
---Happy Reading---
Saat ini mereka bertujuh sedang duduk santai disalah satu kafe dalam Mall. Aksa yang sedari tadi duduk disamping adiknya dan deno tersenyum sendiri menatap benda pipihnya yang sedari tadi berada ditangan kanan. Aluna menatap abangnya bergidik ngeri, karena tertawa sendiri. Begitupun dengan Deno, dia hanya bergidik jijik karena Aksa saat ini tertawa karena teman lamanya yang tak lain, Adam.
Aluna menyenggol lengan abangnya yang entah sedang tertawa tentang apa. "Abang kenapa sih? Tawa sendiri main hape seperti lagi gak sama siapa siapa disini." Omel luna yang sudah dibalas dengan tatapan bodoh abangnya. "Maaf, ganggu kalian ngobrol ya?" tanya aksa yang langsung digelengi oleh teman teman adiknya namun diangguki oleh Aluna dan Deno. "Mereka tidak terganggu tapi kami berdua yang terganggu karena abang tertawa disamping kita." ujarnya sembari menunjuk kearah bang Deno juga.
Aksa meringis pelan karena lengannya menjadi korban cubitan adiknya. "Sakit lun, abang menertawakan 'dia' karena merajuk seperti wanita." kata Aksa dengan tawa kecil dan gelengan kepalanya, Deno sedikit mengintip lalu tertawa juga dan menepuk bahu kanan Aksa. "Bodoh apa dia?" celetuk Deno dan Aksa tertawa mengangguk. "Benarkan, dia sangat bodoh."
"Memangnya kenapa sih 'dia'?" luna penasaran dan mengambil ponsel abangnya kemudian membacanya dari awal. "Abang! Mengapa dia sangat bodoh? Lalu mengapa abang mengirim fotoku yang ini?" unjuknya dengan kesal, "Balas saja dia, dia meminta fotomu yang sangat menggemaskan itu. Untung saja diriku tidak mengirim yang kau mengembung."
Aluna berdecak lalu membalas pesan untuk Adam. "Mengapa kamu sangat bodoh? Segitu merindukannya diriku? It's me, your little princess <3." send.
Adam sudah membaca pesannya namun statusnya masih tertera ia sedang typing.. Tapi lama untuk menekan kirim, luna langsung mengetik sesuatu sampai adam terdiam disana.
"Apa kamu tidak merindukanku, kaka Adam?" send.
"Pasti kamu sudah memiliki kekasih ya, sampai pesanku tidak dibalas :'(." send. Tak lama adam membalasnya seakan panik, "Tidak tidak, aku sangat merindukanmu disini." balasnya.
"Dan aku tidak memiliki kekasih tuh. Mungkin my princessku yang sudah memilliki pacar?" lanjutnya.
Aluna bersemangat untuk menggoda adam. "Memang aku sudah memiliki pacar, dan saat ini kami sedang berkumpul." send.
"BOHONG!!!?"
Aluna tertawa karena berhasil menggoda adam yang berada disana. Lalu luna meminta duduknya bertukar dengan bang aksa lalu menggenggam tangan kiri bang deno kemudian ia foto dan mengirimnya ke adam. "Ini buktinya diriku gandengan terus menerus dengannya." send.
"Mukanya! Tunjukkan mukanya." luna menatap bang deno dengan ragu. "Boleh bang poto berdua?"
"Boleh, kan dia juga belum tau wajahku kan?" Aluna mengangguk begitupun dengan Aksa. Sedangkan keempat sahabat luna hanya bisa menunjukkan raut bingung dan bosan karena dikacangi oleh ketiga orang itu yang masih fokus dengan benda pipih tersebut.
Aluna mengirim foto yang sangat mesra dengan bang deno dan aksa yang menjadi paparazinya. "Sekarang percaya? Kaka Adam?" send.
Tidak ada jawaban atau dilihat dari Adam sampai luna menunggu 20 menit dan belum ada balasan satupun. "Ngambek kayaknya dia. Nih bang.." ujarnya sembari memberi ponsel ke Aksa lalu menatap keempat orang yang sedari tadi menontonnya. "Kalian ingin kemana lagi habis ini?" tanyanya.
