
Drtt..drrttt...drrtt..
Sudah puluhan kali suara deringan ponsel direject oleh Rangga dan Ara tahu itu. Rangga terus saja membantu Ara mendorong troli tanpa mempedulikan jeritan dalam ponselnya.
Gadis itupun bertanya-tanya dalam hati siapa yang menghubungi Rangga sampai bertubi-tubi seperti itu.
Drrtt...drrtt..drrtt
" Angkat saja kak..., kenapa di reject terus?" Tanya Ara.
" Salah sambung sayang..." Jawab Rangga asal.
" Ya makanya diangkat, dan kasih tahu kalau salah sambung, kan kasihan juga orangnya" ucap Ara.
Rangga hanya acuh dan menggendikkan bahunya.
Ara mengaduk tasnya dengan gelisah, bahkan tanganya sibuk mengeluarkan isinya semua.
" Cari apa sayang..?" Tanya Rangga heran.
" Dompet Lili sepertinya ketinggalan deh, masih di tas sekolah kayanya.."Jawab Lili masih dengan tangan sibuk mengaduk tasnya.
" Ya biar ajalah, ini dompet kakak ada.." Rangga hendak merogoh kantung celananya saat lagi-lagi bunyi ponselnya berdering tak berhenti.
" Angkat kak pusing Lili dengernya.." Ucap Ara geram.
" Bentar ya..." Ucap Rangga dan berlalu mencari tempat sepi untuk mengangkat ponselnya.
Arapun kembali memasukkan barang-barang yang di carinya.
Rangga terlihat sedang dalam perdebatan serius dengan lawan bicaranya di ponsel.
Ara mengernyitkan dahinya heran, tadi katanya salah sambung,tapi kok seperti memperdebatkan sesuatu yang serius.
" Sayang kakak keluar sebentar ya.., kamu tunggu sampai kakak balik kesini..." Ucap Rangga dengan terburu-buru dan sedikit berlari.
" Kak tapi dompet...." Teriakan Ara tak di dengar oleh Rangga yang berlari dengan cepat keluar supermarket.
Akhirnya dua jam sudah Ara mendorong trolinya memutari rak-rak yang sama.
Puluhan panggilannya pada Rangga tak satupun yang diangkat.
Malam semakin larut.
Jam tanganya sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi masih tak nampak juga batang hidung Rangga.
Dengan menghembuskan nafas kasar Ara mendorong kembali troly ke tempat barang-barang tadi diambilnya, dan mengembalikannya satu persatu.
" Kenapa dikembalika Ra?" Suara seseorang yang dikenalnya membuatnya menoleh.
" Ehh..kamu Le, udah pulang ya?, masih sakit nggak tanganya?" Ara justru membalikan pertanyaan dengan pertanyaan.
" Nggak sakit lagi, nih udah baikan.." Ucap Lenox dengan mengayunkan tanganya keatas dan kebawah.
" Kenapa itu dibalikin semua?" Tujuknya pada beberapa sabun dan shampoo yang Ara susun lagi di rak.
" Aku lupa bawa dompet Le, kak Rangga ditelponin nggak diangkat-angkat, aku nunggu dia udah dua jam..." Jawab Ara kesal.
" Ya udah masukin lagi, biar dibayar pakai uang bundaku dulu..." Kata Lenox sambil memunguti barang-barang yang ditaruh Ara tadi.
" Duh jadi ngerepotin kamu deh Le..." Ara sungkan dengan ini semua.
" Nggak ngerepotin lah, orang dihitung utang kok..." Ucapnya dengan tersenyum.
Lenox yang terlihat garang kalau senyum manis juga rupanya.
" Hah...Akhirnya... " Ara terlihat lega saat berhasil melewati kasir.
" Kamu tahu Le, tadi aku sempet bingung gimana mau keluarnya, masa aku masuk kesini hampir dua jam lebih tapi keluar ngelenggang gitu aja tanpa barang belanjaan.hi..hi..btw makasih ya Le.." Ucap Ara panjang kali lebar.
Lenox hanya mengangguk dan memindahkan kantong belanjaanya ke tangan kiri dan merebut kantong belanjaan Ara dengan tangan kanannya.
" Biar aku yang bawa Ra.." Ucapnya.
" Mau aku anter pulang?" Tanya Lenox saat mereka telah sampai di pintu keluar.
Pemuda ini sangat menyesal dengan apa yang dilakukannya pada Ara dimasa lalu. Dan berjanji untuk menjaga Ara semampunya karena rasa penyesalan mendalam nya tak akan bisa hilang sebelum dia menebusnya dengan caranya.
"Ngga usah Le, aku naik ojol aja lah..." Jawab Ara spontan tanpa fikir panjang.
" Emang ada uangnya?" Tanya Lenox sinis.
