Childhood Love Story

Childhood Love Story
Berbukalah sepuasmu Rangga...


__ADS_3

Rangga berlari-lari kecil menuju mobilnya. Dia lupa mengabari Ara tentang kepadatan jadwalnya hari ini.


" Pasti ngomel nih..." Gumam Rangga dengan senyum tipis merekah di bibirnya. Saat telah berada di balik kemudi.


Rangga ini aneh, berbeda dengan suami-suami diluaran sana, dia malah suka jika istrinya mengomelinya. Karena sungguh mengasikkan baginya, melihat wajah istrinya yang berubah-ubah saat mengomel itu sungguh menggemaskan. Pria muda itupun melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Tepat adzan isya, Rangga sampai dirumah.


Rumah terlihat sepi, Rangga berfikir sejenak sebelum memasuki rumah.


T**wins masih kecil-kecil, mungkin setahun lagi, mereka sudah bisa berlarian menyambutku pulang kerja.



Tap..tap...


" Baru pulang Bi..." Sapa Ara yang turun dari lantai dua, Rangga berfikir mungkin Ara baru saja membantu Natasya dan Denis berkemas.


" Hemmm, iya sayang. Dari kampus langsung ke kantor, trus dipanggil daddy, trus ada acara syukuran dirumah kawan, lanjut ke kantor lagi karena ada berkas yang tertinggal..." Rangga melingkarkan kedua tangannya diperut Ara, kepalanya di letakkan di bahu Ara dengan manja.


" Ya sudah, mandi dulu. Trus istirahat..."


Ara mengusap rambut Rangga, dan melangkah menuju kamar, sementara Rangga masih menggelendot di belakangnya.


" Loh, twins kemana?" Tanya Rangga saat melongok pada box bayi, dan tidak mendapati putra-putrinya.


" Ada sama kak Denis dan Natasya, Lili siapin mandinya dulu Bi..." Ara melepas pelan belitan Rangga. Dan beranjak ke kamar mandi.


Selesai mengisi air bathup dan menuangkan aromaterapi pada air hangat, Ara keluar saat Rangga akan masuk.


" Mau disiapin makan dikamar Bi?" Tanya Ara sebelum benar-benar keluar.


" Nggak usah sayang, udah kenyang " Jawab Rangga.


Tak sampai tigapuluh menit, Rangga keluar dengan tubuh yang terlihat segar. Rambut basahnya masih menetes di wajahnya. Kakinya melangkah menuju pakaian ganti yang telah dipersiapkan Ara di atas tempat tidur.


Tapi langkahnya terhenti saat matanya melihat sosok bermukena tengah sujud di mushola kamar. Matanya langsung terbuka lebar saat itu juga. Rasa bahagia menyeruak dari hatinya yang tiba-tiba bergetar. Rangga menggigit bibirnya kuat saat dirasa senyumnya akan mengembang.


" Yes! Yes! Yes!..." Rangga bertingkah seperti anak kecil yang sedang mendapatkan hadiah. Pria beranak dua itu melompat-lompat kegirangan. Seringai tipis mengembang dari sudut bibirnya.


Dengan cepat diangkatnya kedua tanganya keatas, lalu mengedus ketiaknya kiri dan kanan.


" Hah...hah..." Ranggapun mencoba membaui bau mulut nya sendiri.


Di rasa semua sudah oke, Ranggapun mengepalkan kedua genggaman dengan menyeringai puas.


" Yes...."


Rangga menyugar rambutnya berulangkali, menatap dirinya dalam cermin, senyumnya terus mengembang, masih tampan dan awet muda, begitu kira-kira yang ada difikiranya.


" Aduh, gue tadi cuma maka mie goreng pula, mana ada tenaganya. Duh Sial!!" Rangga menepuk keningnya.


"Oh iya Madu...madu..." Gumam Rangga, dan dengan cepat melesat keluar kamar menuju dapur.


Disana telah ada Denis yang sedang membuat nasi goreng.



" Baru pulang bro?" Sapa Denis.


" Iya nih..." Jawab Rangga, matanya meneliti rak.


" Mau nasi goreng bro?, sekalian gue bikinin.." Denis mengeksekusi masakannya disamping Rangga.


" Nggak usah Den, makasih.." Tangan Rangga meraih madu, lalu menuangkannya di sendok. Rangga meneguk dua sampai tiga sendok.


Denis meliriknya heran, yang ada difikiranya saat ini cuma sebatas mungkin Rangga begitu capek dan membutuhkan multivitamin lebih dari madu tersebut.


" Ga, untuk malam ini biar Almeer dan Almaeera tidur bersama kami..... " Ucap Denis sebelum beranjak keluar dapur.


" Ap......" Mata Rangga terbelalak kaget.


