Ara.


" Ada apa ini kak? Ada acara apa?"


" Bi....sayang, kakaknya diganti Bi..." Bisik Rangga.


" I..iya...Bi...tapi..ini.."


" Pesta pernikahan kita sayang..., tepatnya besok..."bisik Rangga dengan terus membawa Ara ke belakang rumah Ghifari.


" MasyaAllah....." Ara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Dekorasi outdoor wedding party yang elegan, membuat matanya berkaca-kaca.



" Kamu suka sayang??" Rangga melingkarkan tanganya di perut Ara.


" Suka Bi..., terimakasih...hik..hik...hik..." Ara tak kuasa untuk menyembunyikan tangis bahagianya.


Rangga memeluknya penuh kasih.


Akhirnya.....


" Akan kakak ganti semua tangismu dulu dengan senyuman sayang...., sekali lagi maafkanlah kakak yang telah menggores luka di hatimu begitu dalam...."


Hari Pernikahan.


Rangga gelisah menunggu Ara yang sedang dipoles oleh MUA yang dibawa oleh mommy Tara ke kamar hotel mereka sejak satu jam yang lalu. Sementara mama Neela telah mempersiapkan beberapa gaun yang indah untuk Ara.



" Cantik kan???, siapa dulu..?


mantan terindah gue..." Bisik Lenox.


" Apaan!!!, lo diberikan kesempatan jadi teman baik aja lo harusnya banyak bersyukur!!" Sahut Rangga.


" Jelas dong!!!, gue sangat bersyukur. Apalagi lima tahun full dia jadi selingkuhan gue yang istimewa..." Balas Lenox lagi.


" Sialan lo!!" Hardik Rangga geram.


" Oh iya gue lupa bilang. Besok gue ada janji kencan dengannya, tepatnya kencan terakhir kami. Tolong berikan ijin lo, atau kalau nggak di beri ijinpun akan tetap gue culik istrimu itu" Ancam Lenox.


" Nggak bisa!!, nggak ada ijin. Besok kami terbang ke Paris" Sahut Rangga.


" Akhhh!!!, sialan lo. Gue pokoknya harus ambil jatah upah gue. Bagaimanapun caranya. Kalau perlu gue susulin kalian disana..." Lenox tetap tidak mau mengalah.


" Ckkk!!! Kau ini menyebalkan Lenox. Iya deh, iya!!. Hanya besok dan nggak ada hari lain titik!!!" Rangga mengalah satu hari untuk mendapatkan ribuan harinya dengan Laila Nafeesa Anara...istrinya.


Mobil mereka beriringan keluar hotel menuju rumah kakek Al Ghifari yang telah ramai oleh kerabat dan sahabat.


" Mommy...mommy..." Teriak dua anak lelaki kembar berlarian saat Ara baru saja membuka pintu mobil.


Mereka adalah putra-putra Marvel, Sunny dan Shine.


" Haiii....double S....come here.." Sapa lembut Ara.


" No !!" Cegah Rangga cepat, dan otomatis membuat langkah kaki kecil kedua bocah itu terhenti.


" Your aunty is already beautiful now. Are you going to mess it up?" Rangga berjongkok menciumi kedua bocah yang gantengnya nggak kaleng-kaleng itu.


" Of course not uncle, today is our girlfriend happy day. We don't want to make her sad.." Jawab keduanya.


" Girlfriend????"


" Yes she is, one day I will marry her.." Jawab Sunny tegas.


What!!! Gila bapak dan anak kelakuannya sama!! Umpat Rangga dalam hati.


Puk!!


Tepukan dipundaknya membuatnya menoleh dan berdiri.

__ADS_1


Marvel menatapnya tajam. Sama..., setajam dahulu.


" Terlambat sebulan saja kamu datang!!!, dia sudah jadi istriku!!" Bisik Marvel begitu dingin.


" Apa??, gila apa!!" Rangga menggelengkan kepala berulang-ulang.


" Tidak gila, dan om Syakieb juga sudah menyetujuinya. Jika saja kamu terlambat satu bulan saja. Ara jadi maduku.." Lanjut Dian.


" Ya kan dek?" Dian kini beralih pada Ara yang pucat.


Ara menganggukan kepalanya pelan.


Nyut..


Nyut..


Nyut...