Dan sahabatnya pun memilih untuk ketempat permainan Peinzone. Play with friend Zone. Aluna bersemangat mencoba dan mempermainkan game yang berada disana seperti mencapit boneka atau main basket. Aksa dan Deno hanya menatap mereka dari luar seakan tidak ingin mengganggu lima persahabatan tersebut.
Hape Aksa berdering dan menunjukkan nama Adam dilayar, Aksa mengeraskan suaranya agar Deno mendengar juga. "Halo!" sapa Aksa lalu adam tidak membalas sapaannya melainkan bertanya. "Kau pasti berbohong! Luna, tidak memiliki kekasihkan?" tanyanya penasaran. "Bukannya sudah diberi tahu oleh luna?"
"Aku tidak percaya."
"Jika kau tidak percaya padanya bagaimana kalian bisa berhubungan lebih dari abang dan adik?"
Skak!
__ADS_1
"Aku tidak tau, jika aku sudah berhubungan dengan luna aku akan percaya padanya. Tapi apa dia bohong? Aku seperti mengenali wajah pria ini." gumamnya yang masih terdengar oleh Aksa maupun Deno.
"Memangnya siapa? Kau mengenalnya?"
"Ah! Aku ingat dia adalah Denova Isandris, bukan? Anak dari Pak Raka sahabat Om Ranz?" tanyanya membuat deno membulatkan mata. "Kau mengingatnya?"
"Ya aku mengingatnya. Dan aku percaya pasti luna sedang menggodaku." ujarnya dengan penuh percaya diri. Deno menganggukkan kepalanya lalu berbisik kepada Aksa. "Pintar juga dia, restui saja langsung." Aksa membalas bisikkannya. "Tapi dia terlalu licik."
"Hoi! Aksa! Apa kau mendengarkan ku?"
"Oh ya, aku dengar. Tapi kau sedang berbicara apa?"
"Aku memberi tahumu tadi bahwa bulan depan aku kan pulang. Beritahu mama dan papa ya dan jangan beritahu luna. Aku ingin mengejutkannya. Bye~."
Tut. Panggilan ditutup sepihak oleh Adam dan Aksa hanya mengerjapkan kedua matanya yang masih menatap ponselnya. "Bagaimana bisa si licik ini mematikan sambungan? Aku tidak akan merestuinya jika begini." gerutu Aksa langsung didapati tatapan malas oleh Deno.
Lebay sekali temanku ini. Batin Deno.
❣❣
Aluna duduk santai diatas kasurnya sembari melihat lihat postingan temannya disosmed yang langsung menandai dirinya didalam foto tersebut. Lalu ia ikutan memposting dua foto diakunnya.
(Gambar pertama) :
Alunada_23 시간 내 줘서 고마워. 이것은 매우 재미있다 (1). @Cicitra.00 @RizkaP @Stef_an @MaKarel
Gambar kedua : @Aksarabintang @DenovaIS. 얘들 아 사랑한다 (2).
Translate Thanks for your time. This is very fun. (1). Love u guys (2).
lihat semua komentar.
Selesai memposting, ia langsung membaringkan tubuhnya dan menaruh hapenya dimeja nakas. Aluna meregangkan tubuhnya yang sangat pegal karena berkeliling lima kali didalam mall. Matanya sangat berat dan memintanya untuk menutup mata sampai ia sudah pergi ke alam mimpinya.
Aksa yang baru saja ingin mengajak adiknya untuk makan siang mengurungkan langkahnya karena melihat adiknya sangat pulas dikasur empuknya. Ia hanya bisa tersenyum. "Dia tertidur lelap?" tanya Deno yang langsung disuruh menutup mulutnya agar tidak membangunkan adiknya dengan jari telunjuknya berada didepan bibirnya.
"Baik aku akan diam, ayo kita makan." ucap deno lalu mengajak aksa untuk makan siang, karena deno keatas disuruh oleh mama Anzel. Seturunnya mereka, mama Anzel langsung bertanya keberadaan putrinya. "Dimana luna? Apa dia tertidur?"
"Ya, dia tertidur sangat lelap."
