
---Happy Reading---
"Jadi apa yang ingin kamu beritahukan kepada kami?" tanya kakek yang langsung menatap aksa dengan wajah serius membuat aksa sedikit ciut mendapatkan tatapan kakek Mika.
Sedikit berdeham ia langsung menundukkan wajahnya agar tidak bertatapan langsung dengan kakeknya itu. "Jadi, aksa mendapatkan info mengejutkan untuk semua. Yang menginginkan nyawa bunda adel adalah sahabat bunda sendiri yang bernama Nadin Iskandar dan Wenda Maudya. Nadin iskandar adalah wanita yang tak diundang tadi, yang sedang hamil namun tidak tau siapa ayah dari bayi itu sedangkan Wenda adalah ibu yang tidak dianggap oleh adam yang dimaksudkan adalah istri baru dari ayah adam." Jelas aksa membuat mika dan adam tidak tau harus berbicara apa tentang persahabatan bunda yang adam tau sangat ramah dan baik sekali terhadap bundanya tapi mengapa mereka membalasnya dengan hal keji seperti itu?
"Itu info pertamanya. Ada info keduanya, mengapa Nadin sangat membenci bunda adel karena kakek mika selalu terus terusan memikirkan dan mengkhawatirkan kondisi bunda dibandingkan dirinya yaa walaupun wanita itu sudah mengetahui bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari kakek. Tapi dirinya dendam karena kakek sudah membunuh ibunya dengan sadis maka dari itu ia membunuh bunda dengan sadis juga."
"Sedangkan wenda, ibu tirimu ini sebetulnya disuruh oleh nadin untuk menggoda suami bunda namun ia tolak tapi lagi lagi ia diancam begitupun dengan ayahmu, adam. Beliau diancam akan menyentuhmu dan orang yang disayangi olehmu jika beliau menolak, sedangkan ibu tirimu yang saat itu sudah memiliki seorang suami dan putra ia juga diancam akan mengakhiri hidup suaminya yang sedang sekarat. Tapi karena kondisi suaminya sudah sangat lemah mau tak mau ia menerima suruhan itu dan berhasil mendapati kabar bahwa bunda adel pergi meninggalkan ayahmu karena melihat sahabatnya dan suaminya sendiri menghianatinya dibelakang."
"Itulah info yang kudapatkan saat ini." lanjutnya setelah mengakhiri penjelasan yang cukup lebar menurutnya dan pas sekali ia mendengar ringtone hpnya menandakan ada seseorang yang menelpon nomornya.
"Tunggu sebentar aksa angkat teleponnya terlebih dahulu." ucapnya setelah diperbolehkan dengan yang lain aksa berdiri dan menjauh dari tempat ruangan kerja kakek mika.
"Halo ada apa?"
"Hei aksa, apa dirimu sedang berada dekat dengan adam?"
"Tidak kenapa gitu?"
"Tidak apa apa aku hanya ingin memastikan bahwa adam tidak mendengar diriku. Jangan sampai yang lain tau kalau diriku ikut campur.". Aksa diam tidak menjawab, pria yang disebrang mengernyit lalu tidak henti hentinya ia berbicara.
"Hei aksa mengapa kau diam? Apa.. Jangan bilang?! Kau?! Aishh!! Kenapa kau memberitahukan kepada mereka jika diriku ikut campur?"
Aksa meringis pelan lalu menggarukkan tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Maafkan aku, aku lupa bahwa kau pernah bilang jika ingin menjadi pahlawan kesiangan agar kau bisa mendapatkan imbalan dari adam."
"Tapi kenapa kau menelponku? Aku saat ini sedang menjelaskan informasi yang kau katakan kepadaku."
"Ah iya! Aku lupa.. Bahwa putri nadin sudah meninggal karena papiku yang menjualnya kepada preman preman, dan kau harus tau bahwa putrinya ini sangat mengenalmu ternyata. Dia juga bilang bahwa anak yang ia kandung adalah anakmu. Apa benar kau sudah tidak perjaka lagi sa? Kenapa kau sudah dewasa duluan dibandingkan denganku? Kau jahat sekali.."
"Hei! Bisa tidak kau biarkan diriku berbicara sebentar? Memangnya siapa putri wanita itu, sejauh ini aku masih perjaka, tidak mungkin diriku merawani gadis lain sebelum menikah bisa digantung diriku oleh papa."
"Kau sangat mengenalinya bro! Namanya Minara Flaresta. Dan umur kandungannya masih muda seminggu kalau tidak salah kata dokter. Untung saja diriku membawa dokter pribadi jadi tidak perlu kerumah sakit segala."
