
Rangga menangis di markas, dengan masih mengenakan sarung dan atasan pramuka nya.
Kepala Rangga ditelungkupkan dimeja bundar. Badanya bergetar kerena tangisan nya.
Ketiga sahabatnya hanya bisa tertunduk di sampingnya.
Mereka nampak kalut dengan fikiranya sendiri. Mereka syok dengan foto diponsel Jessica dimana ada Rangga dan Jessica yg tidur berdua di satu tempat tidur.
Bukan fitnah Jessica yg membuat Rangga hancur, tapi kata-kata Ara yang memintanya berhenti mendekatinya membuat Rangga terluka parah.
Tok!! Tok!!
Pintu markas diketuk dari luar, mereka mengira murid lain yg datang, karena kalau genk somplak tidak pakai ketuk pintu.
Ara berdiri tertunduk dibelakang Hana yg membawa empat nasi kotak di tanganya.
Denis membuka lebar pintu markas, sehingga Ara dapat melihat kondisi Rangga yg masih menelungkupkan wajahnya dimeja.
Denis mengkode teman-temanya untuk keluar.
" Bicaralah denganya, mungkin dengan bicara semua akan jelas" Denis mengusap kepala Ara dengan sayang.
Sebelum keluar dari markas Rayya membisikan kata-kata yg sama pada Rangga.
Ara masuk ke markas dengan dada berdebar, dari sudut hatinya sangat tidak percaya dengan kata-kata Jessica, tapi bukti menunjukkan segalanya.
Rangga mengusap air matanya. Matanya terlihat sembab, hidung yg memar tampak semakin memerah. Rangga mengangkat kepalanya. Menatap mata berkaca-kaca yg kini juga menatap nya.
Rangga berlari dengan lututnya, bersimpuh dibawah kaki Ara.
" Maafkan aku..., maafkan aku...." Isak tangis yg beberapa saat lalu berhenti kini pecah lagi.
Ara menjatuhkan tubuhnya juga, kini mereka berdua saling bersimpuh dengan tubuh yg sama-sama bergetar karena tangisan pilu mereka.
Rangga menjatuhkan kepala nya di pangkuan Ara. Kedua tangannya saling terpaut di belakang pinggang Ara.
" Yg terjadi tidak seperti itu sayang...., percaya padaku.." Ucap Rangga disela isak nya.
" Aku tidak pernah melewati batasku sayang....percayalah..." Rangga berbicara dengan suara bergetar, pelukannya semakin erat pada tubuh Ara.
Tak ada satu suara pun keluar dari mulut Ara membuat Rangga semakin stress.
" Aku hanya bereaksi padamu saja, aku terlihat mesum hanya padamu saja, sayang...bicaralah padaku please...."
Rangga mengangkat kepalanya.
Kedua tangannya menangkup wajah Ara agar menatap nya.
" Tidak seperti itu kejadiannya, difoto itu tidak benar, lihat mataku sayang..." Rangga meyakinkan Ara dengan memintanya mencari kebenaran dalam matanya.
" Lalu yg terjadi seperti apa?" Tanya Ara setelah sekian lama diam, mata merah berkaca-kaca itu menatap Rangga dengan sendu. Sungguh-sungguh rasa sakit menikam jantung Rangga.
Rangga ingin mengecup kening Ara, tapi penolakan Ara dengan menutup kedua tangan Ara pada bibirnya membuat Rangga semakin sakit.
Tangan yg ada di kedua sisi pipi Ara kini luruh ke lantai.
Rangga tertunduk. Untuk menceritakan yang terjadi sebenarnya juga percuma, karena Rangga yakin Jessica memang sengaja menjebaknya.
" Foto itu asli kan...?" Tanya Ara dengan menahan air matanya agar tidak menangis, setelah sekian lama menunggu Rangga bicara yg sebenarnya tapi tak kunjung juga.
Rangga mengangguk.
"Ya sudah...." Ara menghembuskan nafasnya berat, nampak air mata lolos dari sudut matanya.
__ADS_1
Rangga menggelengkan kepalanya lemah, melihat mata cantik itu kini berderai air mata karenanya. Dadanya bagai dihantam batu besar saat Ara menarik cincin pemberian nya dari jari tengah nya.
"Ini...." Ara membuka telapak tangan Rangga dan menaruh cincin itu disana.
Air mata Rangga deras meluncur dari matanya tanpa kata-kata.
" Jangan sayang pleaseee...please..." Rangga dengan cepat ingin memasang kan lagi cincin itu, tapi terus saja ditolak oleh Ara.
"Ara hanya memberi waktu kakak sampai ulang tahun Ara yg ketujuh belas, sama seperti janjimu dulu, jika saat itupun kakak tidak datang dengan membawa kebenarannya, maka Arapun akan melepaskan ikatanmu yg disini" Tunjuk Ara pada bawah lehernya.
Degh!!!
Dalam kalutnya Rangga teringat janjinya dengan gadis kecilnya.
Saat itu mereka berjalan-jalan di sisi Prambanan.
Flasback on.
" Lili lihat kalung ini bagus ada dua warna, biru untuk mu dan hijau untukku"
Rangga kecil memasang kalung Naruto berliontin biru pada leher Ara kecil. Dan yg hijau untuknya.
Lalu mencium Ara kecil dengan malu-malu.
