Childhood Love Story

Childhood Love Story
Hari kita berdua...


__ADS_3

Rangga terlihat mondar-mandir di kamar nya sementara Ara telah tertidur dengan tenang setelah minum obatnya. Dan lihatlah gadis itu bahkan membungkus tubuhnya dengan selimut mirip lepet.


" Emmm..., kok gini amat ya..? Besok udah pergi lama, eh istri malah tidur..ckk.." Rangga ikut merebahkan tubuhnya disamping Ara. Matanya milirik wajah Ara yang tenang itu dengan gemas, digaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu berulang kali.


Ditatapnya wajah imut yang telah menjadi miliknya secara permanen itu dengan tatapan lapar.


Didekatkanya wajahnya ke wajah tenang Ara.


Cup...


Dikecupnya singkat bibir pink Ara yang selalu menjadi candunya itu.


Cup...


" Sebodo amat lah..., gue pengen, mau gimana lagi..."


Lagi, seorang Rangga tak akan puas kalau hanya sekilas kecup saja.


Perlahan-lahan diluma* dan dihisapnya bibir itu dengan hati-hati agar tidak mengganggu kenyamanan Ara.


Tapi tetap saja Ara merasa terganggu, buktinya saat ini gadis itu telah membuka matanya lebar.


" Maaf sayang..." Bisik Rangga yang kini tertangkap basah telah mencuri. Dia menggigit bibir bawahnya saking malunya, sementara ditutupnya wajah tampan miliknya dengan bantal.


" Kakak tidak tidur?" Ara melipat bibirnya ingin tertawa saat melihat gelagat Rangga yang menggemaskan.


" Nggak bisa tidur sayang?" Jawab Rangga, dibalik bantalnya.


" Kenapa?" Ara semakin ingin tertawa.


" Nggak papa..." Ucap Rangga ambigu. Lalu pemuda itu memiringkan tubuhnya menghadap Ara, kepalanya terangkat ke atas berkat tumpuan sebelah tanganya.


" Apakah kamu masih mual sayang?" Tanyanya.


" Nggak lagi..." Jawab Ara.


" Pusing??"


" Nggak juga.."


" Tanganya masih sakit nggak?" Tanya Rangga dengan mengelus punggung tangan Ara.


" Nggak tuh, nggak sakit" Jawab Ara lagi.


" Serius sayang..??, nggak ada yang sakit lagi?"


" Nggak ada kak, nggak ada yang sakit, emang kenapa sih?" Tanya Ara pura-pura penasaran.


" Ya elah sayang..., masa nggak peka sih!! dih gak pekaan amat kamu.." Rangga gemas dan menepuk keningnya geram.


Brugh


Dihempaskanya tubuhnya kembali terlentang, dan memejamkan matanya.


Ara tertawa tanpa suara, bahkan sampai menitikkan air mata.


" Apa??, Lili nggak peka apa sih??, Lili tau kok kakak mau minta jatah naninu kan?" Sindir Ara dengan alis yang naik turun menggoda Rangga. Pemuda itu terkejut mendengar penuturan Ara. Bahkan kini tubuh gadis itu mulai merangkak ke atas tubuh Rangga.Dan dengan santainya Ara menduduki aset Rangga. Rangga membelalakkan matanya tak percaya.


Dengan pelan Ara membuka lilitan selimut dari tubuhnya.


Dan terlihatlah siluet seksi menggoda yang membuat Rangga kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Bagaimana tidak, Ara memakai lingeri seksi yang membuat siapa saja akan hilang akal saat melihatnya seperti ini.


" Kau....." Geram Rangga dengan mencubit kedua pipi Ara dan segera menyambar bibirnya lagi dan lagi.


Rangga segera mengganti posisinya dengan kini dialah yang sudah berada di atas tubuh Ara.


" Jangan salahkan aku sayang..., kau yang memancingnya.."


" Ya elah kok jadi Lili yang dituduh mancing, padahal situ udah ngarep dari tadi..." Cebikan bibir Ara semakin membuat Rangga bernafsu untuk mengeksplor bibir ranum itu dengan rakus.


