Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ardi???


__ADS_3

Ardi merasa ada yang membuntutinya saat motor yang dikendarai nya mulai berjalan ke arah cafe Nathaniel.


Firasatnya tidak enak, berulang kali Ardi mengintip spionnya. Dan mendapati mobil yang sama ada dibelakanya dengan jarak stabil.


Ardi menggendikkan bahunya cuek, barangkali ya mobil itu memang satu arah dengannya.


Sesampai di cafe Nathaniel, Ardi langsung masuk ke lorong dapur seperti biasa.


" Hai Ardi.." Sapa Uzma, teman Azura.


" Hai Uzma..., gue tunggu Zura disini boleh ya..." Ucap Ardi sambil duduk di depan dapur yang menghadap ke taman.


" Tentu saja boleh, biasanya juga bang Brian nunggu di situ, oh ya mau minum apa?" Tanya Uzma sebelum masuk.


" Apa aja yang dingin boleh..." Jawab Ardi ramah.


" Oke, gue tinggal dulu ya.."


Ardi mengangguk dan tersenyum ramah.



Uzma terperangah tak percaya, dalam hati dia heran, keluarga angkat Azura ini makan apa ya?, semuanya tampan dan senyumnya manis-manis...


Uzma berjalan mendekati Nathaniel yang sedang sibuk memantau para pelayan yang sedang mempersiapkan hidangan penutup.


Dari wajah para undangan nampak puas dengan layanan dan juga rasa hidangan dari cafe ini. Begitu juga beliau yang memilih mengadakan acara di cafe ini.


" Mas Nathan, ada lihat Zura?" Tanya Uzma pada Nathaniel.


" Zura? Tadi di balkon ada tamu yang bawa bayi terus menangis, Zura coba bantu diemin..., Azura itu keibuan banget ya Uz..." Nathaniel berbicara dengan tatapan lurus kedepan.


" Iya mas, beruntung yang bisa memperistri dia, mandiri dan bertanggungjawab"


" Plus pandai ngerawat anak" Sahut Nathaniel cepat.


" Nah tuh dia.." Nathaniel menunjuk pada Azura yang kini melangkah menuju dapur dengan nampan yang berisi gelas-gelas kosong.


Azura melebarkan matanya, seolah bertanya ada apa pada kedua temanya yang tengah menatapnya di depan pintu dapur.


Uzma melambaikan tangannya cepat agar Azura mendekat. Sementara Nathaniel memenuhi panggilan salah satu konsumen.


" Ada apa Uz..?"


" Itu di belakang ada mas Ardi, coba buatin minum dulu. Masih 30 menit lagi dia nunggu kan..." Ucap Uzma mengambil alih nampan dari tangan Azura.


Azura segera membuat minuman kesukaan Ardi, dan menambahkan beberapa potong kue pada piring kecil.


Azura melangkah menuju pintu luar dapur.


" Mas, udah lama?"


" Ahh, baru kok... " Ucap Ardi canggung. Gara-gara mendengar suara Ara, Ardi jadi panas dingin saat melihat Azura menatapnya.


" Mas pindah kesana yuk..." Tunjuk Azura pada meja cafe yang kosong di ujung ruangan.


" Emmm, ahhh, emmm disini aja deh adem.." Ardi menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.


Azura melihat satu kantung teronggok di dekat kursi Ardi, dan Azura dapat langsung melihat isi dari bungkusan itu.


" Astaghfirullahalazim!!, maaf mas Zura lupa beli stock susu Bian" Azura menepuk jidatnya dengan keras.


"Hei...hei...kenapa dipukul begitu Zu, kan sakit??" Ardi terkejut dan langsung menyambar tangan Azura yang akan kembali mengetok keningnya sendiri.


Azura terkejut melihat Ardi memegang tanganya.


" Ma..maaf Zu...." Ardi langsung melepaskan begitu saja tangan Azura.


" Nggak papa mas, mas juga kan nggak sengaja.."


Sesaat pandangan mereka saling beradu, entah kenapa saat ini keduanya tak ada yang mau mengalah. Ke-duanya seolah tersedot masuk dalam mata lawanya masing-masing.


Mata Azura yang teduh, menenangkan hati Ardi yang bergejolak karena mendengar suara lucknut Ara beberapa waktu lalu.


Sedangkan Azura merasa tatapan mata Ardi sungguh nyaman, membuatnya damai dan merasa tentram disana. Tatapan Ardi dari awal pertemuan mereka mengisyaratkan mata seorang kesatria yang selalu menjadi pelindung yang bisa diandalkan.


" Ekhemm.." Deheman Nathaniel mengagetkan mereka berdua.


" Hai bro!, Gue Nathaniel Alexis Mahardika. Sahabatnya Azu..." Nathaniel menyodorkan tanganya pada Ardi.


" Oh Hai, Gue Ardi. Ardiansyah Syakieb Al Ghifari.., gue....emmm. Gue...."


