Childhood Love Story

Childhood Love Story
Siasat


__ADS_3

" Assalamualaikum.." Suara familiar dari pintu samping mengagetkan Ara yang sedang mengganti popok Almeer.


" Om Nox haiii...., Waalaikumsalam..." Ara menggerakkan tangan Almeer seolah menyapa Lenox.


" Kok sepi Ra?, Laki lo dan Almaeera mana?" Tanya Lenox, matanya celingak-celinguk mencari Rangga dan Meera


" Nggak ada Le, kak Rangga ada kelas dan Meera ikut daddynya.." Ucap Ara, lalu menyodorkan putranya yang sudah kembali rapi pada Lenox begitu saja. Dengan sigap Lenox menerima Almeer dari tangan Ara.


" Sudah makan?, mau minum apa?" Tanya Ara.


Lenox mengecup kedua pipi gembul Almeer, lalu menimangnya sayang.


" Nggak usah repot-repot, gue udah makan. Tapi kalo minumnya, gue emang kangen kopi bikinan lo..." Lenox beranjak berdiri.


" Almeer, om Nox ada hadiah untuk kamu....yuk kita lihat yuk...." Bisik Lenox pada Almeer yang terus tersenyum menatapnya.


Saat Ara beranjak ke dapur, justru Lenox dan Almeer keluar rumah.


Chandra yang sedang membuka kotak hadiah besar segera menyelesaikan tugasnya dengan cepat sebelum Ara kembali.


" Kak Rangga nggak ada ya?" Tanya Chandra pelan.


" Nggak ada, ngajar..." Jawab Lenox.


Mereka berdua memang sengaja datang karena kangen dengan twins. Saat mereka berjalan-jalan di Jogja kemarin, keduanya melihat mobil listrik anak-anak yang unik di pajang di salah satu etalase toko mainan. Akhirnya atas dasar nafsu pribadi dan lapar mata, Lenox tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membelinya, dan diberikan kepada Almeer.


" Le ,....Lenox..." Panggil Ara, karena tidak mendapati Lenox dan Almeer di ruang keluarga.


" Disini Ra, disamping..." Jawab Lenox.


Ara berjalan menuju samping dengan beberapa potong kue dan secangkir kopi di tanganya.


" Surprise!!!" Ucap Chandra dan Lenox berbarengan.



" Ini untuk Almeer..." Ucap keduanya.


Sementara Ara membesarkan matanya melihat yang tersaji didepannya.


" MasyaAllah..Chand, Lenox ! kalian ini!!!, Almeer itu masih baru akan satu bulan dua hari lagi, bukan satu tahun...."


Ara tidak percaya melihat kelakuan dua sahabatnya itu.


" Ya, nggak papa lah Ra...dipakainya nanti-nanti kan bisa...." Sahut Lenox.


" Tapi itu masih lama Lenox, mungkin tiga tahun lagi.." Sahut Ara lagi.


" Nggak papa lah, daripada keburu dibeli orang lain, ya nggak Nox!!" Sahut Chandra.


Keduanya saling tos dan tertawa bersama, Almeer kecil dalam gendongan Lenoxpun ikut tertawa, bayi tampan itu seakan tahu bahwa saat ini dia wajib bahagia.

__ADS_1


Ara mengusap rambut Almeer yang tenang dalam gendongan Lenox. Dikecupnya sekilas lalu kembali ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Chandra.


Almeer begitu tenang dengan Lenox, apa dia rewel dari kemarin itu karena rindu Lenox?


Tak sampai tiga puluh menit mereka berada dirumah Ara, Ranggapun pulang bersama Almaeera.


" Hei...ada kalian?" Sapa Rangga dengan ramah.


" Sudah lama?" Tanyanya lagi.


" Baru tiga puluh menit yang lalu kak" Jawab Chandra, tangannya berusaha meraih Almaeera yang berada dalam gendongan Rangga.


" Kok nggak tidur dia...?" Tanya Chandra saat Almaeera sudah dalam gendongannya.


" Itu juga dia baru bangun, sejak tadi Meera sangat manis. Dia begitu tenang dan nggak rewel selama di kelas..." Rangga mencubit pipi putrinya itu gemas, lalu beralih pada putranya dalam gendongan Lenox.


" Haii, boy. How are you today?" Rangga mengecup kening putranya pelan, lalu mengecup telapak tangan mungil itu.


" I'm okey daddy. Cause there's daddy Lenox here..." Jawab Lenox dengan menirukan suara anak kecil.


Rangga melotot kesal mendengarnya, dan apa katanya tadi, daddy Lenox??


" Lo kalau bukan sahabat Lili, udah gue rebus lo Lenox!!" Timpal Rangga dengan sadisnya.


" Wuihhh, Almeer..daddymu psikopat gila rupanya, masa daddy Lenox ini mau direbus boy?" Lenox masih saja mengajak bicara Almeer tanpa mempedulikan Rangga yang sudah emosi tingkat tinggi.


" Sudah pulang Bi..." Ara muncul dari pintu dapur. Secangkir kopi ada ditangan dan diletakkan di depan Chandra.


