Childhood Love Story

Childhood Love Story
Persiapan Pesta..


__ADS_3

" Sayang...." Seru Rangga


" Di dapur kak..." Sahut Ara.


Rangga benar-benar posesif pada Ara, hilang dari pandangannya sebentar saja dia langsung was-was.


" Sayang weekend ini kita ke Jogja ya, katanya kakek udah banyak kemajuannya" Ucap Rangga dengan melingkarkan pelukkannya diperut Ara.



" Bilang aja besok, pakai wekeend segala, ini juga udah hari jum'at.." Jawab Ara.


" Hahhh.....astaghfirullah!!, waduh" Rangga menepuk jidadnya keras seolah ingat akan sesuatu.


"Sayang kamu berangkat bareng Ardi saja ya, nggak papa kan? kakak ada perlu.." Rangga berlari kembali ke kamar dengan buru-buru. Sementara Ara bingung dengan apa yang terjadi, tapi tetap cuek dan meneruskan kembali masaknya.


Dikamar, Rangga segera menghubungi para sahabatnya untuk kesiapan surprise wedding party yang telah mereka rencanakan. Dan karena sudah terlalu mepet dan banyak yang perlu harus diurus, akhirnya Rangga menghubungi Lenox juga untuk membantu kesiapan acara untuk hari Minggu ini.


Beberapa undangan telah disebar melalui room chat dan email. Undangan untuk kolega papa dan daddy juga telah dibagi secara silent. Semua dilakukan dibelakang Ara.


Disini yang paling capek tentu Denis, Gama Bagaskara dan Chandra.


Sementara para sahabat Ara juga sama sibuknya.


" Sayang kakak berangkat ya.., mungkin pulangnya malam. Kamu tidur duluan saja, jangan nungguin kakak..."


Ara mengangguk dan menjejelakan nasi goreng ke mulut Rangga, dan itu sampai sekitar 7suapan selama Rangga selesai memakai sepatu.


" Terimakasih, akhirnya masih sempat sarapan walau buru-buru.." Rangga memeluk Ara yang sungguh-sungguh cekatan dan perhatian padanya.


Cup.


Kecupan singkat dilabuhkan pada bibir merah Ara yang menjadi candunya sejak dulu.


" Assalamu'alaikum..." Rangga mengusap kepala Ara pelan sebelum melangkah membuka pintu.


" Waalaikumsalam sayang..." Sahut Ara.


Mendengar panggilan sayang yang disematkan Ara, Rangga berhenti, dan menoleh.



" Kamu tahu sayang, panggilan sayangmu itu membuatku malas keluar rumah..." Ucap Rangga dengan senyumnya yang mengembang.


" Dan apa kau tahu sayang?, makanya Lili jarang manggil kakak sayang..." Jawab Ara dengan tertawa imut dan mendorong Rangga untuk segera keluar.


...***...


Ara mencari-cari Lenox dikampus, tapi tidak juga nampak batang hidung pria itu.


" Kemana dia?"


Ara celingukan di kantin, tapi Lenox masih juga tak nampak.


" Cari siapa cantik..." Sapa Awan saat melihat Ara sedang mencari seseorang.


" Kak Awan lihat Lenox nggak?" Tanya Ara sopan.


" Kalau nggak ada Lenox, kak Awan pun jadi sayang...." Sahut Awan.


" Ha..ha..kak Awan bisa aja..." Ara harus pandai-pandai bersikap agar suasana tatap kondusif.


" Ada yang bisa dibantu Ra?"

__ADS_1


" Iya kak, flashdisk Ara ada di Lenox. Sebentar lagi dosen datang. Tapi si tengil itu belum datang juga..."


" Nih...., ini flashdisk baru. Pakai saja dulu.." Awan mengeluarkan sebuah flashdisk dari kantung tasnya.


Dan Ara yang kepepetpun mau tidak mau menerimanya.


" Ra, boleh tanya sesuatu..." Awan berusaha mengulur waktu untuk ngobrol dengan Ara.


" Ya kak..., silakan.."


" Kemaren ada cowok yang ngaku-ngaku jadi suamimu, apa kau memang sudah bersuami Ra?" Tanya Awan dengan menatap Ara tajam.


