Childhood Love Story

Childhood Love Story
Peranan Lenox


__ADS_3

" Ular...Ular...Ular " teriak para siswa saling berhamburan meninggalkan lapangan, kocar-kacir mereka berlari. Keadaan lapangan hiruk-pikuk tak terkendali.


Dua ekor ular dengan kepala mirip sendok berada di dalam kotak persegi yang terbuat dari kaca, lidahnya yang panjang bercabang sesekali menjulur-julur membuat siapapun yang melihatnya berasa geli, panas dingin dan meremang.


Lenox berlari mendekati Hanan yang kini tengah memangku kepala Ara.


Sementara Melloda yang syok hanya terpaku dengan kamera ponsel yang menyala.


Yuda berlari kesana kemari mencari keberadaan Bapak Kepala Sekolah yang saat ini sedang memancing bersama beberapa guru lainya.


" Mobil..mobil...cepat telp satpam sekolah...cepat!!!" Chandra merasa perutnya mual begitu melihat binatang melata itu, traumanya pada ular segera ditepisnya. Walau rasa panas dingin dan keringat dingin mengucur dari sela rambutnya. Panik dan nervous saat ini menyerang tubuhnya.


" Ini digigit dua kali bang..." Ucap Lenox pada Hanan dan menunjuk pada punggung tangan Ara yang terdapat dua titik merah begitu juga dipangkal jari jempol Arapun terdapat tanda yang sama.


" Tolong Han cariin gue tanaman putri malu, Lavender atau kunyit.." Teriak Lenox pada Hana yang terdiam membisu dengan matanya memerah menahan tangis. Lenox meniup-niup bekas gigitan tersebut dan menepuk pipi Ara perlahan.


" Tetap terjaga Ara, jangan tidur...Ara..., Ara..." Panggilnya pelan.


" Hemmm" Jawab Ara lemah.


Lenox lalu berlari mecari air hangat dan mengambil sapu tanganya dengan tergesa-gesa, bahkan saking pengen cepatnya dia sampai menuang seluruh isi ranselnya.


" Kak, Ara diangkat ke tenda PMR aja ayo..." Ucap Lenox pada Hanan yang terlihat syok luar biasa. Selama ini Hanan hanya melihat yang namanya ular pas nonton film India doang. Hari ini dia melihatnya langsung dua ekor sekaligus, dan itu ada dihadapannya saat ini, rasa melilit di perutnya karena asam lambung naik akibat ketakutan yang luar biasa tak diindahkan nya demi Ara.


Percaya tak percaya, yang namanya Hanan itu pertama takut pada Allah dan yang kedua adalah takut pada ular wkwkwk.


Tangan putih mulus milik Ara kini sudah mulai membiru, memar dan bengkak di sekitar bekas gigitan. Keringat dingin pada wajah Ara juga membuat khawatir Natasha yang terus menggosok telapak kaki Ara.


Dengan sedikit berlari Hanan membawa Ara dalam gendongannya dan meletakkan nya dengan hati-hati di brangkar PMR.


Lenox dengan telaten membersihkan luka bekas gigitan itu dengan air hangat dan disabunya dengan pelan. Lalu dikompresi nya luka itu dengan sapu tanganya.


" Nat, tolong jaga agar area yang digigit tetap diam, dan usahakan posisinya lebih rendah dari jantung" Instruksi Lenox.


Pemuda itu segera berlari keluar untuk mencari Hana yang di minta mencarikan ramuan pencegahan pertama.


Hanan yang bingung dan terlihat linglung mengeluarkan ponselnya dengan tangan bergetar.


" Ngg...Ngga...lo..lo..di..di..dimana?" Ucapannya terbata-bata saat ada sahutan dari seberang.


" Lagi jalan mau balik nih..., lo mau nitip apa?" Tanya Rangga.


" I..itu...itu..A..Ara.."


Deghhh...


Jantung Rangga terasa bagai di cabut dari tempatnya saat dengan susah payah Hanan mengatakan apa yang terjadi di camp saat ini.


Seperti orang kesetanan Rangga melempar semua barang bawaannya dan berlari menuju area kemping. Berulang kali dia jatuh tersungkur tapi bangkit lagi dan bangkit lagi.


Kenapa begini....


Kenapa lagi-lagi seperti ini...


Jangan lagi sayang...


Jangan lagi pleaseee.....


Rangga terus berlari tak mempedulikan lutut dan sikunya yang kini mengeluarkan darah karena berulang kali terjatuh.


