
Setelah menenangkan dirinya beberapa saat akhirnya Denis berhasil mengucapkan ijab qobulnya dengan lancar dan tegas.
Sebelum melanjutkan acara selanjutnya Denis dan Natasya masuk kedalam sebuah ruangan untuk mereka berganti pakaian.
Ini adalah kali pertama mereka bertemu secara nyata semenjak dua minggu yang lalu.
Suasana canggung terjadi, Denis yang merasa bersalah karena kesalahannya saat mengucapkan ijab qobulnya tadi. Dan Natasya yang terkontaminasi oleh kata-kata Dian bahwa Denis tidak akan maju duluan.
Untung saja beberapa petugas MUA telah berada di dalam ruangan itu untuk merias dan mengganti pakaian keduanya.
Mereka terus saja saling mencuri pandang seolah-olah seperti pasangan yang belum kenal satu sama lain.
Tak berselang lama, Hana, Hanum dan Vera masuk.
" Walah...kok pada diem-dieman bae nih?" Seru Vera centil.
" Iya mbak, masnya dan mbaknya dari tadi lirik-lirikan saja he..he.." Ucap salah satu perias Natasya.
" Kamu kenapa sih kak Denis?, jangan bilang kak Denis ini bukan kak Denis yang asli?" Ucap Hana ngelantur.
" Apa sih Han, ngomong nggak jelas!!" Seru Hanum.
" Maksudku, kak Denis yang ini lain gitu. Jangan-jangan ada yang merasuki!!" Ucap Hana.
" Hushhh!! Apa sih Han!!, aneh-aneh aja kamu, kakak cuma gugup" Sahut Denis.
Mata Denis menatap wajah Natasya yang terpantul dicermin.
Natasya mengulum senyumannya.
" Kamu itu masih juga suka hal-hal mistik Han, padahal udah tinggal di Singapura..." Gumam Natasya.
Matanya menangkap sepasang mata Denis yang kini menatapnya dari pantulan cermin.
Mereka saling tatap dalam waktu yang lama.
Benar kata oma, pingitan itu memang ada efeknya. Saat bertemu gini rasanya jadi seperti awal berkenalan dulu. Ada rasa rindu yang syahdu, ada rasa malu-malu dan canggung. Semuanya begitu indah dan menggemaskan.
Tak terasa sudut bibir Denis melengkung keatas, senyum cerahnya kembali terukir.
Apalagi saat mengingat kesalahannya menyebutkan nama mamanya saat ijab qobulnya tadi.
" Emmmppp..ha..ha..ha.." Tawanya tiba-tiba pecah begitu saja. Siapa saja yang didalam ruangan itu menoleh kearahnya dengan tatapan horor.
" Tuh kan gue bilang apa tadi guy's!! Kak Denis ini kerasukan deh..." Seru Hana.
Vera menatap tak percaya melihat Denis yang tertawa terpingkal-pingkal seorang diri itu.
" Are you oke kak?" Tanya Natasya penuh tatapan khawatir.
" Sure..., sangat oke malah!, kenapa?" Tanya Denis balik.
" Kak coba baca ayat kursi..." Ucap Hana.
Denis kembali tertawa mendengar ucapan Hana yang lucu dan menggemaskan.
" Num, tolong bacain ayat pengusir jin atau sejenisnya.., tuh lihat kak Denis!!, udah nggak beres dia nih " Hana menarik lengan Hanum kedepan Denis.
" Apa sih Han...." Denis mengusap wajah Hana gemas.
" Kak Denis asli ini Han!!, cuma kak Denis inget salah sebut tadi aja, makanya tertawa...ha..ha..." Ucap Denis.
" Yeee..., telat kak!. Orang udah dari tadi kok baru ketawa sekarang..." Ucap Hanum.
__ADS_1
Denis menatap Hanum lalu berjalan menuju kearah gadis itu.
" Num, kamu masih belum selesai pendidikan di Kairo?" Tanya Denis.
" Belum kak, masih ada beberapa tafsir yang belum tuntas dikupas..." Jawab Hanum.
