
Masih Flashback
Brian maju mundur untuk mengungkapkan perasaannya pada Azura. Tapi tekadnya sudah sangat kuat untuk menikahi Azura. Hingga tanpa sadar keputusannya membuat keretakan antara ayah Syahril dan papa Syakieb.
Kakek yang beberapa hari lalu di datangi oleh putra sulungnya untuk mengabarkan bahwa Brian ingin menikah tentu sangat berbahagia. Bahkan beliau menjajikan rumah besar untuk Brian dan calon istrinya.
Tapi saat paman Syahril menyebutkan nama Azura, kakek sempat terbatuk-batuk tidak percaya.
Masalahnya dari awal Azura dibawa oleh papa Syakieb untuk diadopsi adalah dipersiapkan untuk menjadi menantu Syakieb, atau istri dari Ardiansyah. Mengingat seorang Ardiansyahlah diusianya yang masih 16tahun saat itu berani mengadopsi Bianca Aurora. Dan dengan kegigihannyalah saat itu dia harus menekan keinginan masa mudanya guna membiayai kehidupan Bianca.
Kakek membutuhkan waktu untuk berfikir saat itu, tetapi rupanya paman bisa membaca situasi ini dengan prediksinya sendiri.
" Apa romo tidak kasihan dengan putra-putraku?, apa romo lupa bagaimana hancurnya Marvelino saat kita melarangnya menikahi Lili?" Adu paman Syahril sedih.
" Briandika bukanlah naughty boy seperti Marvelino romo, dia cocok dengan Azura. Restui mereka romo..., Syahril mohon..."
" Sejak kecil Syahril tidak pernah minta apa-apa padamu romo, tapi demi putraku saat ini, Syahril mohon..." Lanjut paman Syahril lagi.
Kakek terlihat berfikir keras saat itu.
Iya memang benar, Brian adalah cucunya yang paling manis. Bahkan dibanding Adnan pun, Brian masih lebih baik.
" Kita bicarakan dulu dengan adikmu Le(panggilan sayang untuk anak laki-laki jawa), semua ini harus dibicarakan dengan serius. Azura itu masuk keluarga kita dari perantara Ardiansyah.... Romo nggak bisa ambil keputusan sendiri..."
Beberapa hari berikutnya kakek datang ke Jakarta bersama paman, mereka bertajuan untuk membicarakan masalah Brian, Azura dan Ardi.
Ardi yang dalam keadaan sedang tidak ingat akan siapa dirinya jelas tidak dilibatkan dalam pembicaraan ini.
Sementara Azura yang gagal fokus tidak mengira bahwa Brian yang akan melamarnya. Sejak awal kakek maupun mama Neela selalu mengolok-oloknya sebagai menantu Syakieb.
" Semua tergantung Azura..." Akhirnya papa memberikan jawaban terakhirnya saat musyawarah menemui titik buntu.
" Aku rasa tidak perlu bertanya pada Azura tentang ini dimas(panggilan paman Syahril untuk papa Syakieb). Sebagai perempuan taat beragama dia akan menurut dan patuh kepada romo yang telah mengadopsi nya.." Sahut paman.
" Tapi..., kita perlu tahu juga perasaannya bagaimana kan?" Mama Neela ikut bicara.
" Sudah..sudah..biar romo yang bertanya pada Azura" Kakek berusaha menengahi.
Papa Syakieb terlihat menggigit-gigit bibirnya, ada yang ingin diungkapkan tapi rasanya berat. Beliau tahu persis putranya memiliki rasa istimewa pada Azura walaupun selama ini putranya itu tidak menunjukkannya.
Papa Syakieb juga bisa melihat tatapan dalam yang Azura tunjukkan setiap kali menatap Ardiansyah.
Tapi disaat seperti ini akan salah jika papa Syakieb mengungkapkan pendapatnya.
Yang di butuhkan sekarang adalah keajaiban dan pengharapan yang besar kepada Tuhan agar ingatan putranya kembali.
Untuk menyakiti hati Brian rasanya papa tidak sanggup, mengingat begitu terpuruknya Marvel saat itu.
...***...
Setelah lulus SMU, Azura benar-benar memenuhi keinginannya untuk belajar tahfidzul Qur'an di pesantren Sidogiri. Tentu saja Brian selalu mendukungnya.
