
" Shayang...." Panggil Denis pada Natasya yang terlihat melamun di lobi rumah sakit.
Saat ini mereka sedang membantu Rangga dan Ara untuk berkemas pulang kerumah mereka.
Karena hari ini Ara telah diperbolehkan pulang.
" Kenapa beberapa hari ini kau terlihat gelisah hemmmm?" Tanya Denis.
" Dua minggu lagi kita menikah, apa kau takut hemmm?" Tanyanya lagi.
" Bukan menikahnya yang Nath takutin kak, tapi...."
" Tapi???"
" Nath...emmm, itu Nath takut ham....."
" Den, Nath...tolong gendong twins!!, mommy gue nggak jadi jemput. Daddy kurang sehat..." Panggilan Rangga dari pintu ruangannya membuat mereka kompak menoleh dan melupakan obrolan mereka.
Akhirnya keduanya menggendong satu dari masing-masing bayi Rangga dan Ara. Sementara suster membantu mengangkut barang-barang Ara. Sedangkan Rangga sendiri mendorong kursi rawat Ara.
Sesampai di mobil, Denis memberikan Almaeera pada Ara, dan Natasya menyerahkan Almeer pada daddynya.
Mereka pulang ke rumah Rangga dan Ara menggunakan satu mobil.
Dimana saat ini Denis sebagai supirnya dan Natasya duduk disebelahnya.
" Kalian kapan ke Jogja?" Tanya Rangga pada kedua pasangan itu.
" Dua hari lagi kak, Natasya harus dipingit selama seminggu, tradisinya begitu sih..." Jawab Natasya.
" Iya, nggak boleh ketemuan intinya, video call juga enggak, nelpon juga dilarang, gue bisa mati kalo kayak gini!!!" Sahut Denis geram.
" Semua proses tradisi Jawa itu ada tujuanya kak, biar kalian semakin kangen, dan semakin rindu disaat bertemu ciyeehhh..." Olok Ara.
" Kayak kita nggak sih yang, kita juga diuji oleh rindu saat itu..." Ucap Rangga menerawang ke masa lalu.
" Kalo kasus kita bukan karena dipingit Bi..., lebih ke kamu abai ke Lili!!" Sambar Ara.
" Aduh salah ngomong gue!!" Rangga menepuk bibirnya sendiri.
" Ha..ha..ha..lo tuh sotoy!!" Seru Denis menertawakan Rangga.
" Benar kak sotoymie..ha..ha.." Sahut Ara lagi. Natasyapun ikut tertawa.
Rangga langsung kicep tak lagi bersuara.
Oee..oee...oee..
Almeer terlihat gelisah di gendongan Rangga.
" Kenapa boy?, pipis ya..?" Rangga mencoba menepuk-nepuk pelan bokong putranya.
" Kayaknya enggak deh Bi..., haus kali tadi belum kenyang menyusunya. Tolong pegang Meera sebentar Nath.." Ara menyodorkan putrinya pada Natasya.
Dan mengambil alih Almeer untuk disusuinya.
Rangga menutupi bagian sumber kehidupan untuk kedua bayinya itu dari pandangan Denis.
Setelah mengantarkan Rangga dan Ara ke rumah mereka.
Denis dan Natasya langsung meluncur kerumah mama Neela untuk meminta bantuan Azura dan Hana membuat kue. Karena rencana kemaren gagal karena insiden kelahiran twins yang tiba-tiba.
Setelah mengobrol sebentar dan menyampaikan tujuanya. Denis dan Natasyapun pamit pulang untuk belanja keperluan bahan-bahanya, agar besok langsung bisa dieksekusi.
" Langsung pulang ke rumah?" Tanya Denis sebelum mengambil arah, setelah selesai belanja dan telah makan malam sekalian.
Natasya mengangguk dan merebahkan kepalanya disandaran kursi.
Empat hari ikut merasakan hebohnya drama kehidupan baru Ara begitu membuatnya tegang.
__ADS_1
Dia akan bergantian dengan Rangga untuk menjaga Ara, walau kadang ada Azura, Hana atau Hanum. Tapi dia tetap ikut stanby disana. Karena dialah satu-satunya yang free time saat ini.
" Capek shayang?, tapi asyik kan ngurus baby..." Ucap Denis dengan tangan kirinya mengusap pipi Natasya.
" Ngurusnya asyik banget, Nath langsung jatuh cinta sama mereka, tapi..."
" Tapi??"
" Tapi..., saat melihat Ara begitu tersiksa saat mau lahiran membuat Nath.....hiiiii"
Natasya memeluk tubuhnya sendiri dan bergidik ngeri.
" Nath mohon setelah kita nikah, jangan buat Nath hamil kak, Nath takut hamil, apalagi melahirkan..." Ucap Natasya dengan berat.
" Hah!!! APA!!!"
Keterkejutan Denis sampai-sampai membuatnya meleng sepersekian detik dari fokusnya mengemudi.
Gila apa
Gue cuma anak satu-satunya.
Dia juga begitu....
Masa nggak mau hamil dan punya anak
Nah terus apa gunanya kami menikah?
Denis hanya diam tak menanggapi. Pembicaraan seperti ini sebaiknya dibicarakan dengan santai dan tenang ditempat yang tepat.
Mobil telah memasuki rumah super besar dikawasan perumahan elit Jakarta.
Saat gerbang dibuka terlihat beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi.
" Sedari tadi pagi mobil masih diposisi yang sama, mommy baik-baik saja kan?" Ucap Denis.
