
Pulang sekolah Vera dan Natasha langsung ke apartemen Brian. Disana telah ada Marvel dan Dian.
Rencananya hari ini mereka akan membungkus seserahan untuk akad nikah Adnan dan Hana Rabu malam nanti.
Ara dan Brian belum muncul karena mereka masih harus mencari sesuatu guna kelengkapan seserahan tersebut.
Hampir satu jam mereka berkeliling dari butik satu ke butik lain untuk mendapatkan barang yg sesuai.
Sebenarnya tak ada permintaan yg khusus dari Hana. Hanya saja Adnan meminta adiknya untuk mencarikan barang yg disukai Hana.
Setelah mendapatkan apa yg di cari, Brian dan Ara pun segera meluncur menuju apartemen dimana yg lain sudah menunggu.
Lelah dan mengantuk menyergap mata dan tubuh Ara. Berulang kali Brian melihatnya menguap dan merentang tangannya.
" Tidur saja, nanti brothy bangunin kalo udah nyampe, sepertinya ini agak macet.." Ucap Brian sambil matanya tetap fokus pada kemudi.
Ya, sebelum menjemput Ara tadi, Brian berganti mobil mengingat akan membeli beberapa barang lagi.
Perjalan tidak mulus itu akhirnya tertempuh dalam waktu satu jam lebih.
Ara nampak terlihat pulas dalam tidurnya.
Semalam dia tidak tidur nyenyak karena suara dengkuran kakek dan paman Syahril sangat nyaring.
Brian menelpon Marvel untuk membantu mengangkat Ara yg sedang tidur, karena Brian tak tega untuk membangunkannya.
Dian dan Marvel turun untuk membantu Brian.
Dikiri dan kanan tangan Brian sudah penuh akan barang yg akan dijadikan seserahan.
Marvel membuka pintu samping kemudi, didapatinya Ara yg sedang terlihat sangat pulas.
" Gue ijin gendong dia ya..." Ucap Marvel pada Dian.
Ya.., sejak semalam, tepatnya setelah mengantarkan Ara ke rumah daddy Hen semalam, Marvel dan Dian resmi berpacaran.
Dian tersenyum sambil mengangguk. Dian memegangi pintu saat Marvel sedang mengangkat tubuh Ara yg tertidur.
Brian berjalan di depan diikuti Dian dan Marvel yg menggendong Ara.
Dian segera membuka pintu agar Brian tak kesusahan membuka pintu, begitupun Marvel.
Setelah membaringkan Ara di kamar Brian, mereka pun bergegas turun. Vera dan Natasha bahkan telah menyelesaikan beberapa bingkisan.
Ara terbangun saat sebuah tangan mengusap wajahnya.
" Bang..."
Matanya menatap wajah Adnan yg berada di depannya.
" Cape ya mut...., sini biar abang pijitin "
Ara menggelengkan kepalanya. Adnan menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam.
" Ingatlah bahwa aku adalah abangmu, dan akan tetap menjadi abangmu walau status ku berubah menjadi suami Hana..."
Ara mengangguk lemah, cairan bening menetes si pipinya.
" Kau tetap akan menjadi imutku, bonekaku, dan adik tersayang ku, walaupun mungkin kita tak bisa lagi terus bersama tapi abang mohon tetap andalkan abang disetiap waktu..." Lanjut Adnan.
Sementara Ara justru malah menangis mendengar semua kata-kata Adnan.
Setelah mandi dan sholat ashar berjamaah mereka turun ke bawah.
Beberapa bingkisan tampak sudah tersusun rapi.
__ADS_1
" Tinggal beberapa lagi, kita lanjut malam aja ya..., Vera dan Natasha mau brothy anter pulang atau gimana?" Tanya Marvel.
" Kami tidur sini aja deh, udah izin kok sama mommy..." Jawab Natasha dianggukin oleh Vera.
" Gue antar Dian pulang dulu ya guys, InshaAllah, habis Maghrib balik lagi.."pamit Marvel.
