Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rahasia Hati


__ADS_3

Ardiansyah terpaku menatap ponselnya yang menampilkan mata yang dirindukan akhir-akhir ini.


Ntah kenapa tiba-tiba gatal rasa tangannya ingin memencet kontak dengan nama Bianca's mmy di ponselnya ini.


Dan setelah tersambung begini tiba-tiba rasa dadanya dag dig dug tak karuan.


Tapi demi menatap mata indah ini membuatnya merasa kembali bersemangat.


" Waalaikumsalam Zu.., Bianca mana?" Tanya Ardi setelah terdiam lama karena terpaku melihat mata Azura yang meneduhkan.


Mata yang dirindukan belakangan ini.


" Emm...itu.."


Azura memindahkan kamera belakang agar Ardi bisa melihat kegiatan Bianca.


" Dia siapa?" Tanya Ardi dengan suara tertahan.


" Kakaknya kak Rangga.." Jawab Azura.


" Pindah kamera depan Zu.." Ucap Ardi.


Deghh !!


Rasa canggung dan dag dig dug menyerang Azura.


" Ngga, kamu kan kangen Bianca.." Sahut Azura.


" Iya sih, tapi udah kok, udah liat Bianca sehat. Cukup Alhamdulilah.." Kata-kata Ardi terlihat ambigu dan nggak jelas.


" Oh kalau cukup ya sudah, Bianca juga mau mandi, Zu tutup ya mas.."


" Eh jangan dulu.., pindah kamera depan Zu, bentar aja please.." Mohon Ardi.


Demi Tuhan saat ini ada desakan dalam dadanya ingin memandang wajah tertutup cadar itu barang sebentar saja.



" Zu...."


"Hemmm..."


" Kamu mau oleh-oleh apa?, bulan depan aku pulang.."


" Terserah lah..." Jawab Azura.


" Jangan terserah, ini lagi diluar mau belanja.." Ucap Ardi lagi.


" Sama siapa?" Tanya Azura.


" Tuh !!, sama cewek Thai cakep banget, moga aja jodohku, biar bisa jadi mommy nya Bian ha...ha..ha.."



Azura meremat dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri luar biasa.


Azura menundukkan kepalanya demi menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.


Sesakit inikah cinta bertepuk sebelah tangan itu.


Kenapa hanya aku yang merasakan cinta sendiri.


" Hai Zu...masih disitu kan?" Tanya Ardi lagi, karena tiba-tiba suara dan gambar Azura menghilang dari layar ponselnya.


" Iya, tapi sudah sore, aku mau bantuin Ara dan Hana siapin buka.."


Hana!!! Deg..deg..deg..


Jantung Ardi berdetak cepat hanya mendengar nama Hana disebut.


Setelah menutup sambungan telpon antara mereka Ardi terduduk ditempatnya.


Hana..


Kenapa susah sekali melepasmu dari hatiku..


Hana..


Kenapa kau seakan lekat disini..


Akhhhhh....HANAAAAA..


Ardiansyah meninju dinding di sampingnya dengan geram.


Sebenarnya Ardi bohong saat bilang dia jalan bersama gadis Thailand. Gadis tadi hanya kebetulan lewat didekatnya saja. Ardi itu memang supel dan ramah, tapi dia bukan tipe cowok yang suka colak colek sana sini.


Karena Alhamdulillah, semua anak-anak Syakieb menyerap nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh kedua orang tuanya. Anak-anak Syakieb adalah anak-anak yang memiliki karakter akhlak yang luar biasa di manapun tempatnya, ada atau tidak orang tuanya, mereka akan terus patuh pada norma ketimuran.


Sementara itu Azura terlihat mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Dia sadar telah jatuh cinta pada Ardiansyah yang telah sangat berjasa dengan mau memungut dirinya dan Bianca dari lumpur ke dalam keluarga bersinar seperti sekarang ini.

__ADS_1


" Siapa yang telpon?" Suara Brian mengejutkanya.


" Mm..mas Ardi.."


" Dia marahin kamu?" Tanya Brian.


" Nggak brothy.."


" Lalu??, kenapa menangis??"


" Oh...ah..i..ini.., bukan..ini hanya debu.." Jawab Azura semakin menunduk, dia takut ketahuan berbohong.


