
Pusing bin mumet itu yang dirasakan Rangga kini. Otaknya mendidih tak karuan rasanya.
Pemuda itu naik ke rooftop sekolah, menenangkan diri, sementara di bawah mulai berdatangan murid-murid SMU Bhakti dengan tas ransel besar di punggung masing-masing.
Bukan hanya Ara yang berat untuk ditinggalkan, Ranggapun sama. Diapun berat untuk meninggalkan. Jangan dikira dia mampu memutuskan berarti dia merasa sanggup.
Tak ada yang tau di sudut malamnya dia selalu menangis memikirkan penolakan Ara untuk ditinggalkan.
Liliku....
Jangan kau kira aku kuat dengan ini...
Aku lebih hancur darimu...
Aku lebih merana dari yang kau kira..
Sayangku..
Pahamilah, inilah pilihan kita...
Setelah sholat maghrib rencananya mereka akan bertolak ke Bandung.
Sementara sebagian dari anggota pramuka dan OSIS sudah berada di lokasi sejak pagi tadi untuk mempersiapkan tenda dan rute halang rintang.
" Lailia, udah ambil kupon? Dapat bus nomor berapa kamu?" Tanya Chandra.
Ara merogoh saku celananya dan mengeluarkan kertas segi empat kecil dari sana.
" Bus tujuh Chand..." Jawabnya tak bersemangat, lalu memberikan kertas kecil itu pada Chandra begitu saja.
Melihat wajah Ara yang nampak semrawut, Chandra ingin mencari tahu kemungkinan yang ada di fikirannya.
" Kamu putus dari kak Rangga ya Ra?, jadi kabar itu benar?" Tanya Chandra to the point.
Ara langsung terpaku ditempat, dengan kejadian kemarin di aula pasti semua warga SMU Bhakti juga akan mengiranya seperti itu. Yang tidak tahu cerita cinta mereka juga pasti akhirnya tahu.
" Nggak tau lah Chand, pusing aku...." Jawaban Ara terlihat lemah dan sendu, membuat Chandra menarik kesimpulan sendiri.
" Nggak usah putuslah kalo bisa, sayang sih soalnya kalian cocok ..., LDRan juga banyak yang langgeng, asal ada komunikasi yang baik.." Chandra berusaha memberikan saran.
" Thanks Chand..., tapi berat di sini.." Tunjuk Ara pada dadanya.
" Ya harus dibagilah beban beratnya, dan DIA selalu akan mau mengurangi bebanmu itu..."
" Dia???" Tanya Ara
" Aa......" Jawab Chandra.
Ara menghembuskan nafasnya sesaat. Tatapan matanya kosong lurus kedepan.
" Aa Gama terlalu baik, dialah satu-satunya yang selalu setia mendengarkan curhatanku sedari kecil, tapi aa juga ada kesibukan sendiri sekarang, tidak harus terus-menerus menjadi pendengar cerita gadis gelo macam aku ini..hi..hi....." Ara tersenyum melihat adik Gama didepannya ini.
Kalau tidak bertemu dengan Gama di Singapura seminggu yang lalu, mungkin sampai hari ini Ara tak pernah tau kalau Chandra adalah si Andra botak yang selalu ia dan Ardi jailin dulu.
Natasha yang baru datang mengendap-endap dibelakang Ara segera menaruh telunjuk dibibirnya saat Chandra menyadari kehadirannya.
Dorrr!!!
Teriak Natasha sukses membuat Ara terlonjak kaget dan dengan gerakan cepat dia segera berbalik arah dan melancarkan serangan cubitan pedesnya secara brutal pada perut Natasha.
"Ah..ha..ha..ha..., ampun Ra..., ampun..ha..ha.." Natasha terdorong dan terus mundur dengan sempoyongan, lalu..
Brugh!!
Tubuhnya jatuh tepat pada dada seseorang.
Natasha menoleh dengan takut-takut, sepasang mata teduh dan lembut menatap matanya saat ini.
Natasha seakan betah dalam dada hangat itu, tak sedikitpun gadis itu beranjak. Tatapan mereka beradu sangat lama.