Awan dan Ara tingginya sama, karena kalau ukuran cowok Awan termasuk pendek.


" Ya..., Ara sudah bersuami. Bahkan Ara sudah menikah sejak kelas satu SMU..." Jawab Ara jujur.


Awan menjatuhkan tas yang ada di tangannya karena begitu syoknya. Menikah saat masih duduk di bangku SMU. Dan itu dilakukan oleh gadis yang terlihat tidak banyak tingkah seperti Ara ini, masa sih?


" Married By Accident ?, kamu diperkosa olehnya ya?"


" Naudzubillah...., enggaklah. Emang mau nikah muda saja waktu itu...." Jawab Ara dengan tawa renyahnya.


Awan menatapnya sendu. Ya sudahlah.., bukan jodoh mau gimana lagi.


" Ekhemm..." Deheman Lenox mengagetkan mereka berdua, lebih kaget lagi karena ada Wari bersama Lenox saat ini.


" Tolong ijinin gue Ra, kami harus keluar kota hari ini. Tiketnya satu jam lagi, nggak keburu ikut kelas..." Ucap Lenox cepat dengan menyodorkan makalah dan flashdisk padanya.


" Kalian?, mau kemana?. Wari udah ijin papa belum?" Ara menatap tajam kedua orang didepannya itu.


" Udah kak, bahkan om juga per---" Lenox membekap mulut Wari cepat.


" Sayang...sssttt, ini rahasia..." Bisik Lenox.


" Ada apa ini?, apa yang kalian sembunyikan ?" Tanya Ara penuh rasa curiga.


" Nggak ada kak, sumpah!!, kami cuma keluar kota aja kok " Jawab Wari cepat.


" Ya udah deh Ra, kami berangkat. Bye nyonya besar, see you in glory Sunday..." Lenox segera merangkul Wari dan membawanya pergi dari hadapan Ara.


Wari yang polos akan mudah keceplosan dan Lenox tentu tidak mau itu terjadi.


Karena kepolosan Wari jugalah membuat Lenox tergila-gila padanya. Tapi sayang sifat bajingan Lenox tidak mudah hilang. Sifat bajingan Lenox kadang membuatnya mencurangi Wari yang polos itu untuk menggerepe-grepenya.


Tapi walaupun begitu Lenox telah insyaf dan tidak mau main-main cewek lain selain Warinya.


...***...


Ardi seperti biasa membawa Bianca serta saat menjemput Ara, karena hari ini dia tidak ada jam kuliah dan seperti janjinya mereka langsung ke rumah Vera.


Tapi rupanya Vera sedang bersiap untuk bepergian jauh, karena terdapat 2 koper besar di samping pintu rumahnya.


" Kalian mau kemana?" Tanya Ara pada Vera yang sedang menyuapi Saga makan siang.


" Oh.., nanti sore kak Vino ajak kami keluar kota, ke Jogja tepatnya" Jawab Vera.


" Kok bisa samaan ya, aku dan kak Rangga besok juga ke Jogja.." Sahut Ara tanpa curiga.


Sementara Vera dan Ardi saling lirik dan sama-sama tersenyum tipis.


" Di...lo nggak jemput Azura?" Tanya Vera pada Ardi yang sedang sibuk mengepang rambut kedua gadis kecil yang kini duduk di kedua pahanya.


" Pesawat malam..." Jawab Ardi singkat.

__ADS_1


" Azura pulang ya?, ada acara apa memangnya?" Tanya Ara yang semakin bingung. Masa dia banyak nggak tahu info padahal juga baru lima hari dia dikurung oleh Rangga.


" Acara keluarga beb. Tepatnya, saudaranya yang ada acara gitu beb..." Jawab Ardi tak yakin Ara percaya.


" Keluarga?, keluarga Azura yang mana?"


Nah bener kan, saat ini Ardi dan Vera hanya saling tatap bingung harus ngomong apa lagi.


Untungnya Saga rewel dan otomatis perhatian mereka fokus pada balita ganteng itu.


...***...


Sementara itu di Jogja.


