
Sesampainya di rumah Ara segera menuju dapur, menemui bibi.
" Bi, nanti malam Lili sahur, apa bahan masak masih ada?" Tanya Ara.
" Lengkap non, bahkan telur puyuh full stok, tadi bibi belanja kok.." Sahut bibi sopan. Sangat tahu kalau istri tuan mudanya ini selalu masak untuk sahurnya hari Senin dan Kamis.
Tapi bibi sedikit heran sudah satu bulan full ini nonanya selalu puasa Senin Kamis full, ada yang janggal kan???
" Oh Alhamdulillah.., tadi pagi Lili lupa bilang soalnya. Terimakasih banyak ya bi.."
" Iya non, Sama-sama..."
Arapun berbalik kembali ke ruang keluarga dan seperti biasa berlarian saat menaiki tangga.
" Sayang....jangan lari..!!" Tak bosan-bosanya oma mengingatkan, tapi kalau dasarnya sudah kebiasaan ya susah.
Ara tidak turun sama sekali sampai tiba waktu makan malam. Gadis itu pantang menyerah untuk bisa membongkar soal-soal sulit yang didapatkan nya dari bu Sasti dan soal rekomendasi dari Denis.
" Lili mana Hon?, kok belum turun?" Tanya daddy pada mommy.
" Tadi sih saat mommy lewat kamarnya, suaranya masih mengaji Hon.." Jawab mommy.
Tap..tap..tap.
Suara tapak kaki di tangga membuat mereka menoleh.
" Janu tolong panggilin Lili nak, suruh turun makan.." Ucap daddy saat melihat Janu di ujung tangga.
Janu hanya mengangguk dan segera membalikkan badanya. Melangkah menuju kamar Rangga, dimana Ara berada.
Tanganya menggantung di depan pintu, saat suara merdu yang tengah melantunkan ayat suci Al Qur'an itu menusuk relung hatinya.
Pintu yang sedikit terbuka membuatnya dapat melihat isi dari kamar yang didominasi warna abu-abu itu.
Foto pernikahan yang dicetak dan terbingkai sangat besar tergantung tepat di dinding depan pintu.
Sepertinya Rangga sangat ingin semua orang tahu bahwa dirinya telah beristri.
Tok..tok..tok..
Setelah menunggu lumayan lama tapi Ara tak juga menghentikan bacaanya, akhirnya Janu memberanikan diri mengetuk pintu itu.
" Ditunggu om dan tante makan malam.." Ucapnya datar.
" Iya.." Jawab Ara singkat.
Arapun segera menyudahi bacaanya dan bersiap turun.
Saat membuka lebar pintu dia terkejut melihat Janu masih berdiri di depan kamarnya.
" Kok masih disini?"
" Nungguin kamu lah!"
" Dih!! Kurang kerjaan nungguin istri orang!!" ucap Ara
" Siapa???, gue???, sorry nggak level!!"
" Trus ngapain masih disini??, minggir aku mau lewat" Usir Ara.
" Aku juga nggak mau kesini kalau tante nggak suruh ya!!" Sahut Janu.
" Alasan klise!!"
" Kamu ya!!!" Janu mengeram geram melihat kelakuan Ara yang malah tersenyum menanggapi kemarahanya.
Janu bergegas turun meninggalkan Ara begitu saja.
Barusaja Ara akan melangkah keluar kamar, suara ponselnya memekik keras.
" Hai sayang Assalamu'alaikum.."
Seperti biasa, kekasih hatinya menjumpainya lewat maya.
Sepanjang jalan menuju ruang makan Ara terus saja mengobrol dengan Rangga.
" Yuk kak makan..." Ucap Ara saat dirinya telah duduk dimeja makan, ponselnya ia letakkan di meja dengan bersandarkan pada teko minum.
" Masak apa kamu sayang?"
" Emmm, bibi yang masak untuk makan malam, Lili ada tugas dari bu Sasti.."
Mereka terus mengobrol di meja makan tanpa mempedulikan yang lainya.
Seperti itulah jika cinta telah bertahta, dunia milik berdua, yang lain anggap saja tak nampak!!, hantu kali tak nampak.
" Rangga sayang, sudah dulu ya nak. Istrimu belum makan dari pulang sekolah.." Suara oma membuat mata Rangga membola.