__ADS_1
" Kayaknya betah banget?, mau langsung ngamar sayang?" Tanya Denis dengan pertanyaan yang seduktif
" Dasar wong edan" Umpat Natasha dengan segera beranjak dari posisi wenaknya, dan menepis-nepis bajunya yang kena tempelan seorang playboy.
Ara sedikit menarik bibirnya saat melihat interaksi keduanya. Lenganya menyenggol-nyenggol lengan Chandra. Dan Chandra pun langsung notif dengan itu.
" Yang kufikirkan dan yang kau fikirkan ternyata sama Ra..." Bisik Chandra tanpa membuang tatapannya pada Denis dan Natasha yang kini saling tatap dengan lucunya.
" Guy's kumpul-kumpul!!" Teriak Yuda dengan pengeras suara yang tersangkut dipundaknya.
Anak-anak dengan teratur menaiki bus yang sesuai dengan nomor mereka masing-masing.
Ara bergandengan tangan dengan Natasha dan Hana, karena kebetulan mereka satu bus.
" Sini sayang..." Denis menarik tangan Natasha untuk duduk di sebelah nya. Denis dan Rayya sudah ada di dalam bus sejak tadi, tapi begitu melihat sosok Natasha Denis segera pindah dari samping Rayya.
" Walah udah sayang-sayangan aja mereka Li, kita katro Li, kurang update an ternyata.. " Desis Hana.
" Aku sih udah bisa menduganya, tapi alangkah secepat itu aku juga nggak menyangka " Jawab Ara, dan akhirnya merekapun duduk bersebelahan, diseberang bangku Natasha dan Denis.
Ara masuk ke dalam dan duduk di dekat jendela, segera menyumpal kupingnya dengan headset saat telah duduk sempurna.
Hana menyenderkan kepalanya pada pundak Ara. Ngantuk sudah sangat menderanya, tubuhnya sangat capek.
Capek karena harus menuruti kompensasi atas ijin yang diberikan Adnan padanya demi bisa mengikuti kemping ini.
Adnan menggempurnya terusan, hanya untuk mengganti dua malamnya yang direlakan untuk tidak bisa memeluk istrinya saat tidur.
Rangga masuk ke dalam bus terakhir kali, selain karena dia yang masih membantu Yuda untuk mengecek para siswa, juga sebagai suatu bentuk petanggung jawaban terakhirnya. Dan alasan utamanya adalah dia juga mencari keberadaan Lilinya di bus mana.
Saat melangkahkan kaki untuk mengecek kelengkapan siswa, matanya menatap Ara yang terpejam bersama Hana. Karena kebetulan mereka duduk di kursi ketiga belakang sopir.
Rangga memindai sekitar dan melihat Rayya duduk sendiri di bangku belakang Denis.
Ranggapun berniat duduk disana.
Tapi saat kakinya melintasi tempat duduk Denis, pemuda itu mencekal tangan Rangga.
" Biar ajalah, nggak enak sama Hana, udah tidur juga.." Balas Rangga.
" Si Hana juga pasti ngertilah..." Ucap Denis. Dan di iyain oleh Natasha juga.
Ranggapun akhirnya duduk di samping Rayya.
" Tukar aja sama Hana bro..." Usul Rayya yang tau raut wajah Rangga sedikit kecewa tak bisa dekat dengan istri tercinta.
" Ekhemm..ekhemm.." Denis mengkode Hana. Tanganya terjulur untuk mencolek Hana.
Hanapun membuka mata saat tusukan jari Denis menekan lenganya.
Dengan kode dari mata Denis saja Hana segera sadar akan maksudnya. Dengan dibantu Denis untuk mindahkan tas ranselnya Hanapun pindah ke samping Rayya.
" Thankful for everything guys.." Bisik Rangga pada sahabat-sahabatnya itu.
" Wah..wah...suit..suit..., bakalan ada yang manis ngalahin manisnya sirup nih...." Seru Meta yang ada di samping Chandra.
" Aamiin.., do'ain ya.., biar awet manisnya.." Jawab Rangga dengan senyum manisnya melangkah menuju tempat duduk Hana tadi di samping Ara.
