
Dasar yang namanya rezeki tak ada yang tahu ukuran Tuhan membagi-baginya.
Mungkin Tuhan mengabulkan juga doa hambanya yang tulus.
Buktinya nyata, saat ini dipelukan Hanum sudah ada lima boneka dengan dengan karakter yang berbeda-beda.
Senyum bahagia tak pernah surut dari bibirnya ya tipis dan berwarna pink alami.
"Suka?" Tanya Rayya.
" Alhamdulilah suka banget kak, baru kali ini seumur hidup dapet boneka dari mesin capit" Senyuman cerah bak mentari pagi Hanum persembahkan buat seorang Rayyan Athaya.
" Alhamdulillah.., dengan lima keping koin dapat lima boneka..."Ucap Rayya dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
" That's miracle..." Lanjut Hanum masih dengan senyuman manisnya.
Semua orang pasti akan terus tersenyum bahagia seperti Hanum apabila dalam sepanjang sejarah bermain mesin capit boneka tak pernah dapat, dan sekalinya dapat dengan hanya lima koin justru dapat lima-limanya. That's miracle right!!!
Vera yang melihat Hanum memeluk boneka didadanya jelas menjadi iri dengki.
Gadis itu mendorong Vino untuk bermain dan memintanya untuk mendapatkan boneka juga.
Vinopun dengan terpaksa menuruti kemauan pemilik hatinya itu, walaupun sebenarnya bagi dia mendingan beli aja lebih gampang.
Keringat dingin telah mengucur disela rambut Vino, hampir satu jam dan hampir menghabiskan tiga puluhan koin, tapi tak satupun yang nyangkut.
" Beli aja deh Ver, tinggal pilih yang mana, ini tuh susah.." Ucap Vino dengan tangan masih sibuk mengotak-atik stik mesin capit itu.
" Nggak mau, aku maunya yang itu.., harus dapet!!" Ucapnya sambil menunjuk boneka dengan karakter dinosaurus.
Sehari ini nasib Vino benar-benar sedang diuji kesabarannya.
Rangga dan Denis menutup bibirnya dengan telapak tangan mereka karena rasa geli menjalari hati mereka berdua, rasanya ingin sekali tertawa melihat keadaan Vino, tapi takut dosa dan nanti malah di bilang teman lucknut pula.
" Nat??, mau juga nggak?" Tanya Denis pada Natasha yg sedang bermain ponselnya.
Natasha menggeleng kan kepala dengan mata yang masih fokus pada ponselnya.
" Liat apa sih?" Denis melongokkan kepalanya pada layar ponsel Natasha.
" Nih...aku lagi daftar tampil di Citayam Fashion Week..." Ucap Natasha dengan memperlihatkan form yang sedang diisinya.
" Daftarin gue sekalian Nat.." Ucap Vera.
" Aku dan Ara juga ikut deh..." Hanum ikut menimpali.
" Ikut apa ?" Tanya Rangga pada gadis yang berada dalam rangkulanya ini.
" Tampil di Citayam kak.." Ucap Ara.
" Kamu??" Tanya Rangga lagi.
" Iya.., nanti habis ini beli baju ya..." Ucap Ara lagi, jarinya mencubit kecil bibir bawah Rangga yang terdapat tahi lalat disana.
" Cup dulu disini, boleh borong baju sesuka hati.." Bisik Rangga di telinga Ara, diambilnya jari Ara dan di sentuhkanya dibibirnya.
" Ish..mesum mulu kakak!!" Ara segera akan bangkit dari duduknya tapi dengan cepat Rangga menariknya.
Dan pasti dapat ditebak jadinya seperti apa kan, sekarang Ara ada dipangkuan Rangga.
" Habis kamu nakal banget hari ini.., kita pulang duluan aja yuk.." Rengek Rangga.
" Ngapain?" Tanya Ara
__ADS_1
" Ngamar lah yang......mesra-mesraan" Bisik Rangga lagi.
Rangga tertawa terbahak saat melihat mata Ara yang membulat sempurna.
Dan jemari kecilnya dengan cepat menyerang tubuhnya dengan mencubiti perut Rangga.
"Ampun...ampun...ha..ha.." Rangga mengatupkan tanganya tanda menyerah.
Dibawanya lagi Ara dalam pelukanya.
" Beli baju sekalian untuk ganti dirumah mommy ya kak..." Ucap Ara saat ingat bahwa mereka berencana pulang kerumah mommy Tara.
" Hemmm" Rangga mengangguk mantap. Apa sih yang enggak buat permaisuri hatinya ini.
Setelah puas bermain mereka naik lagi keatas untuk berbelanja pakaian.
Kali ini Denis dibuat pusing dengan Natasha yang keluar masuk beberapa butik demi mencari model yang dikehendakinya.
" Belum dapat juga?" Tanyanya dengan tampang yang terlihat kusut.
Natasha merasa kasihan melihat Denis, tanganya mengeluarkan botol face mist dari tasnya.
" Sini kak.." Tanganya meraih jemari Denis dan membawanya pada kursi yang ada di depan ruang ganti.
" Duduk sini dulu kak.." Natasha menekan pundak Denis agar duduk di hadapanya.
" Angkat wajahnya, liat Nata...." Ucapnya lagi.
Denis mengikuti semua yang Natasha instruksikan padanya.
Pemuda itu mengangkat wajahnya, menatap wajah cantik Natasha yang ada di atasnya.
" Meremin matanya..." Lanjut Natasha.
Degg!!!!
Masa Natasha mau kiss gue!!!