Marvel menggandeng tangan Dian menuju mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah mungil sederhana tapi terlihat elegan. Dian tampak menyandarkan kepalanya di bahu Marvel.
Sejak semalam hati nya sungguh-sungguh bahagia. Pria yang dicintai bahkan sejak mereka belum berteman ini kini menjadi lelaki spesialnya.
Lelaki yang hanya bisa dipandangi tanpa bisa di jangkau kini menjadi miliknya.
Dengan rasa berdebar dia memeluk lengan Marvel yg kekar.
Flashback on.
Setelah menurunkan Ara didepan rumah keluarga Wijaya, Marvel segera menuju rumah sakit tempat Dian bekerja.
Marvel celingak celinguk mencari Dian diantara lalu lalang manusia yang keluar masuk. Tampak gadis manis berjilbab sedang mengobrol santai dengan dokter muda yang terlihat gagah dan tampan.
Ada rasa cemburu menyusup di hati Marvel.
" Siapa dia?" Tanya Marvel saat kini mereka sudah diatas motor.
" Dokter Frans..., dokter bedah baru, pindahan dari Surabaya."
" Sepertinya kalian akrab banget "
" Nggak tuh.., biasa aja kok..."
Mereka pun tidak lagi bicara karena Marvel mendadak menambah laju kecepatan motornya, membuat Dian mau tak mau melingkar kan tanganya ke perut Marvel.
Dalam diamnya Marvel tersenyum tipis.
Sampai di depan rumah, Dian segera membuka pintu menggunakan kuncinya.
" Aku lapar, boleh minta makan..."
Dian segera membuka lebar pintu rumah kecil tersebut.
Marvel membantu menyiapkan bambu dan memasak nasi, sambil menunggu Dian yg sedang mandi.
Kini Dian keluar dengan pakaian rumahnya.
Rambutnya dicepol dikepala. Dian tidak memakai jilbabnya didepan Marvel, karena baginya percuma saja, bahkan Marvel telah melihat seutuhnya Dian. Mata Marvel mengikuti kemana pun langkah kaki Dian, saat masak, saat menyiapkan makan, bahkan saat sekarang ini, mereka duduk lesehan di karpet bersiap makan malam.
Dian terus saja menceritakan dokter baru itu, membut sudut hati Marvel terasa diremas.
" Kau terus saja bercerita tentangnya...apa kau suka dia?" Tanya Marvel dengan penekanan dan kata-kata yang terdengar dingin.
" Hah tentu saja tidak..." Jawab Dian cepat.
" Lalu kau suka siapa?" Tanya Marvel dengan mata yang menatap tajam pada mata Dian.
Dian segera menunduk, kedua tanganya saling meremas.
Secara tak sengaja, beberapa minggu lalu Marvel menemukan buku diary Dian, dalam satu buku itu semua bercerita tentang rasa cintanya pada pemuda pendiam dan dingin yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya.
" Jujur padaku Yan..., siapa yg kau suka..." Tanya Marvel lagi.
Dian memejamkan matanya. Apakah sudah waktunya aku mengakui ini...desakan dari hatinya membuatnya kembali menunduk.
" Siapa..?" Tanya Marvel lagi, jujur saat ini pun Marvel juga berdebar-debar.
" Untuk apa kau ingin tahu, bahkan diapun tak peduli akan perasaan ku..."
__ADS_1
Marvel tersentak.
" Apa kau sudah berusaha menunjukkan perasaan mu padanya..?"
" Sudah, dan dia menutup mata akan rasaku, karena hatinya sudah menjadi milik wanita lain.."
Nyut!!!
Dada Marvel tiba-tiba berdenyut nyeri.
" Apa kau masih suka padanya meskipun dia begitu?" Tanya Marvel dengan nada suara yg lemah.
" Tentu saja karena hanya dia yg selalu baik padaku..."