Tau sendirilah seorang intel sekelas Brian, bohong dikit aja pasti tahu.


" Debu dari mana yang masuk langsung ke kedua belah mata?" Brian semakin menatap Azura.


" Emmm, itu.... Ahh itu. Bianca ayo mandi sekarang..." Azura yang bingung mau ngeles bagaimana lagi, akhirnya segera menarik Bianca dengan paksa.


Brian mematung ditempatnya, menatap punggung Azura yang menghilang di balik pintu kamarnya.


Sampai kapan semua ini berakhir?


Sampai kapan aku mampu bertahan untuk menumpuk-numpuk rasaku ini.


Sampai kapan kau sedikit membuka celah untukku Azura..


Please..Azura..


Biarkan aku masuk ke hatimu..


Setidaknya kenali aku dulu..


Bukalah hatimu Zu..


...**...


Janu yang bingung mau ngapain karena di tinggal Bianca akhirnya masuk ke dapur.


" Ada yang bisa aku bantu nggak?" Tanyanya pada Ara dan Hana.


" Kalau nggak ada kerjaan dan nggak merepotkan tolong panggang ini di roster luar itu.." Jawab Hana tanpa basa-basi.


Menyodorkan ayam yang telah di balur dengan bumbu marinasi.


" Oh.., okey!!" Sahutnya cepat. Tapi sebelum keluar, Janu meracik bumbu olesan pada sebuah piring dengan cekatan. Hana dan Ara hanya meliriknya tanpa peduli.


Dirumah Syakieb setiap Senin dan Kamis semua berpuasa, kecuali Bianca dan para wanita dengan masa periodik nya.


Jadi tak mengherankan bila selalu ada kesibukan di dapur setelah Ashar dirumah ini.


Janu berfokus dengan ayam panggungnya. Hana berfokus pada capcay dan tumis kangkung request-an Adnan. Sedangkan Ara si spesialis sambal, saat ini membuat sambal cumi dan kentang musthofa.


Tak lama Brian memasuki dapur saat Hana dan Ara selesai dengan menu mereka.


" Aduh aku selalu merinding disco setiap kali brothy masuk sini.." Ucap Ara.


" Kamu itu!!" Brian mengecup pucuk kepala Ara.


" Brothy mau bikin apa?" Tanya Ara dengan terus mengintil di belakang brothynya itu.


" Rahasia..." Jawab Brian dengan senyumnya yang manis.


" Ckkk maless..maless..selalu begitu ihh!!!" Ara geram dan mengulurkan tangannya seolah-olah ingin mencekik Brian.


" Sudah sana princess, just wait and see the final result later.." Ucap Brian dengan menurunkan kedua tangan Ara, membalik tubuh gadis itu dan mendorong keluar dari dapur.


Saat Ara keluar, maka masuklah Azura.


Mereka terlihat canggung dan masing-masing salah tingkah.


Flashback on.


Hari dimana peringatan kematian ayah Bianca.


" Zu...ayo buruan" Brian yang telah lengkap dengan seragamnya menemui Azura yang juga telah memakai seragam putih abunya di samping kolam"


" Iya.." Azura berjalan di belakang Brian menuju mobil.


" Zu kalau bisa mulai hari ini jangan duduk dibelakang deh, aku berasa sopir tau Zu.." Ucap Brian.


Azura mematung di depan pintu mobil yang telah dibukanya.


" Baiklah.." Ucapnya dan segera menutup pintu penumpang dan berpindah ke pintu samping kemudi.


Suasana sunyi di dalam mobil, seperti inilah yang terjadi berbulan ini. Semenjak Ardi ke Thailand dan Brian yang mengantar jemput Azura, interaksi mereka tidak seperti yang kita bayangkan. Brian yang lembut ini tak mampu berkutik di depan Azura. Begitupun Azura, gadis ini benar-benar tidak akan bicara bila tidak diajak bicara.


" Brothy..." Suara Azura mengalun merdu menusuk gendang telinga Brian.


" Ya Zu..." Brian menoleh sebentar dan kembali fokus menyetir.

__ADS_1


" Nanti pulang sekolah nggak usah dijemput. Zu mau langsung ke makam kakak.." Ucapnya.


" Ke makam bareng aku aja.." Sahut Brian.


" Tapi brothy masih jam kerja kan?"