" Trus apa kamu nggak apa-apa?, kalau Rayya nggak bisa lagi menunggumu?"
Pertanyaan Denis membuat Hanum melebarkan bola matanya terkejut.
Vera, Natasya dan Hanapun langsung menolehkan menatap Denis.
" Maksudnya..." Tanya Hanum lirih.
Denis duduk ditepi ranjang, melambaikan tangannya pada Hanum untuk mendekat padanya.
Hanum dan Hanapun paham dan duduk di dekat Denis.
" Bunda kak Rayyamu meminta kak Rayyamu untuk segera menikah.., kamu tahulah kak Rangga dan kak Vino kedua-duanya udah punya buntut dua.
Dan kak Denis juga sedang menikah. Bunda kak Rayyamu itu juga pengen secepatnya punya mantu dan punya cucu.."
" Kak Denis yakin seratus persen kalau kak Rayyamu masih memiliki perasaan yang sama padamu Num..., coba kalian bicara dari hati ke hati Num..." Lanjut Denis.
" Iya Num, kasihan kak Rayya kamu gantung terus seperti itu.., udah hampir delapan tahun loh Num. Tega banget kamu..." Sahut Natasya di sela-sela aktivitasnya yang sedang dirias rambutnya oleh MUA.
" Hanum sebenarnya juga sedang menunggu keseriusan kak Rayya sih. Sampai hari ini kak Rayya nggak ada itikad baik untuk datang ke rumah menemui Abi kak...." Ucap Hanum.
" Saat pernikahan Ara dulu, sebenernya Hanum menunggu keputusan dari kak Rayya, untuk lanjut balik ke Kairo atau nggak. Tapi sampai pada batas waktunya, kak Rayya masih juga belum memberikan keputusan. Jadi mau tak mau Hanum harus balik ke Kairo, daripada dirumah didatangi pelamar terus.." Lanjut Hanum sendu.
" Oh...okelah, sepertinya kak Denis tahu akar masalah kalian.."
Denis langsung bisa menarik kesimpulannya. Disini tidak ada satupun yang salah. Rayyan yang insecure pada dirinya. Dan Hanum yang terus menunggu Rayya tanpa bicara.
...***...
Karena dibalik prosesi itu terkandung makna dan tujuan yang baik. Contohnya adalah prosesi wijikan.
Dimana Natasya diharuskan mencuci kaki Denis dengan air kembang diatas bokor.
Makna dari prosesi wijikan itu sendiri adalah untuk menghilangkan halangan dalam diri kedua mempelai agar tujuan hidup berumah tangga lebih mudah dan lancar. Dan agar kedua pasangan dijauhkan dari mara bahaya saat membangun rumah tangga bersama kelak. Juga sebagai awal dari bakti seorang istri kepada suami.
Keduanya menjalankan satu persatu prosesi sakral itu dengan iklas dan khidmat. Begitu melelahkan, tapi juga membahagiakan keduanya.
Sampai pada akhirnya, merekapun kembali ke ruangan untuk beristirahat, sholat dan makan. Karena malah harinya mereka harus masih menjalani satu prosesi lagi.
" Capeknya..." Gumam Denis yang telah selesai mandi dan sholat.
Sementara Natasya masih sibuk menghapus make up nya.
" Tidur sebentar boleh kan yang..., ngelurus pinggang nih capek banget.." Ucap Denis dengan membaringkan tubuhnya yang begitu terasa remuk.
" Iya tidur aja kak, nanti Nat bangunin.." Jawab Natasya, tangannya meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
Cukup tiga puluh menit Natasya berada di kamar mandi. Dan kini kakinya melangkah menuju ranjang dimana Denis berada.
Denis terlihat pulas dalam tidurnya. Capek, jelaslah dia sangat capek. Seminggu terakhir ini dia terus saja sibuk saat berada dikantor. Menyelesaikan semua pekerjaan agar perjalanan bulan madu mereka tidak terganggu oleh urusan pekerjaan.
Saat pulang ke rumah Rangga, diapun harus membantu momong twins dipagi dan sore hari. Ara memang sering melarangnya mengingat Denis juga capek, tapi Denis memaksakan diri karena diapun suka dengan anak-anak Rangga.
