
Selama acara berlangsung, mata Denis tak lepas dari sosok yang bernyanyi di atas panggung. Gadis cantik enerjik yang telah mencuri hatinya sejak awal ospek di SMU Bhakti 5 tahun lalu.
Gadis yang selalu ceplas-ceplos itu membuatnya tak mampu mengalihkan pandanganya.
Natasha Agil Prameswari, nama yang selalu berdetak di hatinya.
Mereka sempat dekat dan memilih berkomitmen, tapi itu hanya dua bulan bertahan. Dan entah kenapa semua berubah setelah kepulangan mereka dari kemping di Bandung waktu itu.
Denis sampai hari ini tidak pernah tahu apa sebenarnya penyebab Natasya tiba-tiba mengacuhkannya begitu saja.
Awalnya Denis mengira bahwa itu karena sepulang dari kemping di Bandung waktu itu, Natasya langsung terbang ke Australia untuk liburan. Dan Denispun sama, dia juga terbang ke Australia mengunjungi rumah papanya. Makanya mereka sempat loose contact.
Tetapi ternyata dugaan Denis salah. Karena saat awal semester kedua dimulai, maka dimulai jugalah sikap dingin Natasya padanya.
" Om..Nis..., Caga mo ndon..." Suara Saga Vino Malik yang menepuk pipinya, membuat Denis tersadar dari lamunannya.
" Oh...okey, sini sayang..." Denis meraih Saga ke dalam gendongannya. Dua hari bersama menginap di rumah kakek Al Ghifari membuat mereka cepat akrab. " Sepertinya kakak banyak fikiran.., melamun terus dari tadi.." Ucap Vera sembari mengelus rambut Saga yang ada di gendongannya Denis.
" Kak Denis pusing Ver, sampai hari ini kak Denis nggak tahu kakak itu salah apa?" Ucap Denis dengan terus menatap Natasya yang sedang menyanyi.
" Dia mengacuhkan kakak sampai bertahun-tahun lamanya" Ucapnya masih dengan terus menatap Natasya.
" Ya jelaslah dia marah, kakak menipu dia mentah-mentah..." Vera berbicara dengan nada yang kesal.
" Maksudnya?" Tanya Denis bingung.
" Kakak membuat komitmen dengan Natha untuk masa depan, tapi di masa itu kakak seenaknya saja liburan dengan Rose, dan lagi.." Vera terdiam saat mata Natasya yang diatas panggung menatapnya tajam.
" Dan lagi....?, apa Ver..?. Please Ver.....bantu kak Denis untuk membuat ini clear.."
" Apa kau tau Ver, kak Denis sampai harus mengulang skripsi berkali-kali karena kepikiran ini terus, tolong Ver... ." Lanjut Denis.
" Kita bicara disana saja kak.." Vera menunjuk pojok taman di halaman belakang yang telah disulap keren itu.
Sementara Rangga dan Ara masih harus terus menjemur gigi untuk menyalami para undangan yang terus berdatangan seperti air mengalir yang tidak habis-habis.
" Ini kapan selesainya sayang..., ya ampun..." Rangga menepuk-nepuk paha atasnya yang pegal.
" Duh...pegel banget lagi ini..." Desis Rangga lagi.
" Makanya jangan ngeyel, kan udah Lili bilang cukup malam aja jatahnya, kamu gak denger sih Bi...., habis subuh masih mau juga..." Ara menggeleng gemas.
" Ya elah sayang..., itu tu udah jadi hobby kakak sekarang..., ya gimana dong?" Jawab Rangga santai.
" Lagian lagaknya kaya pengantin baru aja kamu Bi..... Padahal kita mah penganti basi " Ucap Ara lagi.
" Ehhh!!!, enak aja basi!!!, nggak ada ya!!, pernikahan kita ini akan selalu baru. Ngga ada kadaluarsanya sayang.... Awas ya kamu ngomong sembarangan..." Rangga mencubit dagu Ara gemas.
" Waduhhh! alamat Lili bakalan mati muda kalau harus jadi pengantin baru terus ini mah.... Duhhhh, Lili nyerah aja deh Bi..... Silahkan aja kalau mau cari istri la-----emmmpppppp" Rangga tak sanggup mendengar omongan nggak jelas Ara.
Omongan tentang kematian, tentang istri baru. Pembicaraan yang tidak pada tempatnya, pembicaraan yang membuat hati Rangga ngilu.
Semua tamu undangan bertepuk tangan dan beberapa bahkan bersiul melihat tingkah agresif Rangga.
Apalagi beberapa teman kampus Rangga yang selama ini mengenal Rangga yang dingin, cuek dan bahkan dikabarkan belok karena selalu menjaga jarak dengan wanita.
Saat ini mereka tak percaya melihat Rangga yang terus menciumi istrinya tanpa rasa malu sedikitpun.