Denis, Gama Bagaskara dan Chandra sedang mempersiapkan semua keperluan pesta hari Minggu esok. Daddy dan mommy juga terlihat mondar-mandir di rumah kakek Al Ghifari dimana acara Ara dan Rangga digelar disana.


Konsep yang diambil Rangga adalah outdoor wedding party.


Dimana acara di buat santai dan kekeluargaan. Sengaja Rangga tidak menggelarnya di Jakarta atau di dalam hotel. Karena itu akan bisa mengingatkan sakit hati Ara, pada pesta yang gagal dua setengah tahun yang lalu.


Gama Bagaskara membuka kamar hotel untuk para tamu sampai empat lantai full.


Semua demi kenyamanan tamu-tamu anak seorang yang sangat berjasa pada hidup Gama dan Chandra. Orang yang dianggapnya seperti orang tua sendiri.


" Om...kita ambil lokasinya di dekat kolam renang atau belakang rumah kakek?" Tanya Denis pada daddy Hen.


" Menurutmu gimana son?" Tanya daddy pada Rangga.


" Di belakang saja yang luas, soalnya banyak tamu yang membawa anak kecil, kalau di dekat kolam renang terlalu riskan dad.." Jawan Rangga tegas.


Daddy menatap putranya dengan bangga. Rangga jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Tutur katanya tegas dan berwibawa. Tapi sayang Rangga tetap pada pendiriannya yaitu menjadi seorang pendidik, bukan pengusaha.


Beberapa usaha yang dijalankan oleh Rangga bersama Denis dan Gamapun, Rangga tidak pernah ikut campur. Yang dia tau dia hanya mendapatkan transferan tiap bulanya saja.


Dan untuk hotel pemberiannya pada Ara yaitu 'Blue Sky Hotel' kini ditangani oleh orang yang terpercaya yaitu Chandra Bagaskara.


Rangga benar-benar tidak tertarik pada bisnis. Karena memang dia tidak ada jiwa kesana. Cuma dia memang selalu ikut memantau perkembangan usaha mereka dan membantu daddy nya jika memang diperlukan. Rangga hanya tidak tertarik, bukan berarti dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis.


" Kak, gaun Ara sudah Nath siapkan di kamar hotel. Ada beberapa model, biar Ara sendiri nanti yang memilihnya.." Ucap Natasya yang baru saja bergabung bersama mommy Tara.


" Terimakasih...." Jawab Rangga dengan tangan terulur menepuk pundak Natasya.


Denis menatap Natasya sendu. Sumpah!!, Denis bingung harus bagaimana. Jelas dia sangat rindu dengan Natasya. Tapi lihatlah gadis itu tetap cuek seperti pertemuan mereka di Birdman cafe seminggu yang lalu.


" Yang kemarin bersamanya itu sepupunya bro.." Bisik Rangga yang tahu kegundahan hati Denis saat ini.


" Benarkah?, bukan pacarnya?" Tanya Denis antusias.


" Bukan..." Jawab Rangga tegas.


" Majulah cepat, sebelum terlambat. Urusanmu dengan Rose juga kan udah beres" Lanjut Rangga.


" Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Denis terkejut.


" Kemarin aku bertemu papamu.." Jawab Rangga tanpa menoleh, fokusnya pada tab yang ada di tangannya. Rangga sedang memilih contoh dekorasi yang dikirimkan WO padanya beberapa saat lalu.


" Untuk apa kau ketemu papaku?" Denis melebarkan matanya penasaran.


" Minta rekomendasi papamu, agar aku bisa lolos seleksi Asdos di kampus istriku..." Jawab Rangga.


" Gila!!!, lo bener-bener bucin gila!! yang selalu mengikuti ketiak istri!!" Denis mengacak-acak rambut Rangga gemas.


" Kamu kayak nggak tahu aja gimana aku!! Btw aku lurusin ya bro.., yang aku ikutin bukan ketiak istriku...Kamu pasti tahu lah yang bagian mananya yang nggak bisa bikin aku move on dan ketagihan terus menerus......" Rangga menaik turunkan alisnya menggoda playboy tengil di depanya ini.

__ADS_1


" Sialan lo Ga!! Mentang-mentang ya..." Denis meninju lengan Rangga dengan tertawa.


__ADS_2