
Sepanjang jalan menuju rumah Azura, Ardi terlihat linglung.
Menikah ya?
Apakah sekarang sudah waktunya?
Ya Allah..... Tak pernah terbayangkan hari itu akhirnya datang...
Ardi mengusap wajahnya yang tiba-tiba tegang.
Tegang saat tiba-tiba sekelebat ingatan wajah tanpa cadar telintas.
" Gue dulu pernah melihatnya tanpa penutup wajah, tapi pergi kemana ingatan itu ya... Kok gue bisa lupa!!"
Gumamnya.
Tepat adzan maghrib Ardi sampai di depan rumah Azura.
Azura yang baru akan menutup tirai pun segera membuka pintu.
" Mau sholat ke masjid dulu atau masuk?" Tanya Azura.
" Ke masjid dulu deh.." Jawab Ardi, tanganya melepas helm dan menyerahkannya pada Azura.
" Nanti lewat samping saja mas, pintu ruang tamu agak seret, suka macet.." Ucap Zura lagi.
" Ohhh, yaudah. Aku ke masjid dulu..." Pamit Ardi.
Azura sedang membaca Al-Quran surat Waqiah seperti biasanya saat Ardi masuk lewat pintu samping rumah Azura. Ardi menatap gadis yang terbungkus oleh mukena itu, begitu menyejukkan.
Suaranya begitu merdu.Memang bukan suatu yang baru bila setiap habis Maghrib terdengar lantunan ayat suci. Dirumah merekapun selalu begitu.
Yang berbeda itu feelnya saat ini.
Rumah sunyi hanya berisikan mereka berdua, pasangan yang tinggal menunggu di sahkan saja.
Hatinya berdebar saat Azura mendekatinya.
" Sudah makan malam mas?" Tanya Azura dengan tangan yang sigap melipat alas sholatnya.
" Belum..." Jawab Ardi pelan.
" Ya sudah ayo, Zu tadi masak ayam opor mau nggak?"
" Mau lah.." Jawab Ardi mengikuti langkah Azura ke dapur.
" Zu, didalam rumah begini cuma kita berdua saja, kamu nggak mau buka cadar kamu?" Tanya Ardi.
"Hemmmm, kenapa?. Kamu penasaran mas?Kalau di swalayan kita ambil-ambil barang sesukanya, tapi apakah kita berani membukanya sebelum membayarnya, setidak tidaknya setelah dikasir baru bisa buka kan" Ucap Azura.
Tangan gadis itu terampil menuangkan air ke dalam gelas, lalu mengambil piring dan mengisi nasi dan lauk pauk untuk Ardi.
" Sambalnya mau lagi?" Tanya Zura ketika menyendokkan sambal ke piring Ardi.
" Cukup, nanti bisa nambah lagi.." Jawab Ardi dengan terus menatap Azura.
Azura tersenyum dalam cadarnya. Ardi ini sangat baik orangnya. Meskipun suka slengean, omongannya ceplas-ceplos nggak tersaring, tapi dia benar-benar pemuda yang sopan. Selama hubungan mereka, walaupun telah di restui tak pernah ada perilakunya yang diluar batas.
Ardi benar-benar pemuda yang mempunyai etika yang baik.
" Zu, dua minggu lagi aku wisuda.. Kamu udah siap belum?" Tanya Ardi di sela kunyahannya.
" Loh kok tanya Zu, yang wisuda kan kamu mas?"
__ADS_1
" Iya, eh itu...maksudnya...Kamu su..su..."
Ardi tiba-tiba diserang nervous yang luar biasa. Membicarakan topik ini tanpa adanya orang lain rasanya gimana gitu.
Rupanya tak hanya Ardi, saat inipun Azura merasa dag dig dug serr...
" Susu?, aku?, susu apa?" Tanya Azura bingung.
Ardi menatap mata indah itu, mencoba menggali keberanian.
" Kamu sudah siap menikah kan Zu?, bukankah aku berjanji padamu setelah wisuda.." Ucap Ardi selanjutnya.
" Mmm, itu..itu..terserah mas lah.." Jawab Azura dengan suara yang tersendat karena berdebar.
" Pertanyaanku apa sih?, aku nggak nanya pendapat. Yang aku tanya kamu sudah siap menikah atau belum loh sayang..." Ardi merasa geli mendengar jawaban Azura apa, sedangkan dia bertanya apa.
" Ohhh, itu..mak..maksudnya. Emmm, biar Zura fikirkan.." Jawab Azura malu.
" Waktumu memikirkan sudah sangat lewat sayang, kita udah satu tahun lebih tunangan. Jawab sekarang!, siap atau tidak!!" Desak Ardi.
" Iya..." Jawab Azura lirih, sangat lirih.
" Iya apa?" Desak Ardi, pemuda ini sangat hobby menggoda Azura bila gadis sedang malu-malu kayak gini.
" Ckk.., sini Zu suapin!, makan dari tadi kok ngga berkurang.."
Azura yang malu segera mengalihkan topik bicara.
" Sstttt, jangan lari dari topik!!, Azura Paramita Pramudya binti Rahman Pramudya kamu sudah siapkah menikah denganku yang hina ini..." Ardi menggenggam tangan Azura yang sedang menyodorkan sendok berisi nasi dan cuilan ayam didepan wajah Ardi.
