Childhood Love Story

Childhood Love Story
Janu..


__ADS_3

Ara menimang-nimang brosur yang diberikan bus Sasti padanya selepas pelajaran usai tadi siang.


Ada tiga brosus penyelenggaraan Olimpiade tahun depan dan itu semua berakhir di Boston USA.


Bu Sasti dan Denis memberikan support penuh padanya dan bahkan akan sangat bersedia menjadi tutornya.


Apa aku mampu?, apa aku bisa?


Tapi demi Allah, aku rindu kamu kak...


Aku ingin menyusulmu...


Desakan dalam hatinya membuncah.


...*...


Ara berlari-lari kecil menuruni tangga rumah Wijaya.


" Sayang jangan lari-lari.." Teriak Oma.


" Ohh...oma kapan datang?, apa kabar uncle dan aunty?" Tanya Ara dan langsung menghamburkan pelukanya pada oma yang dua hari lalu balik ke Singapura.


" Baik sayang, dan mereka ada disini. Tepatnya masih di hotel, sebentar lagi kita makan malam bersama ya kan Hen?" Seru oma.


" Iya mah..., sayang kamu siap-siap ya kita pergi selepas Magrib.." Ucap daddy Hen lembut, dengan mengusap rambut Ara yang panjang sampai ke pinggang.


" Ayo sayang, biar mommy yang dandanin kamu.." Sahut mommy saat keluar dari ruang kerjanya.


Ara langsung menepuk kening saat mendengarnya, membuat semua tertawa melihatnya.


Diuyel-uyel oleh mommy bagi Ara rasanya ya sedap-sedap gimana gitu.


Akan sangat lama dan membosankan, karena mommy itu perfeksionis orangnya. Kalau Ara belum terlihat sempurna dimatanya,maka tidak akan dilepaskan oleh mommy.


Tapi yakinlah, hasil jerih payah mommy memang sebuah maha karya yang wah...



" MasyaAllah!!!, cantik amat cucu mantu oma..." Oma Rima mencubit dagu Ara ya tersipu malu karena pujianya.


Sementara daddy Hen dan mommy mengangguk setuju.


" Ayo mah.., kak Farhat pasti sudah lama menunggu di restoran.." Mommy menggandeng lengan oma dan menuntunnya berjalan. Sementara daddy Hen merangkul pundak menantunya dengan sayang.


Mobil meluncur ke alamat yang dituju dengan kecepatan rata-rata. Karena daddy Hen sengaja membawa sendiri mobilnya, quality time maksudnya.


" Dad.." Panggil Ara yang duduk disamping kemudi. Sementara mommy sengaja duduk dibelakang bersama mamanya.


" Ya sayang.." Sahutnya dengan sekilas menoleh, dan kembali menatap jalan.


" Apa tiket ke Massachusetts itu mahal?"


Pertanyaan Ara membuat ketiga pasang mata di dalam mobil melotot tak percaya.


Mereka sangat tahu maksud dan arah pertanyaan Ara kemana.


Mereka sadar, bahwa gadis ini sedang dirundung rindu.


" Tidak sayang.., hanya lima belas jutaan one way. Kenapa?" Daddy mengulum senyum, melihat menantunya menggaruk-garuk kepalanya.


" Hem...hem..hem, baru juga masih seminggu ini loh..." Sindir mommy Tara.


" Habis..." Ucap Ara dengan *******-***** jemarinya.


" Habis kangen, begitu kan ?. Jujur saja sayang..." Oma Rima kembali mencubit dagu Ara ketika gadis itu menoleh dengan tatapan terkejut. Kok oma tau maksud hatinya.


Semua tertawa melihat kegelisahan istri kecil milik Rangga ini.


Mobil telah sampai di restoran setelah sekitar tiga puluh menitan berjalan.


" Tara sini..sini...." Panggilan dan lambaian tangan seseorang di restoran, membuat mereka tersenyum.


Beliau adalah kakak mommy Tara, Farhat, beserta istri dan putra mereka yang seusia Rangga.