__ADS_1
" Kenapa nggak makan!! Sayang...?"
" I..itu...itu..ta..tadi.."
" Makan sekarang sayang, cepat!!" Seru Rangga tegas dan dingin.
" Tapi jangan ditutup dulu..." Ucap Ara hampir menangis.
Rangga mengusap air matanya yang menggenang dimatanya, Lilinya masih sama. Masih tak mau terlalu cepat berpisah saat bertelponan seperti ini.
Ini berat, demi Allah ini berat!!
Ara dengan buru-buru mengambil nasi dan lauk pauknya.
Sambil matanya terus melirik ponselnya, takut Rangga memutus sambungan video call mereka.
Daddy Hen dan mommy sedih melihat penampakan mengharukan di depanya.
" Mau makan kak? Aaaa...." Ara menyodorkan sendoknya di depan kamera ponselnya.
Rangga tertawa terbahak-bahak. Saat ini di sana masih pukul 5 pagi, bahkan saat ini Rangga saja masih bergelung dalam selimut.
" Istrimu tadi disekolah suap-suapan sama cowok Ga!!" Ucap Janu tiba-tiba.
Tringg!!
Tanpa sengaja Ara menjatuhkan sendoknya, matanya melotot marah menatap Janu.
Lalu dengan cepat meraih ponselnya dan memfokuskan pada wajahnya dan wajah Rangga saja.
" Maaf kak, itu tidak disengaja. Lenox menyodorkan nya saat Lili nggak fokus, yang sebenarnya seperti itu..." Ara dengan cepat menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Sebenarnya dalam hati Rangga merasa ngilu luar biasa. Rasa nyeri meremat-remat hatinya. Tapi apa boleh buat, marah juga percuma, jarak mengharuskanya hanya SABAR, SABAR, SABAR dan SABAR.
Karena omongan tak tersaring Janu, membuat suasana menjadi canggung. Rangga juga menjadi diam saja karena tenggelam dalam lamunan. Ara yang merasa malu pada suami, kedua mertuanya, dan oma membuatnya bingung untuk berkata-kata, suasana meja makan menjadi kaku dan dingin.
Yang Ara bisa hanya menatap wajah Rangga yang juga tengah menatapnya dengan penuh pertanyaan.
" Sayang..." Suara Rangga membuat Ara kembali menatap pada ponselnya.
" Iya kak..." Ucapnya pelan.
" Bawa ponselnya ke kamar sayang, kakak ingin bicara sama kamu.."
Ara segera berlari keatas setelah berpamitan pada mertua nya dan oma.
" Iya sayang kakak percaya kamu.." Jawab Rangga.
" Kak sumpah...Lili nggak mungkin begitu." Ara terlihat mengusap matanya berulang kali.
" Sudah sayang, kakak tahu kamu nggak mungkin begitu..., ya udah tidur cepat, nanti kakak bangunin saat sahur.." Lagi Rangga membuatnya tenang dan damai.
" Terimakasih kak..., I love you..."
" Love you too sayang, bye..Assalamu'alaikum..."
" Waalaikumsalam..."
Ara mengecup ponselnya, dan bersiap untuk tidur.
...***...
Suara ponsel membangunkan Ara tepat pukul tiga dinihari. Missed call dari Rangga yang rutin mebangunkan nya agar sahur.
Saat ini Rangga sedang tidak bisa mengobrol karena masih dalam kelas.
Biasanya Ara akan turun dengan santai tanpa harus memakai jilbab atau baju panjang.
Tapi kali ini ada orang luar yang ada dirumah ini. Jadi mau tak mau Ara harus pandai menutup auratnya.
Sementara itu Janu yang merasa serak, dan haus juga tengah turun dari tangga menuju dapur.
Matanya terbuka sempurna saat melihat penampakan menyilaukan di depanya.
Gadis cantik dengan jilbab terlilit rapi, memakai apron yang terikat ketat ditubuhnya, menunjukkan lekuk tubuh yang mempesona.
Setidaknya seperti itulah sudut pandang pria muda berusia delapan belas tahunan itu.
" Ekhm.." Janu bedehem saat membuka pintu kulkas.
" Jadi istri Rangga ini, suka makan malam-malam begini?" Ucapnya.
