Childhood Love Story

Childhood Love Story
Terong dari Hongkong.


__ADS_3

Minggu pagi rumah Syakieb terlihat sepi dan lengang. Papa dan mama telah berangkat ke bandara satu jam yang lalu, beserta Brian, Azura dan Bianca.


Loh kok?


Karena Brian ada libur tiga hari dan kebetulan beberapa hari kedepan sekolah Azura juga libur, maka kesempatan ini digunakan dengan baik oleh mereka untuk mengunjungi kakek di Jogja.


Mengingat kakek beberapa kali selalu mengatakan kalau sangat kangen dengan cicit angkatnya itu, si Bianca.


Sedangkan Marvel dan Dian, semalam memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama bunda Lana sebelum kepergian mereka kembali ke Amerika besok.


Adnan dan Hana masih belum kembali, karena semenjak menikah mereka lebih banyak tinggal disana daripada disini.


Rangga keluar dari ruang gym dengan dada yg terbuka dan lelehan keringat di tubuhnya.


Hidungnya mengendus bau masakan yg aromanya sangat lezat.


Langkah kakinya membawanya menuju dapur. Disana berdiri sosok bidadari nya, dengan daster rumahan warna peach, rambut yg digelung, dan apron yg melekat padanya sungguh membuat mata Rangga teduh. Posisi Ara saat ini memunggungi Rangga.


" Masak apa..?"


Rangga melingkarkan kedua tanganya pada perut Ara. Sedangkan dagunya diletakkan pada pundak Ara.


"Hemm...nasi goreng aja lah...yg simpel"


" Emang bi Marni mana?"


" Bi Marni kalo hari Minggu gini ya libur lah..."


" Benarkah??, wasyeek !asyeek..." Serunya.


Matanya berbinar-binar saat mendengarnya, bahagia membuncah dalam dadanya. Akhinya penantianya untuk berduaan dengan cintanya datang juga. Rangga mengendorkan belitan tanganya pada perut Ara dan segera mamatikan kompor.


"Hayuuu ah gas...." Ucapnya sambil mengangkat Ara dalam gendongannya. Senyum di bibirnya cerah bagai sang surya menyinari dunia.


"Ahh..." Ara yg terkejut karena dibopong Rangga didepan tubuhnya segera melingkarkan tangan dan kakinya.


Mereka saling tatap saat Rangga membawanya ke kamar Ara dan Ardi yg bawah.


Rangga menutup pintu dengan dorongan kaki sebelah nya.


Rangga menurunkan Ara di ranjang Ardi yang memang lebih dekat dengan pintu.


Tubuhnya yang terbuka bagian atasnya membuat Ara segera membuang muka, malu untuk menatap nya. Apalagi posisinya yang kini mengungkung tubuhnya.


"Kenapa malu, ini milikmu..." Ucap Rangga dengan meraih dagu gadis itu untuk menatapnya.


Ara mengigit bibir bawanya karena grogi menyerangnya. Ara takut sesuatu akan terjadi, Ara sungguh takut saat ini.


"Jangan digigitin sayang..." Rangga mengelus bibir Ara perlahan.


Rangga yang masih panas-panasnya dengan rasa baru yang melenakan itu segera mengeksekusi benda kenyal itu.


Mereka terus terlena dan mabuk dalam bingkai kenikmatan yg tiada tara.


Decapan, sesapan, ******* sambung menyambung menjadi satu.


Kali ini pun sepertinya Ara tidak hanya diam saja, karena sudut hatinya telah sadar sepenuhnya bahwa dia adalah seorang istri.


Dan ingat, bahwa Ara menyimpan nama Aga dihatinya tidak hanya setahun dua tahun, tapi dalam waktu yg sangat lama.


Maka sangat wajar jika gadis ini pun ingin mengekspresikan rasa cintanya.

__ADS_1


Suara-suara khas terdengar mendayu-dayu memenuhi sudut ruangan.


Rangga dengan segala ingin tahunya yang membara ingin mencoba ini dan itu, tak sejengkalpun tubuh Ara yg terlewat dari jamahanya. Dan Ara, gadis kecil itu kini terlena dengan buaian nikmat yg diberikan oleh Rangga untuknya.


Entah bagaimana awal dan akhirnya hingga tak satupun dari tubuh mereka kini yg tertutup kain.


Saat sesuatu yg diinginkan pemuda seusianya datang dengan dorongan yg luar biasa hebatnya, rasa ingin yg membuatnya tersiksa, rasa yang sudah berdenyut diubun-ubunnya, tiba-tiba Rangga menghentikan aksinya.


Brugh


Rangga menghempaskan tubuhnya di samping Ara.


Dengan napas yang memburu dipeluknya erat tubuh polos Ara.


" Be..belum waktunya..hah..hahh, tidak sekarang " Ucapnya dengan menciumi wajah Ara, nafasnya tersengal tak karuan.


Rangga masih bisa mengingat dengan baik nasehat daddy, mommy dan papa mertuanya untuk tidak membuat Ara hamil dulu.


Ya, dan Rangga berjanji untuk menjaga kepercayaan mereka.


Karena Rangga juga hanya ingin bersama Ara itu sudah cukup baginya.


" Kita pacaran dulu aja ya sayang...." Ucapnya sedih, sambil matanya yang sayu menatap mata Ara.