Dan doa sederhana itu diamini oleh beberapa murid di dalam bus.
Lah kok gue deg-degan kaya gini sih...
Macam baru mau pdkt aja..
Isshhh...hatiku...kenapa kamu kayak gini sih...
Rangga mendudukkan tubuhnya disamping Ara setelah menempatkan tas ranselnya dengan aman diatas.
Dilepasnya jaketnya di selimutan pada tubuh Ara yang sebenarnya juga sudah memakai jaket.
" Gerah Han..." Tolaknya tanpa membuka mata.
__ADS_1
" Geseran dikit napa Han, huh kamu spill parfum suami aku ya?, kok aromanya sama.." Ucapnya lagi masih dengan mata tertutup.
Tapi yang dirasakan Ara justru Hana semakin merapat padanya.
" Isshhh Han geseran..." Ucapnya dengan sedikit memaksa dan membuka mata.
Dan tampaklah olehnya wajah tampan suaminya.
Kepalanya langsung melongok ke belakang mencari Hana, sedangkan Hana Rayya mengacungkan jempol mereka padanya.
Ara segera duduk kembali dan menatap Denis dan Natasha yang juga mengacungkan jempol mereka.
" Isshhh, apaan sih mereka.." Gumamnya geram.
Araa segera membuang muka dan mengalihkan tatapan nya keluar jendela.
" Sayang..., madep sini..." Ucap Rangga.
" Nggak..." Jawab Ara jutek.
" Madep sini atau ku cium disini nih..." Ancam Rangga.
" Cium aja siapa yang takut..." Jawab Ara nantang.
" Oh kamu nantangin aku sayang...." Rangga segera memblokade Ara dengan mengurungnya dengan kedua tanganya yang menempel pada kaca jendela bus.
" Kalo nggak madep sini juga, beneran aku cium nih.." Wajah Rangga sudah mulai maju, bahkan lemparan gumpalan kertas oleh Denispun tak dihiraukan oleh Rangga.
" Hoe..bro!! Jangan mesum di bus kenapa?, gue kan jadi pengen juga
nih!!, tanggungjawab lo!" Dengus Denis geram.
Ara segera membalik badanya, dan saat itulah justru benda kenyal itu bertabrakan dan Ranggapun segera menyambarnya.
" Waduh mata suci gue kontaminasi guys" Teriak Natasha dan segera dibungkam Denis dengan telapak tangannya.
" Kamu pengen?, ih aku juga iya?, gimana nih?" Tanya Denis pada Natasha dengan matanya yang fokus menatap bibir Natasha.
" Ya nggak gimana-gimana, kamu akhir-akhir ini agak meresahkan deh kak..."ucap Natasha.
" Ngeri loh aku deket-deket kakak..." Lanjutnya dengan bergidik.
Sementara Ara dan Rangga segera menjaga jarak, tak enak hati kepergok Natasha.
" Madep sini nggak!!" Bisik Rangga lagi karena lagi-lagi Ara membuang muka ke arah jendela.
"Apa sih maksa-maksa banget kamu tuh.." Geram Ara dengan terpaksa menoleh menatap malas pada Rangga.
" Apa???, suruh ngapain aku madep ke kamu kayak gini??" Tanya Ara jutek.
" Nggak disuruh ngapa-ngapain, diem aja natap aku begini, siapa tahu nanti kamu kangen banget sama aku..." Jawab Rangga alay.
" Nggak ya, Lili nggak akan kangen kakak..." Balas Ara.
" Masa???, yakin...??" Ucap Rangga sinis, senyum tipis terangkat dari sudut bibirnya.
" Nggak kangen sama ini?" Tunjuk Rangga pada tahi lalat dibibir bawah Rangga yang selalu jadi mainan Ara setiap hari.
Dan pasti Ranggapun akan kangen banget dengan moment itu.
Ara menatap bibir itu dengan haus, dia memang sering tak dapat menahan diri menatap bibir Rangga.
" Iya, aku bakalan kangen kak, jadi kumohon bawa aku kak....." Ucapnya dengan memohon.
Bersambung.....
...********...
__ADS_1