" Emmmmpppp" Ara menepuk-nepuk punggung Rangga dengan keras agar Rangga menyudahi aksi gilanya saat ini.
" Gila kamu Bi....., bikin malu...." Ara benar-benar marah dan malu saat ini.
" Sekali lagi ngomong sembarangan lihat aja kamu sayang, kakak bisa nekat lebih dari ini..." Ancam Rangga.
Kembali ke pembicaraan Vera dan Denis.
Akhirnya Vera menceritakan, semua yang telah diceritakan Natasya padanya beberapa hari lalu.
Dimana Natasya yang memergoki Denis berciuman dengan Rose di bandara, padahal saat itu status mereka sudah berpacaran selama dua bulan.
Denis mengusap wajahnya berulang kali.
Dia tidak percaya bahwa Natasya ada disana juga saat itu.
Lagi, matanya kini semakin sendu menatap Natasya yang terlihat semakin berani dengan mengajak beberapa pria berduet dengannya.
Puk..puk..
Tepukan Rayya yang baru muncul karena harus kembali ke Jakarta semalam membuatnya menoleh. Rayya tersenyum padanya, dengan Rasya yang menggelendot manja di pundaknya.
" Kalau cuma di tatap doang nggak akan ngefek, dia butuh penjelasan bro!!" Bisik Rayya.
" Sudah sering gue jelasin. Tapi dia ini belut yang licin. Susah bro!!" Denis mengacak-acak rambutnya kesal.
"Ke playboy an kak Denis sepertinya sudah hilang pamornya, ketajamannya sebagai perayu ulung sepertinya juga luntur.." Sindir Hana yang sejak tadi berdiri dibelakang Rayya.
" Kakak harus gimana Han, lo kan tahu si Natha itu nggak akan mempan dirayu.." Denis semakin tersiksa jiwa dan raganya.
" Satu-satunya cara ya memohon dan mengiba..., Natha itu keras diluar. Tapi dia lunak di dalam..." Gumam Hana.
__ADS_1
Mata Denis terbuka lebar begitu mendengar omongan Hana.
" Wahhh, terimakasih Han.... Kak Denis sekarang tahu apa yang harus kak Denis lakukan..." Denis segera menyerahkan Saga pada Vera dan bergegas maju ke panggung.
" Dia mau ngapain?" Tanya Vera pada Hana.
" Mengungkap perasaannya..." Ucap Hana dengan tatapanya nyalang melihat Adnan yang sedang tertawa-tawa dengan seorang wanita.
Vera mengikuti arah pandangan Vera dan juga ikut terkejut melihat itu.
" Waduh..., bakalan ada perang dunia nih..."
" Kak, tolong pegang Rasya dulu bentar, Hana akan buat perhitungan dulu dengan papanya Rasya.." Ucap Hana tanpa mengalihkan tatapanya pada Adnan.
Adnan yang tanpa sengaja melihat Hana menatapnya seolah-olah ingin mencabiknya itupun langsung terdiam ditempat.
" Mampus aku..." Bisiknya pada diri sendiri.
Denis kini berada di panggung. Natasya terlihat salah tingkah saat Denis semakin melangkah mendekat padanya.
" Boleh pinjam micnya?" Denis menyodorkan tangannya untuk meminta mic dari tangan Natasya.
" Baiklah, perkenalkan saya Denis Pramana Putra. Saya akan mencoba membawakan sebuah lagu yang sedang viral saat ini. Lagunya mas Bintang untuk Nagita di sinetron sore-sore itu"
" Saya berharap lagu yang saya bawakan ini akan nyampai pesannya pada seseorang yang pernah saya sakiti hatinya.."
" Seseorang yang menyimpan dendam pada saya, sampai selama ini..."
" Hanya satu yang harus kamu tahu, gadis cabeku, yang terjadi tidak seperti yang kamu lihat sayang..." Denis mengunci tatapanya pada mata Natasya yang kini juga menatapnya.
" Hingga Tua Bersama, by Risky Febian. Dari Denis Pramana Putra untuk Natasya Agil Prameswari..."
" Wuaaaahhh huuuu......"
Sorak sorai hadirin semakin membuat suasana semakin ramai.
Romo Natasya yang memang seorang ningrat Jogja hanya tersenyum berwibawa melihat pertunjukan di depanya.
🎶🎶🎶
Inikah kisah cinta yang aku sesali.
Kini kau tinggalkan diriku.
Ku tahu ini semua kesalahanku.
aafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku.
Selama jatung ini berdetak
Ku akan slalu menjagamu
Hingga akhir waktu
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga tua bersama
Ku mohon kembalilah dalam pelukanku
Lihatlah diriku tanpamu
Maafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga tua bersama
Hati ini tak akan mungkin
Tanpamu yang begitu tulus mencintaiku
🎶🎶🎶
__ADS_1
Tatapan Denis tak lepas sedetikpun selama menuangkan isi hatinya dalam lagu itu.
