
---Happy Reading---
Disebuah gedung tua, seorang gadis diikat dikursi yang ia duduki. Setelah membuka mata ia melihat sekeliling dan ruangan yang ia tempati itu adalah gedung yang ia perkirakan tempat membunuh bundanya dulu, karena ia diam diam mencari tahu tentang bagaimana bundanya dibunuh dengan tragis.
Tak lama ia merasa ada seseorang akan masuk keruangan itu dan benar ada seorang perempuan yang berseragam putih hitam seperti gaun pembantu. Ia masuk dan mendekat kearahnya, aluna merasakan wanita itu menaruh benda tajam kepada tangannya sebelum membisikkan sesuatu kepadanya.
"Aku tau kau sudah sadar, ini aku hadiahkan benda tajam untuk kau lepaskan talimu sendiri." bisiknya, membuat luna menundukkan kepalanya lalu bertanya. "Mengapa kau membantuku?"
"Karena kau mengingatkanku dengan anakku yang disekap mati disini."
"Siapa anakmu?" Wanita itu tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Kau tidak mengenalinya, jika aku dan kau selamat aku akan menceritakannya. Bertahanlah." ujarnya lalu ia sedikit mengendap saat ingin keluar dari ruangannya.
Aluna mencoba memotong tali yang mengikat tangannya dengan benda tajam yang ia tau adalah pecahan kaca. Ia masih berusaha untuk memutuskan tali itu sampai ada segerombolan pria berjas memasukki ruangannya dengan membawa tongkat ditangan kanan mereka masing masing. Aluna yang tadi masih sibuk memotongkan tali langsung pura pura tertidur lagi sampai dua orang itu keluar dari ruangannya.
"Dia masih tertidur, bagaimana ingin kita siksa jika begini?" tanya pria itu kepada temannya. "Kita balik lagi saja, nanti kita datang lagi kemari siapa tau dia sudah terbangun dari pingsannya." saran temanny yang langsung disetujui olehnya. "Lagipula kenapa bos malah menculik gadis yang tidak tau masalah dulu, bukannya menculik orang yang seharusnya seperti putra dari wanita yang dulu kita perkosa?"
DEG!
Aluna bergeming, ia merasa tubuhnya merasa lemas mendengar kenyataan bahwa yang diceritakan oleh kakek dan informasi yang ia dapat jika bundanya memang terbunuh karena diperkosa paksa. "Kau diamlah, bagaimana jika ada yang mendengarkannya lalu kita dihukum?"
"Ah, maaf aku tidak sengaja, tapi aku cukup penasaran mengapa bos memilih gadis ini?"
"Gadis ini adalah gadis yang sangat disayangi oleh putra wanita itu dan termasuk kelemahannya."
"Ayo kita keluar nanti kita datang kembali kemari." Lanjutnya yang langsung menggiring temannya untuk keluar dari ruangan itu sebelum melirik sekilas kearah luna melihat bahu gadis itu yang sepertinya akan bangun. Aluna langsung menggunakan kesempatan itu setelah dua orang itu keluar dari ruangannya, ia berhasil melepaskan tali dipergelangan tangannya lalu ia membuka kain yang menutupi mulutnya dengan sedikit ia menggerakkan mulutnya yang merasa pegal.
Kemudian ia memotong tali yang berada dipergelangan kakinya juga, setelah bebas ia menghela nafasnya dengan lega. Ia mencoba untuk berdiri dengan sedikit tidak seimbang karena kakinya masih terasa lemas. Aluna berusaha memikirkan cara untuk melarikan diri dari gedung ini, ia mengelilingi pandangan ke ujung ruangan satu persatu dan matanya mendapati kamera pengawas diujung ruangan itu dekat pintu dengan segera ia menghalanginya dengan kain untung saja kamera itu tidak terlalu tinggi dari jangkauannya.
__ADS_1
"Ayo aluna berpikirlah, bagaimana caramu untuk keluar dari ruangan ini tanpa kelihatan oleh seseorang?" ucapnya sendiri yang mencoba memutar otaknya yang sudah mentok karena ini baru pertama kalinya ia diculik dan jauh dari jangkauannya.
Aluna melihat beberapa kain tak terpakai ia langsung mengambilnya dan merobeknya membentuk menjadi pakaian yang menyerupai dengan orang orang gembel ditambah dengan sebuah kacamata yang sudah menutupi matanya dari pecahan kaca tersebut.
Ia pun langsung segera keluar dari ruangan itu setelah melihat kanan dan kiri, dengan cepat ia berlari lalu berhenti melangkah karena tak sengaja ia melihat seseorang wanita berjalan kearahnya dan untungnya ia melihat sebuah pintu ia memasuki ruangan kosong itu saat ia berbalik ia melihat banyaknya seragam yang menyerupai baju pembantu.
Dengan segera ia berganti pakaian pria serupa dua orang yang pernah masuk kedalam ruangannya tadi ia merombak dirinya seperti pria agar ia tidak ketahuan oleh wanita medusa yang menculiknya. Banyak orang yang sudah ia lewati dan sekarang ia sudah mendekat kearah pintu luar, dengan keringat yang membanjiri leher dan punggungnya hampir sedikit lagi ia bisa melihat cahaya matahari.
