
---Happy Reading---
Sesampai diacara gedung, aluna masih menghela nafas karena ia hari ini sedikit gugup. Kemudian Val, yang sudah keluar mobil dengan gentlenya ia membukakan pintu penumpang untuk aluna seorang dan luna terssenyum melihat itu serasa ia merasakan kehadiran adam disekitarnya.
"Terima kasih."
"Sama sama tuan putri, ah iya tanganmu, pegang saja lengan kiriku agar kamu tidak merasa gugup lagi, soal adam yang cemburu biar itu urusanku nantinya." ujarnya dengan snatai, membuat luna ragu namun tangannya sudah ditahan dan ditaruhnya dilengan kiri val.
"Tidak usah takut, adam pasti akan mengerti gadisnya ini sangat gugup." aluna tersenyum manis merasa adam kedua ada dihadapannya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dan mencari dimana posisi keempat temannya itu dan ternyata abangnya sudah melambaikan tangan kearah mereka berdua.
Dengan langkah anggun aluna langsung menghampiri abangnya begitupun dengan val yang sudah tersenyum kepada aksa. Aksa bingung seperti pernah melihat disuatu tempat. "Siapa ya? Seperti kenal."
"Kau benar benar jahat aksa, masa teman sendiri lupa? Aku Val, Revaldo sepupu adam. Dan hari ini aku yang menemani adikmu menggantikan adam yang tengah sibuk dengan pekerjaannya."
"Ah, val, apa kabar? Kau sedikit berubah."
"Tentu saja, kita juga bertemu terakhir saat kau mengunjungi adam pertama kali, dan kedua kalinya aku hanya membantu saat adikmu diincar."
Aksa mengangguk, "ya, pantas saja dari kejauhan kenapa aku sangat merasa tidak asing dengan pria disamping adikku ini, ternyata kau."
Val mengangguk, "tentu saja ini diriku, memang siapa lagi yang diperbolehkan oleh adam untuk mendekati aluna seorang?"
Aksa tertawa. "Yaya, aku juga tau itu bagaimana sikap adam yang posesif itu kepada adikku." ujarnya lalu percakapan mereka berhenti setelah mendengar deheman dari arah samping aksa, yang tak lain rizka yang baru saja datang bersama sahabat lainnya. "Rizka! Kau sungguh menawan hari ini, berbeda dengan hari biasa."
Rizka tersenyum, "tentu saja ini kan hari spesial untuk designer seperti kita. Dan hari ini kau juga sangat memukau lun, cantik seperti biasanya."
"haha, bisa saja kamu. Hai citra, apa kabar?" tanya luna kepada citra yang sedari tadi mengunyah kue mini, disamping rizka sedari tadi. "Baik, snagat baik, dan saat ini diriku sedang mood yang cukup buruk karena wanita wanita didalam sana yang mengatakan diriku hamil diluar nikah. Enak saja mereka mengatakan itu kepadaku, tidak tau saja diriku sudah laku memangnya mereka yang bergaya seperti murahan."
Aluna meringis, "tenanglah, dan jangan memikirkan perkataan mereka ini hidupmu dan hidupmu hanya diketahui oleh suamimu dan tuhan saja bukan mereka."
Citra mengangguk tanda setuju tapi tetap saja ia tidak bisa menghilangkan rasa kesalnya dalam hatinya yang tadi baik baik saja dan sekarang buruk karena ucapan orang gila didalam sana.
"Yasudah lebih baik kita segera kedalam, karena acara sebentar lagi akan segera dimulai." ajak rizka lalu merangkul lengan aksa dengan cepat aluna yang melihat itu merasa senang dan bertanya tanya apakah abangnya sudah melamar rizka atau belum?
"Ayo, val." ajaknya dengan menggandengnya dengan erat karena saat ia masih berada dilobby sudah mendapatkan tatapan dari berbagai mata dan ia semakin gugup jika ia dilihat seperti itu didalam gedung nanti. Val menepuk tangan kananya dengan lembut dan pela, "tenanglah, ada aku dan abangmu disini. Kamu akan baik baik saja."
