
Waktu berjalan begitu cepat, kandungan Natasya telah mencapai delapan bulan.
Mereka berencana melahirkan di Jakarta.
Seperti saat ini, mereka sedang di dalam pesawat menuju Jakarta.
Wari mengusap perut Natasya yang terus bergerak, mungkin baby merasa tidak nyaman dibawa terbang.
" Kenapa kak?" Tanya Wari yang begitu cemas melihat Natasya mendesis.
" Mulas..." Jawab Natasya singkat, sebentar-sebentar terlihat wajahnya mengernyit.
" Kak Denis kok malah tidur sih, istrinya lagi sakit perut gini.." Wari menabokkan tas tanganya pada tangan Denis yang tidur dengan bersedekap, disamping Natasya.
" Ahhh, iya apa?" Tanya Denis gelagapan saat membuka mata dan menatap istrinya.
" Yang...., mulas ini..." Rengek Natasya sambil mengelus perutnya yang membesar.
" Mulas gimana?, ya ke toilet lah kalau mulas mah?" Jawab Denis asal.
" Bukan mau BAB yang, ini rasa mulas yang lain..." Sahut Nata lagi.
" Mulas lain gimana sih yang, udah dibawa tidur aja kan hilang, masih satu jam lagi baru turun di Changi. " Sahut Denis lagi dan mulai tidur kembali.
" Jangan tidur yang, ini mulas terus...." Natasya meremat tangan Denis.
Denis mulai ngeh setelah melihat keringat dingin merembes di antara dalaman jilbab Natasya. Ya, Natasya hijrah dengan mengenakan hijab, setelah mendengar kabar kehamilan dirinya delapan bulan yang lalu.
" Hahhh, j..ja..jadi mak...mak..maksudnya itu mulas mau melahirkan gitu?, Astaghfirullah gimana nih?, bisa tahan nggak satu jam lagi yang, aduh yang gimana yang?, ya Tuhan yang ...kakak juga ikut mulas nih ya Ampun.."
Dan begitulah Denis, dia justru yang lebih heboh daripada yang sedang mau melahirkan itu sendiri.
Bahkan dia justru lebih terlihat berantakan dan stress ketimbang Natasya itu sendiri. Dia juga lebih terlihat kesakitan dari pada istrinya.
Wari menepuk keningnya gemas, sementara Natasya justru kehilangan rasa sakitnya, yang ada justru rasa geli ingin tertawa saat melihat derita Denis.
Rasa mulas atau biasa kita sebut kontraksi itu terus datang dan pergi. Tapi beruntungnya, Natasya tidak setakut dahulu.
" Masih mulas nggak yang?" Tanya Denis pelan.
" Ya, datang dan pergi.... Kamu tidur saja lagi" Natasya mengelus rahang Denis pelan.
" Nggak!!, kakak harus jadi suami siaga, dua puluh menit lagi take off..." Denis mencium perut bulat Natasya dan terus membisikan sesuatu pada babynya.
Begitu pesawat telah menyentuh tanah, Denis segera mengaktifkan ponselnya dan menghubungi Adnan dan Hana.
Hana yang memang sedang berada di kantor karena ikut Adnan bekerja segera meraih ponsel Adnan yang berkedip-kedip. Saat ini Adnan sedang diruang meeting, melihat itu panggilan dari Denis dengan segera Hana mengangkatnya.
" Hallo Assalamu'alaikum---"
" Han..., tolong buat reservasi untuk pemeriksaan kandungan ke dokter obgyn segera please, sepertinya Natasya akan segera melahirkan...." Seru Denis cepat.
" Hah me..melahirkan oh MasyaAllah..
oke...kak..." Sahut Hana cepat. Dan dengan cepat diapun segera menghubungi dokter obgyn langgananya.
Hana berencana menjemput Natasya ke bandara, tapi saat keluar ruangan dia hampir saja bertabrakan dengan suaminya.
" Upss..., sayangku.... Mau kemana buru-buru..." Adnan meraih pinggang Hana yang hampir jatuh karena tertabrak tubuhnya yang besar.
" Itu bang..., Hana mau jemput Natasya ke bandara. Natasya mau melahirkan..." Sahut Hana.
" Ya udah sama abang aja yuk, meeting juga udah beres.." Adnan segera berjalan cepat memasuki ruanganya untuk menyimpan berkas-berkasnya dengan rapi.
