
Ara, Rangga dan Denis saat ini saling tatap di ruang TV.
" Apa maksudmu tidak mau punya anak lagi Bi..." Tanya Ara, ada nada penuh rasa marah disana.
" Kakak nggak bisa melihatmu kesakitan lagi sayang..." Jawab Rangga menunduk.
" Baiklah kalau itu maumu, mulai malam ini jangan lagi tidur denganku..." Jawab Ara cepat.
" Hahh!!, apaan itu??" Tanya Rangga terperangah.
" Kamu bilang nggak mau menghamiliku lagi kan Bi..., apa Lili salah dengar tadi?" Ucap Ara pura-pura lupa.
Rangga menunduk lemas, mengusap wajahmu kasar.
" Dan kamu kak Denis...., apa yang harus kakak risaukan?" Tanya Ara pada Denis.
" Kak Denis ini anak tunggal Ra, Natasha juga. Trus kalau dia ngga mau hamil aku harus gimana?, masa iya poligami..." Ucap Denis sendu.
" Itu sih mau-mau lo!!, dasar playboy tengik lo Den..." Sahut Rangga
" Tujuan menikah dan berumah tangga kan bukan hanya menghalalkan sesuatu yang haram doang. Tapi juga menyatukan dua kepala menjadi satu. Dan utamanya tentu meneruskan nama keluarga... Nah kalau yang utama saja Natasya menolak aku kudu piye?"
" Cinta sih jelas cinta gue sama Natasha, lo tau lah bagaimana perjuangan gue dulu. Tapi kalau ujung-ujungnya begini aku juga bingung dong..." Lanjut Denis.
"Tenang ajalah kak Denis. Kakak kan punya sahabat rusuh dan mesum seperti suamiku ini, gampang lah membuat Natasya hamil, yang penting terus meminta kepada yang Maha Memberi, mohon Kun Fayakun dariNya. Agar segera diberi.."
" Dulu aja kan Ara juga nggak mau hamil, tapi udah kadung kebobolan mau apa coba" Ucap Ara.
" Masalah ketakutan Natasha untuk melahirkan itu bisa diatasi dengan pemahaman yang tepat pra persalinan.."
" Apa kalian berdua fikir saat itu Lili juga tidak takut. Jelas Lili takut, tapi kebersamaan 9bulan diperut membuat Lili merasa harus berani. Berani untuk berjuang demi mereka..."
Ara mengelus pipi twins dengan sayang.
" Masalah ketakutan Natasya biar Ara dan yang lainya menangani ini. Kak Denis persiapkan saja acara resepsinya di Jakarta. Karena kalau ke Jogja jelas Ara tidak bisa hadir...." Ucap Ara lagi.
Drtt...drttt...drtt...
Ponsel Ara bergetar tanda masuknya panggilan. Nama Natasya disana.
" Tuh, calon istri nelpon!!" Seru Rangga.
" He..he..he, gue masuk dulu ya...." Pamit Denis beranjak menuju kamar.
Sementara Rangga dan Ara saling tatap penuh arti.
" Jangan salah paham sayang..."
" Nggak Bi..., Lili nggak salah paham kok. Lili tau kamu sayang banget sama Lili. Bi...anak itu rezeki, mau nggak mau... Kalau Allah udah ngasih, emang kita bisa apa?" Ara menghembuskan nafasnya, mentoel pipi Almeer yang telah pulas tidur di boxnya.
"Lagian ngapain ngomongin nambah anak, twins aja baru umur seminggu..ha..ha.." Ara tertawa sambil mengangkat Almeer untuk dibawanya ke kamar.
" Kamu bawa Meera ya Bi....Love you Bi..." bisik Ara nakal sebelum melangkah ke kamar.
" Ishhh, genit!!" Sahut Rangga.
Sementara Ara semakin tertawa kecil melihat wajah Rangga yang mulai merah.