" Pucuk dicinta ulampun tiba...., Yesss..." Teriak batik Rangga penuh semangat. Senyumnya begitu cerah bersinar.

__ADS_1


" Ehhhh, tumben? Biasanya lo posesif banget sama mereka..." Ucap Denis heran.


Rangga terkesiap sesaat, dia harus terlihat biasa, jangan sampai Denis tahu apa yang ingin diperbuatnya malam ini.


" Ah..ehh..itu ya... Ya karena gue capek banget hari ini. Gue butuh tidur nyenyak... Btw makasih bro...lo emang sahabat terbaik gue. Love you Den..." Rangga menepuk-nepuk punggung Denis, bahkan saking bahagianya Rangga sampai-sampai mengecup kepala Denis.


" Hiiii....apaan sih!!" Denis mengacak rambutnya geli bekas kecupan Rangga.


Sikap impulsive Rangga membuat Denis bertanya-tanya. Ada apa dengan sahabatnya itu.


Denis menatap Rangga yang terus tersenyum di depanya itu dengan tatapan penuh selidik.


" Hiiihh...geli gue!!" Denis bergidik ngeri saat menatap Rangga justru menaik turunkan alisnya.


"Hiyyaa...jijik gue liat kelakuan lo!!, macam kucing yang lagi birahi!!" Sentak Denis dan beranjak pergi.


Tapi baru tiga langkah Denis berjalan, mendadak pemuda itu menghentikan langkahnya tiba-tiba, lalu menoleh dan menatap Rangga intens.


" Jangan bilang lo mau begituan?" Tanya Denis curiga, matanya menusuk pada mata Rangga.


" Ck, serah gue mau begituan atau beginian, bini sah gue ini...." Sahut Rangga dengan menggigit bibirnya malu-malu.


" Cih...lagak lo kayak ABG aja Ga!!, sudah sana!!, biar twins jadi urusan kami...." Denis berbalik badan dan menaiki tangga dengan sedikit berlari.


" Thanks Den...." Teriak Rangga, dengan menatap punggung Denis dihadapannya.


Denis hanya melambaikan tanganya tanpa menoleh.


" Masih disini?, mau makan?" Ara tiba-tiba berada di depanya saat Rangga berbalik badan.


" Ehh...sayang, terkejut kakak!!" Rangga terkejut sampai mundur satu langkah.


" Su...sudah lama disitu...?" Tanya Rangga cemas.


" Ngga, baru saja... Kenapa sih?" Tanya Ara bingung.


" Ah...nggak papa sih.." Rangga mengusap tengkuknya pelan.


" Yuk...ke kamar..." Bisik Rangga.


Grebb


Rangga mengunci Ara dalam pelukanya.


Menghirup bau wangi rambut dan tubuh Ara yang manis.


" Nggak usah keatas, kata Denis mereka udah tidur..." Bisik Rangga seksi.


" Mending nidurin yang ini..." Bisiknya lagi dengan semakin menempelkan tubuhnya pada Ara.


" Udah bersih kan?" Rangga mulai merusuh, mulai menyingkap jilbab rumahan Ara.


Dan memasukkan kepalanya.


" Sshhhh, Bi..... Nanti ada kak Denis atau Natasya!!" Ara mendorong wajah Rangga.


"Hupp..."


Rangga mengangkat tubuh Ara dalam gendonganya. Seperti biasa Ara di dudukan diperutnya, sementara kedua tangan Ara melingkar di lehernya.


" Kok tahu udah bersih?" Tanya Ara malu.


" Suamimu ini kan jenius..." Jawab Rangga alay.


Brugh..


Pelan diturunkannya Ara di peraduan. Mereka saling tatap, ada rindu menggebu di tatapan mata keduanya. Senyum simpul terukir dari bibir Rangga, disusul oleh senyum manis Ara.


Cup...


Kecupan yang dalam, begitu menggetarkan hati yang gersang. Memang mereka tetap bercumbu dihari-hari sebelum ini. Tapi hanya akan membuat Rangga tersiksa. Tapi malam ini tidak lagi. Inilah yang disebut buka puasa, dengan menu lengkap empat sehat lima sempurna. Tidak ada gangguan kecil dari rengekan twins. Merdeka!! Seperti itulah isi hati Rangga.


Lalu seperti biasa Rangga mengeksekusi Ara sedemikian rupa. Rangga terus mencumbu dan mencumbu. Hujan deras mengguyur Jakarta, seolah-olah alampun ikut merestui penyatuan malam ini.

__ADS_1


" Hah.....hah.., cukup Bi....." Rengek Ara. Tubuhnya penuh peluh, lehernya sudah penuh akan cupangan Rangga


Bagaimana tidak remuk semua rasa tubuhnya, Rangga bagai orang yang kesetanan. Hampir dua jam dia masih juga betah membolak-balikan tubuh istrinya.