__ADS_1


Kakak beradik itu berangkulan, begitu juga dengan para ipar. Suasana kekeluargaan begitu kental menyelimuti.


" Kenalkan ini menantuku, istri dari Rangga, Lailia Nafeesa Anara..." Mommy memperkenalkan Ara pada keluarga kakak laki-laki nya.


Ara mengatupkan tangannya sopan di depan dadanya.


Sementara pemuda di depanya berdecih seolah tak suka.


" Ckk!! Sok suci.." Bisiknya pada diri sendiri, tapi justru di dengar jelas oleh orang tuanya.


Sang ayah melotot pada putranya tanda tak suka dengan ucapanya.


Mereka berbincang santai dengan hangat dan penuh keakraban. Ara hanya sedikit ber-interaksi dengan sepupu Rangga karena terlihat dingin dan cuek mirip Rangga dulu. Tetapi uncle dan auntynya justru cepat dekat dan akrab dengan Ara, karena Ara memang supel dan ramah.


" Jadi, kalian akan segera berangkat ke UK?, Janu bagaimana?" Tanya Oma.


" Untuk semester ini biar Janu pindah ke sini saja mah..., setelah lulus high school nya nanti, biar Janu menyusul kami ke UK.." Sahut Uncle.


" Hendrawan apa kau keberatan bila aku titipkan Janu pada kalian?" Uncle menatap Daddy Hen dengan tatapan penuh permohonan.


" Tentu saja tidak kak, Janu juga sama seperti Rangga, dia putraku juga.."


Drrtt..drrtt..drrtt.


Ponsel Ara berbunyi disaat yang tidak tepat.


Arapun minta ijin untuk mengangkut video call dari Rangga.



" Hai sayang, Assalamu'alaikum..." Bisiknya.


" Waalaikumsalam kak.., nggak kuliah?"


" Tutor pembimbing nggak dateng jadi disini saja dulu, kamu dimana sayang?"


" Di restoran kak, sama mommy daddy dan ada uncle and aunty, juga kak Janu"


" Janu??"


" Hemmm, begitu.." Rangga terlihat sedikit berfikir.


" Kamu cantik sayang.." ucap Rangga yang matanya terus menatap Ara lekat.


" Kakak juga ganteng.." balas Ara sedih.


Bagaimana tidak sedih, mereka harus berpisah saat hangat-hangatnya menjalin ikatan, mereka harus berjauhan di saat sayang-sayangnya menjalin hubungan.


"Kakak kangen berat sayang...." Ucap Rangga sendu, suaranya terdengar serak.


" Sama kak, Lilipun begitu juga..." Balas Ara.


" Terus gimana jadinya?" Tanya Rangga ambigu, mereka akan begini bila rindu menyelimuti keduanya.


" Ya gimana?, masa mau nangis guling-guling, yang ada cuma dikasih permen doang..." Jawab Ara asal.


" Permen doang??, jadi dedek Lili maunya dikasih apa kalau nangis guling-guling? hemm, pasti permen cup kan?" Ada penekanan dan makna yang tersirat dari kata permen cup yang diucapkan Rangga. Matanya berkedip-kedip menggoda Ara.


" Idih!!!" Ara yang connect dengan maksud Rangga langsung menutup kamera ponselnya dengan telapak tangannya.Tawa kecilnya mampu mengobati rasa kangen Rangga.


Seperti biasa mereka akan terus mengobrol dan tak ingat waktu.


Dari kursinya daddy Hen dan yang lainnya sangat tahu siapa yang sedang mengobrol di ponsel dengan Ara saat ini.


Dan merekapun memahami itu.


" Untungnya komunikasi mereka lancar..." Ucap Farhat.


" Iya kak, Alhamdulilah..." Sahut Mommy.


" Besok kita ke sekolah, kamu mau sekolah dimana Janu?"


" Sekolahnya Rangga saja om.." Jawab Janu cepat.

__ADS_1


...***...


📩 Lele : Gue udah diluar gerbang!!, cepetan keluar!!.


" Huhh!!, dia ini pemaksa banget" Gumam Ara setelah membaca pesan dari Lenox untuknya.