" Maka ungkapan perasaan mu sekarang..." Ucap Marvel dengan tatapan mata menghunus jantung Dian.
" Tidak bisa, aku tidak pantas untuknya, tubuhku sudah terlalu kotor
untuknya. Bahkan seluruh tubuhku tidak lagi suci...hiks...hiks..."
Dian menangis dengan menyembunyikan wajahnya di balik lututnya.
Marvel segera memeluk Dian
"Kau suci..., kau sudah melawan semampumu, itu semua bukan maumu..." Marvel berusaha menguatkan Dian yang kembali terpuruk akan kejadian naas itu.
" Tapi seluruh tubuhku telah dijamahnya, aku benci dengan tubuh ini..."
Marvel mendekap erat tubuh mungil dan ringkih itu.
" Maka ijinkan aku untuk menghapus bekas nya..." Bisik Marvel di telinga Dian. Membuat Dian menegang seketika.
" Maafkan aku yg tidak menyadari semua perasaan mu, tapi aku juga menyadari bahwa aku mempunyai ketertarikan padamu sejak dulu.." Bisik Marvel lagi bahkan hembusan nafasnya menyapu leher Dian menghadirkan rasa yg tak pernah dirasakan nya.
" Aku baru menyadarinya Yan, cintaku pada Ara hanya sebatas obsesi semata, aku hanya ingin memilikinya dan melindunginya."
" Tapi saat denganmu aku merasa nyaman, damai dan tenang, ada rasa rindu yg menggebu saat tak melihatmu, ada cemburu yg meremat jantungku saat kau bersama yg lain..."
" Dian Angguni...." Marvel menjeda ucapannya.
"Aku Nanda Marvelino Putra Syahril melamarmu untuk menjadi istriku..." Ucap Marvel lantang, membuat Dian tercengang, bahkan Dian menutup mulutnya yang reflek terbuka lebar.
Dian menunduk air matanya terus berderai semakin deras.
" Jangan seperti ini Vel..., kau yg lebih tau busuknya tubuhku, kau lebih tau hinanya diriku, kenapa kau begini..." Ucap Dian dalam isaknya.
" Karena aku sadar aku mencintaimu..."
Dian berdiri beringsut menjauh dari Marvel.
" Tidak, kau hanya kasihan dengan ku kan, ya sudah, ayo makan...kau lapar kan..." Dian segera menghapus air matanya dengan kasar.
Marvel memeluk erat Dian. Dan mencium puncak kepalanya.
" Aku kotor, aku tak layak untukmu..." Lirih Dian lagi.
" Aku akan mencucinya..." Ucap Marvel dengan tangan yang mengakat tubuh Dian dalam gendongannya. Dan membawanya ke kamar.
Dian menatap Marvel, sedangkan Marvel merebahkan Dian dengan hati-hati.
"Dimana dia menyentuhmu, disini kan?disini dan disini juga, maka akan aku hapus bekasnya.." Marvel menunjuk bibir, leher , dada dan beberapa titik bagian tubuh Dian. Pelan tapi pasti Marvel mengecupi bibir Dian berharap bekas si bangsat itu hilang. Jantung keduanya berpacu saat kedua bibir itu bertemu. Lalu kecupan itu bergerak ke sekeliling leher Dian. Dan terus kebawah dan kebawah, keseluruh tubuh Dian. Lenguhan demi lenguhan keluar dari bibir mungil Dian. Saat bibir Marvel menyapu kedua asetnya. Tubuh Dian menggila saat sentuhan bibir itu kini berada dalam area perutnya.
" A..aku bis..bisa gila..." Desah Dian.
" Aku juga, rasanya aku mulai gila..." Balas Marvel dengan suara serak penuh gairah.
Mereka berdua terlena dengan rasa yg tidak pernah mereka rasakan sebelum nya. Bahkan baju merekapun telah terserak di lantai. Ya...dosa itupun terbuat begitu saja.
__ADS_1
Dian Angguni