
" Sayang....sayang...tunggu..." Panggil Rangga mengejar Ara yang melesat bersama Hana, Meta dan Natasha menuju ke sungai untuk mencuci pakaian kotor.
Ara berhenti ditempatnya menunggu Rangga yang berlari kearahnya.
" Kakak akan belanja ke kampung, kamu titip apa sayang?, pembalut?, udah tanggalnya kan?"
" Ishhh, ssshhttt..." Ara meletakkan jari telunjuknya di bibir, dan menoleh kesegala arah. Malu aja dia kalau sampai ada yang denger.
" Belum ada tandanya sih, tapi kakak pergi sama siapa emang?, kalau ada yang cewek iya boleh titip itu, tapi kalau kakak sendiri, nggak deh" Ara mengeryit malu. Senyum manisnya adalah imun pagi untuk semangat Rangga melewati hari ini. Jika saja ada dirumah tentu sudah habis Ara diuyel-uyel olehnya.
Ditatap oleh suaminya sampai tak berkedip membuat Ara menundukkan kepalanya malu.
" Kenapa kamu malu sayang...." Ucap Rangga gemas, dicubitnya pipi Ara yang chubby dan merona merah karena malu.
Rangga seolah lupa tempat, dengan beraninya pemuda itu memajukan wajahnya mendekat hingga jarak antara keduanya sangat dekat.
Dipejamkannya kedua matanya.
" Fyuuuhhh....ha...ha.. ha.." Ara meniup mata Rangga yang terpejam tepat di depan wajahnya dan dengan entengnya gadis itu tertawa-tawa, tidak tau saja Ara kalau Rangga dalam mode nggondok luar biasa.
Kenapa semakin dekat hari dimana kita berpisah, kamu semakin cantik sayang..
Gue bisa gila kalau begini terus...
" Kakak berangkat ke kampung ya sayang, mumpung masih pagi, sini dulu deh...." Lagi-lagi Rangga menyeret Ara secara paksa ke balik tenda.
Cup..cup..
Dikecupnya pipi gembul Ara, entah kenapa pagi ini Ara begitu menggemaskan di matanya.
Ara meraih tangan Rangga untuk dikecupnya takzim.
"Ya udah pergi sana, hati-hati dijalan ya sayang...." Ara mendorong perut Rangga pelan.
Rangga mematung mendengar panggilan 'sayang' dari Ara.
Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang mengepak dalam perut Rangga saat ini, gemas, geli, bahagia dan kaget. Semua rasa bercampur jadi satu.
" Kamu juga sayang..,jangan meleng, jangan ceroboh, jangan lepas dari kelompok, dengar kata kakak..." Rangga mengacak gemas pucuk kepala Ara.
Rangga saja sampai saat ini masih syok dengan kelakuan Ara semalam yang ngotot nonton final Liga Champions. Sampai-sampai harus manjat pohon malam-malam. Untung cinta, kalo ngga mana mau malam-malam nongkrong di atas pohon megangin payung untuk keselamatan ponsel Ara.
Untungnya lagi mereka nongkrong diatas pohon bukan pas malam jum'at, kalau iya mungkin mereka tak hanya berdua, tapi bakalan ditemani miss Kunti juga pastinya.
Kelakuanya semalam benar-benar diluar kendali Rangga, dan itu adalah salah satu sifat Ara yang baru diketahuinya yaitu pantang menyerah dan keras kepala akut. Ara itu jika sudah menginginkan A maka harus tetap A, bahkan A+ pun dia tak menerimanya.
Sebelum berangkat Rangga mengecek kembali sarana dan prasarana untuk kegiatan selanjutnya yang tanpa kehadiran dirinya.
" Kotak ini apa aja isinya?" Tanya Rangga pada panitia penguji yang mempersiapkan beberapa binatang untuk tes indera peraba.
" Ini yang ditutup kain hijau adalah cacing kak.., tutup hitam itu ulat sutra, tutup merah itu kecoak, dan tutup biru itu belut.." Penjelasan Melloda Waketos dari kelas XI.
" Mell, boleh minta tolong...?" Tanya Rangga.
" Apa itu kak?"
" Nanti kalau Ara X IPA 1 dapat giliran, kamu kasih belut aja ya.., trus tolong divideo in..." Ucap Rangga sedikit mengecilkan suaranya.
" Baik kak siap..." Ucap Melloda dengan tertawa kecil.
Ya Ampun so sweet kak Rangga..., walau jauh masih tetep ingin terus memantau Ara...
Sepasang mata yang mengintip dari jendela tenda tersenyum penuh misteri.
" Lihat aja Ara, lo akan gue buat menyesal karena udah rebut Rangga dari gue" Ucapnya penuh rasa amarah dan dendam.
Rangga dan beberapa temannya pun berangkat ke kampung dengan jalan kaki.