" Mas Ardi ini yang adopsi Bianca Nath..." Sahut Azura cepat.


" Oh gitu, jadi pemuda dermawan itu elo, gue ucapin terimakasih banget, karena keluarga elo, sahabat tersayang gue ini akhirnya bisa hidup nyaman.... Sementara keadaan gue nggak memungkinkan untuk mampu membuatnya menjadi manusiawi "

__ADS_1


Nathaniel menerawang jauh ke masa lalu, saat dia merengek-rengek pada papanya untuk mau menampung Azura dalam rumah mereka.


Tapi rasanya tidak etis, mereka keluarga pendeta taat, masa iya punya anggota keluarga yang berhijab tertutup modelan Azura.


Ardi berusaha mereka-reka ucapan Nathaniel.


Sahabat tersayang?


Dia begitu menghawatirkan kenyamanan Azura pula?


Siapa dia ini?


" Okey ya udah Zu, kau bersiaplah. Para undangan juga mulai banyak yang pulang. Kasihan Bianca menunggu lama..."


"Oh...udah boleh pulang Nath..., wah asyik...Makasih Nanatku yang cakep ..hi..hi..hi.." Azura bergegas bangkit dan menuju ke ruangan lokernya.


Nanatku?


Cakep?


Iya emang cakep sih dia...


Tapi...


Nggak boleh!!!!. Gue jelas lebih cakep!!


" Silahkan diminum bro.." Nathaniel mengingatkan Ardi pada minuman yang dibuatkan Azura yang belum disentuhnya.


" Ah ya.., makasih bro"


Ardi menyeruputnya beberapa tegukan.


" Gue kedalam dulu ya bro.." Pamit Nathaniel saat beberapa karyawan membutuhkan tanda tangannya.


Ardi menganggukkan kepalanya santun.


" Nah ayo mas..." Azura sudah berganti baju dan bersiap pulang.


" Ya, ayo..." Ardi berdiri dari duduknya, dan meraih kantong belanjaannya.


Azura yang melihat gelas jus yang masih banyak isinya itu duduk kembali.


Ardi menatap heran gadis itu.


Belum juga hilang keheranannya, kini matanya terbelalak saat Azura meraih gelas jus dan menyingkap sedikit cadarnya dari bawah dan meminum jus ditangannya sampai habis.


" Iya Zu tahu..." Jawabnya santai. Setelah duduk sejenak untuk menurunkan minumanya Azurapun berdiri kembali.


" Silahkan mas..." Azura mempersilahkan Ardi untuk berjalan duluan. Dan seperti itulah selama ini. Azura selalu berjalan dibelakang Ardi.


Kantong belanjaan berada diantara mereka, sehingga tetap tidak ada kontak fisik antara mereka.


Motor berjalan dengan kecepatan rata-rata. Ardi sangat tahu, yang diboncengnya bukan Natasya yang suka ngebut ataupun Ara, bukan juga Vera yang suka main gas, tapi ini Azura.


Saat melintas tikungan depan stadion yang sedikit sepi, lagi-lagi Ardi melihat mobil yang membuntutinya tadi.


Ardi sedikit khawatir, karena ada Azura bersamanya. Diapun mulai waspada.


" Zu pegang jaketku, jalan depan sepi. Sering ada jambret, harus ngebut.." Bohong Ardi agar Azura menurut. Dan benar saja, Azura meremas ujung jaket Ardi untuk berpegangan saat Ardi menbah kecepatan.


Kecurigaan Ardi benar saat Ardi menambah kecepatan laju motornya, mobil itupun ikut melaju cepat. Dan...


Brakkkkkk!!!!


Mobil dengan cepat meliuk tiba-tiba dan menghadang motor Ardi hingga tabrakan tak dapat terhindarkan.


" Allah...." Teriak Azura yang jatuh terpental tak jauh dari Ardi.


Ardi segera bangkit dan berlari ke arah Azura.


"Zu ada yang sakit?" Ardi mencemaskan Azura padahal sendirinya terluka benturan pada kepalanya.


" Nggak, Zu nggak papa. Tapi kepala mas Ardi..."


" Aku nggak papa..." Ucap Ardi cepat.


Prok...prok...prok...


Tepuk tangan seseorang membuat Ardi dan Azura menoleh pada seorang preman bertato naga di seluruh tubuhnya.


" Hai..kita jumpa lagi ha...ha..ha.." Pemuda itu mendekati Ardi dan Azura, dibalik tubuhnya muncul Jessica yang tersenyum sinis.


" Lo udah bikin Muller adek gue di penjara, dan saatnya gue buat lo pergi ke neraka..." Pria bertato atau lebih tepatnya kakak pertama Jessica yang bernama Milano itu melambaikan tanganya agar Ardi berdiri.


Ardi segera membantu Azura berdiri dan menyembunyikan di balik tubuhnya.