" Ya enggak ha..ha..ha.." Tawa Ara sangat imut, apalagi diselingi cengirnya yang baru ingat kalau dia tidak berdompet, membuat Lenox terkesima sesaat.
__ADS_1
Lenox meletakkan barang belanjaannya dibawah, tanganya merogoh kantong jaketnya.
" Ini ambilah, ini hutang juga..." Lenox menyerahkan dua lembar uang berwarna merah pada Ara.
" Aku pinjem dulu ya..." Kata Ara dengan malu-malu saat menerima uang itu.
Lenox mengangguk dan mengulum senyumnya.
" Ingat bayarnya dua kali lipat!!" Kata Lenox tegas.
" Ihh..kamu ya!!, lintah darat rupanya..." Ara memelototkan matanya geram diselingi tawanya yang renyah.
Lenox terpesona melihat mimik lucu pada wajah Ara yang berubah-ubah, sesuai isi hatinya, sungguh menggemaskan.
Pantasan saja Marvel melindunginya sampai seperti itu.
Dan pantas saja kak Rangga mengikatnya dengan cepat.
Ternyata ini, dia tak mau orang lain merebutnya dari dia...
Lenox tahu isi hati Marvel saat tanpa sadar Marvel mengatakannya ketika menghajarnya dengan membabi buta.
Ya, Lenoxpun sudah tahu hubungan Ara dan Rangga. Tapi sejauh yang ia tahu mereka sekedar bertunangan.
Ara keluar menuju jalan utama untuk memesan ojek online setelah berpamitan dan berterima kasih pada Lenox.
Sementara Lenox ke parkiran untuk mengambil mobilnya, rumah mereka berlawanan arah, makanya Lenox tak memaksakan diri.
Saat Ara akan menyeberangi jalan, sebuah motor yang tadinya berhenti di pinggir jalan tiba-tiba saja bergerak dengan cepat.
Dan tanpa di duga-duga motor itu sengaja menyerempetnya dengan keras hingga Ara tersungkur di aspal.
Mobil Lenox yang baru keluar gerbang langsung berhenti di tempat. Dengan gerakan cepat dia berlari menuju tempat Ara yang tersungkur.
Beberapa motor dan pejalan kaki yang berlalu lalang berhenti dan mulai mengerumuni Ara.
"Ara...kamu nggak papa?, Ayo sini.." Lenox dengan cepat masuk ke kerumunan lalu mengangkat Ara ke gendonganya dan membawanya ke mobilnya.
Lalu kembali lagi memunguti barang-barang Ara.
" Duh rokmu berdarah itu, kita ke rumah sakit atau gimana?" Tanya Lenox panik saat matanya melihat rok Ara penuh dengan darah.
" Ya Tuhan, lenganmu juga Ra..." Lenox bergetar melihat kaki dan tangan Ara yang penuh darah.
" Biar aku kabarin bundamu dulu ya.., takut beliau nyari kamu.." Lanjut Ara dengan tangan bergetar mengeluarkan ponselnya dan meminta ijin bunda Lenox untuk meminjam sebentar putranya.
Lenox membawa mobil seperti orang kesetanan. Darah Ara yang semakin merembes membuat nya semakin panik, apalagi dia melirik di dahi Ara juga, saat ini keluar darah dari sela jilbabnya.
Yang Lenox heran, kenapa gadis ini diam saja, kalau gadis lain tentu sudah menangis meraung-raung memekakan telinga.
...***...
Satu setengah jam berlalu, tepatnya pukul 23.45 wib
Ceklek..
Pintu samping ruang keluarga yang menghubungkan ke parkiran terbuka dari luar.
Rangga masuk dari sana dengan keadaan yang kacau. Wajahnya kusut penuh dengan beban fikiran.
" Dari mana Nak!!" Tanya papa Syakieb dengan wajah yang dingin dan tegas.
Rangga terlonjak kaget, mengingat lampu telah di padamkan sebagian.
" Da..dari...dari rumah daddy..." Jawab Rangga terbata-bata.
" Trus daddy mu ada??" Tanya papa Syakieb sinis.
" A..a..ada pa..." Jawabnya panik.
" Hemmm hebat ya!, Hen sejak kapan kamu kloning dan berubah jadi dua?" Tanya papa Syakieb pada daddy Hen yang berada di ruang keluarga itu.
Duarrrrr!!!!!
Rangga terkejut tak percaya, wajah terlihat pucat bagai kapas putih. Lampu keluarga menyala terang, dengan hanya jentikan jari papa Syakieb.
Tatapan mata Rangga bertabrakan dengan mata daddynya, tatapan penuh kecewa tersirat di sana.
Tubuhnya Rangga menegang dan panas dingin.
" Bukankah kamu tadi pergi bersama putriku nak?, lalu dimana dia sekarang?"