Malam ini menjadi malam istimewa bagi mereka berdua, malam ini entah kenapa mereka berdua merasa penyatuan mereka kali ini terasa berbeda. Rangga menyentuh Ara dengan slow dan terlihat tanpa pemaksaan sama sekali. Dan Ara yang terus pandai mengimbangi dengan sepenuh hati membuat malam ini terasa spesial.

__ADS_1


Dan tanpa terduga-duga sama sekali Ara meminta untuk memimpin kegiatan panas mereka kali ini, membuat Rangga semakin klepek-klepek dibuatnya.


" Ah...ah...sayang..., akkkhhhh" De*aha* Rangga terdengar menggema di kamar remang itu saat Ara terus bergerak meliuk-liuk diatasnya.


Ya, malam ini menjadi malam panas yang panjang bagi keduanya. Malam yang dilalui dengan penuh gairah dan diselimuti dengan curahan kasih sayang terdalam dari dalam hati masing-masing.


Karena masing-masing dari mereka berusaha menunjukkan isi hati mereka selama ini.


Tak ada rasa malu bagi Ara untuk meminta lagi saat mereka telah beristirahat beberapa menit.


Karena baginya, tak ada waktu lagi untuk menahan diri ataupun menahan malu, suaminya akan pergi esok hari.


Dan pasti malam ini akan menjadi malam yang akan mereka rindukan di kemudian hari, dan jelas itu bukan waktu ya singkat, tapi lama.


Sangat lama...


Kesepakatan pertama mereka adalah Rangga akan pulang dihari kelulusan Ara dari SMU Bhakti.


Kesepakatan keduanya mereka akan terus video call an, atau minimal berkirim pesan setiap hari.


Saling percaya dan saling menjaga diri masing-masing.


Sampai menjelang subuh mereka masih saja rusuh bergerak diranjang yang menjadi saksi bisu kegilaan mereka kali ini. Keadaan mereka sudah sama-sama berantakan tak karuan.


Brugh...


" Huuh...hah...hah...hah..." Rangga menghembus nafasnya yang ngos-ngosan dan memburu.


Diraihnya tubuh Arab yang polos kedalam pelukanya.


" Terimakasih sayang..." Bisiknya dengan kecupan dalam dikening Ara, sebutir air bening lolos dari sudut matanya. Dipejamkannya matanya untuk beristirahat barang sejenak.


Arapun sama, gadis itu berusaha menyembunyikan matanya yang perih karena menahan tangisnya ke dalam dada Rangga yang pasti akan membuatnya rindu setengah mati.



...***...


" Astaghfirullah..." Rangga segera menyingkap selimut dan berdiri begitu saja.


" Aduh!!! Kakak dibungkus ih badanya!!!"


" Nggak sempet sayang!! Ayo.. hupp" Rangga menyambar Ara dalam gendongannya dan membawanya ke kamar mandi.


Rangga meletakkan Ara ke bathup dan dirinya sendiri mandi di shower.


Dengan begitu mereka bisa selesai bersama-sama dan langsung sholat subuh walaupun sudah lewat.


" Astaghfirullah...." Mereka beristighfar dengan kelalaian mereka kali ini.


Tapi saat pandangan mereka bertemu setelah mereka meletakkan alat ibadah mereka, mereka malah tertawa terbahak-bahak dengan situasi yang menegangkan diburu waktu sholat beberapa saat lalu.


Dengan manja Ara segera naik ke gendongan Rangga. Dan Ranggapun menyambutnya dengan sayang.


Posisi Ara saat ini mirip seperti seorang anak yang minta gendong ayahnya. Kedua tanganya melingkar ke belakang tengkuk Rangga, sementara kakinya melinggkar ke belakang pinggang Rangga.


" Mau sarapan apa sayang?" Tanya Rangga dengan mendusel-desel di dada Ara dengan langkah kaki menuju dapur. Didudukanya Ara di meja marmer sementara kaki Ara masih melingkar di pinggang, dan kedua tanganya juga masih berada di belakang tengkuk Rangga.


Ara seorang enggan melepaskan Rangga walau sedetikpun.


" Emmm, apa yang enak ya?" Ucapnya dengan tatapan mata yang terus tertuju pada bibir bawah Rangga.


" Roti dan selai ha..ha...ha " Rangga pecah dan terlihat sangat manis.


Ara ikut tertawa tapi matanya tetap menatap bibir bawah Rangga.