__ADS_1
"Biarkan princess kita istirahat, mungkin badannya sudah pegal berkeliling berjam jam didalam Mall seluas itu." Celetuk papa Ranz yang langsung diiyakan oleh semuanya. Papa sedikit melirik kearah pintu kamar putrinya lalu mengalihkan pandangannya ke mama Anzel. Untung saja mama sangat peka lalu mengangguk dan menepuk tangan suaminya dengan lembut. "Tenang saja, nanti mama akan kekamar aluna untuk makan dikamarnya. Jangan khawatir."
Papa ranz mengangguk. "Jangan sampai ia telat makan, papa khawatir maagnya kambuh."
"Iya papa, nanti mama dan abang kekamar luna."
"Bagus, kalau begitu. Mari lanjutkan makan kalian."
*
Jam 5 sore, luna baru saja meregangkan tubuhnya dengan muka bantal. Ia bangun dan mengambil handuknya untuk membersihkan tubuhnya yang masih lengket. Saat sedang berendam ia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya lalu membuka pintu kamarnya.
Yang luna pikir pasti mamanya yang datang lalu menyuruh dirinya untuk makan. Saat kelar bersemedi ia langsung memakai baju tidurnya yang bermotif kartun yang selalu mengucapkan 'Banana' menggunakan baju overallnya. Aluna keluar kamar mandi dan tersenyum melihat apa yang dibawa oleh mamanya.
"Sini sayang, biar mama yang mengeringkan rambutmu, kamu makan saja sudah telat makan siangnya katanya dimall gak makan nasi cuma makan cemilan doang kan?" luna mengangguk berdehem karena ia sedang lahap memakan masakan yang dibawa mamanya.
Rambutnya sudah kering dan langsung digulung indah oleh mama, gulungan kesukaannya sejak masih kecil. Mama mengelus rambut putrinya yang sangat fokus dengan makanannya dengan pipinya yang besar dikiri maupun dikanan.
"Makan yang banyak putri mama, sehat selalu dan jangan terlalu kecapean." Aluna mengangguk. "Iya, ma."
"Oh iya, bulan depan nanti luna sibuk gak?"
"Kenapa gitu ma?"
"Gak papa, mama cuma nanya aja." Aluna sedikit memikirkan jadwalnya. "Luna bulan depan kayaknya ada acara show gitu deh ma, menunjukkan gaun buatan anak design kepada semua orang dan yang terpilih designnya akan diangkat menjadi design terbaik." jelas luna yang dijawab anggukkan oleh mamanya.
"Ma," panggil luna setelah menaruh piringnya diatas nampan. Mama menoleh menatap putrinya yang sedang meminum air putih. "Kenapa?"
"Luna mau nanya kabar bunda Adel bagaimana?" Mama merenung tidak menjawab. "Luna sering banget mimpiin bunda tapi setiap luna nanya kabarnya, bunda selalu senyum dan menatap keatas. Seakan bunda udah gak ada."
"Jawabannya mama gak tau, cuma yang bisa menjelaskan adalah Adam dan Kakeknya." luna mengangguk. "Ah! Satu lagi ma, luna waktu kecil lupa ngasih tau kalau bunda emang punya ayah kandung setelah mengetahui bahwa om verel selingkuh sama saudara angkat-" ucapannya terhenti saat mengingat sesuatu.
Sedangkan mama tidak menyangka bahwa kehidupan adel dipenuhi dengan penghianatan oleh suaminya sendiri. "Mama!" pekik luna sembari menggenggam tangan mamanya dengan erat. Luna menggelengkan kepalanya. "Luna mohon jangan kasih tau siapapun ya, cukup mama yang tau. Rahasiakan ya?"
Mama mengangguk. "Memangnya mengapa?"
"Luna udah janji sama bunda. Ada satu hal lagi sih tapi luna gak berhak menceritakan itu sebelum diperbolehkan oleh yang terkait." Mama mengangguk mengerti lalu memeluk putrinya dengan erat. Entah mengapa putrinya, luna sangat mirip dengan adel yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
"Mama janji tidak akan memberitahu siapapun dan akan merahasiakannya." Luna menghembuskan nafas lega dibalik punggung mamanya lalu mengangguk dan membalas pelukan mamanya dengan erat.
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa like dan mampir keceritaku yang lain.
Terima kasih.