Childhood Love Story

Childhood Love Story
Derita Lenox Maha Dafran


__ADS_3

Ketegangan antara kedua pasutri berlanjut hingga pagi ini.


Ara yang benar-benar marah tetap mengusir Rangga dari kamar mereka. Dan mau tidak mau Rangga harus menurut.


Rangga tipe-tipe suami yang nggak suka ribut. Tapi tanpa dia sadari justru dialah yang biang keributan itu.


Ara dinas pagi, sementara Rangga ada jadwal mengajar siang.


Seperti biasa sehabis membuat sarapan dan makan, Ara duduk di ruang tamu untuk menunggu taxi. Gadis itu masih nggondok dengan suaminya.


Sembari menunggu taxi datang, Ara memainkan game pada ponselnya dan menumpangkan ponsel begitu saja di perut besarnya.



" Subhanallah sayang, kok gitu sih!!!" Rangga memungut ponsel itu dengan cepat.


" Kan harusnya kamu lebih tahu bahayanya radiasi buat twin, kok malah ditumpangin diperut kayak gitu..." Rangga melotot marah.


" Apa pedulimu!!" Ara menyambar ponselnya begitu saja dan berlalu keluar.


" Astaghfirullahalazim..." Rangga mengusap dadanya.


Begitulah jika Ara sudah marah, kata-katanya begitu ketus dan panas. Jelas Rangga tidak akan sanggup mendengarnya. Ini juga pernah terjadi saat kegagalan pesta pernikahan mereka dahulu. Kenapa Rangga memilih diam dan seolah-olah tidak perduli itu jelas demi menghindari ini.


" Ayo sayang, kakak antar...." Rangga meraih jemari Ara dengan pelan dan membawanya menuju mobil.


Takk!!


Ara menghempaskan tanganya begitu saja.


Dengan berlari-lari kecil dia menuju gerbang karena taxi yang dipesanya telah ada disana.


Rangga memejamkan matanya.


" Hahhhhhh" Dihembuskanya nafas dengan kasar.


Rangga sadar sesadar sadarnya bahwa ini semua adalah salahnya. Dan diapun berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi.


Walaupun istrinya telah pergi dengan taxi, Rangga memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Mastikan istrinya baik-baik saja itu adalah prioritasnya.


Ara yang melihat mobil Rangga tepat berada di belakang taxi yang ditumpangi nya jelas tersenyum imut.


" Kenapa dok? Apa ada yang lucu?" Tanya sopir taxi itu penasaran.


" Iya Pak, mobil yang dibelakang kita itu suami saya.." Ucap Ara dengan kembali tersenyum cerah.


" Loh arahnya sama dari tadi.., oh jangan-jangan dokter sama suami lagi marahan ya?"


" Nggak sih pak, saya cuma kasih pelajaran saja. Supaya nggak mentingin kerja melulu. Keluarga kan juga perlu..."


" Betul itu bu dokter, tapi asal bu dokter tahu. Suami itu akan bete jika istrinya uring-uringan terus dirumah. Bisa-bisa bawaanya nggak kerasan loh dirumah..."


" Apalagi takutnya ada yang lebih manis dan perhatian padanya dikantor gitu..., bisa bahaya bu...."


" Yang tadinya sayang aja bisa hilang, yang tadinya harmonis bisa miris, yang tadinya cinta bisa jadi----"


" Hiii...serem ah pak, saya turun sini saja deh...." Potong Ara cepat.


" Loh, masih jauh ini bu...."


" Saya mau barengan suami saya saja deh pak, saya nggak mau cinta dan sayang suami saya hilang seperti kata bapak..." Sahut Ara dengan tangan menyodorkan selembar uang merah pada sang sopir.


" Kebanyakan ini bu..."


" Buat anak bapak saja..., terimakasih pak nasihatnya..." Ucap Ara dan segera melambaikan tanganya pada mobil Rangga yang ada tepat di belakang taxi.


Rangga yang melihat Ara keluar dari taxi begitu khawatir.


" Sayang, ada apa?. Sakitkah?, ya mana?. Masih bisa jalan nggak?, ayok sini kakak gendong..." Rangga lansung menyambar tubuh Ara dalam gendongannya. Ara menatap wajah cinta pertamanya itu dengan begitu terpesona.


Wajah yang tidak pernah menunjukkan rasa marah yang berlebihan. Wajah yang selalu teduh dan menyejukkan.