" Iya mas, Zu siap..." Ucap Azura semakin menunduk.
" Tapi, sebelum itu, kamu harus melihatku dulu mas, agar tidak ada kecewa di akhir.." Ucap Azura.
" Apa kamu sudah siap untuk melihatku mas?, " Azura menatap mata Ardi dengan rasa was-was, takut apabila Ardi tidak menyukai paras dibalik cadarnya.
Takut apabila ada bentuk wajah, bibir atau hidungnya yang tidak disukai oleh Ardi. Azura sangat takut saat cinta yang terlanjur membesar dalam hatinya harus padam oleh penolakan Ardi saat melihat wajahnya nanti.
Tapi ini memang harus, disaat pria sudah berani melamar gadis bercadar, maka saatnya si gadis juga boleh menunjukkan yang disembunyikan pada pihak pria, agar tidak ada yang merasa dirugikan atau ditipu.
" Setelah ini, semua keputusan ada padamu mas, mau meneruskan atau memutuskan. Zura iklas lahir dan batin..." Ucapa Azura dengan tangan bergetar mulai menuju tapi cadar yang terikat di belakang kepalanya.
Ardi diam tanpa berkata-kata, dia sendiri juga belum terlalu sadar dengan apa yang terjadi saat ini.
Kain itu telah merosot ke bawah, batang hidung Zurapun telah terlihat sebagian.
" Tidak...tidak Zu, jangan!!, tutup lagi. Aku tidak perlu melihatnya sekarang. Tutup lagi Zu, aku akan membukanya sendiri setelah pernikahan kita" Ucap Ardi gugup.
" Ahhh, aku lapar.." Ardi yang berdebar sangat hebat itu segera menyambar air putih di gelas yang dituangkan Azura beberapa saat lalu.
Glek..glek..glek..
Dengan sekali teguk, Ardi mampu menghabiskan segelas penuh air itu.
Keringat dingin kini mengucur dari dahinya.
Haduh mati gue!!, cuma lihat batang hidungnya doang...
Batang gue nyut-nyutan begini..
Sshhh, nggak bagus deket-deket Azura sebelum sah!!, bisa terjerat setan kalau begini mah.
__ADS_1
Pulang!!, Ardi...cepet pulang....
Sebelum setan menyerang..
Seru Ardi dalam hati.
" Ahhh, emmm. Zu...Setelah wisuda nanti papa dan aku akan ke Jogja lamar kamu pada kakek.." Ucap Ardi.
Azura hanya mengangguk patuh. Dalam hati dia bersyukur mendapatkan lelaki hebat seperti Ardi.
Dengan menolak melihatnya tadi saja, Azura sudah sangat tahu siapa seorang Ardi ini.
Ardiansyah Syakieb Al Ghifari, pemuda yang mencuri perhatianya sejak awal pertemuan mereka.
Pemuda yang sangat menyayangi Bianca, memberikan separuh uang jajan bulanannya untuk membiayai keperluan Bianca, dari susu sampai pempersnya.
Pemuda yang rela tidak terbagi bonus hasil tinjunya saat Bianca harus mulai masuk sekolah TK.
Pemuda yang rela menghabiskan seluruh tabunganya demi kenyamanan Bianca. Dan yang lebih utamanya, Ardi tidak pernah merengek-rengek minta uang kepada papa Syakieb untuk memenuhi kebutuhan Bianca selama ini.
" Mas pulang ya...." Pamit Ardi.
" Mmmm, nanti dulu...lah.." Ucap Azura pelan.
Deggghh...
Mati gue..
Gimana nih??
Duh jangan nanti-nanti Zu...bisa khilaf gue..
" Ada yang perlu dibahas lagi Zu.., hemmm?" Tanya Ardi cepat.
" Itu, lampu tidur kamar Bian sepertinya putus kabelnya, sudah dua malam gelap..."
Mati gue
Nggak boleh Ardi!!!!, nggak boleh masuk kamar
Aduh tapi gelap udah dua malam...
Kamu calon suaminya nggak papalah Di..
Nggak!!, nggak boleh Di
Setan hitam dan malaikat saling beradu argumen di otak Ardi saat ini. Ardi bingung juga harus gimana. Jelas urusan Bianca dialah yang menjadi penanggungjawabnya.
Tapi...
Ini malam hari, berduaan lagi. Tidak!!, besok saja.
" Mmm, besok saja ya sayang, Mas nggak enak masuk-masuk kamar gadis udah malam begini.."
" Ahhhh, astaghfirullah. Maafkan Zura mas..., maksudnya Zura--"
" Iya Zu...., mas tahu maksudmu. Sudahlah jangan merasa nggak enak. Besok InsyaAllah mas kesini lagi..."
" Mas pulang dulu sayang..., Assalamualaikum..Oh iya, kok Bian belum pulang sih?"
" Bian menginap di rumah brothy Marvel, Sunny punya PS baru, anak itu masih belum bosan main.." Keluh Azura.
" Jadi??, kamu sendirian sayang?" Ardi merasa tidak enak meninggalkan Azura sendirian.
__ADS_1
" Nggak papa lah, udah biasa juga.."
" Tunggu sebentar lagi sayang, ada masanya aku dan kamu. Akan menjadi kita. Bersabarlah...." Ucap Ardi dengan diselingi tawanya yang selalu renyah.