" Thanks Lailia..."


Kini langkah Ara berjalan menuju suaminya yang sedang melepas jasnya. Diraihnya tangan Rangga lalu dikecupnya seperti biasa.


" Almaeera nggak rewel kan Bi ? nggak ngganggu kamu kan Bi ?, dosen lain ada yang nyinyir nggak?, ada yang videoin kamu nggak tadi? Ntar takutnya tiba-tiba Viral bahwa istrinya Rangga Bayu Wijaya mengeksploitasi suami...." Pertanyaan demi pertanyaan Ara nyerocos begitu saja dari bibirnya. Auto bikin Rangga melek dari rasa penat dan capeknya.


Cup.


Untuk menghentikan pertanyaan yang panjang kali lebar dan menghasilkan luas itu jelas Rangga hanya butuh satu kecupan saja. Karena Ara pasti akan langsung kicep tak berdaya.


" Idihhh, sok pamer...!!, kami juga pernah begituan keles, ya kan Chand.." Sindir Lenox.


Sementara Chandra hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya gemas.


" Kalian masih lama kan?, gue keatas dulu bentar boleh kan?, titip twins bentar...." Pamit Rangga pada keduanya. Lenox dan Chandra hanya mengangguk setuju. Tapi senyum licik dari sudut bibir Rangga tertangkap oleh mata Ara. Belum juga Ara menyadari arti senyum licik itu, kini tiba-tiba tubuhnya serasa melayang. Karena dengan cepat Rangga mengangkat tubuh Ara dalam gendongannya.


" Akkhhh..." Jerit Ara terkejut.


" Mandiin yang...." Bisik Rangga manja ditelinga Ara


" Ya..elah, Chand!. Nyesel gue dateng, alamat mata gue bisa bintitan ini..." Umpat Lenox kesal, dengan pura-pura menutup sebelah matanya.


" Ha..ha..ha..., Ada yang iri rupanya..." Sahut Rangga santai.

__ADS_1


" Makanya cepetan kawin Le..." Lanjut Rangga.


" Kawin sudah, sering malah. Menikahnya yang belum!!" Guman Lenox.


" APA!!!"


Oee...oeeer..oeeee..


Teriak ketiga orang dewasa itu mengagetkan dua bayi yang tengah asyik mengemut jempolnya itu terkejut dan menangis berbarengan.


...***...


Denis benar-benar membawa Natasya menemui Ara terlebih dahulu sebelum berangkat ke Berlin.


Beberapa hari ini mereka bertiga, tepatnya Denis, Rangga dan Ara telah membuat rencana untuk mengerjai Natasha. Lebih tepatnya untuk membuat Natasha, memikirkan kembali keputusannya untuk tidak mau memiliki anak.


" Jadi lo setuju Ra?" Tanya Natasha sendu.


" Iya, mau gimana lagi Nat, kak Denis itu seperti kakak bagiku. Nggak tegalah melihat dia sedih. Lagian lo juga sebagai istrinya nggak mau hamil sih...." Ucap Ara.


" Apa kamu nggak takut kesakitan kaya kemarin Ra?"


" Kesakitannya hanya sebentar Nat, tidak sebanding dengan kebahagiaan mendapatkan mereka..." Ara mengecup kening twin yang berada dalam pangkuannya Denis dan Rangga saat ini.


" Lagian ini jalan satu-satunya, dari pada kak Denis poligami?, lo sendiri yang rugi.." Lanjut Ara panjang lebar.


" Apa kak Rangga nggak papa Ra?" Natasha terlihat kacau dan frustasi memikirkan ini beberapa hari ini.


Ara menunduk menyembunyikan rasa gelinya melihat tampang Natasha.


" Nggak papa ya kan Bi...? Lagian kan cuma bibit kak Denis yang dibuahi di rahimku, bukan kami harus begituan.."


Rangga dan Denis sama-sama mengangguk. Tapi ada senyum di sudut bibir mereka yang tidak terlihat oleh Natasha.


" Iya tapi kan tetap aneh Ra, ini anak kak Denis loh...dan itu dengan kamu..." Sela Natasha.


" Iya mau gimana lagi dong Nat, istri sah nya kak Denis nggak mau hamil dengan alasan takut melahirkan, jadi mau gimana dong?" Ara menatap mata Natasha, berharap muncul keinginan dari dalam hati Natasha untuk mengandung darah dagingnya sendiri.


Natasha terlihat bengong, berbagai macam kemungkinan berseliweran di benaknya.


Jadi bibit kak Denis ditanam di rahim Ara.


Trus dia darah daging Ara dan kak Denis begitu?. Anak Ara dong?


Waduh...


" Jadi dia anakmu dan kak Denis gitu?" Natasha meremas kedua tanganya, tidak iklas rasanya. Suaminya harus memiliki anak dari Ara, walau dia sahabatnya sendiri sekalipun.


" Hemmm, begitulah.." Lagi, rasanya Ara ingin tertawa dengan berguling-guling.


Sementara kedua pria yang sedang memangku twins juga mengulum senyuman mereka sambil saling lirik.

__ADS_1


__ADS_2