" Daddy bilang aku harus mengganti kalung ini menjadi kalung yg bagus, dan dari uangku sendiri, nanti di usiamu yg ke tujuh belas, tunggu aku pasti datang...." Lanjutnya sambil mengayunkan gandengan tangan mereka.
" Daddy bilang kita boleh pacaran kalo udah pakai seragam abu-putih" Lanjut Rangga kecil lagi dengan terus mengikuti kemanapun langkah kaki Ara.
" Beb...sini..., kenapa sih maen sama si Aga cengeng mulu sih kamu..." Sentak Ardi kecil pada gandengan tangan mereka hingga terlepas.
" Ayo beb..., kita pulang ke Bandung, papa udah nunggu disana..." Tunjuk Ardi kecil pada orang tuanya dan Adnan kecil yg sedang dalam rangkulan papa Syakieb.
Ara kecil berlarian mengikuti Ardi kecil.
Mommy Tara mendekati putranya.
" Mom..Aga mau ikut Lili pulang ke Bandung..." Rengeknya.
" Ya nggak bisa dong sayang...om Syakieb akan banyak tugas ke luar, kasihan kak Adnan kalo harus ngurusin kalian bertiga"
" Huea...huwa...pokoknya Aga mau ikut Lili mommy...huwa...huwa..." Tangis Rangga kecil sungguh menyayat hati.
" Aga nggak sayang mommy ya, Aga mau tinggalin mommy?" Tanya mommy Tara pada pria kecilnya itu.
" Nggak.., Aga hanya sayang Lili..., huea mommy...Aga mau ikut Lili...."
Flashback off
Rangga memejamkan matanya. Kenapa baru sekarang, kenapa setelah terjadi kejadian ini baru dia menyadarinya.
Kenapa dia terlalu bodoh dan buta akan petunjuk-petunjuk itu.
"Lili..." Ucap Rangga dengan menatap mata Ara tak percaya.
" Kau Lili..., dedek Liliku.....i..itu..ka...kamu..." Rangga menutup mulutnya yang tanpa sadar terbuka lebar. Air mata deras mengalir dari kedua buah matanya.
" Lailia Nafeesa...Lailia...Laili...Lili...." Ucap Rangga dengan dada yg berdebar hebat.
" Ah..Astaghfirullah bagaimana bisa aku....Akhh!!!!" Teriak Rangga dengan meremas kepalanya geram.
Bagaimana bisa aku tidak mengenali Lili yg berada di depanku.
Bagaimana bisa aku tidak mengenali detakan hatiku jika menatap matanya.
__ADS_1
Bagaimana aku tidak menyadari bahwa hatiku hanya akan bisa jatuh cinta pada orang yg sama.
Rangga menarik Ara dalam pelukanya.
Ara hanya bisa diam saja.
Rangga sungguh tak tau harus bagaimana, betapa bodohnya dia. Kekasih kecilnya dulu adalah kekasih nya dimasa kini.
Rangga sungguh menyesal menyadari nya di saat seperti ini.
Perlahan-lahan Rangga menyingkap jilbab Ara, dan nampak kalung Naruto berwarna biru menggantung di leher Ara.
Rangga memejamkan matanya, tak ada lagi Rangga yg cool dan keren.
Hari ini Rangga kembali menjadi Rangga cengeng seperti sepuluh tahun lalu.
" Kenapa kau diam saja selama ini, kenapa kau tidak memberitahu padaku kalau kau Liliku...."
" Untuk apa...?, bahkan sebelum aku bicara, kau berniat mengenalkan aku pada Lilimu...." Sela Ara cepat. Ada amarah dalam matanya.
Rangga teringat saat Ara akan bicara bahwa dia juga mempunyai liontin yang sama, tapi dia dengan cepat menyelanya.
Dan beberapa petunjuk- petunjuk lain saling berkelebatan bagaikan rol film yg terputar terus dan tak putus-putus.
Rangga meremas kepalanya dengan geram.
" Maafkan aku....tak bisa mengenalimu sayang.." Rangga menunduk malu
" Maafkan aku yg selalu sesumbar mencintaimu, bahkan mengenalimu saja aku tak bisa..."
Maafkan aku yg bodoh dan tolol ini sayang...."
Tak henti-hentinya Rangga memohon maaf atas ketidak sandarannya selama ini.
Matanya menatap Ara yang diam saja. Rangga takut firasatnya bebarapa hari ini terjadi.
Rangga takut kehilangan Ara untuk selamanya.
" Sejak kapan kau tahu ini aku..." Tanya Rangga.
" Sejak aku melihat liontinmu..." Jawab Ara.
Rangga kembali menyingkap jilbab Ara, tatapanya tertuju pada pangkal leher Ara. Ada bekas luka di sana, bekas luka yg ditorehkannya.
Luka yg diberikan nya saat mereka main perosotan di samping rumah Rangga yg di Jogja.
Saat dengan tanpa sengaja Rangga mendorong Ara terlalu kuat.
Pantas saja bekas jahitan nya sepanjang itu, karena dulu saja darahnya mengucur sangat deras.
Ya bekas luka ini adalah luka pertama yg ditorehkan oleh Rangga untuknya.
Dan kali inipun lagi-lagi Rangga menorehkan luka pada hati Ara.
* * * *
Bersambung....
Jangan lupa like dan komentar nya ya ๐๐
Terima kasih sebelumnya๐๐๐
__ADS_1