Sore sehari sebelum keberangkatannya, gadis itu menemui Ardiansyah untuk menitipkan Bianca padanya.
Ardi sedang berada di balkon belakang, bersila memilih-milih brosur Perguruan Tinggi yang ingin di masukinnya.
" Mas...., boleh bicara sebentar..."
Ardi menoleh sekilas, menatap mata cantik yang selalu membuatnya berdebar itu.
" Hemmm..." Jawabnya.
__ADS_1
" Mas, mulai besok Zu akan berangkat untuk menuntut ilmu. Zu titip Bianca padamu...".
Ardiansyah tahu Bianca yang dimaksud Azura adalah gadis kecil yang selalu bersamanya, atau biasa dia panggil Lili. Sebenarnya setiap malam Ardi merasa pusing setiap kali memikirkan ini semua.
Apalagi saat dia menemukan foto-foto kecilnya bersama Ara. Dan jelas sedikit demi sedikit dia mulai menyadari bahwa gadis kecil itu bukanlah Lilinya. Tapi semakin dibawa berfikir, kepalanya semakin sakit seakan ingin meledak.
" Iya..." Jawabnya Ardiansyah singkat.
" Mas, maafkan Zu...."
Ardiansyah menoleh kebelakang, menatap sekilas gadis yang memiliki mata indah dibelakangnya, mata yang dia sadari selalu menggetarkan hatinya.
" Untuk apa?" Tanya Ardi
" Karena aku semua ini terjadi, gara-gara menolongku, kau tidak bisa mengingat bahkan keluargamu sendiri juga... Maafkan Zu mas..., Zu juga mau pamit..." Ucap gadis itu lagi dan mundur dengan cepat meninggalkan Ardiansyah yang bingung akan apa yang tengah dibicarakan.
" Pamit?, pamit kemana?, ke kafe Natahiel?, ke Perpustakaan?, apa maksudnya pamit..." Ardiansyah bingung, tapi untuk mengejar dan bertanya pada Azura gengsinya tidak bisa diajak kompromi.
Ardi berdiri hendak mengejar, tapi lagi-lagi diurungkan. Ditatapnya punggung Azura yang menjauh darinya, eh tapi ternyata gadis itu menoleh padanya.
Deg..deg..serrr
Dadanya berdebar begitu kencang, senyum manis mengembang sempurna tanpa di komando.
Azura yang kepergokpun malu bukan main, dengan menunduk lebih dalam gadis itu mempercepat langkahnya.
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya Ardiansyah gelisah karena tidak mendapati keberadaan Azura dalam rumahnya. Bertanya pada orang tuanya dia jelas malu.
Hingga pada suatu ketika dia mengetahui bahwa Azura berada di Sidogiri dari Ara.
Hingga sampai akhir masa belajarnya di Sidogiri tak sekalipun Azura menyadari kedatangan Ardiansyah yang selalu mengunjunginya dan selalu menatapnya dari jauh.
Puncaknya pada saat hari keberangkatan Azura ke Madinah karena mendapatkan beasiswa atas kemenangannya, disitulah semua menjadi diluar kendali.
Brian yang sudah sangat mantap untuk mempersunting Azura segera memutuskan untuk melamar saat ini juga. Apalagi kedekatan dirinya dengan Azura telah mulai terbangun chemistry nya.
Sementara Ardiansyah yang selama setahun ini begitu didera rasa rindu yang selalu mencekiknya tidak bisa lagi untuk menahan perasaannya lebih lama lagi.
Pria muda itupun berusaha memberanikan diri untuk segera melamar Azura.
Diawali saat Azura melintas hendak ke kamar Bianca, kakek manggilnya untuk bicara.
" Zu..nak, duduk sini nak..." Kakek menepuk sofa disamping.
" Iya kek.." Azurapun dengan sopan duduk di samping orang yang telah berjasa padanya itu.
" Besok kamu berangkat ke Madinah, tapi sebelum itu, seseorang ingin mengikatmu..." Ucap kakek.
" Mengikat?" Tanya Azura bingung.
" Ya nak, ada seseorang yang telah datang melamarmu pada kakek..." Ucap kakek lagi dengan bijaksana.
" Dia adalah Nanda Briandika Putra Syahril, cucu kakek.."
Azura terlihat pucat pasi, dadanya berdebar tak karuan. Keringat dingin merembes di keningnya tanpa ia sadari. Apalagi Ardiansyah berdiri tepat di depannya saat ini.