" Buka sayang tolong" Ucap Rangga saat mereka telah berada di depan pintu mobil.


" Mana yang sakit.. " Rangga mengusap perut itu pelan lalu mengecupnya setelah berhasil mendudukkan Ara dengan nyaman. Sementara Ara tetap diam dan terus saja menatap wajah tampan itu.


Walaupun mereka telah lama menikah dan berumah tangga.

__ADS_1


Ditatap seperti itu saja mampu membuat Rangga terasa kejang dan salah tingkah. Rangga mengelus lagi perut perut itu sebelum akhirnya berjalan memutar untuk duduk kembali di kursi kemudi.


" Kerja?, atau pulang?. Telpon Lenox ya biar dibuatin surat ijin.." Ucap Rangga bertubi-tubi, walau satupun tidak ada yang dijawabi oleh Ara, karena Ara masih saja terus menatapnya.


" Berangkat saja, nggak enak Lili. Karena dua minggu lagi Lili juga harus cuti melahirkan..." Ucap Ara dengan terus menatap Rangga.


Duh...


Gue bisa jantungan kalo dia natap gue terus kaya gitu...


Duh...gusti. Pengen nerjang dia gue mah kalau kayak gini..dikekepin dirumah gerimis-gerimis gini kan asyik


Ya Tuhan, imutnya bini gue, pen gue kantongin aja bawa ke kampus...


Rangga beberapa kali mencuri-curi pandang pada Ara.


" Emmm, sayang...kakak minta maaf.."


" Ya..." Potong Ara cepat.


" Tapi jangan marah..., kakak paling nggak bisa dimarahin...."


" Siapa yang nggak marah!!, ditungguin 3 jam, situnya asyik sendiri begitu!!!"


" Iya mangkanya ampun..., nggak lagi deh...sumpah"


" Ya deh...." Gumam Ara.


" Kok gitu doang..." Ucap Rangga.


" Terus...?"


" Harusnya kan gini, iya Bi...., Lili maafin Abi..... Tapi jangan ulangi lagi loh Bi..." Ucap Rangga dengan menyebikkan bibirnya meniru-niru gaya bicara Ara.


" Ck..., maunya kamu itu mah..." Ara mengusap lengan Rangga pelan.


Dengan cepat Rangga menangkap jemari itu lalu dikecupnya berulang kali.


" Love you sayang.. Always..." Bisik Rangga.



Pertikaian kecil dalam rumah tangga itu lumrah terjadi. Tergantung bagaimana mereka bisa menyikapi.


Ara yang masih muda dan sering meletup-letup, maka Rangga yang dewasa harus mampu meredamnya.


Tak perlu dipaksa, karena akan semakin membuat murka. Berikan pendekatan pelan-pelan sepenuh perasaan makan cinta akan kembali bersarang.


Lenox telah berdiri dengan payungnya di parkiran saat mobil Rangga mulai memasuki area RS.


Ara merasa sesak, ucapan Lenox semalam membuatnya tidak nyaman.


" Payung kita nggak ada ya Bi...." Ara membongkar tempat peralatan pada dasbor mobil.


" Nggak ada kayaknya..., tuh ada Lenox. Turun dulu aja sama Lenox, kakak bisa lari..."


" Nggak mau...." Ucap lirih Ara.


Rangga tercengang mendengarnya.


Ada apa ini?


Kenapa respon Lili seperti ini.


Dan itu?


Kenapa Lenox ragu-ragu untuk menghampiri kami?


Ada apa ini...


Kenapa dengan mereka?


Rangga menatap Ara yang enggan keluar mobil, sementara Lenox diam saja tanpa bergerak, hanya menatap pintu penumpang samping kemudi, dimana Ara duduk disana.


" Sayang..., udah pukul tujuh. Ayo, pakai jas kakak saja yuk..." Rangga mengambil jasnya di sandaran kursi dan menudungkan pada kepalanya.


Langsung keluar begitu saja menuju pintu Ara, tapi sodoran payung dari Lenox membuatnya terkejut.

__ADS_1


" Pakai ini.."


Rangga menerima sodoran payung itu dan belum sadar sepenuhnya. Lenox langsung berlari begitu saja dalam hujan meninggalkan Rangga yang bingung dan Ara yang syok di dalam mobil.


" Ada apa ini sayang??" Tanya Rangga bingung saat mereka telah berada di dalam RS.


"Lenox belum move on..., Lili nggak nyaman dibuatnya..." Jawab Ara jujur.