Rangga menatap gemas punggung istrinya itu. Rasa sejuk menjalari tubuhnya.
" Dia begitu imut, ya ampunnnn" Guman Rangga.
" Untung saja dia yang jadi istriku, dia selalu mampu mengimbangi rasa gilaku, dia mampu menjinakkan egoku, dia selalu mendinginkan setiap rasa panasku...Liliku..."
__ADS_1
Sementara itu Denis sedang berbaring di kamar tamu rumah Rangga.
" Gimana sayang.... Romo bilang akad nikah saja kan di Jogja?"
" Iya kak, trus resepsinya di Jakarta dua bulan setelah kita bulan madu.., Nath juga sedang ada kontrak show di Jerman.."
" Oh oke, berarti seminggu ini kakak akan gasak semua kerjaan biar sebulan depan full bisa sama kamu doang di Jerman..." Bisik Denis
" Sebulan full di Jerman mau ngapain emang?" Tanya Natasya dengan senyum kecilnya.
" Haishhh..sok polos ha..ha..ha.." Sahut Denis.
" Loh nggak tau dia rupanya, begitu polosnya seorang Natasya..." Sahut Natasya tak mau kalah.
" Waduh duh..duh...rupanya dia nggak sabar dibuat jadi polos ha...ha..ha..."
Ucapan Denis membuat Natasya malu luar biasa.
Diapun mengalihkan kamera ke mode belakang.
" Nath.."
" Hemm..."
" Mana gambarnya?"
" Nggak ah, malu..."
" Nath...ayo ah..., kangen nih... NATASYA" Seru Denis.
" He...he...iya, apa sih?" Sahut Natasya dengan kembali ke kamera depan.
" Nath, setelah pulang dari Jerman kita tinggal sama papa ya?" Ucap Denis.
" Ya udah kita bikin jadwal nya untuk menggilir dua rumah ini deh..."
" Yahh...kok bahasanya menggilir sih...konotasi nya kan aneh...ha..ha..."
Mereka terus mengobrol sampai tak menyadari siapa yang tertidur duluan diantara keduanya.
Setiap hari selama seminggu Denis terus saja menginap di rumah Rangga.
Tapi kompensasinya tentu sangat jelas, yaitu tiap pagi dan sore membantu momong salah satu anak Rangga disaat Rangga memegang yang satunya. Sementara Arapun merasa banyak terbantu.
Membuat sarapan, masak makan malam dan beberes rumah jadi lebih mudah dengan adanya Denis.
Ardi dan Azura juga sering mengunjungi mereka. Seperti saat ini, sepulang dari panti asuhan Casablanca, Ardi dan Azura saat ini telah berada di rumah Ara.
" Almeer ini benar-benar cetakan Rangga ya beb, lihat dia..pelit banget senyum..." Ucap Ardi saat memangku Almeer.
"Ngga tuh yang..., saat sama aku senyum terus dia..." Ucap Azura menyangkal.
" Masa sih?, wah..wah...benar-benar mirip papanya, hanya mau tersenyum sama cewek saja..." Ucap Ardi lagi.
" Isshhh, abang ahhh.. Yang enggak-enggak aja deh..." Sahut Ara yang tidak suka Rangga diolok-olok oleh Ardi.
" Gimana kalian?, udah isi?" Tanya Rangga yang keluar dari dapur dengan membawa sepiring irisan buah ditanganya.
Lalu dengan santai duduk di depan Ara dan menyuapinya buah tersebut.
" Belum ada tandanya kak..." Jawab Azura.
__ADS_1
" Ya..., kami masih disuruh pacaran dulu kayaknya. Disuruh puas-puasin menikmati masa berdua dulu.." Sahut Ardi.
" Kalian sih masih muda, Denis!!, lo kalo nggak cepat-cepat tancap gas keburu bungkuk, anak lo masih TK..." Seloroh Rangga.
Buakkk...
Satu bantal sofa mendarat tepat diwajah Rangga, dan itu adalah ulah Denis.