Sampai diujung lorong jalan setapak Rangga bertemu dengan mobil penduduk yang lewat, dan Rangga pun mempercepat larinya.


" LILI.....LILI....LILI...." Teriaknya bagai orang yang tidak waras.


" Kak, Lili udah dibawa ke RS..tadi Pak Kepsek mencari bantuan yang cepat, kebetulan tadi ada mobil penduduk yang lewat jadi sekalian.." Ucap Chandra.


" Dengan siapa Lili dibawa?"


" Hana, Natasha, Lenox dan bang Hanan.." Jawab Chandra.


" Bagaimana ini bisa terjadi Chand?, bagaimana bisa ada ular?" Tanya Denis yang ikut berlari mengejar Rangga tadi.

__ADS_1


" Tidak tau kak, tapi sepertinya ada yang sengaja menukar belut itu dengan ular.."


" Tapi tadi saat aku yang kena giliran, isinya memang benar-benar belut kok.." Ujar salah satu anak yang kebetulan mendengar pembicaraan mereka.


" Iya kak, pas gue juga tadi kena box biru, tapi emang belut, heran aja gue kok pas kena di Ara, belutnya bisa bertransformasi menjadi ular begitu"


" Husttt...orang lagi serius ini dodol!!"


" Serius gue!!!, gue tepat sebelum Ara malah, tapi beneran kok isinya belut.."


" Ta..tapi menang tadi box nya sempet ilang kak..." Ucap Mellodi.


" Ilang?, maksudnya gimana Mell?" Tanya Denis.


" Iya kak, box nya berpindah tempat, dan lagi emmm itu...emmm..."


" Itu emm, itu emm apa!!?" Bentak Rangga geram. Rangga yang dari tadi cemas menunggu kedatangan mobil sekolah untuk membawanya ke RS belum juga datang merasa geram.


" Barang bukti terakhir itu Lenox yang pegang" Ucap Melloda.


" Maksudnya? Lenox yang nukar belut dengan ular begitu?" Sambar Vino.


" Bukannya Mel nuduh Lenox kak, tapi pas Mel nyariin boxnya, ternyata ada sama Lenox.." Dan Mellodapun menceritakan apa yang terjadi tadi.


"Brengsek!!!!, Lenox!!!, gue bikin mampus lo!!!" Teriak Rangga frustasi.


Denis, Vino dan Rayyapun mengepalkan tangan mereka dengan gurat wajah yang garang.


Tak lama mobil sekolahpun menepi, Rangga bergegas berlari.


Tapi sebelum mencapai bibir sungai Rangga kembali ke hadapan Yuda Pradana.


" Yud, gue titip yang disini sama lo, gue percaya lo mampu dan sangat mampu, makanya gue pilih lo" Rangga menepuk pundak Yuda pelan.


" Chand, lo tolong bantu Yuda. Dan lo Chacha gue harap jiwa kepemimpinan lo, lo turunin ke Melloda, gue minta maaf di pertanggungjawaban terakhir kali gue harus berakhir seperti ini.. Gue pamit, mungkin ini juga terakhir kalinya gue ketemu kalian guy's....See you..guy's and take care..."


Rangga berbalik badan dan menyusul sahabatnya yang telah duluan ke dalam mobil.


" Bye kak Rangga.."


" Bye Rangga Bayu..."


" Bye Mr Jutek "


" Bye Pria Idaman..."


Teriak ucapan say goodbye dari para peserta kemping menggema dan bersahut-sahutan, bahkan beberapa siswi menangis karena berpisah dengan the king of SMU Bhakti.


" Bye Calon Imam " Celetuk salah satu siswi yang ada dibarisan paling depan.


Gadis imut berlesung pipi dengan kacamata minus tebal nangkring di hidungnya yang minimalis.


Rangga menghentikan langkahnya dan berbalik menuju gadis mungil itu.


" Tapi sayang sekali dek, kakak sudah jadi imam seseorang, nama makmum kakak kalian juga pasti sudah kenal, dia juga siswi sini.." Ucapnya dengan tersenyum manis, membuat beberapa siswa saling berpandangan.


" Mudah-mudahan kamu dapat Rangga yang lainya suatu saat, tapi untuk Rangga Bayu Wijaya yang ini.." Lanjutnya lagi dengan menepuk dadanya.


" Sudah sah dan terdaftar patennya menjadi milik Lailia Nafeesa Anara..."


" HAH!!! APA??" Teriak mereka bagai paduan suara.