"Mina? Seperti pernah mendengarnya. Tapi aku lupa dengan itu, lalu bagaimana nasibnya?"
"Sudah meninggal. Tapi diriku meninggalkan mayatnya digedung terbengkalai persis dimana bunda adel terbunuh, lalu didatangkan oleh ibundanya persis adam yang datang saat itu. Jadi tugasku sudah kelar ya."
"Bagus.. Kau tidak meninggalkan tanda bukti atau jejak kan?"
"Tentu saja tidak, memangnya diriku bodoh apa seperti mu? Bye." tut.
Sambungan diputus secara sepihak, aksa langsung bergumam saat ingat bahwa Val mengatainya bodoh. "Ck. Padahal dia lebih bodoh dibandingkan diriku dan yang lain." gumamnya lalu ia langsung masuk kembali kedalam ruangan kerja kakeknya dengan helaan nafas lelah.
Dinegara lain, kedua sahabat luna yang sudah tidak mendapatkan kabar dari luna sekitar seminggu yang lalu citra dan rizka mendapatkan kabar bahwa luna saat ini sedang berada diluar negeri ikut dengan kedua orang tuanya begitupun dengan abangnya yang juga harus datang kesana, kemungkinan mama papanya tidak mungkin meninggalkan luna sendiri dirumah namun sampai sekarang mereka belum mendapatkan kabar apapun dari luna.
__ADS_1
Rizka berulang kali mengirim pesan kepada luna begitupun juga dengan citra yang ingin memberitahukan kabar bahagia. Rizka menghela nafas karena lelah menghubungi aluna yang tidak dapat balasan apapun. "Aluna kemana sih? Aku merasa ada sesuatu hal akan ada yang terjadi kepadanya."
"Tenanglah, luna pasti akan baik baik saja asal ia berada didekat abang aksa dan pria itu." ujar citra. Rizka pun mengangguk dan berharap luna dan keluarganya baik baik saja. Tak lama Karel dan Stefan datang dan langsung karel bertanya kabar luna. "Apa sudah dapat kabar dari luna?" tanyanya. Yang langsung dibalas gelengan kepala oleh kedua gadis itu ah satu lagi bukan gadis sepertinya.
"Sebenarnya pergi kemana luna sampai seminggu ini tidak ada kabar, rasanya aku memiliki feeling buruk bahwa akan ada sesuatu yang terjadi kepada keluarganya luna. Dan semoga saja itu tidak akan terjadi." ucap karel membuat rizka yang sedang menenangkan diri tidak bisa menahannya lagi.
'Ah! Aku tidak bisa menahan diri seperti ini, aku harus menghubungi aksa sekarang juga.' pikir rizka yang langsung menghubungi nomor aksa yang tak lain abangnya aluna sahabatnya. "Kau menghubungi siapa?" tanya citra yang sedikit melihat nama yang tak asing dimatanya namun ini ada tanda love disamping nama itu.
"Kepo!"
"Aish! Jangan bilang kau sedang pedekate dengan abang aksa?" tebak stefan yang memang tak sengaja melihat nama yang di pencet oleh rizka. Rizka diam tak lama pipinya memerah, Citra langsung membuka mulutnya selebar mungkin seakan gravitasi menariknya kebawah. "Tidak mungkin! Jangan jangan cowo yang selalu kau ceritakan itu adalah abang aksa?" tanya citra yang langsung dibalas deheman karena tidak bisa membalasnya dengan kata.
"Hem."
"Wah! Hebat sekali kau, abang sahabatmu sendiri diembat." komentar citra yang masih tidak percaya dengan kedekatan rizka dengan aksa abangnya luna. "Bukan diriku yang mendekat lebih dulu." balas rizka yang sudah kesal karena aksa pun tidak menjawab atau mengangkat nomornya yang sejak tadi terus menerus menghubunginya.
"ARGH!! Sebenarnya mereka kemana sih?"
"Memangnya apa yang kau mimpikan tentang luna?"
"Aku melihatnya yang terikat dikursi dan berteriak meminta tolong sembari menangis, dan itu sangat menyakitkan bagiku yang hanya bisa melihat dan tak bisa membantu."
"Tapi itu hanya mimpi riz, berdoalah semoga mimpi burukmu tidak pernah terjadi." saran citra, namun dilain pikiran. Citra tau bahwa setiap mimpi buruk rizka selalu terjadi dan ia didalam hati berdoa untuk keselamatan aluna, sahabatnya yang entah sedang berada dimana saat ini.
❣❣
"ALUNA!!"
"Alunaa!! Kamu dimana sayang?!"
