
Ardiansyah terdiam sejenak mendengar bentakan Ara.
Iya, aku ini kenapa?, kenapa aku marah hanya mendengar Bianca dan Azura ke Jogja bersama brothy???
Ya Tuhan...ada apa denganku saat ini.
" Beb...., maafkan aku" Suara Ardi terdengar lirih.
" Iya...., sebenarnya kau kenapa bang..., kenapa marah begitu?" Tanya Ara lagi.
" Nggak tau beb..., aku juga heran kenapa tiba-tiba pengenan marah begini..." Ucap Ardi.
Setelah mereka bercakap-cakap yang lumayan lama akhinya mereka pun menyudahi obrolan mereka. Rangga yg menunggui mereka ngobrol sampai tertidur di pangkuannya Ara.
" Kak..pindah ke kamar yuk..." Ara menepuk-nepuk pipi Rangga untuk membangunkanya.
Karena Ara tak tega melihat Rangga yg meringkuk di sofa yang lebih pendek dari tubuh Rangga yang panjang.
*
Sore Hari
" Nty Ala...nty Ala...Bianta puyang ini..." Teriak Bianca melintasi ruang TV dan langsung menuju taman belakang, biasanya sore gini Ara disana untuk menyiram tanaman.
" Hei sayang..udah pulang..." Ara segera memutar kran air untuk menutupnya.
Rangga yg ada di sebelah Ara segera meraih Bianca ke gendongannya. Rangga mengangkat tubuh Bianca lebih tinggi dan tinggi lagi.
" Holeee....tinggi lagi om...lagi..lagi..." Bianca sangat suka diangkat tinggi-tinggi oleh Rangga.
Azura mendorong kopernya ke dalam kamar. Sedangkan Brian langsung ke atas.
Terlihat kecanggungan diantara mereka.
Ara yang menyadari itu sedikit heran, tapi dasarnya Ara itu cuek ya..angin lalu saja baginya.
Setelah bersih-bersih, ternyata Bianca justru tertidur, mungkin hawa capek dijalan.
Azura membantu Ara menyiapkan makan malam.
" Apa kabar kakek Zu..." Tanya Ara pada Azura.
" Alhamdulillah baik, sehat, tapi biasalah kakek makan suka nabrak pantangan, jadi kolesterol nya sempet naik kemaren.."
"Oh ya Zu.., maaf sebelumnya nih, apa ku nggak bilang sama bang Ardi kalo mau ke Jogja bawa Bian?" Tanya Ara.
" Udah sih.., tapi mas Ardi nggak ngangkat telpon aku, kenapa emang?, mas Ardi marah ya?" Tanya Azura takut-takut.
" Iya, tapi aku paham maksudnya sih..., karena orang yg melakukan penyerangan pada kakakmu masih berkeliaran diluar, mungkin bang Ardi takut Bian kenapa-napa, maaf ya Zu..kau tau maksudnku kan Zu..." Ucap Ara.
Saat Azura baru akan membuka mulutnya, sebuah suara mengagetkan mereka.
" Tapi kan perginya sama brothy, princess bilang lah sama Ardi nggak usah telalu cemas seperti itu.." Brian menyambar obrolan mereka dan ikut memasuki dapur.
Dengan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, Brian ikut mengeksekusi dapur.
" Jadi malam ini ke rumah orang tua kak Vino brothy?" Tanya Ara pada Brian.
" Nggak jadi, besok malam aja, mereka masih ujian kan?, biarlah Vino fokus dulu.." Jawab Brian dengan bijaksana.
" Ini mau di panggang atau gimana?" Tanyanya saat selesai membaluri ayam dengan bumbu marinasi pada Azura.
Azura yg ditanya diam saja dan malah berpindah ke sisi Ara.
__ADS_1
Ara melihat gelagat aneh ini, tapi Ara hanya sekedar berpikir, mungkin Azura sedikit malu pada brothy.
Malu?, masa sih?, biasanya nggak gini deh.
Ara melirik Brian yang berulangkali terlihat mencuri- curi pandang pada Azura.
Sedangkan Azura terus saja menunduk, menyembunyikan wajahnya, walau sudah tersembunyi juga dari cadarnya.
Adnan dan Hana segera meluncur kerumah Syakieb saat dikabari bahwa Bianca sudah pulang. Jujur mereka juga sangat kangen bocah gembul itu.
" Mbul....gembul" Teriak Adnan memanggil Bianca saat memasuki rumah.
Karena tidak biasanya gadis mungil itu tidak menyambut tamu.
"Ssstttt..., Jangan berisik dong bang, Bianca udah tidur..., cape kali..." Ucap Ara dengan menaruh telunjuk di bibirnya.
Adnan segera meraih adik tersayang nya dan di ciuminya dengan gemas.
" Apa kabarmu sayang..." Tanyanya dengan lembut.
" Seperti yang terlihat.." Ara meraba semua tubuhnya dari kepala sampai kaki.
" Sehat wal afiat, Alhamdulilah..., kenapa??" Tanya Ara saat melihat mata Adnan yg sedikit berkaca-kaca.
"Sini..., abang kangen banget sama kamu mut.." Adnan meraih pundak Ara dan memeluknya.
Adiknya, boneka kecilnya.., kini sudah menjadi gadis dewasa yang harus bertanggungjawab pada suaminya.
Padahal biasanya keperluanya saja masih suka resek minta bantuan seluruh anggota keluarga.
