Childhood Love Story

Childhood Love Story
Dosa besar Vino


__ADS_3

Masih flashback Vino.


Vino terus ngotot dan tidak mau mengalah pada orangtuanya yang meminta dirinya melupakan cintanya pada Vera, dan berujung pengusiran terhadap dirinya.


Malam itu dengan membawa koper dan tas punggung seadanya Vino keluar dari rumahnya tanpa sepengetahuan Vera.


Dan yang ditujunya adalah rumah lama tantenya, tepatnya rumah dimana Vera kecil tinggal. Letaknya tak jauh dari rumah Hana dan Hanan.


Hampir lima hari Vino disana, mama dan papa mengatakan pada Vera bahwa Vino tinggal sementara dirumah oma dan opa karena mereka sedang tidak sehat, jadi hubungan mereka disekolah biasa saja. Puncakanya malam sebelum acara kunjungan ke museum, atau sebelum peristiwa Ara terjadi.


Vino lupa membawa flashdisknya dan berencana pulang untuk mengambilnya. Saat pemuda itu sampai di halaman rumahnya, rumah tampak sepi dan sedikit lengang.


Vino berjalan memasuki rumah melewati pintu samping taman berharap tidak bertemu papa atau mamanya.


" Oh ada den Vino, kenapa tidak ke ruang PS den, ada den Darren disana.." Ucap bibi saat melihat Vino melintas.


"Darren disini bi?, papa mama kemana bi kok sepi?" Tanya Vino sambil matanya menatap lantai dua yg terlihat sepi.


"Iya den, setiap hari kesini, nemenin non Vera karena tuan dan nyonya ada acara di Surabaya, bibi dengar anak paman aden menikah.." Jawab bibi.


Mata Vino terbelalak, kenapa dia tidak diberi tahu, dan kenapa orang tuanya justru memberikan ijin pada Darren untuk menjaga Vera.


" Sudah berapa hari mereka ke Surabaya bi..?" Vino nengepal kuat, dia marah.


" Sudah tiga hari den.." Bibi menjawab pertanyaan Vino sambil membuatkan anak majikanya ini susu coklat.


" Dan setiap hari Darren kesini?, sampai jam berapa dia pulang bi.." Vino menerima susu itu dan bergegas duduk di kursi tak jauh dari dapur untuk meminumnya.


" Iya den, setiap hari kesini, cuma samalam agak malam pulangnya, non Vera ketakutan karena habis nonton film horor sama den Darren.


"Brengsek!!!"


Tak!!!!


Vino mendaratkan gelas kosong dengan keras diatas meja dapur dan segera beranjak menuju ruang PSnya.


Bibi mengusap dadanya karena terlalu kaget.


Saat sampai di depan pintu, Vino terpaku melihat Darren yang membelai rambut kriwil Vera yang duduk didepanya.


Sedangkan Vera sibuk memainkan joystick PS dengan tatapanya fokus hanya pada layar monitor.


Vino mencengkeram gagang pintu dengan geram, ada kobaran api dalam dadanya.


" Darren, Vera..."


Mereka yang dipanggilpun menoleh.


Vera segera berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Vino.


" Kak, syukurlah kakak pulang, apa oma dan opa baik-baik saja" Ucap Vera sambil menggandeng Vino menuju kasur di ruang PS tersebut.


" Oma ya...oma emmm" Oh ya Vino hampir lupa bahwa dia berbohong menginap dirumah opa dan omanya.


"Baik, mereka baik.." Ucapnya lagi, matanya menatap pada Darren yang malah rebahan di kasur itu.


" Lo nggak pulang?" Tanyanya pada Darren dengan nada pengusiran.


" Ngga, dua malam ini gue tidur sini asal lo tahu " Jawab Darren santai.


" Maka sekarang lo pulang, gue udah ada disini buat jagain dia.." Usir Vino dengan tatapan nyalang.


"Ishhh, lo nggak ada terimakasih nya udah gue jagain adek lo juga..." Ucap Darren dengan segera bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


Darren tak bisa memaksakan kehendaknya. Sebenarnya dia sangat ingin lebih lama tinggal disana, tapi matanya sangat ngantuk. Tak berapa lama Darren pun pamit pulang.


" Kak, besok ke museum kakak berangkat jam berapa?, bisa anter Vera sekolah atau Vera dijemput Natasha aja" Tanya Vera dengan menjatuhkan tubuhnya di kasur.


β€ŒTak taukah Vera tingkahnya itu membuat sesak sesuatu pada diri Vino.


" Sama Nat aja kamu, kakak berangkat sama kak Denis langsung ke museum " Jawab Vino dengan membuang pandangannya ke segala arah.


Jika dulu tak akan ada masalah dia melihat Vera berguling-guling juga. Tapi semenjak Vino sadar akan rasanya, melihat Vera berbaring begitu aja membuatnya gila.


" Darren nginep sini ngapain aja?" Tanyanya tanpa melihat wajah Vera.


" Ya nggak ngapa-ngapain lah, orang cuma tidur aja, Vera juga diatas, mana tau Vera.." Jawab Vera santai.


" Dia mau jadi pacar lo, lo gimana?" Tanya Vino lagi.


" Ya nggak gimana-gimana biasa aja Vera mah..." Vera terkesan cuek, malah dengan santainya, menggantungkan kepalanya kebawah kasur, hingga rambutnya kriwilnya menyentuh lantai.