"ALUNAA!!! teriak mama anzel dengan panik, setelah melihat kamar putrinya berada semua barang sudah berantakkan dan sedikit jejak darah didekat pintu kamar mandi. Alex yang mendengar suara teriakkan anzel langsung menghampiri anzel yang sudah menangis didepan kamar putrinya yang sangat berantakkan itu.
"Ada apa anzel? Dimana aluna?"
"Aluna ayahh! Aluna tidak ada dikamarnya, dan banyak sekali tetesan darah dekat kamar mandi." Ujarnya sambil menangis histeris, alexpun langsung mengabari aksa dan adam untuk segera kerumah sebrang karena luna menghilang.
"MAMA?!" panggil aksa dengan khawatir lalu memeluk tubuh mungil mamanya agar sedikit tenang. "Tenang ya ma, aksa akan mencari keberadaan aluna." Adam yang langsung mencari sesuatu yang mungkin saja ada petunjuk dari aluna. Namun adam hanya menemukan hape luna yang berada dilemari dekat wastafel kamar mandi, disitu ia melihat ketikkan luna yang bertujuan dengan kasus bunda.
Gedung tua, Nadin, dan taman anggrek? Adam berpikir sebentar lalu ia langsung mengerti apa yang dimaksud dengan aluna. Lalu ia melihat ada suara rekaman dinotes tersebut, adam pun langsung mendengarkannya.
"Disini kamarnya?" tanya seorang wanita asing.
"Iya nyonya, ibunya sedang berada diruang keluarga bersama kakeknya."
"Bagus juga kerjamu, ayo kita bawa dia." ujarnya lalu ia memasuki kamar aluna namun tidak ada tanda penghuni.
__ADS_1
"Baik nyonya.."
"Dimana dia?" tanya seorang wanita dengan amarah yang tertahan. "Mungkin saja didalam kamar mandi nyonya."
Wanita itu langsung mendobrakkan pintu kamar mandi membuat aluna terkejut dan untungnya ia cukup merasa pintar menyembunyikan alat perekam suara dibelakang pintu kamarnya dan hapenya yang berada didalam lemari wastafel. "Hei gadis kecil apa kau ada didalam?"
"HUA!! Kalian siapa?" tanya aluna yang seperti sudah siap untuk diculik.
"Kau? Kau sahabat bunda bukan? Untuk apa kau kemari?" tanyanya lagi yang sudah tidak merasa asing dengan wajah wanita didepannya.
"Tentu saja untuk membalas dendam nyawa putriku? Dan ya, kau benar aku adalah nadin sahabat adel bundamu."
"Kau wanita tidak tau diri itu bukan? Yang disebutkan oleh kakek mika." Nadin berdecak. "Untuk apa kau menyebutkan nama pria tua itu yang sudah membunuh ibuku sendiri? Ayo kau ikut kami segera!" ujarnya sembari menarik kasar lengan aluna sampai berbunyi tek.
"Aw sakit lepaskan! MAMA!! TOLONG!!"
"Percuma sayang, mama tidak akan mendengarkan karena diminuman yang mereka minum sudah diobati agar mereka tidak mendengar teriakanmu."
"Dasar kau wanita murahan!"
PLAK!
"DIAMLAH!"
"Kau akan menyesali ini nadin..."
"Sialan kau nadin! Beraninya kau menculik putriku." Ujar mama yang tiba tiba berubah menjadi kasar.
"Tenanglah ma, kita akan menangkapnya sebentar lagi."
Anzel mengangguk lalu membuang minuman yang ia minum tadi bersama ayah alex. "Ini semua karena minuman ini, karena obat sial itu ada didalam aku jadi tidak bisa mendengar teriakan putriku."
"Oh, jack. Mengirim pesan kepadaku, taman anggrek didepan gedung terbengkalai yang sangat tua. Dan mungkin saja mereka disana, adam, aksa, dan papa ranz yang akan kesana."
"Tidak, biar papa disini saja bersama mama dan kakek alex, biar kakek mika ikut kami berdua. Karena ini semua berawal dari kakek mika, kakek mika siap bertempur?"
"Tentu saja, kakek selalu siap, untuk menolong calon menantu cucu kesayangan kakek." ujarnya membuat aksa tersenyum begitupula dengan adam yang sangat senang jika hubungannya dengan luna sudah direstui oleh banyak orang.
"Kalian berhati hatilah, selamatkan adikmu tanpa luka dalam begitupun kalian, mengerti?" tanya mama anzel yang langsung diangguki oleh dua pria muda itu sedangkan kakek sudah siap didepan memanggil semua bawahan setianya yang akan menemaninya ikut tempur.
---Bersambung---
Jangan lupa like ceritaku dan mampir kecerita yang lain.
Terima kasih.
__ADS_1