"Terima kasih sudah menemaniku dan menggantikannya." balas luna dengan berbisik kearah telinga kiri val, Valpun mengangguk dengan senyuman manis. "Ya, sama sama."
__ADS_1
❣❣
Acara sudah segera dimulai, tiba tiba ada dua gadis yang tak lain laura dan jenny. Mereka menatap aluna dengan tatapan rendahan, "ck, ternyata ada yang lebih murah dari permen ya?" kata laura kepada jenny namun matany mengarah kealuna.
Val mendengar itu tersenyum licik, "ck, ternyata ada yang lebih serem dari setan ya?" tanya val sengaja kearah stefan yang tiba tiba berada disampingnya. Stefanpun ikutan menyeringai menatap kedua perempuan yang salah satunya pernah menjadi mainannya.
"Ya, kau tau sendiri val. Mereka bilang ada yang murah tapi bukan permen, tapi sepertinya mereka mengatai diri mereka sendiri. Ada yang murah tapi bukan luna." balasnya membuat raut wajah laura dan jenny sama sama memerah dengan alasan yang berbeda.
"Aluna mahal, saking mahalnya gak ada harganya. Mereka murahan karena ada harganya dibalik tubuh mereka." saut citra dengan perut yang sudah mulai terlihat lalu dengan mesranya ia memeluk pinggang stefan didepan jenny.
"Sayang, jangan begitu dong.. aku gak mau bayi kita mendengar kalimat seperti itu." ujar stefan kepada citra, citrapun dengan wajah manisnya menatap stefan, "iya sayangku, gak lagi deh."
Lalu matanya menatap dua perempuan dihadapannya itu. "Kalian ngapain muncul dihadapan sahabatku? Ingin mempermalukannya dihadapan semua orang atau ingin mempermalukan diri sendiri?"
"Kau?!" geram laura sedangkan jenny memalingkan pandangan saat mantan pacarnya bermesraan dengan seorang gadis yang tak lain istri cowo itu.
"Ada apa ini?" tanya aksa yang tiba tiba datang dengan tangannya yang masih terpaut oleh jemari lentik rizka.
"Abang, mereka mengganggu adik kesayanganmu lagi." adu citra dengan posisi kepalana yang masih berada di bahu kanan suaminya.
Aksa berjalan mendekat kearah adiknya yang masih stay berdiri disamping Val. "Mereka mengatakan apa kepada adikku?"
"Kalian iri? Jika iri bilang! Tidak perlu menyindir seperti wanita murahan mengerti?"
"Bang, mereka memang murah. Tubuh mereka aja dijual sampai puluhan juta di kota sebrang." jawab citra yang memang tau asal beluknya dua orang dihadapannya ini.
"Hah? Benarkah? Segitu frustasinya kah kalian mencari uang? Tidak ada yang lebih baik lagi selain itu?"
"ck. Benar benar murah, ayo kita pergi dari sini tempat ini sudah kotor oleh mereka berdua." ajak aksa sembari menggandeng gadisnya dan menarik pelan lengan adiknya diikuti sama val serta sepasang suamu istri tersebut.
Kecuali karel, ia tidak ada didekat mereka semua karena ia sedang berdiri dipojokkan ruangan yang tak dapat cahaya lampu dan berdiri disamping gadis yang bernama Avara yang selama ini sudah menjadi tunangannya karena perjodohan konyol itu.
"Rel, apa kamu gak mau berjalan ketengah?" tanya ava pelan dengan menyentuh sedikit lengan kanan karel.
Karel yang tidak suka dipegang oleh gadis manapun langsung menyentak tangan ava, "jangan sentuh! Aku tidak suka, jika kau ingin kesana pergilah."
Tolak karel mentah mentah membuat ava terdiam dan menahan tangisnya karena ia merasakan ada sebuah batu besar menghantam dadanya dan terasa sangat sesak.
__ADS_1
"Hei karel! Ternyata kau disini, aku mencari carimu dengan bertanya kepada stefan dan dia bilang kau belum datang."