Mereka rencananya berbelanja untuk keperluan nanti malam dan besok pagi, karena siangnya mereka sudah harus pulang.
Disepanjang jalan Rangga terus menghembuskan nafasnya seolah-olah ada beban berat yang sedang dipikulnya.
" Huffttt..." Lagi desahnya membuat Rayya yang berjalan paling dekat dengannya menoleh.
" Ada apa sih bro?"
" Entahlah, perasaan gue kurang nyaman Ray..."
" Hemmmm, gue juga rasanya ragu-ragu melangkah " Timpal Hanan.
" Kalau bokap gue bilang, kalau muncul keraguan mendingan nggak usah.." Sambar Denis.
Hanan tiba-tiba berhenti.
" Gue balik aja deh guys.., sama seperti Rangga, gue merasakan nggak nyaman ninggalin camp.." Ujar Hanan.
__ADS_1
" Huffttt..." Lagi-lagi suara hembusan dari mulut Rangga terdengar.
" Gue nemuin Lili dulu boleh kan ya guys..." Pintanya serius.
Dan mereka berenam yaitu, Denis, Vino, Rayya, Beno, Darren dan Hanan pun mengangguk kompak.
" Terimakasih guys..." Ucap Rangga dan langsung melesat berbalik badan berlari kembali ke camp.
" Hai...Ga!!!, tunggu...gue juga balik..." Teriak Hanan yang menyusul Rangga, tapi tidak berlari, hanya jalan biasa.
Sementara Denis cs melangkah melanjutkan perjalanan mereka ke kampung, tidak perlu menunggu Rangga balik, karena Rangga sudah survey jalanya dan hafal.
Rangga terus berlari hingga sampai pada bibir sungai dimana Ara dan teman-temannya sedang asyik bermain air setelah selesai mencuci.
" Sayang..." Panggil Rangga dengan nafas ngos-ngosan.
" Loh...nggak jadi pergi..?" Tanya Ara dengan sedikit kekagetannya.
" Jadi sayang... . Han, Nat, Met, boleh pinjam Aranya sebentar.." Pinta Rangga pada ketiga gadis yang sedang asyik cipak-cipak air.
" Silahkan..." Jawab mereka kompak dengan tawa riuh mereka menggema disepanjang sungai.
Ara mentas dengan bantuan Rangga.
" Sini sayang..." Rangga membawa Ara menjauh dari warga SMU Bhakti yang saat ini memang rata-rata sedang beraktivitas di sungai, ada yang mandi, mencuci piring, mencuci sepatu dan sendal yang kotor akibat hujan semalam. Dan ada pula beberapa yang menjemur jas hujan dan pakaian basahnya di pinggir sungai.
" Mau kemana kita sayang?" Tanya Ara.
Rangga membelalakan matanya, mengigit bibirnya gemas dan mesam-mesem mendengar panggilan sayang yang disematkan Ara padanya.
" Kesini..." Rangga menarik Ara kebalik pohon besar.
Dan tanpa babibu segera menyambar bibir Ara.
" Emmmpppp, kak apa-apaan sih..."
" Sayang..., kakak nggak bisa kalau harus jauh dari kamu..., aduh perasaanya kakak nggak karuan, kadang mual, pusing, dada berdebar dan rasa asing lainya tiap nggak ketemu kamu..."
" Belum juga naik pesawat.." Sahut Ara.
Rangga menatap Ara dengan tatapan entah.
Dikecupnya sekilas bibir pink alami itu.
Ddrrtt....ddrrt...
" Sayang kakak balik lagi ya..." Pamit Rangga.
" He emmm" Ara mengangguk pasti.
Tapi tiba-tiba Rangga kembali meraih dagu Ara dan melabuhkan ciuman mautnya di bibir Ara yang sedikit terbuka.
Setelah puas dengan mainanya, Ranggapun tersenyum melepas mangsanya.
" Ayo kakak antar balik ke sungai sayang.."
" Nggak usah, itu disana masih keliahatan kok..." Tunjuk Ara pada ketiga sahabatnya yang masih terlihat dari posisi mereka saat ini.
" Ya udah kakak ditunggu mereka di jalan aspal menuju kampung " ucap Rangga.
" Bye sayang..." Lanjutnya.
Rangga berjalan mundur. Seolah tak rela kehilangan pandangan atas wajah Ara hari ini.
Entahlah yang jelas hari ini Rangga sangat ingin terus menatap wajah cantik Ara.
" Belakang jurang tuh!!" Teriak Ara saat Rangga masih saja berjalan mundur padahal jarak mereka sudah semakin jauh.
Rangga hanya tertawa kecil dan melambaikan tanganya pada Ara. Kini Ara hanya bisa menatap punggung tegap itu yang masih saja menoleh beberapa kali sampai benar-benar tak terlihat lagi.