Ara tak langsung menjawab, tapi tanganya tetap sibuk menyiapkan empat kotak bekal dengan serius.


" Janu, sarapan dulu sayang..." Teriak mommy saat memanggil keponakannya belum juga keluar dari kamarnya.


" Ya tan.." seru Janu dari ujung tangga.


" Empat kotak sayang?" Tanya mommy heran.


" Iya mom, untuk kak Janu satu.., kak Janu suka nasi liwet nggak ya?" Tanya Ara pada mommy, soalnya untuk bekal kali ini Ara membuat nasi liwet dan lauk pauknya.


" Mommy juga kurang tahu sayang "


Tak lama Janu dan daddy Hen telah berada di ruang makan.


Mereka memulai sarapan bersama, tetapi lagi-lagi ponsel Ara berdering.


" Ya Le apa lagi?" sahut Ara lemah.


" Gue tunggu di depan!! lo lama amat!!" Serobot Lenox cepat.


" Maaf Le, kamu duluan aja lah, aku bisa berangkat sendiri"


" Pokoknya gue tunggu!!"


" Tolong jangan ngeyel Le.., please.."


" Gak!!, gue tunggu lo sampe keluar!!" sahut Lenox tak peduli.


" Aku berangkat sama daddy, kamu duluan saja, maaf ya Lenox..." Tolak Ara sehalus-halusnya.


" Gue tetap tungguin disini, kita tetap berangkat bareng, walaupun beda mobil" balas Lenox tanpa mau menyerah.


" Ya sudahlah, terserah kamulah..." Pasrah Ara.


Pembicaraan Ara dengan seseorang diponselnya dapat diserap oleh ketiga orang di meja makan. Apalagi di dukung dengan raut wajah Ara yang berubah mendung dan bete, jelas mencerminkan isi hati Ara saat ini.


" Dad, mom, ini bekalnya. Kak Juna juga ini.." Ara menggusur kotak-kotak yang telah rapi ke samping mereka bertiga.


Juna hanya meliriknya acuh. Tetapi tetap memasukkan nya ke dalam tas.


Benar saja, saat mobil daddy Hen keluar dari gerbang, maka mobil Lenoxpun masih diam tak bergerak di pinggir jalan depan rumah Rangga.


Ara hanya meliriknya acuh, dan daddy Hen tahu itu.


" Dia masih terus mengejarmu sayang..?"


Pertanyaan daddy Hen membuat Ara melotot tak percaya.


" Bu..bu...tidak..dad" Ucap Ara penuh rasa takut bercampur tak enak hati. Tiba-tiba Ara terserang rasa canggung dan gelisah yang luar biasa.


Sebenarnya dia sangat tahu maksud keberadaan Lenox disekitarnya selama ini.


Ara itu sudah sering kali mengalami hal seperti ini, bahkan di pesantren pun, beberapa kali Ara harus menghadapi beberapa santri yang terang-terangan ingin mendekatinya. Apalagi teman-teman Adnan dan Ardi.


Yang seperti ini bukan masalah besar baginya, buktinya dia mampu menjaga dengan baik nama Rangga dalam hatinya selama ini.


Tapi Lenox ini sungguh luar biasa gigihnya!!. Arapun mengakui susah untuk menghempas nya.


Daddy Hen melirik Ara dari rear mirror di depanya, menantunya terlihat sedang menginggit-gigit kukunya gelisah.


" Jangan takut seperti itu, daddy tahu semua.., sekarang ada Janu, kakakmu ini pasti akan melindungi mu..., ya kan Janu?"


" Siap om.." Ucapnya dengan ikut melirik Ara sedikit.


" Mommy bersyukur ada Janu bersama kita, Janu bisa menggantikan Rangga menjaga menantu kesayangan mommy ini.." Mommy mengelus jilbab Ara dan mengecup keningnya.


Mata mommy melirik belakang mobil mereka, dimana mobil Lenox terus saja membuntuti mobil mereka sejak keluar dari gerbang rumah.

__ADS_1


Takkan ku biarkan putramu merebut menantuku Maha Dafran..


__ADS_2