Tak sampai tiga puluh menit mereka sudah berada di pintu keluar bandara.
Hana melompat-lompat saat matanya menangkap keberadaan Wari yang terlihat panik.
"Wari...Wari...sini..sini..." Teriak Hana.
Wari yang melihat sosok Hanapun segera memberitahu Denis.
Dengan sigap Denis mengangkat tubuh Natasya agar lebih cepat, karena sejak tadi Natasya sudah mulai melangkah seperti keong.
__ADS_1
" Mobilnya disana kak.." Tunjuk Hana, sengaja Adnan menunggu dimobil biar cepat seperti saat ini.
Mereka berlarian menuju mobil Adnan yang berada di parkiran yang strategis.
Setelah pintu tertutup mobil langsung bisa dengan cepat berjalan kembali.
" Langsung ke Dr. Rahmi bang..." Ucap Hana cepat, dan Adnan langsung mengangguk.
Denis tak bisa lagi berkata-kata, melihat istrinya terus meringis membuatnya mendadak bisu.
" Apa masih mulas terus Nat?" Tanya Hana.
" Kadang timbul kadang tenggelam sih Han, kalo sekarang sudah enggak.." Jawab Natasya.
" Apa jaraknya udah dekat-dekat?" Tanya Hana lagi.
" Nggak sih Han, tadi pas di pesawat emang mulas banget---"
" Sekarang rasanya gimana yang?, aduh kakak aja masih mulas ini.." Sambar Denis.
" Kalau lo yang mulas, kita bisa mampir toilet umum Den.." Ucap Adnan.
" Kak Denis ini bukanya mau BAB bang, bukan juga mau melahirkan, tapi hebohnya lebih dari itu..." Sindir Wari.
" Iya..hi..hi..hi..." Natasya tak dapat menahan rasa gelinya sedari tadi.
Mereka berlimapun tertawa bersama.
Sesampai di RS, Natasya langsung diperiksa, dan hasilnya bukanlah kontraksi melahirkan, melainkan reaksi janin terhadap pengaruh gravitasi.
Dilihat dari posisi janin dan segala macamnya, prediksi kelahiran tetaplah sama, yaitu satu bulan lagi.
Hasil konsultasi Denis dan dokterpun akhirnya menghasilkan keputusan, bahwa Natasya masih bisa melanjutkan perjalanannya lagi ke Jakarta.
...***...
Keesokan Harinya, White Base.
Kedatangan Denis dan Natasya disambut haru oleh para genk somplak kecuali Keluarga Brian yang sudah kembali ke USA bersama Marvel dan keluarga, serta Vino dan keluarga juga kembali ke Surabaya.
" Kangen banget sepertinya.." Sindir Rangga.
" Ya iyalah Bi, duh...Lili pusing banget Bi.... Tolong pegang Meera..." Ara memijat keningnya yang tiba-tiba begitu pusing.
" Kenapa sayang?, telat makan lagi?" Tanya Rangga cemas.
" Nggak tau nih..emmmmppp hoekk...hoekk .."
" Sayang masuk angin ini mah!!, kamu sih!!, pasti telat makan ini sih!!" Rangga mengomel sambil sebelah tanganya mengurut tengkuk Ara.
" Kenapa?" Tanya Ardi yang baru keluar dari mobilnya.
" Mual bang...hoek...hoek..." Jawab Ara.
" Dia nih selalu telat makan Di, beberapa hari ini pulangnya malam, melewatkan makan malamnya, makan siang kata Lenox juga jarang. Aduh pengen marah aku tuh. Pengen nyubit juga saking geremnya aku tuh...duh...duh...untung sayang ya Allah..." Rangga nyerocos tanpa rem, sudah dibatas jebolnya saat ini. Beberapa ini dia terus menahan diri untuk tidak marah pada istrinya ini.
Suami mana yang tega melihat istrinya bekerja seperti itu siang malam. Dibujuk dengan berbagai carapun tak mempan bagi Ara untuk berhenti saja.
" Sudah..sudah.., sini Meera biar Zura yang bawa kak..." Azura mengambil alih Meera dari tangan Rangga.
" Myy Yu..la..." Panggil Meera.
" Iya sayang..., sama my Zura ya, mommy sakit..." Ucap Azura lembut.
" My..atit...." Sahut Meera lagi.