Ara mengangguk mengiyakan, apa yang dialami oleh Azura tentu membuatnya sadar dengan apa yg diwanti-wanti kan kedua orang tuanya, mertuanya, bahkan Ardi terus mengingatkan nya agar jangan hamil dulu.


*


Seharian ini di gunakan oleh RanggAra untuk bersantai-santai dirumah besar yg hanya berisi mereka berdua.


Selesai sarapan mereka berenang, diselingi canda tawa mereka yg menggema.


Bukan Rangga namanya kalo hanya mendapatkan cubitan saja langsung jera.


Justru iseng dan jahilnya semakin menjadi-jadi.


Bahkan beberapa kali terlihat Ara hampir menangis karena tingkah laku Rangga yg terus-menerus menggodanya.


Tapi tentu tidak kepada semua gadis Rangga bertingkah seperti itu, tentu hanya pada satu gadis, dan itu adalah istrinya.


Matahari telah berpindah ke barat.


Mereka berdua tampak sedang berkutat di dapur.


" Ini terong kan.." Tunjuk Rangga pada sebuah pare yg tergeletak di meja dapur.


" Terong dari Hongkong !" Jawab Ara asal.


" Oh bukan, gambas ini sih.." Lagi Rangga sok tau.


" Gambas dari Papua!" Jawab Ara jutek.


" Bukan juga ya, ini pasti Labu.."


Rangga segera membungkam mulut Ara dengan mulutnya saat Ara akan mengatakan sesuatu.


"Emmmp...emmp..." Ara memukuli punggung Rangga dengan spatula yg dipegangnya.


"Maaf..jangan marah terus sayang, kakak tau lah itu pare, masih marah ya karena tadi?, mana liat?, emang sakit bener ya?" Pertanyaan Rangga nyerocos tak memberikan waktu Ara untuk menjawabnya.


Malah tanganya sibuk membuka kancing depan Ara.

__ADS_1


Tadi saat mandi sore lagi-lagi Rangga kebablasan dengan keusilanya.


Dia dengan gemas mengigit sedikit keras pada puncak gunung indah itu, tentu saja membuat Ara meringis menahan tangis.


"Maaf ya sayang, ampun..., kakak janji nggak ngulangi lagi.."


"Alah..bohong itu mah, Lili tau gimana kakak..."


" Oh ya??, tau apa.., emang kakak gimana?"


" Mesum!!"


" Ya nggak papa dong!!, mesum sama istri sendiri siapa yg larang coba?"


"Ahh..sudahlah, kakak menang, dan Lili kalah oke...oke fine"


"Ha...ha..ha.., kamu tuh ya, gumush..gumush.." Rangga mencubit kedua belah pipi Ara yg menggembung karena bibirnya yg monyong kedepan karena jutek.


"Cie...cie...yang lagi pacaran..." Suara Natasya dan Denis membuat keduanya menoleh kearah suara, disusul Rayya tepat berdiri di belakang mereka.


Rangga segera menyembunyikan Ara dibelakang punggungnya, karena gadisnya sedang tak menggunakan jilbab nya.


"Ishh..., kalian asal nyelonong aja masuk rumah orang, nggak sopan!!" Bentak Rangga


" Sana tunggu di gazebo, bini gue nggak pake jilbab ini, Nat ambilin jilbab Lili di kamar bawah tuh..." Rangga meminta bantuan Natasya dan gadis itupun mengangguk.


Ya nggak rela dong Rangga, cowok lain nggak boleh ada yg tahu beningnya istrinya itu. Sedangkan terlihat wajahnya saja sudah membuatnya pusing karena banyaknya yg naksir istrinya ini.


"Ada apa?, tumben kalian ke sini" Tanya Rangga setelah mendudukkan tubuhnya di depan kedua sahabatnya.


" Ini mengenai masalah Vino Ga.." Rayya membuka obrolan mereka.


Natasya dan Ara datang dengan membawa snack dan minuman kaleng.


" Kenapa kak Vino?" Tanya Natasya.


"Kalian belum tahu?, Vera nggak cerita?" Tanya Denis membuat kedua gadis itu menggelengkan kepalanya kompak.


Ara dan Natasya merangkak menaiki gazebo dan duduk di samping lelakinya masing-masing.


" Ye..gue berasa jadi kambing congek disini, Hanum mana nih Hanum..." Umpat Rayya sebal.


Semua mata disana melotot mendengar Rayya yg keceplosan bicara.


" Hah...kak Rayyan bilang apa???, Hanum???" Tanya Ara dengan mata yg terbuka sempurna.


"Ahhh, salah denger adek Ara mah...bukan Hanum, kakak cari minum..iya..minum.." Jawab Rayya gelagapan tak karuan.


"Ya elah Ray, masak kuping kami berempat sama-sama salah dengar sih..." Ucap Denis.


" Ya udah deh, tapi lupakanlah guys, anggap saja yg lo dengar tadi cuma omongan seekor pungguk yang merindukan bulan, nggak akan kesampaian.." Ucap Rayya sedih.


" Kok gitu...?" Ara mengernyitkan dahinya.


Sedangkan Rangga hanya diam sambil memantau saja, bukan ranahnya untuk berbicara. Tapi emang dasarnya dia itu cool dan jutek ya.., begitulah seorang Rangga.


" Kita tunggu kak Vino dan Vera guys, ini mereka sedang otw katanya" Ucap Natasya sambil mengangkat ponselnya untuk menunjukkan pesan dari dobel V.


Bersambung....


...*********************...

__ADS_1


__ADS_2