Akhhhh!!! Mau terbang gue!!!
Crut...crut...crut...
Denis terkejut saat merasakan wajahnya bagai tersiram gerimis yang menyejukkan.
Rasa dingin dan sejuk kembali membuat moodnya membaik.
Tak hanya di wajah, Natasha juga menyemprotkan pada leher Denis.
" Udah nyaman belum?" Tanya Natasha.
" Nyaman banget..., lebih nyaman dari rasa nyaman yang pernah aku rasakan sebelum ini.." Ucap Denis.
" Belanjalah, kakak tunggu disini.." Denis menatap pada Natasha yang terlihat segar setelah dia sendiri menyemprotkan face mist itu ke wajahnya sendiri. Mempesona, membuat Denis hampir lupa diri dibuatnya.
Sementara itu Ara dan Rangga kini telah mendapatkan beberapa baju, hanya beberapa baju ganti dan satu baju untuk mejeng di Citayam sabtu sore nanti.
" Eh Sabtu ini kita kan ke Singapura sayang.." Ucap Rangga mengingatkan Ara.
" Kok kita.., kan kakak..." Ucap Ara santai.
" Kamu ikut dong sayang..., kamu gak takut aku diembat orang gitu?" Tanya Rangga.
" Nggak tuh.., kalo kamunya sendiri mau diembat sama orang lain, aku bisa apa?" Pertanyaan yang dibalik pertanyaan pula oleh Ara.
__ADS_1
Rangga terdiam seketika, dia nggak akan bisa melawan ratu debat macam istrinya ini.
" Kalau ini perintah suami, untuk istrinya ikut, apa kamu masih nolak sayang...?" Rangga punya jurus jitu menaklukan seorang Ara.
Senyum sinis terbit dari sudut bibirnya.
" Baiklah..Lili ikut, berbakti padamu adalah kodratku.." Jawab Ara mantap.
Tau gitu kenapa gak dari kemarin-kamarin saja aku paksa dia dengan perintah suami aja.
Keempat pasangan itu kini berpencar sendiri-sendiri.
Vino dan Vera masuk ke dalam butik boneka, mengabulkan permintaan Vera yg menginginkan boneka dengan karakter dinosaurus.
Hanum dan Rayya, mereka kini berada di supermarket. Rayya mendorong troli belanjaan sedangkan Hanum membaca daftar belanjaannya.
Banyak mata yang melirik keberadaan mereka. Walaupun pakai kacamata, Rayya itu sangat bisa disebut ganteng. Kalau tampan masih kalah dengan Denis dan Rangga. Tapi ganteng itu punya makna tersendiri.
" Kalo dipesantren bisa ditelponin nggak sih Num?" Tanya Rayya tiba-tiba.
" Boleh, tapi ada jadwalnya, dan nomornya juga terdaftar sebagai keluarga.." Jawab Hanum tanpa menoleh, mata nya fokus pada tulisan dikertasnya dan barang-barang di depanya.
" Oh..., jadi kalau kakak yang nelpon gitu nggak bisa ya?" Rayya kini ikut melirik tulisan di kertas itu dan matanya ikut memindai barang-barang yang ada di rak.
" Nggak bisa..., maaf ya..." Ucap Hanum dengan senyum tipisnya.
" Kalo surat Num?" Tanya Rayya lagi sambil meletakkan barang yang didapatnya ke troli.
" Bisa..., bebas..." Jawabnya.
" Minta alamatnya dong..."
Hanum terpaku sesaat, bahkan tanganya menggantung diudara saat akan mengambil sesuatu.
" Aku ingin kita terus berkomunikasi Num..." Rayya menatap sekilas wajah Hanum lalu buru-buru menunduk kembali.
Hanum melihat kertas yang dipegangnya, gadis itu lantas menyobek bagian atasnya lalu menyerahkan secuil kop surat itu pada Rayya.
" Ini kak..."
Rayya membaca dengan teliti tulisan disana.
Bandung, itu tidak jauh dari Jakarta. Kalau kangen aku bisa kesana.
" Apa yang jenguk juga harus saudara?" Rayya kini memberanikan diri menatap mata Hanum.
" Nggak juga, yang penting tetap di jadwal yang ada, kenapa?"
" Kalau kakak jenguk, apa kamu mau temuin kakak?" Rayya membuka kacamata yang sedikit berembun karena nafasnya yang berat.
Hanum sedikit tersentak, terkejut! , tapi bukan terkejut karena ucapan Rayya melainkan terpesona oleh keindahan mata Rayya yang selama ini disembunyikanya di balik kacamata.
Melihat mata indah yang tajam dan tatapanya yang dalam itu membuat Hanum panik dan salah tingkah.
" Num aku bukan tipe cowok gombal yang suka mengumbar rayuan..., aku suka kamu Num, sayang juga sama kamu, aku akan berusaha memantaskan diri untukmu, apa kau berkenan menungguku??"
Duaarr!!!!
Hanum tak mampu berkata-kata.
Tubuhnya mematung seketika, seorang Rayya mengungkapkan perasaan nya tanpa seret sama sekali, lempeng bagai jalan tol.
" I..itu.., Hanum nggak bisa janji. Karena diri Hanum masih milik abi, semua pada diri Hanum hanya abi yang berhak memutuskannya " Hanum menunduk sedih.
Jujur Hanum pun memiliki rasa yang sama. Sejak pertemuan pertama di gazebo rumahnya, sudut hatinya menyimpan nama Rayyan Athaya disana.
__ADS_1
Bersambung....
...*********...