Rangga hanya tersenyum lagi dan mengangkat jarinya yang terdapat cicin kawin itu tinggi-tinggi, hingga tak ada satu matapun yang tak tau apa arti dari cincin yang melingkar di jari manisnya itu.


Semua terpaku ditempat dengan saling pandang tak percaya, saat Rangga kembali berjalan menuju mobil.


" Jadi mereka sudah merried?" Tanya Chandra pada Meta.


" Iya sudah kayaknya beib, ini rahasia ya...tadi pas mandi pagi aku liat banyak bekas merah-merah di leher Ara deh beib..." Bisik Meta di telinga Chandra.


" Dan semalem, Ara masuk tenda juga udah malam banget.." Lanjut Meta masih dengan berbisik.

__ADS_1


" Itu sih karena Ara nonton bola dipohon itu.." Tunjuk Chandra pada pohon tinggi dan lebat di samping tenda Pak Kepsek.


" Oh...kirain.." Sahut Meta.


" Kirain apa?, jangan mesum ya!!" Chandra menyentil kecil kening Meta.


...***...


Mobil sekolah telah sampai di depan RS Daerah di Bandung. Rangga dengan berlari segera menuju resepsionis.


" Maaf mbak, pasien digigit ular di kamar berapa?" Tanya Rangga tergesa-gesa.


" Oh..masih di UGD mas..." Jawab petugasnya.


" Oh oke baik, terimakasih.."


Rangga memutarkan badanya 180 derajat untuk mencari tulisan UGD berada, tapi karena otaknya sudah tidak ditempatnya, Rangga menjadi linglung tanpa tujuan.


Tapi untung Denis segera menyeretnya menuju ruangan yang dicarinya.


Didepan salah satu bilik nampak Hanan dan Lenox sedang bercakap-cakap.


Denis menghampiri mereka dengan tangan terkepal dan..


Bughhh!!!


Tinjunya yang manis dan sedap itu bersarang dengan mesra diperut Lenox sampai pemuda itu mundur beberapa langkah.


Belum juga habis keterkejutan Lenox dengan aksi Denis, giliran Rangga mendaratkan bogemanya ke wajah manis Lenox.


Lenox meringis menahan sesak ulu hatinya akan tinju dari Denis, ditambah ngilu luar biasa di pipinya.


" Ada apa ini?" Tanya Hanan dengan menekankan suaranya agar tidak terlalu keras.


" Si brengsek ini biang keroknya, dia yang sudah mengganti belut menjadi ular berbisa..." Tunjuk Rayya dengan jarinya pada wajah Lenox.


Hanan menatap Lenox tajam, berusaha mencari pembenaran atas tuduhan Rayya.


Hanan tak percaya saja, tindakan Lenox yang dengan cekatan memberikan penanganan pertama pada kecelakaan tadi sungguh sangat bisa diacungi jempol, dua jempol malah.


Dan bahkan dokter yang menangani Ara saja tadi begitu memujinya atas tindakan cepat Lenox yang luar biasa.


Tapi ini kok bisa?, Rayya menuduhnya seperti itu?


" Gue rasa kalian salah tuduh deh, justru karena Lenoxlah nyawa Ara terselamatkan.." Ujar Hanan pelan.


" Ahhh bulshit!!, pecundang macam dia gak akan pernah jadi ksatria.." Sahut Denis.


" Ya itu benar, hitam itu tidak akan pernah bisa berubah menjadi putih, walaupun kau tuangkan satu ember cat putih untuk merubahnya..." Desis Lenox kecut. Inilah susahnya jika dahulu terlalu buruk akhlak, berusaha baikpun takkan mudah dipercaya.


Tapi Lenox ingat kata-kata Ara ketika gadis itu menjenguknya dahulu.


Tetaplah menjadi baik Le, walaupun kau dianggap munafik..


Tetaplah menghargai orang lain Le, walaupun tak ada yang menghargaimu..


Karena tujuan hidup bukan untuk meraih penilaian manusia Le, tetapi mencari keridhoan Allah..


Setiap kali mengingat nasehat gadis manis itu Lenox merasa hatinya damai.


Ya, hanya kau Lailia Nafeesa Anara...


Kau adalah panduku menjalani hidupku..


Kau adalah lentera dalam gelapku..


Lenox tersenyum mengelus pipinya yang ngilu.


Denis dan Vino yang melihat senyum menjijikan Lenox saat mengelus luka lembamnya merasa geram sampai berasa mau muntah.


__ADS_1


Lenox Maha Dafran, si brandal insaf.


Bersambung...


__ADS_2