"Oh hei gab, aku baru saja datang dan belum bertemu dengan mereka. Dimana mereka semua?" tanyanya dengan bohong sedangkan ava yang tau itu hanya diam.
Gabrey yang ditanya langsung menunjuk kearah dimana luna berdiri, "disana bro! Aluna sangat menawan malam ini bro! Dan sepertinya kau sudah telat untuk mengatakan cinta kepada luna, karena aku dengar ia sudah punya tunangan namun yang ia ajak kemari bukan tunagannya melainkan sepupu tunangannya itu. Semangat bro!"
Karel mendengar aluna mengajak orang lain bukan tunangannya pun langsung melangkah mendekat kearah luna dan benar kata Gabrey, luna, gadis itu malam ini sangat menawan dan sangat cantik.
Baru tiga langkah untuk mendekati luna, lagi lagi lengannya ditahan oleh ava. Namun lengan ava juga dicekal oleh gabrey.
"Kumohon hari ini saja, temani diriku disini." pinta ava dengan lembut dan tanda memohon. Karel yang melihat itu langsung menghempaskan lengannya dari tangan ava lalu mendekat kearah luna dengan senyuman manisnya.
Ava terdiam, baru saja ia ingin menyusul lagi lagi lengannya ditahan oleh gabrey, "lepaskan gab, aku ingin menyusulnya."
"Tidak perlu, kau disini saja bersamaku."
"Tidak, aku ingin karel terus menerus bersamaku, dan aku tidak ingin gadis itu yang mendapatkan hati karel lagi dan lagi." jawab ava lalu menghempaskan lengan gab dengan kasar lalu melangkah mendekat saat itu ia mendapatkan tatapan tak suka dari karel dan tatapan bingung dari yang lain.
"Hai? Apa aku boleh bergabung?" tanyanya dengan pelan. Semua menatapnya termasuk karel yang sedang tertawa karena pembicaraan konyol dari sahabatnya.
Aluna melirik karel sebentar lalu mengangguk dengan senyuman manis, "tentu saja, kamu kan gadisnya karel bukan?" ramah luna, karel mendengarnya mendelik. "Dia bukan gadisku." jawabnya membuat mata aluna menatapnya. "Lalu siapa?"
"Mainanku." jujurnya yang langsung dihadiahi tampolan oleh tiga sahabatnya termasuk luna. "Jahat banget kamu, gadis cantik kayak dia dimainin."
"Cantikkan kamu lun, dari yang lain." jawabnya. Val dan aksa langsung berdeham keras. "Ehem, disini masih ada orang." ujar Val dengan senyuman jangan lupakan dengan lesung pipinya. Karel menganggukkan kepalanya, "tentu saja ada orang aku tidak buta." balasnya membuat val mendelik kesal, 'sepertinya pria ini yang diberi tahu oleh adam waktu itu, pria yang jatuh cinta kepada gadisnya.'
"Aluna, apa kamu mau berdansa denganku, malam ini?" tanya lantang karel dihadapan semua orang. Val mendengus kesal. "Hey bro, dia sudah pasangannya yaitu diriku. Kau tidak bisa merebutnya malam ini, jadi jangan main main."
Setelah berbicara seperti itu val langsung menarik luna menjauh dari karel, karel yang mendapatkan jawaban seperti itu langsung berbalik badan meninggalkan temannya serta ava, gadis yang selalu mengikutinya terus menerus.
"Ada apa dengan karel sebenarnya?" tanya rizka kepada yang lain, stefan hanya bisa mengambil nafas. "Pria itu ingin merebut luna dari pasangannya."
"Karel masih jatuh cinta dengan luna? Selama dua tahun?" tanya rizka yang langsung diangguki oleh stefan. Aksa hanya diam menatap punggung adiknya yang dibawa jauh dari karel sahabat sekaligus pria yang suka kepada adiknya.
'Jadi dia yang dimaksud luna dua tahun yang lalu?' batin aksa.
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa like ceritanya dan mampir kerceritaku yang lain
Terima kasih.