Sama seperti yang dirasakan Azura, Ardiansyah juga merasakan sesak dan ingin menangis saat mendengar kata-kata kakeknya.
Mereka berdua saling tatap, dari mata keduanya tersirat rasa kesedihan yang mendalam. Ardiansyah menggigit kuat-kuat bibir bawahnya dan segera berbalik badan dan pergi.
__ADS_1
Kakek melihat itu semua, bahkan air mata bening di sudut mata Azurapun tak luput dari perhatian kakek.
Malam itu keluarga Brian lengkap berada di rumah papa Syakieb. Ayah Syahril, Bunda Lana ibu kandung Marvel dan Brian, daddy Thomas Ayah sambung Brian, Melody adik tiri Brian dan para sahabat dan kerabat telah berada di ruang keluarga.
Azura telah didandani begitu cantik oleh Vera dan Ara, Natasha tidak hadir karena kuliah di Paris.
" Zu kamu cantik banget...., beruntunglah broty Brian.." Celetuk Vera.
" Hemmm" Jawab Azura dengan tidak bersemangat. Dia memang tidak mencintai Brian, tapi tidak masalah. Dari pada terus memelihara cintanya yang tidak pernah disambut oleh Ardi, lebih baik dia menuruti pilihan kakek.
" Kenapa tidak bersemangat begitu Zu.., broty Brian itu manissss banget, kalau belum ada kak Vino aku aja pasti klepek-klepek padanya" Bisik Vera centil.
" Apa kau kira aku enggak Ver?, aku juga fangirlnya broty Brian tah---"
" Masa?" Suara Brian dari ambang pintu membuat Ara menutup mulutnya malu.
Brian tersenyum manis dan mengelus pucuk kepala keduanya.
" Bisa tinggalkan broty dan Azura sebentar?" Brian menatap kedua gadis itu, dan keduanya pun mengangguk setuju.
" Biarkan pintunya tetap terbuka princess" Ucap Brian lagi saat tangan Ara reflek menyentuh gagang pintu.
Sepeninggal Ara dan Vera, Brian berdiri dibelakang kursi Azura, Brian menatap gadis bercadar itu dari pantulan cermin.
" Zu, apa kabar?" Sapa Brian gugup. Sejak kepulangannya Azura dari Sidogiri beberapa hari lalu baru kali ini mereka bertemu.
Selama di Sidogiri, beberapa kali Brian mengunjunginya bersama Ara dan mama Neela beserta Bianca yang kangen.
" Alhamdulilah broty, Zu sehat.."jawab Azura dengan menunduk.
" Zu, broty tahu ini terlambat, tapi broty hanya ingin tahu. Apa kau bersedia menikah denganku?"
Azura terlihat panik dan grogi, dipejamkanya matanya untuk sekian lama.
Untuk apa aku menunggu mas Ardi..
Dia bahkan tidak peduli padaku..
Sudah cukup aku memelihara cinta yang bahkan tidak ada balasanya..
" Iya brothy.... Zu bersed----"
" JANGAN!!!" Teriak Ardiansyah di depan pintu.
" Jangan please...., Zu...brothy, aku ingat semua sekarang..... Ingatanku sudah kembali..." Ucap Ardiansyah dengan tubuh bergetar.
Semenjak samalam pria muda itu berfikir keras, rasanya ingin gila saat dia mendengar dari telinganya sendiri gadis yang disukainya selama ini akan dinikahi seseorang.
Dadanya begitu sakit bagai dihantam baru yang begitu besar. Sesak hampir membuatnya tidak bisa bernafas. Tapi disaat depresinya yang luar biasa hebat, kepingan-kepingan puzzle yang berserakan itu perlahan mulai terangkai dan terang benderang.
Ingatan datang disaat yang tepat.
Brugh!!!
Ardiansyah berlutut didepan Brian tanpa rasa segan dan malu.
" Jangan lanjutkan ini please... Maafkan aku brothy, aku mencintai Azura sejak dulu. Jangan lagi ambil seseorang yang kusukai kumohon...hu..hu...hu..." Tangis Ardiansyah dibawah kaki Brian.
Tak hanya Brian yang syok akan ini semua, bahkan Azura sendiripun menangis mengetahui isi hati Ardiansyah.
__ADS_1