
Vera tersenyum geli melihat pipi Vino yang memerah karena bekas lipstik ibu hamil tadi, tak hanya mecubit dan mencium, ibu hamil itu juga mengecupi seluruh wajah Vino. Bahkan rambut Vino kini tampak berantakan tak karuan.
Sahabat mereka hanya tersenyum geli melihat Vino yang terlihat malu bercampur kikuk.
Pesanan makanan mereka telah datang, Natasha nampak sangat antusias dengan pesanannya.
"Yakin Nat..?" Tanya Hanum melihat seblak ceker yang terlihat berwarna merah itu..."
" Sure!! Why?" Tanya Natasha pada teman-tamanya saat dia menyadari adanya keanehan dari tatapan mereka.
" Nat..pedes itu loh, acara kita masih panjang, jangan gara-gara lo sakit perut kita musti gagal hangout" Ucap Denis.
" Ini tuh buat amunisi kak!!!, biar gue bisa nyembur para gebetan kakak yang resek itu!!" Jawab Natasha berapi-api.
" Karena dengan jalan ma kakak kayak gini aja gue rasanya udah ngep banget!!!, takut dilabrak mak Lampir..." Lanjut nya.
Denis melongo mendengarya.
"Mak Lampir???" Tanya Denis
" Ya, pacar kakak yang gelo itu!!! Kalo di sekolah ada kak Rhea. Dan kalo diluar yang paling ganas itu si Mawar beracun itu.., nama aja Mawar mulutnya busuk mirip Raflesia!!!" Ucap Natasha menggebu-gebu.
Denis melongo mendengar ucapan Natasha yang blak-blakan tanpa saringan.
Flashback On.
Hari Selasa, tepatnya dua hari yang lalu saat pulang sekolah.
" Langsung pulang kah?" Tanya Denis pada Natasha saat motor yang dikendarainya telah meninggalkan area sekolah.
" Nggak deh, Nat mau lihat Lenox dulu kak, kata Chandra kondisinya mengenaskan..." Jawab Natasha dibelakang punggung Denis.
" Itu hasil perbuatan dia sendiri Nat..." Kata Denis, kali ini dia menolehkan wajahnya kesamping agar Natasha mampu mendengar dengan jelas suaranya.
Karena saat ini suasana jalan sedang padat- padatnya.
Denis melajukan motornya dengan pelan saat terlihat lampu rambu lalulintas masih berwarna kuning, dan tidak sampai satu menit berikutnya berubah warna menjadi merah.
Di samping mereka juga telah berhenti sebuah mobil minicoper berwarna biru.
Perlahan kaca jendela pada kemudi itu turun dan terlihatlah wajah seorang gadis cantik yang menatap tajam pada Denis.
Pandangan Denis yang lurus ke depan tak menyadari bahwa gadis sebelahnya itu kini menatapnya dengan tatapan seperti laser yang mengerikan.
Natasha yang melihat tatapan gadis di dalam mobil itupun bergidik ngeri.
" Beib!!!" Teriakan gadis itu mengagetkan Denis, dan membuatnya seketika menoleh.
" Kita bicara sekarang!!!" Lanjut gadis itu, dengan wajah yang terlihat marah.
Denis menarik nafas berat dan segera mengangguk.
Lampu lalu lintas telah berganti warna hijau. Motor Denis melaju kembali memecah padatnya siang ini.
" Kak itu mobil yang tadi.." Ucap Natasha saat melihat mobil minicoper biru yang tadi.
Sementara Denis hanya mengangguk saja dan mulai menepikan motornya di depan mobil biru itu.
Tepatnya di pinggir sebuah taman bermain yang terlihat masih asri dan sejuk.
Cewek berseragam SMA Intrnasional turun dari minicoper biru tersebut dengan wajahnya yang masam, tatapannya tak lepas dari Denis. Walau begitu wajahnya sungguh sangat cantik dan terlihat mirip artis.
" Hai Rose..." Sapa Denis setelah membuka helm dan menyerahkanya pada Natasha.
" Siapa dia beib!!!" Tak menjawab sapaan Denis, Rose malah menatap sinis pada Natasha yang kali ini sedang memeluk helm Denis, bahkan helmnya sendiri pun tidak dibukanya.
Mata Rose meneliti seluruh tubuh Natasha dari atas sampai bawah.