" Bi....sudah....." Rengek Ara lagi, keringat membanjiri tubuh mulusnya yang masih tetap sintal walau telah melahirkan dua anak.


" Emmmmm....Ahh...Ahhh...." Hanya ******* yang keluar dari bibir Rangga.


" Bi....., sudah pleaseee.... Bisa mati Lili..." Rengek Ara terus menerus.


" Diamh duluh sayang, bentar lagihhhh..aaahhh.... Priah yang mati saath berhubungan intim sayanghh, wanita enggakh..ahhh...sayang... Lili..."


...***...


Raya menggenggam tangan Hanum memasuki pintu samping rumahnya.


Baginya Hanum bukanlah tamu.


" Assalamualaikum..." Sapa keduanya.


Kedua orang tua Rayya menolehkan kepalanya ke arah pintu. Sesosok gadis yang anggun dan cantik berdiri disamping putra tunggal mereka.


Dari wajah Rayya yang begitu cerah, keduanya yakin bahwa gadis inilah pilihan putranya.


" Silahkan masuk nak...sini..sini.." Ucap bunda Rayya ramah.


Hanum melangkah mendekati kedua orang tua itu dan menyalami keduanya dengan sopan.


Ayah dan Bunda Rayya saling tatap sesaat.


" Bun ini Hanum, yang Rayya ceritakan itu.." Ucap Rayya setelah mereka duduk berhadapan.


" Jadi ini toh?, yang terus menggantung perasaan putraku?" Sindir Bunda Rayya.


"Bun...." Ayah Rayya menyenggol pundak istrinya.


"Mohon maaf bu, dari awal Hanum tidak berniat menggantung kak Rayya. Masalahnya kami tidak mudah untuk berkomunikasi saat itu..." Ucap Hanum dengan sopan.


" Begitu ya?, lantas sekarang bagaimana? Apa kau datang untuk menyakiti hati putraku lagi?" Tanya bunda Rayya sengit.


Rayya dan Hanum saling tatap.


" Menyakiti hati kak Rayya?. Siapa bu? Saya? " Tanya Hanum bingung.


" Apakah Num pernah menyakitimu kak?, apa hatimu sakit karenaku?" Tanya Hanum dengan menatap mata Rayya memohon kejelasan.


Rayya juga bingung saat ini, dari mana bundanya bisa menyimpulkan pertanyaan seperti itu.


" Bun, sepertinya ada salah paham disini. Ntah dari mana bunda bisa berpikiran begitu, tapi kami.... Aku dan Hanum tidak sedekat itu untuk bisa menyakiti hati masing-masing dari kami..."


" Tidak perlu kalian tahu siapa yang memberitahukan masalah kalian pada Bunda. Tapi Bunda sangat percaya padanya.." Sela Bunda Rayya.


" Bagaimana bunda bisa mempercayai seseorang bila orang itu saja tidak pernah kami kenal. Apalagi jelas yang disampaikan pada Bunda itu salah..." Sahut Rayya.


" Salah?, jadi salah juga kalau pilihanmu ini juga seorang janda?" Lagi, kata-kata bundanya begitu menyakiti hati Rayya.


" Bun!!, Rayya mohon. Dia pilihan Rayya..apapun statusnya, Rayya tidak peduli!!" Sanggah Rayya.


" Lihatlah...kau berani pada bundamu?, inikah yang diajarkan oleh gadis itu padamu?" Sahut Bunda Rayya.


" Maaf Bu.., putra ibu sudah dewasa. Dia sudah sangat paham betul dengan apa yang benar dan salah. Tidak perlu saya mengajarkan apa-apa padanya. Karena justru sayalah yang seharusnya mendapatkan pengajaran dari seseorang yang lebih tua dari saya.." Jawab Hanum panjang lebar.


" Tetapi masalahnya nak, kami sudah terlanjur melamar Sekar untuk putraku Rayya" Sahut ayah Rayya.


" Bun Rayya mohon restui kami.... Rayya mohon maaf jika harus menolak keinginanmu kali ini" Sela Rayya


"Hidup ini hidup Rayya Bun, Rayya yang menjalaninya. Rayya tidak mau menyakiti Sekar karena sama sekali tidak ada rasa dihati Rayya untuknya Bun..."


" Lagian saat ini, gadis yang Rayya cintai ada disini, Rayya....Rayya---"


" Tidak!!, kamu harus menikahi Sekar!!. Dia pilihan terbaik Bunda.." Seru Bunda Rayya.


" Maaf bun...Rayya tidak bis----"

__ADS_1


" Patuhi ibumu kak..., menikahlah dengan Sekar.." Sahut Hanum.


" Tidak Num!!, tidak!!" Bentak Rayya.


__ADS_2