Bahkan profesor Pramana pun akhirnya paham apa yang bertahun-tahun membuat putranya itu tampak tidak baik-baik saja ini.
" Ohh, rupanya ini masalahnya Hen..." Bisiknya pada daddy Hen.
" Iya kan, udah ku bilangkan sama kamu. First love never died...." Bisik daddy Hen juga.
...***...
Hari yang melelahkan Ara dan Rangga akhirnya selesai juga. Mereka memutuskan untuk menginap di rumah kakek, ramai-ramai bersama para sahabat dan kerabatnya. Karena Rangga sudah tidak sanggup lagi menahan rasa pegal yang luar biasa.
Tiga hari dia harus bolak-balik ke Jakarta- Jogja untuk mempersiapkan hati ini. Dan hari ini adalah ujung menumpuknya rasa capek itu.
" Sayang.... kakak tidur duluan ya, satu jam aja. Bangunin kalau lebih dari itu " Bisik Rangga sambil memposisikan bantalnya agar nyaman.
" Memangnya mau kemana Bi...." Tanya Ara heran.
" Mau malam pertamaan lah..." Jawab Rangga cuek dengan mata terpejam.
" Ni orang benar-benar!!!, Astaghfirullah..untung sayang ..." Ara mengelus dadanya pelan dan ikut berbaring di samping Rangga, karena diapun lebih capek tentunya.
Natasya yang tidur sendiri dikamar atas pun turun karena merasa haus.
Saat sampai di ujung tangga bawah, Natasya terkejut mendapati Denis yang tertidur di sofa.
Tak jauh dari Denis ada Chandra, Gama Bagaskara dan Vino yang juga Masing-masing tergeletak di karpet ruang TV.
Sementara Rayya dan Brian terlihat elegan dengan tidur rapi di sofa dekat jendela.
Semua terlihat capek, tapi sepadan dengan hasil kerja keras mereka.
Sahabat mereka kini telah berbahagia.
Natasya duduk di dapur dengan segelas air dingin di tangannya.
Sejak mendengar isi hati Denis, Natasya susah memejamkan matanya sejak tadi.
Apa iya ini cuma salah paham.
Tapi memang selama ini aku tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
" Nath..."
Suara yang sangat di kenalinya itu kini telah berdiri dibelakangnya, membuatnya terpaku tak dapat berbuat apa-apa lagi.
" Boleh kakak duduk di sini.." Denis menggeser kursi didepan Natasya untuk didudukinya.
Natasya hanya mengangguk.
" Nath..., hari itu. Bukan aku yang menciumnya, tapi di--"
" Sudahlah!!, untuk apa membicarakan masa lalu nggak penting!!" Sahut Natasya hendak berdiri.
" Tunggu Nath...please.." Denis memohon dengan mengatupkan dua tanganya.
" Baiklah.., bicaralah.." Natasya kembali duduk.
Akhirnya Denis menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Hari itu hari dimana dia akan mengunjungi papanya.
Tapi juga hari dimana dia memberikan ketegasan pada keluarga Rose bahwa dia tidak mau melanjutkan perjodohan yang dibuat mamanya dan mama Rose.
Rose memang menciumnya saat itu tapi Denis berani bersumpah bahwa dia tidak menikmatinya sama sekali.
Tapi ternyata rencana tinggal rencana, karena mama Rose membuat drama seolah-olah beliau sekarat dan akan segera mati karena kangker.
Mau tidak mau akhirnya Denis dan Rose harus bertunangan sebelum kematian menjemput mama Rose.
Tapi semua berakhir tepatnya satu tahun yang lalu. Saat papanya memergoki surat hasil lab itu ternyata palsu.
Dan satu lagi, Rose ternyata juga sedang mengandung benih kekasih gelapnya dan usia kandungannya saat ini telah masuk di bulan yang ke lima.
Natasya memutari bibir gelas dengan telunjuknya.
" Apa kau mendengarkan ceritaku Nath?" Tanya Denis sendu.
" Ya..." Jawab Natasya singkat.
" Terus....???" Tanya Denis lagi.
" Terus apa?, ya hidup terus berjalanlah. Sudahlah, aku mengantuk..." Natasya berdiri dan hendak melangkah kembali ke kamar. Tapi Denis dengan cepat menyambar jemarinya.
" Apa aku sudah tidak ada kesempatan Nath???" Denis sudah putus asa. Direbahkannya kepalanya di meja dapur dengan pasrah.
" Maafkan aku Nath..., aku hanya mencintaimu Nath...."
__ADS_1
Denis menangis, tangisan pertamanya untuk seorang perempuan. Setelah tangisannya atas kepergian mamanya menghadap Tuhan.
" Maafkan aku Nath...please...."