Ara tak peduli, gadis itu terus melanjutkan aktifitas nya tanpa menganggap Janu ada.
Gadis itu sedang dendam karena omongan Janu yang meng-hiperbola kan kenyataan yang sebenarnya tadi malam.
Suap-suapan??
__ADS_1
Siapa??,
Yang ada dia nggak sengaja nyaplok sodoran Lenox kan, bukan suap-suapan!!.
Setelah meneguk air dingin langsung dari botolnya, Janu tak lantas langsung pergi kembali ke kamarnya.
Malah dengan santainya duduk di depan Ara yang sedang mengiris bumbu-bumbu untuk masak sahurnya.
Janu menatap setiap gerak-gerik gadis di depanya itu.
Gila, cuek amat dia..
Sifatnya sebelas duabelas dengan Rangga..
Mereka benar-benar pasangan buah durian yang klop.
Berduri diluar, tapi sangat manis dan legit di dalam.
Modelan cuek pada orang asing, tapi hangat pada yang dekat saja.
" Mau aku colok matamu itu!!" Bentak Ara yang sudah tidak tahan lagi melihat mata Janu terus saja menatapnya, membuatnya risih dan geram.
" Kau ini cewek nggak ada romantis nya sama sekali" Ucap Janu sambil mencebik.
" Romantisku bukan untukmu!!!" Jawab Ara ketus.
Janu menggigit lidahnya saat mendengar jawaban ketus Ara, ada senyum tipis mengembang di bibir tipis nya.
Menarik..
Istrimu sungguh menarik Rangga...
Janu masih saja duduk sampai Ara telah menyelesaikan masakannya. Sekalian memasak untuk sarapan pagi dan bekal untuk mertuanya.
Ara tidak mau lagi memikirkan bekal Janu.
Ara melewati Janu begitu saja dan melangkah menuju meja makan untuk memakan sahurnya.
" Aku juga mau sahur, mana untukku.." Ucap Janu yang kini telah berdiri di belakang Ara.
" Ambil sendiri.." Ketusnya.
" Aku mana tahu, kau yang punya rumah"
" Huuhh, merepotkan saja!!" Ara meletakkan sendoknya dan kembali ke dapur untuk mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Janu.
Takk!!
Ara meletakkan piring dengan kasar di depan Janu.
Entah kenapa Ara begitu merasa nggondok pada Janu, bawaanya pengen marah pada cowok yang duduk di depanya itu, entah kemana hilangnya sifat lemah lembut Ara.
MashaAllah, ini enak banget...
Selain tsundere, gadis ini pandai masak juga..
Rangga, kau selalu bisa melebihiku..
Bahkan mencari istripun kau jauh melampaui ku...
" Lama-lama aku colok beneran pakai sendok matamu itu!!" Bentak Ara lagi saat mendapati mata Janu terus saja menatapnya.
Sementara Janu hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
...***...
" Dad...boleh Lili masuk?" Ara melongok ke ruang kerja daddy Hen sebelum berangkat sekolah.
" Boleh sayang masuk saja sini.. ada apa sayang?" Ucap daddy Hen dengan tangan meraih dasi yang disediakan mommy Tara beberapa saat lalu.
" Dad..., boleh Lili minta ijin.." Suara Ara mengagetkan daddy yang sedang menyimpulkan dasinya.
" Ijin?" Tanya mommy di depan pintu.
Baik daddy dan Ara menoleh ke arah mommy.
" Lili mau ikut kak Vino menjemput Vera ke Jawa Timur, bolehkan?" Ucap Ara ragu-ragu.
" Kau sudah bicara dengan suamimu?, apa dia mengijinkan?" Ucap mommy Tara lagi.
Ara menggelengkan kepalanya. Ya, semalam Ara sudah meminta ijin pada Rangga, tapi dilarangnya.
" Maka jawaban kami juga tidak!!" Jawab mommy tegas.
" Tapi momm..."
" Sayang, menurutlah.... Jawa Timur itu jauh, dan kamu sedang berpuasa, pahami sayang. Suamimu juga pasti sudah mempertimbangkan keputusan nya.." Ucap daddy Hen bijak.
" Baiklah " Sahut Ara disertai anggukan patuh.
__ADS_1
" Good girl " Kedua mertuanya memeluk Ara dengan sayang.