"Hahh???, kok..??"


" Semalam dia ngomong jujur sama Lili...."


Oh pantesan dia bawa-bawa Lenox dalam kemarahan nya semalam, ini rupanya....


" Ya udah, kakak balik ya. Kamu hati-hati sayang..."


Rangga memeluk Ara begitu lembut, mengecup keningnya begitu lama. Diusapnya pipi chubby itu gemas.


" Ekhem..ekhemm..." Deheman iri beberapa suster membuat Rangga tertawa kecil dan mengusap rambut pendeknya.


" Titip istri saya ya Sus...." Ucap Rangga.


" Siap pak Rangga...." Jawab mereka genit dengan tebar pesona.


Ara hanya bisa mencebik dan geleng-geleng kepala gemas dengan kelakuan para suster itu.


Rangga segera kembali ke mobilnya, tapi sekelebat sosok Lenox di area khusus merokok membuatnya memutarkan langkahnya ke sana.


" Merokok lagi bro?" Sapa Rangga.


Pria muda tinggi tegap itu duduk di samping Lenox begitu saja tanpa permisi.


" Hanya iseng, lagi pusing soalnya..." Jawab Lenox tanpa mengalihkan tatapannya ke arah air hujan.


Sesapan pada rokoknya semakin menjadi saat Rangga menatapnya intens.


" Apa yang membuatmu pusing!!" Ucap Rangga dingin.


Lenox menghembus asap rokoknya dengan kasar.


Jelas Rangga tahu masalahnya apa.


" Istriku ?, yang membuatmu pusing itu istriku, bukan begitu Lenox??" Kini Lenox tidak mungkin bisa berlari dari tatapan dingin Rangga yang seolah membekukanya, hingga membuatnya tak mampu berkata-kata.


" Lenox, to the point!. Gue makasih banget atas perhatian lo ke istri gue selama ini. Jelas semua yang lo lakuin nggak bisa gue balas dengan apapun yang ada di dunia ini..."


" Dan mungkin hanya gue orangnya, yang memberi kesempatan pada rivalnya sendiri untuk dekat dengan istrinya. Tapi sepertinya lo nggak bisa pegang kepercayaan gue.....Sorry Lenox, ini jujur..gue kecewa sama lo...."


Mereka sama-sama menatap air hujan yang terus turun dari langit.


" Gue kurang baik apa sama lo Lenox, gue memberikan 5tahun kesempatan. Tapi rupanya lo belum juga bisa menempatkan perasaan lo ditempatnya yang tepat..."


" Dan sekarang lo udah buat dia nggak nyaman..., lo membuatnya kembali bingung dan serba salah.... Haruskah gue tetap diam??"


" Bro...gue..., gue...." Lenox bingung harus bicara apa.


" Gue kira setelah lo dekat dengan Wari semuanya oke dan terkendali. Tapi kenapa yang terjadi malah seperti ini???"


" Jangan salahkan gue jika gue minta lo jauhin istri gue mulai detik ini juga, atau kalau nggak gue akan bawa istri gue menjauh dari lo!!, sorry...."


Rangga berdiri dari duduknya setelah melirik arlojinya. Waktunya cukup untuk pulang berganti baju dan berangkat ke kampus.


" Bro, gue salah bro...gue minta maaf. Gue cuma tidak bisa menahan diri kemarin. Maaf jangan minta gue jauh dari Ara ataupun lo jauhin Ara dari gue.."


" Seperti yang pernah gue bilang dulu, perasaan gue biarlah jadi urusan gue.... Lo santai aja bro...biarlah hanya gue yang merasakan sakit dan deritanya.... Gue akan memperbaiki situasi ini kembali seperti semula...please, jangan lakukan yang membuat gue kembali rusak!!!" Pinta Lenox.


Rangga hanya diam tak menanggapi. Lagian dia bisa apa. Bukankah rasa suka datangnya dari hati. Jelas Rangga tak bisa berbuat apa-apa.


Lenox terdiam mematung...tiba-tiba langkahnya menuju air hujan di depanya.


" Ya Allah, hilangkan rasaku padanya bersama air hujan ini....


Ya Allah..luruhkanlah sesakku ini..


Ya Allah hapuskanlah namanya yang terlanjur mengakar di hati ini...


Ya Allah dari air hujan ini tumbuhkanlah cinta dalam hatiku untuk Prameswari Mutiara Kalani...

__ADS_1



__ADS_2