Rangga gemas melihat Ara yang hanya berkedip-kedip genit saat dimarahin begini.
Sedangkan Ardi malah tertawa puas melihat Rangga yang nggondok melihat tingkah istrinya.
" Araaaaaa......" Teriak Natasya begitu Ara muncul di ambang pintu.
__ADS_1
Dengan berlarian kecil Ara menghampiri Natasya dan Denis yang telah duduk di sofa ruang keluarga dengan memangku Meera.
Ara dan Natasya berpelukan melepas rindu yang teramat. Hampir satu tahun mereka pergi, dan baru kali ini mereka kembali.
Denis mengusap kepala Ara lembut.
" Sehat semua kan Ra?"
" Alhamdulilah kak..." Jawab Ara duduk disamping Natasya, mengusap perut buncit itu dengan sayang.
Denis berdiri dan memeluk Rangga, bergantian dengan Ardiansyah.
" Apa kabar kalian?"
" Alhamdulillah..." Jawab mereka kompak.
" Gimana Di?" Tanya Denis. Ardiansyah langsung paham apa maksud pertanyaan Denis.
" Kemarin sempat ada lima minggu, tapi Allah mengambilnya kembali..." Ucapnya sambil melirik Azura yang sedang ngobrol dengan Hana dan Adnan.
" Nggak papa, usaha terus... Dan tetap berdoa.." Tepukan Rayya di pundaknya membuat Ardi mengangguk penuh semangat. Saat ini Hanum juga tengah hamil empat bulan.
" Mmy....mommy..." Tangis Almeer mengagetkan semua.
Almeer muncul dari arah pintu kamar Lenox dan Wari di samping taman.
Rangga berlari kecil menghampiri putranya yang berderai air mata.
" Kenapa boy?, hemmm. Why...?" Tanya Rangga sambil mengusap air mata putranya lembut.
" Om Nox ilan..." Adunya sedih.
" Hilang kemana?"
" Acuk amal cama nty Wali..."
Rangga dan yang lainya melipat bibir demi menahan tawa mereka. Kalau ada Marvel pasti habis muka Lenox dipermalukan saat ini.
" Emmmm, ya udah sama uncle Rayya yuk..." Rayya menyodorkan tanganya untuk menggendong Almeer.
Mereka memutuskan untuk tidur di white base malam ini, plus kedua orang tua Natasya dan profesor Pramana.
Adnan sedang membantu Hana, Azura dan Hanum memasak untuk makan malam.
" Nih, gue udah bawa sambel cumi, tinggal masukin ke microwave aja.." Ara membawa tepak tupperware ke dalam dapur sambil menggendong Almeer.
" Kamu kenapa pucat mut, sehat kan?" Adnan menyentuh kening adik bungsunya itu sayang.
" Beberapa hari ini agak kurang fit sih bang, mungkin hanya kecapean aja.." Balas Ara.
" Sini biar Almeer sama daddy Adnan..."
Almeer segera melengkung meraih bahu Adnan.
" Nggak usah terus digendongin bang, Almeer udah bisa jalan kok..., hanya manja aja.." Ardi muncul dari ambang pintu.
" Zu..., sini bentar..." Ardi melambai memanggil istrinya.
Azurapun dengan segera mencuci tanganya dan menghampiri Ardi.
Ardiansyah meraih tangan Azura menjauh.
" Zu, sepertinya kita harus menemui brothy Brian...." Bisik Ardiansyah.
" Untuk?"
" Kita mungkin terlalu menyakiti hatinya, bisa jadi karena itu kita belum juga diberi Allah keturunan, kita punya dosa besar padanya" Lanjut Ardi.
" Zu nggak salah mas, Zu nggak pernah memberikan harapan, Zu bersikap selayaknya adik, brothy sendiri yang salah sangka.." Elak Azura.
" Iya..sayang, iya..., hanya saja ini barangkali aja gitu. Mas juga kan nggak tahu karena mas hilang ingatan waktu itu..." Ardi pusing sendiri sekarang. Sebenarnya dia nggak mempermasalahkan masalah keturunan, tapi panas juga kupingnya setiap ditanya tentang anak melulu.
__ADS_1
" Ya udah sayang nggak usah dipikirin, mas hanya terlintas saja pemikiran itu tadi..." Ucap Ardi dengan mengecup kening Zura pelan.