__ADS_1
" Dia..., gebetan baru gue kenapa?" Jawab Denis santai.
Tapi justru pelototan Natasha membuat Denis ingin tertawa.
" Lo tu emang brengsek ya Beib, lo masih pacar gue kalo lo lupa!!!" Teriak Rose emosi.
" Kita tidak sedang berantem, kita tidak break, kita baik-baik saja, bahkan minggu kemaren kita masih ngedate. Tapi liat sekarang, lo jalan ama cewek udik kayak gini beib!!!" Rose telah dipuncak emosinya.
Jarinya menunjuk pada Natasha.
" Modis gini dibilang udik!!, mata mbak katarak kali" Timpal Natasha.
" Diem lo!!!, lo nggak ada hak buat bicara disini!!, lo harusnya tau diri, nggak laku ya lo!!, sampai mau-maunya jalan sama pacar orang" Rose berkacak pinggang dan menatap sinis pada Natasha.
" Rose..., kita bicara nanti, gue antar dia dulu..." Ucap Denis dengan pembawaannya yang tenang dan santai.
" Kamu yang tegas dong beib!!!, jangan terus-terusan kasihan dengan lalat-lalat yang mengerumuni kamu, kalau cewek modelan mereka kamu kasih hati terus, lama-lama mereka minta jantung, ginjal, lambung, paru-paru, dan usus kamu beib..." Ucap Rose melembut, bahkan tanganya sudah mulai meraba-raba dada Denis.
"Apa!!!, lalat??, gue???" Tanya Natasha dengan damage garang model kak Ros upin ipin.
" Calm down Natasha.." Denis menggosok punggung Natasha lembut dan tenang.
Tapi tangan itu langsung ditepis oleh Rose, dengan wajah yg terlihat jijik dan bergidik.
" Beib, kenapa kamu sentuh dia sih!!!, jorok ah beib!!!" Rose menarik tangan Denis dan menyemprotnya dengan hand sanitizer yang dikeluarkan dari saku roknya yang panjangnya hanya sejengkal itu.
" Gue apa???, gue apa lo bilang???, jorok!!!, lo kata gue kuman apa hah!!!" Natasha berkacak pinggang dengan wajah yang memerah karena marah. Gadis itu merangsek maju dengan menyodorkan helm Denis kepada empunya.
" Sssttt..Nat diem dulu..." Denis memblokir bibir Natasha dengan dua jarinya.
" Beib...jangan sentuh dia!!! Nanti kamu rabies beib!!" Lagi Rose menepis tangan Denis.
Habis sudah kesabaran Natasha saat ini, dirinya yang anak satu-satunya di keluarga besar nya. Dirinya yang Rara Bendara Ayu di trahnya, saat ini tengah dihina habis-habisan secara elegan oleh Rose.
"Rabies katanya?, dia menyindir gue, dia mengatai gue anjing loh kak!!, dan kakak diem aja??" Natasha sudah nggak sanggup lagi.
Flashback off
Natasha menyeruput kuah seblak dengan santainya, bahkan tak ada perubahan dalam wajahnya.
Seolah-olah seblak dengan cabe belasan itu nggak berasa apa-apa. Bahkan gayanya udah mirip artis-artis yang sedang iklan mie instan di TV, melihatnya saja membuat orang tertarik untuk mencicipi.
Denis yang melihatnya jadi ngiler pingin mencobanya.
Tanpa permisi Denis segera menarik mangkok seblak itu kedepannya dan segera menyendoknya, lalu diseruput kuahnya seperti gaya Natasha tadi.
" Achh!!!, Huaaah...huahh...hah..haah" Teriak Denis saat kuah itu baru masuk kemulutnya.
Keringatnya bercucuran, wajahnya memerah, bibirnya terlihat tebal dan berwarna merah menyala.
Semua air putih di meja makan diembat semua, tak peduli itu punya siapa.
Rayya tak dapat menyembunyikan tawanya. Perutnya terasa kencang karena melihat Denis yang gelisah tak karuan karena rasa pedas yang tidak juga hilang dari bibirnya.
Denis mengacungkan tinjunya pada Rayya karena geram.
" Dasar lo sahabat lucknut!!" Ucap Vino pada Rayya, tapi bibirnya juga tersenyum menertawakan Denis.