" Nggak papa.., bisa diurus.." Jawab Brian.


Tak ada obrolan setelah itu, masing-masing kembali terdiam. Tenggelam di lamunanya sendiri-sendiri.


Sampai saat mereka telah sampai di depan SMU Buana, Azura kesulitan membuka pengait sabuk pengamannya.


Tanganya sibuk mengutak-atik tapi tak terbuka juga.


" Bisa nggak?" Tanya Brian.


" Susah ini.." Ucap Azura.


" Maaf....." Brian mencondongkan tubuhnya di depan Azura.


Seumur hidup Azura tidak pernah sedekat ini dengan lelaki. Dengan Nathaniel sahabatnya pun tidak.


Bau harum tubuh masing-masing tercium oleh penciuman keduanya. Azura menahan nafasnya, demi mengurangi hebatnya dentuman di dadanya.


Ini terlalu dekat, Astaghfirullah...


Tetapi sepertinya kunci sabuk pengaman ini benar-benar rusak.


Dan mobil ini jugalah yang menjadi akar masalah foto Ara dan paman Syahril waktu itu, dan bodohnya kenapa sampai hari ini tidak juga diperbaiki.


Brian terus mencoba membukanya, lambat laun tubuhnya semakin dekat dan dekat pada Azura. Bahkan berulang kali pundaknya menyentuh pundak Azura.


Saat ini Azura tak bisa berbuat apa-apa lagi selain diam. Bergerak sedikit saja pasti ada bagian tubuhnya yang bersinggungan dengan Brian.


" Astaghfirullah kenapa bisa macet begini??" Hembusan nafas Brian saat bicara hangat menerpa wajah Azura.


Azura semakin gelagapan dibuatnya.


" Emmm, di..di...digun--"


" Iya digunting aja deh..." Brian berbicara tepat di depan wajah Azura yang menunduk, tapi tiba-tiba Azura mendongak karena ujung jilbabnya tertekan oleh lutut Brian.


Membuat dua hidung itu bersentuhan.


Duarrr!!!!


Baik Azura dan Brian sama-sama syok dengan ini semua. Dengan cepat Brian menarik dirinya, begitu juga dengan Azura.


Walaupun tertutup cadar, tapi sentuhan hidung Brian pada hidung Azura sungguh sangat terasa.


Mereka terdiam dalam fikiranya sendiri dengan sangat lama, sampai bel tanda masuk sekolah mengagetkan mereka.


" Di..di...di.gun..gunting aja.." Brian mengulurkan gunting dengan tangan gemetar dan bicaranya yang terbata-bata.


Azura menerimanya dengan tangan bergetar pula.


" Brothy aja yang gunting, ini mobilnya siapa?, Zu nggak berani.."


" Mobil ayah, sini..." Brianpun segera meraih gunting itu dan mengguntingnya cepat. Brian takut Azura terlambat masuk.


Flashback off.


" Minta gula brothy..." Ucap Zura pada Brian yang posisinya memang lebih dekat dengan toples gula.


" Nih..." Brian menyodorkan toples itu padanya.


Tepp!!


Nyes..nyes..nyes...


Jantung keduanya sama-sama berdetak bagai pacuan kuda.


Lagi-lagi tangan Azura tanpa sengaja meraih jemari Brian yang memegang toples.


" Oh..ah..i..i..ini.." Brian segera meletakkan toples di samping Azura.


" Maaf..." Ucap Brian lagi, walaupun sangat jelas bukan dia yang salah.


" Maaf juga.." Bisik Azura lirih.


Mereka kembali menekuni urusan masing-masing dalam diam.


Azura membuat kue untuk takjil, sementara Brian meracik beberapa minuman untuk buka puasa.


Kadang-kadang jemari mereka kembali bertemu saat mereka ingin mengambil peralatan yang sama, dan itu berulangkali.


Ada senyum di wajah Brian, tapi entahlah untuk Azura, senyum atau tidak , tidak ada yang tahu.


Percikan api dari pematik, semakin berkobar menjadi api yang besar, seperti itulah rasa cinta Brian pada Azura, semakin besar dan besar. Seperti api yang semakin disiram dengan bensin. Semakin besar dan membesar sampai mampu melahap kewarasannya, asal bisa bersama Azura, matipun Brian rela.

__ADS_1


__ADS_2