Adnan menatap pada mata Ara dengan tatapan menyelidik.
" Apa kau bahagia dengannya?"
" He emm.." Jawab Ara dengan kepala mengangguk.
" Bahagia itu disini bang, nyaman itu juga disini, tenang juga disini, kepuasan juga ada disini, tak ada yg bisa menunjukkan buktinya, karena hanya bisa dirasakan..., Lili yakin dengan pilihan Lili, dan Lili akan bertanggungjawab untuk itu..." Ara menunjuk dadanya untuk meyakinkan pada Adnan.
" Baiklah sayang..., teruslah bahagia..."
Rangga yang berada di samping guci besar tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka, kembali mundur tidak jadi mendekati mereka.
Kakinya melangkah kembali ke kamar Ara.
Rangga mendudukan tubuhnya di meja belajar. Tanganya meraih album foto yang menarik perhatiannya.
Dibukanya lebar perlembar foto itu, foto yang berisi tentang kepindahan mereka dirumah baru..., dalam sebuah foto nampak Ara dan Ardi kecil bersama dua anak laki-laki yang dikenalinya sebagai kak Bagas dan Hanan.
" Mereka sudah mengenal selama ini.., kak Bagas, aku tidak pernah tau kalau kau tertarik juga dengan istriku.." Gumamnya.
Aku harus menyelesaikan masalahku sebelum keberangkatanku ke Boston.
Semua harus beres, dan aku tak mau dikejar-kejar ketakutan seperti ini.
Bu Sasti, aku harus menemuinya untuk menjernihkan masalah ini..
" Kak semua udah kumpul di meja makan, ayo turun.." Ara menarik tangan Rangga.
" Ayo..." Rangga merangkul Ara dan merekapun melangkah ke luar kamar.
" Ssshhhh aduh.., perutku..." Rintih Ara saat kakinya hendak menuruni tangga.
" Kenapa sayang?, sakit perut?, kenapa?" Rangga ngilu melihat Ara yang terus saja *******-***** perut nya.
__ADS_1
" Iya nih.., nyeri banget..."
" Trus masih bisa jalan nggak nih, mau makan dikamar aja atau gimana?"
" Di bawah aja, Anca mau video call, malam ini..." Keringat dingin telah merembes dari sela- sela rambut Ara.
Rangga kebingungan melihatnya, dia meraih ponsel di saku celananya.
" Mau apa?, mau telpon siapa?" Tanya Ara.
" Telpon ambulans..." Jawab Rangga panik.
" Ha..ha.." Ara tertawa disela rasa mulas yang luar biasa.
" Bakalan viral nanti, orang cuma nyeri haid aja harus dijemput sama Ambulans ha..ha.., kakak ini ada-ada aja.." Ara mengusap sudut matanya yg basah karena terlalu banyak tertawa, disaat perutnya sedang sangat bergejolak luar biasa.
Rangga berusaha mengingat-ingat tanggal ini, dan segera mengangguk paham.
" Ya sudah ayok sayang sini gendong belakang sini" Rangga merendahkan tubuhnya agar Ara bisa naik ke punggungnya.
Arapun menurut saja, Rangga menuruni tangga dengan sangat hati-hati.
" Wah..wah.., pengantin baru gendongan mulu..cuy.." Brian menabok lengan Ara.
" Sakit brothy!!, jahat banget sih!!"
" Mana ada sakit, lebay banget!!, palingan ngadu tuh sama Rangga..." Ledek Brian.
" Ya iya lah, ayo kak tabok brothy!!!, sakit banget ini loh..." Ara benar-benar mengadu pada Rangga setelah dia didudukan dikursinya.
Rangga hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lantas menuju dapur.
" Bi...jahe dimana?" Tanya Rangga saat berada di dapur.
" Mau buat apa den, biar bibi yang buatin"
" Rangga mau buat wedang jahe buat Lili bi..., nyeri haid dia.." Ucap Rangga dengan tangan yg sibuk mengobrak-abrik tempat bumbu.
" Kakak balurin perut Lili pakai minyak kayu putih dulu, biar Zura yang bikin.." Kata Azura yang mendengar percakapan bibi dan Rangga.
" Apa tidak merepotkan mu Zu...?" Tanya Rangga.
" Nggak, ini sekalian mau bikin susu Bian juga..." Jawab Azura tegas.
Baginya sangat membahagiakan bisa membantu di keluarga ini. Karena ucapan terimakasih saja tak cukup untuk menebus semua kebaikan yang telah mereka berikan padanya dan pada Bianca.
Selama ini tak ada yang perduli dengan kelangsungan kehidupannya dan Bianca, diluar sana. Mau sudah makan, atau belum tak ada yang peduli.
Mau kepanasan atau kehujanan tak ada yang empati.
Bahkan mau hidup atau mati tak akan ada yg mencari.
Tapi tak semua begitu, karena masih ada satu yang peduli..dan satu-satunya kala itu.
Ya, hanya satu yang perduli, dan itu adalah keluarga Alexis, keluarga pendeta Alexis Mahardika.
Drrrttt...Drrtttt...drrttt..
Ponsel Adnan bergetar di atas meja makan.
Panggilan video call dari Ardi tertulis disana.
Melihat suaminya sedang mengunyah makanan, Hana segera mengangkat nya.
__ADS_1
" Hai Assalamu'alaikum, petinju kitah!!!, apa kabar adik ipar kuh???" Sapa Hana.
Bersambung....