Jari jempolnya mengelus pelan bibir yang terdapat tahi lalat itu.


" Dulu waktu kecil ini belum ada?" Ucapnya lirih dengan mengunyah roti tawar dengan selai coklat yang dibuatkan Rangga untuknya.


" Dia tumbuh karena aku sering menciumu dulu ha..ha..ha.." Ucap Rangga dengan tawanya yang mengembang sempurna.


" Apa yang kakak fikirkan saat itu, kenapa sering sekali mencium Lili.."

__ADS_1


Rangga mengunyah roti tawarnya, dan menelanya cepat, lalu diapun menjawab pertanyaan Ara.


" Ya, pokoknya ciumanku itu tanda, bahwa kelak pun hanya kamu yang akan selalu aku ciumin..."


" Gombal..." Ara mencubit perut Rangga gemas.


" Beneran sayang, sumpah!!" Sambar Rangga pada tangan mungil itu dan dikulumnya, membuat rasa menggelenyar aneh menjalani tubuh Ara seketika.


" Memangnya selama jauh dari Lili dalam rentan sepuluh tahun itu kakak nggak pernah naksir cewek gitu??, masa SMP juga enggak?" Tanya Ara dengan sedikit tak percaya.


" Nggak!!!, sama sekali nggak!!, setiap ada yang cantik dan sedikit menarik, kakak selalu mengingat kalung kakak..." Jawab Rangga dengan menggengam kalungnya, dan mengecupnya kecil.


" Kalau kamu sayang?"


" Kalau Lili pernah loh sampai setengah gila karna Lili suka sama akh...empp" Ara langsung menutup mulutnya saat akan keceplosan.


Matanya melotot saat melihat Rangga mengeraskan rahang nya, wajah putih di depanya berubah menjadi merah padam.


" Sama siapa?" Tanya Rangga tegas dan dingin, matanya menyorot tajam pada mata Ara.


Sementara Ara bergetar ketakutan, bahkan dia sedikit menggeser duduk nya sedikit menjauh, tapi lagi-lagi Rangga meraihnya dan mengeratkan belitan di pinggang Ara.


" Sama siapa?" Tanya Rangga lagi, kini dengan tatapan mematikan yang sungguh terlihat ngeri.


" I..itu hanya..."


" Hanya apa?"


" Ha..hanya idola saja nggak lebih...."


" Iya siapa dia?" Desak Rangga tak sabar.


" Dia lebih ganteng dari aku gitu?" Lanjutnya dengan penuh rasa cemburu.


" I...iya.."


" Apa!!!, dia lebih hebat dariku gitu?"


" Te..tentu..." Jawab Ara tergagap.


" Brengsek!!!!, jadi kamu masih suka dia sampai sekarang sayang??!!!"


" I...iya..."


" KAU!!!,"


" Siapa dia sayang? SIAPA???" teriak Rangga frustasi.


Hancur sudah hati Rangga mendengar pengakuan Ara kali ini.


" Kepa!!, Kepa Arrizabalaga kipper Chelsea.." Sahut Ara cepat saat melihat raut wajah Rangga semakin memerah karena marah.


" Hah....siapa?" Rangga langsung lemas mendengarnya, disambarnya cepat bibir yang membuatnya sempat terkena serangan jantung beberapa saat lalu.


" Emmmppp...emmpp ah...ah..." Serangan Rangga tak main-main kali ini. Geram saja dia, udah kadung cemburu tingkat dewa, eh ternyata cemburu sama pemain sepak bola.


Cumbuan Rangga membuat Ara semakin terlena dan mengeratkan kembali kaki dan tanganya memeluk Rangga seperti posisi awal.


Masih dalam gendongan Rangga, Ara membisikan sesuatu yang membuat Rangga tersenyum manis.


Mereka pun kembali kekamar dan mengulang kembali kegiatan panas mereka semalam.


Entahlah...sepertinya mereka lupa, bahwa dunia ini dihuni jutaan milyar manusia, tak hanya mereka berdua.


Tapi hari ini mereka hanya menganggap mereka berdua saja hidup di dunia ini, yang lain ngungsi dulu lah ke bulan.


Bersambung.....


...--------------...


by. luck..🍀🍀


okey mom...beres episode hari ini....

__ADS_1


__ADS_2