" Kenapa aku merasa kamu.., Astaghfirullah..., ya Allah kuburkanlah prasangka burukku..."
Ara kemudian berbalik dan menuju dimana ketiga temanya berada.
Saat berjalan melewati ujung lorong jalan setapak, Ara melihat beberapa pemuda sedang berbincang serius dengan berbisik-bisik.
Sepertinya bukan murid SMU Bhakti.
Tapi itu siapa?, cewek yang bersama mereka?, dia berseragam olahraga kami.
Tapi rambutnya dimasukkan ke topi.
Ah, biarin aja lah...
Batin Ara dan melintas begitu saja.
Setelah acara bersih-bersih selesai, dan sarapan pagipun sudah.
__ADS_1
Semua berkumpul ke lapangan. Seperti rencana awal, hari ini adalah test kepekaan indera peraba.
Masing-masing regu mengirimkan pesertanya.
Karena pada test kemarin Ara belum mendapatkan giliran maka hari ini dia berkewajiban mewakili regunya untuk maju sebagai peserta terpilih dari regunya.
Masing-masing peserta berdiri didepan regu.
Di depan mereka telah terdapat beberapa kotak tertutup, dengan nama 'mystery box' yang berisikan binatang didalamnya.
Tugas para peserta adalah menebak dengan benar binatang apa yang ada didalam kotak itu dengan cara merabanya.
" Oke sudah siap semua?" Suara Yuda Pradana melengking membuka acara.
" Okey...siap" Sahut para peserta.
Masing-masing peserta di beri kesempatan untuk menerka dua kotak yang dipilihkan oleh panitia.
Sampailah pada giliran Ara. Box pertama dibawa oleh Melloda dan menaruhnya dimeja depan Ara.
Sebuah kotak berwarna hijau telah ada di hadapan Ara saat ini.
" Silahkan masukkan tanganya.." Perintah Yuda.
Dengan ragu-ragu Ara memasukkan tangan kanannya dan merasakan sesuatu yang lunak bergerak-gerak, sesuatu yang banyak seperti mie dan meliut-liut di telapak tanganya.
" Cacing?" Tebak Ara.
" Okey kita simpan jawabanya, sekarang box selanjutnya..., Mell mana?" Tanya Yuda yang mencari keberadaan Melloda yang tidak ada.
Melloda berjalan ke arah tenda peralatan.
" Cha..lo liat box biru nggak yang isinya belut?" Tanya Melloda pada Chacha.
" Nggak tau tuh..." Jawab Chacha.
" Ini kak box nya..." Ucap Lenox dengan box biru ditanganya.
" Kok ada di lo sih??? tadi disitu..., jangan curang!!, Lo ngintip isinya ya!!!" Damprat Melloda kesal.
" Ya nggak tau gue, gue juga nemu dibelakang sana kotaknya, dan gue bawa sini..." Jawab Lenox cuek.
Melloda dengan cepat berjalan menyambar kotak itu dan menuju ke lapangan.
" Kemana aja lo Mell" Bentak Yuda.
" Sorry Yud..., gue ambil ini..." Tunjuknya pada box biru ditanganya.
" Taruh sini.."
Mellodapun meletakkan box tertutup kain biru itu di depan meja Ara.
" Silahkan Ara, tebak apa isinya?" Lanjut Yuda.
Seperti awal tadi, dengan ragu Ara memasukkan tanganya pada kotak.
Sementara seorang gadis sedang tertawa penuh kemenangan di sudut lapangan.
Ara mengayun-ayunkan jarinya kesekitar ruangan kotak, tapi tak mendapati apa-apa.
Gadis itupun mengulurkan tanganya lebih dalam, dan...
Tuk!!!
" Akhhh!!!! Allahu Akbar..." Pekik Ara. Saat merasa punggung tanganya tertusuk duri.
Tiba-tiba Ara merasakan pusing yang luar biasa, pandangannya seketika kabur, rasa kepalanya berdenyut-denyut luar biasa hebatnya, rasa mual sungguh menyiksanya saat ini.
Tuk!!
Lagi-lagi jemarinya merasakan sama, duri tajam melukai tanganya.
" Oughhh...sa..sakit" bisiknya pelan.
" I...ini u...ular...." Bisiknya pelan dan justru menjadi bahan tertawaan para peserta lainya.
Wajah pucat Ara membuat mereka menduga Ara takut akan belut sampai begitunya. Bahkan ketiga temanya begitu gemas melihat Ara yang terlihat ketakutan.
Jarang-jarang melihat Ara syok seperti itu, tapi tiba-tiba...
Brughhh.
Ara jatuh terkulai dengan jarinya yang meremas kain biru itu hingga tersingkaplah isi dari mystery box biru itu.
" ARA.." Teriak Hana dengan berlari menyambar kepala Ara agar tidak membentur batu yang ada di bawahnya.
Bersambung...
__ADS_1