__ADS_1


" Kau fikir aku tidak tahu, kau adik Linggar. Kau cantik juga. Bahkan aku tak mampu melupakan kecantikanmu malam itu sayang....Pasti kau akan sangat diminati banyak pelanggan kelas kakap, dan aku pastikan kau akan jadi pelacur nomor satu di Club Paradis kami gadis cantik...." Ucap Milano dengan menatap Azura mesum.


Azura semakin meremas jaket Ardi.


Dia jelas bukan seperti Ara yang pandai bela diri. Dia juga bukan Natasya yang punya kuku panjang untuk senjata. Azura hanya gadis biasa yang sederhana dan apa adanya.


Ardi sungguh geram mendengar omongan menjijikan Milano.


" Maju kalau berani, jangan banyak bacot lo!!" Tantang Ardi.


" Ha..ha..ha, dengan senang hati bocah!!"


"Hiyyahhhh" Ardi maju lebih dulu, mengayunkan tinjunya ke arah Milano. Dengan gesit Milano menghindar.


Bag..bug..bag..bug..


Mereka saling hantam dan saling tinju, saling tendang. Tak ada yang terlihat lengah, dua-duanya terlihat tangguh.


Bahkan Milano sedikit terkejut, dia mengira hanya teknik tinju saja yang akan digunakan Ardi. Ternyata Ardi juga bisa menendang dan menyerang dengan jurus-jurus. Jelas, Ardi bukan hanya petinju, tapi Ardi juga memiliki kemampuan bela diri tingkat tinggi.


Melihat kakaknya sedikit beberapa kali mendapatkan pukulan mematikan dari Milano, Jessica segera menghubungi anak buah genk preman mereka.


Tak berapa lama beberapa motor berdatangan ke lokasi mereka.


Lagi..., preman itu mengeroyok Ardi.


Tapi kali ini Ardi memperhitungkan semua dengan hati-hati. Fokusnya hanya pada Milano. Karena jika Milano terpukul mundur maka semua ini berakhir.


Milano sudah terlihat kualahan dan itu kesempatan bagus. Dengan menumpu satu kakinya Ardi melompat tinggi dan mengayunkan kaki kanan dan tinjunya berbarengan.


Duakkk, Bughhhh


Milano sontak terlempar dua langkah kebelakang dan terkapar. Saat Ardi kembali akan menendang suara Azura memekik membuatnya segera menoleh.


Lagi!!!


Bajingan brengsek itu menarik paksa punutup wajah Azura, dan tentu itu atas perintah Jessica.


" BANGSAT KAU!!!" Kali ini Ardi benar-benar tak bisa mentolerir ini, Ardi membantai semua dengan tinjunya yang brutal.


Ardi dengan cepat membuka jaketnya, tapi preman itu justru mencabik lengan atasnya dengan sebilah pisau.


" Mas Ardi..." Teriak Azura.


Jaket penuh dengan darah sekarang, dan Ardipun melemparkan begitu saja.


" Tidak , tidak!!! JANGAN!!!" Teriakan Azura sungguh menyedihkan saat seorang preman menarik jilbabnya dan tersingkap lah rambut Azura.


Jessica segera mengambil gambar Azura.


" BAJINGAAAAAANNN" Murka Ardi. Kakinya terayun sempurna menendang tangan Jessica dan terlemparlah ponsel yang sedang dipegangnya.


Ardi melepas kaosnya dan segera menutupi kepala Azura.


" Zu panggil brothy...." Bisik Ardi saat menyembunyikan Azura di balik punggungnya.


" Hiyyyahhhh" Ardi menerjang beberapa preman yang tersisa dengan menggila.


Dan akhirnya mereka terkapar juga.


Kini kakinya melangkah mendekati Jessica...


" Sini lo CEWEK ULAR!!! lo harus mampus di tangan gue...." kemarahan Ardi sudah pada batas level maksimal.


Ardi dengan sedikit berlari segera menyambar Jessica yang hendak berlari menuju mobilnya.


Ardi mencekik Jessica dengan penuh kemarahan.


" Lo udah berulang-ulang membuat adek gue menderita!!, lo udah buat keponakan gue tiada!!, lo brengsek yang biadap, mampus lo!!!"


Ardi semakin menguatkan cekikanya.


" Ekkkkkhhhh" Jessica semakin kesulitan bernafas...



Tepat saat Jessica merasa sudah tak mampu lagi bertahan, Milano mengendap-endap di belakang Ardi dan mengayunkan balok, tapi Azura dengan cepat berlari menjadi perisai Ardi.


Brughhh!!


Tubuh Azura roboh dengan darah segar merembes dari kepalanya. Tapi Milano rupanya tak berhenti sampai situ saja.


Dia masih juga mengayunkan baloknya dan...


Bughhhh!!!, Bughhhh!!!

__ADS_1


Milano membabi buta memukuli kepala Ardi yang saat ini menindih memeluk Azura, untuk melindungi gadis itu.


__ADS_2