Rangga segera berlari ke kitchen untuk meminta segelas susu murni untuk Denis.
Para cewek hanya bisa mengulum senyum melihat derita Denis. Tangan kiri Natasha sibuk mengipasi wajah Denis yang berkeringat, sedangkan tangan kanannya mengelap keringat diwajah tampan Denis dengan tisu.
" Makanya jangan asal serobot makanan orang" Ucapnya dengan susah payah menahan tawanya.
Denis hanya bisa pasrah dengan keadaan bibirnya yang terlihat jontor.
Untung saja baru sesendok, itupun belum tertelan, setidaknya perutnya masih aman.
__ADS_1
Setelah drama jontornya bibir Denis dan makan siang yang telah usai, mereka kini menuju lantai tiga Mall.
Denis dan sahabatnya tampak saling pandang saat mereka beberapa kali mendapati beberapa cewek ABG berlarian di tangga, bahkan di eskalator pun mereka berlari seolah-olah sedang mengejar sesuatu.
Seorang cewek bahkan dengan beraninya menerobos gerombolan mereka berempat.
Sedangkan para gadis pasangan mereka berjalan didepan mereka berempat dengan berangkulan.
" Ada apa sih di lantai tiga?" Tanya Vino.
Rayya dan Rangga menggendikan bahunya tanda nggak ngerti.
" Ada apa sih Den?" Tanya Vino pada Denis, pemuda ini kepo luar biasa.
" Entah.., ada pembagian sembako gratis kali.." Jawab Denis enteng.
Sesampai di lantai tiga rasa penasaran Vino terjawab sudah.
Ternyata sebuah butik tas dan sepatu branded sedang menggelar flash sale dengan diskon yang besar.
" Nah guy's, siapkan dompet kalian!!, waktunya jebol " Ucap Denis pada para sahabatnya.
Rayya dengan sigap membelai saku celananya.
" Waktunya menyenangkan istri lo Ga!!" Bisik Denis pada telinga Rangga.
" Loh...loh..kok" Ucap Denis melongo melihat ke empat gadis pasangan mereka itu dengan santainya melewati butik yang padat dengan gadis ABG yang bahkan ada beberapa yang berebutan.
Malah lebih tragisnya ada juga yang sampai jambak-jambakan.
Rangga berlari kecil mengejar Ara yang ada di depannya.
" Sayang..., kamu nggak pengen beli tas atau sepatu gitu?" Tanyanya.
" Nggak..." Jawab Ara dengan tersenyum manis dan menggeleng kan kepalanya pelan.
" Kalo kamu Num, itu lagi flash sale, pilih lah Num..." Ucap Rayya pada Hanum.
Hanum nampak melihat beberapa yang terpajang di etalase yang mereka lewati.
Matanya tampak biasa saja melihat tas-tas yang sedang diperebutkan puluhan gadis-gadis itu.
" Nggak ada yang Hanum suka kak..." Ucap Hanum.
" Ver lo mau?" Tanya Vino ikut-ikutan kedua sahabatnya.
Vera malah membuat gerakan seolah-olah mau muntah. Ekspresinya sunggu lucu, membuat Vino gemas dan mencubit sayang pipinya.
"Ayoo guy's cus ke lantai atas, kita nge-game sampai puas..lets go!!!" Teriak Natasha.
" Lo harus kalah ditangan gue hari ini Num!!!" Bisik Natasha pada Hanum.
" Gue yang pasti menang liat aja!!" Teriak Vera.
" Gue!!" Timpal Ara.
" Makanya ayo cepetan ke atas " Natasha menarik tangan sahabatnya untuk segera menuju ke lantai atas.
" Gila!!, empat cewek yang luar biasa. Tidak tertarik dengan barang branded sama sekali, bahkan saat diskon sekalipun, benar-benar calon istri idaman" Ucap Denis dan diangguki oleh para sahabatnya.
" Iya benar.., dan tak akan pernah ku lepaskan..." Ucap Rayya lirih.
" Right!!! they're limited edition girls " ucap Rangga.
Tatapan mata mereka lekat menatap punggung empat gadis yg sedang bercanda dengan ceria menaiki eskalator menuju lantai berikutnya.
" Btw guy's mereka mau tanding game apa ya?" Tanya Rangga.
__ADS_1