Sakit hati Rangga mengetahui ini semua. Tapi untungnya semua telah kembali pada tempatnya. Bersyukur mereka sempat merencanakan pertemuan bersama genk somplak. Kalau nggak?, entahlah jadi apa nasib Rangga jika sampai terlambat.


Rangga meraih tangan Ara. Dadanya masih sakit saat tahu istrinya memiliki kesepakatan seperti itu dengan Marvel.



" Bagaimana mungkin kamu bisa membuat kesepakatan seperti itu dengan Marvel sayang..." Tanya Rangga sendu.


" Karena kau tidak pernah peduli padaku, kau tidak pernah menghubungiku, dan beberapa pria terus saja datang silih berganti untuk melamarku"


" Tidak ada yang tahu aku bersuami selain kerabat dan sahabat. Kami semua capek mengurusi brothy yang bolak-balik masuk penjara gara-gara memukili pria-pria yang menggangguku saat itu.."


" Saat brothy harus kembali untungnya ada Lenox, mantan terindahku.."


Ucal Ara panjang lebar.


" APA!!!!, kalian???" Rangga seakan merasa petir menyambarnya saat ini.


" Ha..ha..ha..., nggak Bi..... Nggak ada apa-apa aku dan Lenox. Sumpah, tuh yang disana tuh. Itu pacar Lenox. Mereka dekat udah hampir tiga tahun..." Tunjuk Ara pada seorang gadis manis yang tengah ngobrol dengan Vera dan putrinya.


Rangga mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Ara.


" Cantik kan?" Tanya Ara.


" Iya..cantik..." Jawab Rangga datar.


" Isshhhhhh...." Ara mencubit perut Rangga sekecil-kecilnya.


" Aww...Aww..sayang...sakit.."


" Jadi Wari cantik, dan aku nggak??"


" Ya Allah sayang..., kamu itu tidak sekedar cantik sayang, kamu luar biasa cantik..." Bisik Rangga.


Aduh gemasnya Rangga melihat istrinya ini, coba saja merajuk cemburu kaya gini di dalam kamar, udah habis diuyel-uyel.


Mereka berdua menuju pelaminan di halaman belakang.


Mama dan papa terlihat bahagia, begitu juga mommy dan daddy.


Keadaan kakek juga berangsur-angsur membaik. Paman Syahril dan bu Sasti juga nampak disana.


Teman-teman Rangga terlihat ayok melihat Rangga yang ternyata telah beristri. Begitu pula teman kampus Ara.


Suasana semakin ramai saat para alumni SMU Bhakti datang. Beberapa kali terdengar suara tawa yang menggelegar.


Seorang pria tampan rupawan mendekati Rangga dan Ara.


" Lailia..."


Ara dan Rangga menoleh pada pria itu.


" Akhi...." Bibir Ara kelu sesaat.


Zeehan berdiri didepan mereka dengan senyum manisnya. Rangga diam, sampai hari ini dia masih penasaran dengan hubungan keduanya. Ara mengaku tak kenal Zeehan sementara Zehaan selalu menggebu-gebu saat menceritakan tentang Ara.


" Barakallahu laka, wa baraka'alaika, wa jama'a bainakuma fii khairin wa 'afiyah" Doa indah meluncur dari bibir merah Zeehan.


" Aamiin ya Allah.., jazakallah khairan akhi..." Ara mengusap wajahnya, mengaminkan doa Zeehan yang tulus.


" Berbahagialah, Rangga memang satu-satunya yang tepat untukmu. Dia setia dan bertanggung jawab.., sekali lagi selamat.."


Rangga memeluk Zeehan yang banyak memberinya pemahaman tentang ilmu agama selama lima tahun ini.


" Kamu bilang nggak kenal??" Rangga langsung menginterogasi Ara begitu Zeehan pamit untuk mencicipi hidangan.


" Apa aku harus selalu mengabsen mereka-mereka yang suka sama aku Bi..."


"Cckkk iya deh situ yang laris manis!!!" Rangga terlihat masam.


" Cckk, kamu merajuk Bi..?, ya udahlah Bi...terserah kamu lah...." Ara melangkah menuju tempat Lenox dan Wari sedang mengobrol.

__ADS_1


" Sayang..... Kakak nggak merajuk. Maaf..."


Mana mau Rangga ditinggalkan Ara sedetik saja. Cieee....


__ADS_2