Rangga mematung sesaat, buntu, blank....semua kosong!! Keringat dingin menetes di pelipisnya. Bahkan dia juga dari mall, tapi mall sudah tutup saat akan menjemput Ara.
__ADS_1
"Lili...Lili..ta..tadi, saya tadi itu pa.."
Rangga bergetar tak karuan. Otaknya serasa lepas dari kepalanya.
" Ada yang mau kamu jelaskan nak?, jelaskan sekarang, papa benci ketidak jujuran. Jika hari ini saja kamu bisa berbohong, maka perkataan jujurmu esok hari akan sangat diragukan"
" Lihat putriku!!" Tunjuknya pada Ara yang menunduk diantara mama dan mommy Tara, tepat disofa belakang Rangga.
Rangga mengikuti arah telunjuk papa Syakieb.
Matanya terpaku melihat Ara yang penuh luka lecet di kepala tangan dan kakinya.
Butiran-butiran air mata merembes tanpa ia sadari.
" Sa..sa..sayang., I..i.. ini kenapa sayang..?" Ucapnya setelah melangkah dengan cepat kearah istrinya.
Tubuhnya merosot di depan Ara.
" Ke..kenapa sampai seperti ini..?"tanya Rangga lagi.
Ara hanya menunduk. Saat Rangga mengelus semua luka-lukanya.
" Maafkan kakak sayang, ta..tadi i---"
" Bagus ya, meninggalkan istri di mall tanpa uang sepeserpun, meninggalkan istri tanpa pengawasan sedikitpun. Kau tinggal dimana akal sehatmu nak?." Sindir papa dengan sinis.
"Selain tidak jujur kau juga tidak bertanggung jawab Rangga..."Papa berdiri di belakang Rangga yang duduk bersimpuh di depan Ara.
" Selama ini papa tidak mengharapkan apa-apa darimu, cukup kau bisa menjaga putriku dan membahagiakan nya saja papa sudah sangat bahagia, Tapi lihatlah!! kau menunjukkan betapa papa telah salah pilih..." Lanjut papa Syakieb.
Rangga merangkak menggapai kaki mertuanya. Dadanya nyeri mendengar kata-kata mertuanya.
" Maafkan Rangga pa...Rangga khilaf pa.., Rangga mohon ampun.." Rangga menangis tersedu-sedu.
Daddy Hen menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kejadian ini mengingatkan nya pada malam perpisahanya dengan mama Neela. Sama..dia melihat dirinya yang hancur dulu pada diri Rangga saat ini.
Mama Neela pun sama terpukulnya, dia merasa dejavu.
Diliriknya daddy Hen yang menutup wajahnya dengan kedua tanganya, air mata menetes disela-sela jari kekarnya. Tubuh dady Hen bergetar menandakan dia tengah menangis pilu.
Melihat keterpurukan daddy Hen membuat dada mama Neela semakin sesak.
Rangga terus-terusan mohon ampun pada papa mertua nya dengan suara yang serak, dan air mata yang tak berhenti berderai.
" Tidak ada ampun nak, pertama kesalahanmu adalah tidak jujur. Papa benci ketidak jujuran!!"
" Papa....hik...hik....ampun pa, ampuni kak Rangga..." Ara ikut bersimpuh memeluk Rangga yang mulai gemetaran tak karuan.
" Lili sayang.., papa kira memilih Rangga karena dia adalah pilihanmu adalah pilihan terbaik, tapi mencari menantu yang baik dan sesuai kriteria papa sangatlah sulit, sesulit memetik bintang di langit, papa minta maaf sayang...., tapi yang terbaik saat ini adalah kalian harus berpisah...."
" Tidak pa...ampun..pa..." Rangga rasanya tak punya lagi tulang belulang, dia terasa meleleh bagai jeli, menyesal semenyesal-nyesalnya.
" Yang....sudahlah.., kita bicarakan baik-baik, kau menyakitiku dengan ini..hik...hik..." Tangis mama Neela yang memilukan membuat papa tersadar dari amarahnya.
Matanya langsung mengarah pada daddy Hen yang saat ini menengadahkan wajahnya di atas punggung sofa, matanya terpejam tapi air bening mengalir dari sana.
Maafkan aku sayangku Neela...
Hen sahabatku..
Tanpa sengaja aku membuka luka lama kalian..
Tapi ini demi putriku..
Putriku harus jauh dari Rangga, setidaknya tiga tahun saja...
Putriku harus menjadi kuat dulu..
Karena ginjalnya hanya satu...
" Ada apa ini???" tanya seorang pemuda yang muncul dari ruang tamu dengan koper dan tas punggung yang masih tersangkut di sebelah bahunya.
Bersambung.
..."""'ccc"""...
Siapa yang datang????
Marvel????? atau Ardi?????
Bagaimana nasib Rangga dan Ara???
__ADS_1