" Dua hari lagi gue akan eksekusi dia tenang aja. Misi berubah dari rencana awal, yaitu menikah demi cinta pada Nyai. Menjadi menikah demi dapat bayi ha..ha..ha..." Seru Denis.
Dipangkuannya saat ini terdapat Almaeera yang tersenyum seolah paham apa yang sedang diucapkan oleh unclenya.
" Tuh...lihat Almaeera aja setuju...ya nggak cayang...uluh..uluh...imutnya kamu, kalau gede nanti jadi pacar uncle mau ya..." Ucap Denis dengan mengecupi pipi Almaeera sayang.
" Ckk..., jangankan jadi pacarmu!!, jadi pacar siapapun juga nggak boleh!!" Sahut Rangga posesif.
Ardi terlihat melamun..., tatapanya menerawang entah kemana.
" Kenapa mas?" Tanya Azura.
" Aku pernah dengar ungkapan seperti yang diucapkan kak Denis barusan..." Ucap Ardi.
" Maksudnya bang?" Tanya Ara. Dan yang lainya pun ikut menoleh pada Ardi.
" Leon...." Desis Ardi.
" Kenapa Leon.." Tanya Ara lagi.
" Leon itu sering bilang padaku, dia mau nungguin Bianca sampai dewasa buat jadi calon istrinya. ..." Ardi tertunduk
" Ah ha..ha..ha.., dan lo percaya?. Leon pasti bercanda lah.... Anak lo aja masih kelas 2 SD. Dan Leon udah kepala 2...ada-ada saja..." Denis sampai-sampai menggosok perutnya yang terasa keram tiba-tiba.
Azura meraih Almaeera dari tangan Denis.
" Almaeera sampai melotot liat kakak tertawa...." Ucap Azura.
" Habis Ardi ada-ada saja..sih...." Sahut Denis lagi.
" Tapi itu benaran kak, Leon ngomongnya serius banget, gue aja yang dengarnya merinding..." Ucap Ardi lagi.
" Ck...Leon itu kan ganteng, wajahnya baby face banget, masih pantes jadi anak SMA. Gawat juga kalau Bianca sampe klepek-klepek..." Ucapan Denis membuat Ardi benar-benar kalut.
Drtt...drttt...
Ponsel Denis bergetar.
" Si Rayya nih, dia udah dirumah. Gue pamit dulu ya, sampai ketemu di Jogja dua hari lagi...huffttt..." Denis berdiri dan menepuk-nepuk bajunya.
" Aroma tubuh gue beberapa hari ini berganti dengan bau bedak twins. Sampai-sampai salah satu klien bertanya apa gue punya anak bayi?" Ucap Denis.
" Terus, lo jawab apa?" Tanya Rangga.
" Ya gue bilang iya lah..." Jawab Denis lagi.
" Ck...anak gue lo aku-akuin...dasar..." Rangga melengos geram.
" Ya kali aja nasib gue miripan kaya Ardi, ambil anaknya dapat ibunya..ha...ha..ha.." Denis bergegas lari keluar saat mata Ardi melotot padanya.
Sementara Azura dan Ara tertawa cekikikan melihat Rangga mengeram marah.
" Kenapa kamu malah ketawa sayang, seneng ya digodain Denis?" Tanya Rangga dingin.
" Ha..ha..., sebenarnya kak Denis itu gugup Bi..., mangkanya dia bertingkah seperti itu..., kamu yang sahabatnya kok nggak paham sih..." Ucap Ara.
__ADS_1
" Beberapa hari ini sepertinya kak Denis kehilangan selera makanya, Lili juga sering melihatnya melamun, beberapa kali juga menghela nafasnya tiba-tiba. Kak Denis itu terserang stress ringan..."
" Kakak lihatkan dari tadi dia menghela nafas, dan terus berusaha bercanda, padahal mah..kak Denis itu gugup loh..." Lanjut Ara.