" Lo suka dia nggak?" Tanya Vino lagi, saatnya dia mengorek isi hati Vera.


" Nggak, hati gue udah sama seseorang.." Vera menutup wajahnya dengan bantal.


Vino terkejut, dia menoleh kearah adiknya itu.


" Si..siapa dia..?" Kini dia beringsut duduk di lantai bawah kasur dimana kepala Vera menjuntai disana.


" Dia sudah beristri..." Jawab Vera lemah.


Vino semakin mendekati Vera mohon penjelasannya.


" Maksudnya apa nih?" Pria muda itu kepo tingkat tinggi. Sumpah, rasanya mau mati dengan segenap rasa penasarannya saat ini.


Vera membuka bantal yang menutupi wajahnya dan menoleh kearah Vino.


" Hah!!!, tapi...apanya?, apanya dari bang Adnan?" Tanya Vino tak percaya. Terkejut!!, Vino terkejut bahkan sampai tak dapat bernafas dalam beberapa detik lamanya.


" Bang Adnan itu macho, baik, dewasa, senyumnya manis, bibir seksi nya pasti membuat Hana melayang ting---- emmppp"


Vino dengan cepat meraih tengkuk Vera dan segera ******* bibir Vera dengan rakus. Rasa asing yang sungguh bisa membuatnya berdebar luar biasa, rasa yg didamba oleh pemuda seusianya. Rasa yang membuat hatinya menghangat, rasa nikmat luar biasa yang penuh akan dosa.


******* pada bibirnya membuat Vera hilang akal.


Rasa yang asing tapi membuatnya ingin terus dan terus.


Vino pun demikian, otaknya tak lagi pada kewarasan nya.


Vino meraih kancing kemejanya dan membukanya satu persatu.


Dengan bibir yang masih terpaut Vino melepas bajunya.


" Lihatlah aku, tidakkah aku macho juga, rabalah dadaku, bahkan aku juga sudah memiliki otot perut seperti Ardi..." Desis Vino dengan suara serak dan tersengal.


Vino membawa jemari mungil Vera pada dadanya. Dan benar saja, hanya dalam waktu sekitar dua bulan saja Vino sudah bisa membuat otot perut yang bagus, walau tak sebagus Ardi.


Pilihan membawa jemari Vera padanya adalah keputusan yang salah, karena kini justru Vino terjebak pada permainan nya sendiri.


Mengira Vera akan mengaguminya justru dia yang gila ingin disentuh oleh Vera.


" Rabalah Ver..., raba disini..." Ucapnya dengan sendu.


Vera si centil yang ingin mencoba ini itupun menurut saja, mereka para remaja yang baru mencicip ujung rasa cinta kini gelap mata.


Vino terus mencumbu Vera dengan meletakkan kewarasannya, nafsu mendominasi seluruh inderanya.

__ADS_1


Pun Vera, gadis kecil yg baru merasai rasa indahnya cinta, saat ini tak menyadari baik buruknya, gadis ini lupa akan bagaimana akhirnya. Yah...nafsu telah menguasai mereka.


Hingga kesadaran datang saat kini mereka sudah tidak memakai kain sehelaipun.


Saat ujung sesuatu yang keras menusuk bagian Vera. Gadis itu tersadar dari kelenaanya.


"Akh!!!, kak....kit...kita..tidak tidak boleh"


Vera memukuli pundak Vino yang ada di atasnya.


Tapi Vino seakan tuli, dengan terpejam dia segera menembus Vera.


"Akh!!!, kak jangan..." Lirih Vera dengan terus menangis, tapi semua terlambat sudah. Nafsu sudah mengusai seluruh sendi di tubuh Vino.


Dengan terus memacu tubuhnya, Vino melepaskan semua hasrat nya.


Flashback off.


"Brengsek lo" Teriak Denis


Bugh!!!!


Satu tinjunya menghantam wajah tampan Vino.


Rangga mengusap wajahnya frustasi, sedikit banyak dia bisa merasakan apa yg dirasakan Vino.


Dia pun sama, sangat berat menahan rasanya setiap dekat dengan Ara.


Tapi perbuatan Vino dari sisi manapun tetap salah.


Rayya tampak diam tak bergeming, tiba-tiba dia teringat adik kecilnya. Sumpah, Rayya ingin mengutuk sahabatnya ini, tapi rasa sayangnya pada Vino tak memberi ijin untuk itu.


Vino kini hanya menunduk.


Pasrah dengan apa yg dilakukan sahabatnya padanya.


Pasrah seandainya mereka membuangnya.


Pasrah kalo harus masuk penjara karena telah memperkosa adiknya.


Pasrah..., Vino hanya bisa pasrah.


Tubuhnya bergetar karena tangisnya.


Walaupun sampai menangis darahpun semua tetap percuma.


Veranya tidak akan kembali utuh.


Hidup Veranya sudah hancur oleh orang yg dianggap bisa menjaganya.


Masa depan Veranya rusak di tangan orang yang disebut kakaknya sendiri.


Dan itu adalah dia..


Dia sendiri...


Seorang Vino Ramdani Malik


Seorang yg menjadi kakaknya Vera sendiri.


Bersambung...


Mau dituntaskan masalah VinoVera atau pernikahan Ranggara????

__ADS_1


Terimakasih like nya😍😍😍


__ADS_2