Natasya mendudukkan tubuhnya disisi ranjang. Ditatapnya wajah tampan Denis yang teduh. Diantara F4 SMU Bhakti hanya dialah yang paling ramah dan murah senyum.
__ADS_1
Kebaikan hatinya tidak kaleng-kaleng. Dia tidak pernah bisa menolak ajakan cewek-cewek yang mengajaknya sekedar makan dan nongkrong di cafe.
Dan karena itulah dia terkenal sebagai playboy yang suka gonta-ganti gebetan.
Natasya juga merasa mengantuk, perlahan-lahan diapun ikut membaringkan tubuhnya.
Matanya terus saja menatap wajah Denis.
" Dia sangat tampan, bulu matanya panjang banget. Aku saja yang cewek nggak sepanjang itu. Hidungnya mancung dan tinggi.., sedangkan hidungku begini saja..." Natasya mengelus batang hidung Denis yang tinggi kokoh itu pelan. Lalu membandingkan dengan hidungnya sendiri.
" Dan lihat ini, alisnya tebal dan hitam banget...sedangkan alisku begini..." Lagi-lagi jemari Natasya mengelus alis Denis.
" Dia cowok, tapi lihatlah kulit wajahnya begitu halus dan lembut. Aku saja yang cewek iri banget...." Gumam Natasya lagi.
Kini matanya menatap bibir merah asli milik Denis.
Bibir yang sudah sangat sering bertemu dengan bibirnya. Bibir yang manis dan selalu menjadi candunya. Ya...wajarlah...
Mereka membangun hubungan di saat usia yang tepat. Denis di usia 25tahun dan dirinya di usia 22tahun. Apalagi jelas mereka telah sama-sama mengenyam pendidikan di dunia luar. Walau begitu mereka tidak akan berbuat lebih kecuali hanya berciuman.
Natasya yang rindu pada Denispun mulai mendekatkan wajahnya, hembusan nafas Denis terasa hangat menerpa wajahnya.
Cup...
Cukup satu kecupan saja. Cukuplah untuk mengobati rindu seorang Natasya pada Denis.
"Sial!!, Gue udah menahan diri dari tadi dan apa yang kau lakukan Shayang...?
Aduh...pusing kan gue sekarang" Batin Denis.
Sebenarnya Denis tidak benar-benar tidur. Tapi enggan untuk membuka mata, jelas Denis sangat sadar dan mendengar dengan jelas ucapan-ucapan Natasya dari tadi.
Srug..srug...
Denis merasakan gerakan-gerakan, dikasur. Denis mengintip sedikit dengan memicingkan matanya, penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Natasya.
Rupanya istrinya itu sedang ikut berbaring di sampingnya.
Denis cepat-cepat menutup kembali matanya saat Natasya tiba-tiba menoleh kearahnya.
" Loh??, tadi sepertinya udah melek?" Ucap Natasya.
Gadis itu pun mendekatkan diri lagi dan fokus menatap mata Denis.
Natasya dapat melihat bola mata yang tertutup itu bergerak-gerak.
" Kamu kenapa pura-pura tidur sih kak?" Bisik Natasya di telinga Denis.
Duaaarrrrr
Haduh!!! Ajoor jum...ketahuan...
Denis membuka matanya dan tersenyum manis.
" Tadi sih tidur, kamu sih nganggu..." Denis menyentil kening Natasya.
Mereka saling tatap lama, tapi tiba-tiba Denis menutup wajahnya dengan bantal dan mendorong wajah Natasya yang terus menatapnya sedikit menjauh.
" Jangan menatap seperti itu Nath, bahaya...." Ucap Denis.
" Yeee, apanya yang bahaya. Kakak aja yang nggak pede!!"
__ADS_1
" Ssshhh, pokoknya jangan deket-deket dulu atau natap kayak gitu untuk saat ini..." Ucap Denis penuh penekanan.
" Pokoknya jangan menatapku begitu..." seru Denis saat Natasya berhasil melepaskan tangannya dari wajah Natasya.