" Mommyku nggak ada kak, mereka udah ngumpul kembali ke Sidney untuk jemput oma dan opa dari dini hari tadi...." Ucap Natasya.
...*...
" Nath tinggal mandi dulu ya kak...., ini minumnya " Natasya meletakkan secangkir kopi dan setoples biskuit di meja.
" Kakak ikut mandi boleh nggak?" Olok Denis dengan menggerakkan alisnya naik turun.
" Huss...itu sih maunya kamu!!" Sahut Natasya.
" Emang kamu nggak mau??" Sambar Denis cepat.
" Mau lah, tapi habis itu digrebek warga sekampung ha..ha..ha.." Jawab Natasya cepat, dan langsung berlari ke kamarnya.
Hujan tiba-tiba turun begitu deras, simbok yang ingin mengecek pintu dan jendela terkejut saat mendapati calon suami dari den ayunya ada dirumah dan segera menghampiri.
" Aden Denis, sampun dahar?" ( Den Denis sudah makan malam?)
" Sampun mbok, sampun...itu..itu..." Denis bingung lagi, dia lupa bahasa jawanya makan yang disebut si mbok barusan.
Sebenarnya semua syarat dari romo Natasya gagal dilakukannya. Tapi melihat kegigihan Denis selama berbulan-bulan ini memunculkan rasa salut dari romo Natasya.
Yang lambat laun akhirnya bisa merestui mereka. Apalagi Natasya sempat mengancam akan menetap di Paris jika tidak diijinkan menikah dengan Denis.
" Oh iya..." Gumanya seolah ingat sesuatu.
" Sampun nyaplok mbok neng restoran...." (Sudah nyaplok mbok, di restoran) Ucapnya penuh percaya diri.
"Loh..sing di caplok nopo Den?" ( Loh, yang dicaplok apa Den?)Tanya simbok ikut bingung.
" Nyaplok Natha mbok ha...ha..." Sahut Natasya.
__ADS_1
Natasya muncul dari balik pintu dengan baju tidurnya, dan rambut yang masih terbungkus handuk.
" Terus piye gusti ayu, di pangeti nopo mboten lawuhane?" ( Terus gimana gustiayu, dipanasi nggak lauk-pauk nya)
" Mboten usah mbok, pun wareg"
" Apalagi tuh wareg."
" Wareg itu kenyang kak, dan lagi makan itu dahar kak, bukan nyaplok!!, kalo nyaplok itu kamu ke sini" Tunjuk Natasya pada lehernya.
" Haissshhh...." Sahut Denis malu karena ada simbok disitu, coba nggak ada. Udah diserang saja Natasya olehnya.
Hujan semakin deras, petirpun terus menyambar.
" Gimana kak, semakin deras itu. Kakak nggak bawa kacamata kakak kan?" Keluh Natasya khawatir.
" Nginep mawon tho Den, bahaya lho..." Ucap simbok yang ikut khawatir.
Diihhh...justru bahaya kalau gue nginep...
" Iya kak, nginep aja..." Ucap Natasya.
" No!! nggak lah, nggak enak kakak, pulang aja nggak papa..." Denis merapikan jaketnya dan mulai berdiri.
Simbokpun kembali ke belakang untuk menyimpan lauk pauk ke kulkas.
" Kakak pulang Shayang.... " Pamit Denis.
" Uuhhhh, jangan pulang dong. Siapa dong yang temanin Natha, Daddy dan mommy nggak ada loh..." Ucap Natasya manja.
" Huuhhhh, kamu ini!!!. Ya gimana Shayang..belum boleh, tunggu dua minggu lagi..." Denis merengkuh Natasya dalam dekapanya.
" Kalau Natha maunya sekarang gimana dong??" Ucap Natasya pelan.
" Hahh???, mau apa??" Tanya Denis dengan mata melotot.
" Mau..., mau......"
Cup.
Natasya mengecup bibir Denis dengan menjinjitkan kakinya. Tapi rupanya tak hanya kecupan. Natasya juga melu*atnya.
" Ahhh...." Desah Denis.
" Shayang...., duh. Kakak bisa jantungan kalau begini. Ciumanmu begitu terasa bagai desert bintang lima. Manis bangetttt... aku merasa kurang tapi terlalu mahal..mau lagi dong..." Bisik Denis seraya memonyongkan bibirnya.
" Nggak !!! Tunggu dua minggu lagi, atau kecuali..." Ucap Natasya menggantung.
" Kecuali??" Tanya Denis.
" Kecuali nginep sini.." Bisik Natasya.
" Adu..du..duhhhhh, pengen sih..... Tapi nggak berani sayang, bisa-bisa gagal merried kita justru....." Denis mempererat pelukanya lagi.
" Ya sudah sana pulang..." Natasya mendorong Denis, dia takut justru dialah yang tidak bisa menjaga sikap.
" Oke, see you tomorrow...love you.." Denis mengecup kening Natasya.
" Love you too.." Natasya mengantarkan Denis sampai ke pintu depan.
Saat mobil mulai bergerak keluar gerbang, sebuah mobil mewah warna merah justru akan masuk ke dalam.
Denis menajamkan penglihatannya untuk bisa mengenali wajah dibalik kemudi itu.
" Lucas???, kenapa malam-malam begini kesini?" Gumamnya.
Tapi Denis tak ambil pusing, toh mereka sepupuan. Dan lagi Lucas juga sangat mendukung hubungan mereka.
Tin..tin..
__ADS_1
Denis membunyikan klaksonnya sekedar menyapa, tapi anehnya Lucas yang terkenal peramah itu justru tak mempedulikannya.