Tapi lagi lagi lengannya ditarik oleh seseorang dengan parfum yang menerutnya tidak asing. Aluna baru saja ingin berteriak tapi tertahan karena orang itu langsung menutup mulutnya dengan tangan kiri orang itu. "Ssstt, diamlah jika tidak ingin mereka mengetahuimu, luna." ujarnya membuat aluna yang tadi memebrontak langsung terdiam mendengar seseorang yang selalu ia tunggu.
"Adam.." ujarnya yang langsung membalikkan tubuh lalu memeluk tubuh orang itu, orang itu langsung mendekapnya dengan erat seakan ia akan menjaga gadis ini dengan nyawanya. "Tenanglah aku berada disampingmu sekarang." balas adam dengan berbisik.
"Kau kemari sendiri?" adam tentu menggelengkan kepala. "Tidak, aku kesini bersama abangmu dan kakek mika. Mereka berpencar dengan beberapa pengawal. "Kakek disini? Mengapa?"
"Ia juga terkait dalam kasus ini, sayang. Jadi saat ini kau harus tau apa yang harus kamu lakukan?" Aluna sedikit bersemu merah pipinya dan untung saja ruangan yang keduanya masukki tidak ada cuaca. Aluna menggelengkan kepalanya. "Tidak, jadi apa yang harus kulakukan?"
"Lalu bagaimana denganmu? Dan yang lain?"
"Kami akan baik baik saja, cukup kamu keluar dan segera menemukan seseorang yang sedang memakai ikatan kain merah dilengan kirinya, ingat lengan kiri. Oke?" Aluna mengangguk lalu mengikuti adam keluar dari ruangan itu setelah dibilang aman oleh suara yang berada ditelinganya.
"Berhati hatilah, mama papa menunggumu." Aluna mengangguk. "Ingat janjiku kepada kalian." Adam mengangguk namun sebelum keduanya keluar dari ruangan adam segera mencium kening gadisnya dengan lembut. Aluna memejamkan matanya saat merasakan benda kenyal menempel dikeningnya. "Jaga dirimu baik baik. Jangan sampai terluka."
"Iya, kau juga."
❣❣
Aluna sudah berhasil keluar dari gedung tua ia langsung bersembunyi kedalam semak semak saat mendengar ada suara langkah yang datang. "Dimana dia? Katanya gadis itu kabur."
__ADS_1
"Carilah disekitar sini, pasti gadis itu belum jauh dari sini pasti."
"Iya, coba juga cari disemak semak." aluna merasa jantungnya sebentar lagi akan meledak saking takut ketahuan oleh beberapa orang disini.
Aluna sedikit meringkuk lebih dalam dengan kain yang tak sengaja ia temui di balik semak semak itu. Ia bisa merasakan semak semak sampingnya bergerak karena pria itu. Sampai ada yang mengintuksi mereka. "Sedang apa kalian? Bukannya berkumpul untuk rapat malah berleha leha! Cepat kumpul!" ujar seseorang dengan tegas membuat mereka mau tak mau masuk kedalam gedung tua itu lagi dan meninggalkan luna yang sudah bernafas lega disemak semak.
Saat ia merasa sudah aman, ia segera berlari keluar semak dan mencari mobil mana yang dimaksud adam. Tak lama kepala abang aksa menongol dibalik mobil besar lalu melambaikan tanganya kearahnya.
Aluna langsung menghampiri abangnya dengan cepat ia memeluk abangnya dengan erat. "Ayo kita pulang, mama sudah menunggu dirumah bersama papa."
"Lalu adam? dan kakek mika bagaimana dengan mereka?"
"Mereka akan aman, percayalah." ujar aksa yang langsung menarik lengan adiknya untuk segera masuk kedalam mobil dan pergi dari lingkungan itu secepat mungkin.
Tapi mereka salah, buktinya ada mobil yang mengejar mereka. Mobil itu sudah dari tadi berada dibelakang mobil aksa. Aksa sedari tadi memang sudah mencurigakan menurut mata yang melihatnya. "Abang, sepertinya kita diikuti." ucap aluna yang sudah menyadari keanehan dari mobil belakang mereka.
Aksa melirik kebelakang melewati kaca spion. "Pegangan yang kuat lun, abang akan mengebut dan membuat mereka kehilangan kita."
Aluna langsung mengeratkan pegangan setelah abangnya menancap gas untuk menjauhi mobil tersebut. Aluna sedikit berteriak lalu ia meremas kursi belakang pengemudi yang ada kantongnya, dan ia juga bisa merasakan digenggamannya ada benda kecil persis alat perekam suara. alat itu sudah tidak berbentuk akibat tangannya.
"Abang, sepertinya pembicaraan kita didengari oleh orang lain. Buktinya ada alat kecil ini." Aksa langsung mengumpat, "Sia*. Ternyata sedari tadi kita bicara ada yang mendengarnya?"
---Bersambung---
Jangan lupa like dan mampir kecerita lainku.
Terima kasih..
__ADS_1