
Setelah memastikan Ara tidur dengan nyaman, Rangga segera bergegas turun menemui sahabatnya.
" Ara mana?" Tanya Denis.
" Tidur..." Balasannya dan duduk diantara sahabatnya.
" Kenapa berandal itu disini Ga!!" Tanya Vino tegas, sejak tadi dia sudah sangat penasaran.
" Dia ngikutin gue, waktu denger ada Jessica dirumah"
" Ngikutin lo?" Tanya Denis bingung.
" Gue sengaja ketemuan denganya tadi, niatnya gue mau bilang makasih udah nyelametin Ara kemarin, tapi malah lupa"
Dan Ranggapun menceritakan obrolan nya dengan Lenox dan juga masalah Jessica.
" Lo titip Ara ke dia!!!, punya otak nggak si lo!!" Bentak Denis.
" Terus??, apa gue harus titip sama playboy macam lo!!" Sahut Rangga.
" Ckkk...gue udah insaf keless " Ucap Denis lirih.
" Gue curiga Jessica dibalik tragedi ular ini Ga..., Numa adik kelas kita sudah membantah keras keterlibatan Lenox, karena dia bersama Lenox dari sebelum kejadian"
" Iya Ga, si Numa juga bilang ada liat Jessica membawa karung kecil ke dalam tenda peralatan, gue curiga isi karung itu ular.." Lanjut Vino.
" Apa Jessica bisa sejauh itu?" Rangga mengurut pangkal hidungnya pelan.
" Kalau difikir-fikir selama ini hanya dia yang selalu cari gara-gara dengan Ara" Ucap Denis.
" Untuk mencelakai Ara dia juga punya motif Ga!!" Kini giliran Rayya memberikan pendapatnya.
" Nggak mungkinlah Jessica sampai segitunya.." Tepis Rangga.
" Ya sudahlah kalo lo gak percaya, serahkan penjagaan Ara pada kami.." Rayya menepuk-nepuk pundak Rangga.
" Lo harus fokus belajar, biar cepat selesai dan kita bisa kumpul bareng. Urusan disini biar kami bertiga yang handel" Denis ikut menepuk punggung Rangga pelan.
" Thanks guy's.." Ucapnya. Dan merekapun berangkulan bersama.
Mereka menghabiskan waktu bersama sampai waktu sholat maghrib. Mereka sholat berjamaah di mushola rumah Wijaya.
Dan dilanjutkan makan malam bersama.
Makan malam kali ini semakin ramai dengan kehadiran papa, mama, Adnan dan Hana serta Azura dan Bianca.
Bianca terus berada di pangkuan Rangga, membuat Ara merajuk dengan memonyongkan bibirnya.
" Bian turun dulu mau sayang?, aunty Ara cemburu tuh, minta pangkuan juga" Olok Hana pada Ara, membuat semua yang ada diruang makan tertawa riuh.
" Ishhh, kaya kamu enggak aja Han!!" Ara melempar Hana dengan irisan mentimun.
" Bianta mau sama popo aja" Bianca akhirnya merosot dari pangkuan Rangga dan lansung naik ke pangkuan papa Syakieb.
" Loh..loh..mau apa Bian?, popo mau pangkuin aunty Ara loh..." Papa Syakieb giliran mengerjain Bianca.
Bianca terlihat sedih dan menatap Vino dengan air mata yang tergenang.
" Uluh..uluh..cini cayang sama popo, popo cuma bercanda kok..." Papa Syakieb segera mengangkat Bianca tinggi-tinggi dan menciumi perutnya hingga tawanya pecah menggema.
Sementara Ara cepat-capat menduduki paha Rangga.
Dan disambut oleh pelukan hangat Rangga, bahkan tanpa sungkan-sungkan Rangga santai menciumi pucuk kepala Ara dengan sayang.
Mereka semua paham dan sangat memahami situasi ini. Jika mereka disituasi seperti Ara dan Ranggapun pasti akan melakukan hal yang sama.
Makan malam dilanjutkan dengan kumpul-kumpul di taman belakang, mereka ngobrol santai ditemani cemilan dan bakar jagung, sosis dan bakso.
Rangga tak melepaskan Ara sama sekali, bahkan untuk mengambil sesuatupun Rangga tetap mengenggam tangan Ara untuk mengikutinya.
Semua yang melihat mereka seperti itu semakin terenyuh. Bahkan mama Neela dan Hana berulangkali menghapus air mata mereka.
" Kak....." Panggil Ara saat kini mereka mulai menggelar kasur lipat di halaman belakang. Rencananya mereka akan menunggu waktu keberangkatan Rangga sambil memandangi bintang.
__ADS_1
" Iya sayang..." Jawab Rangga.
" Kakak nggak akan nakal kan disana?" Tanya Ara dengan suara tercekat di tenggorokan. Gadis itu mulai merebahkan kepalanya pada pangkuan Rangga.
Rangga menunduk dan meraih kedua tangan Ara yang kini mulai menangis.
" Cup sayang...jangan nangis lagi.."
Rangga merengkuh gadis yang terlihat mulai bergetar dalam tangis itu.
" Kakak berani bersumpah, kakak berangkat sebagai Ranggamu dan pulangpun akan tetap Ranggamu, percaya kakak sayang..." Rangga mengusap air yang mulai mengembun dimatanya dengan pundaknya. Dan menghapuskan air mata Ara dengan jemarinya.
" Kita harus saling mempertahankan hubungan ini agar tetap kuat sayang, bukan hanya bersumpah janji doang, tolong jangan terus mengeluh, kakak akan semakin berat..." Lanjutnya.
" Baiklah kak, Lili tak akan lagi mengeluh tentang perbedaan jarak dan waktu, karena Lili percaya, kakak akan kembali tetap sebagai Ranggaku" Lirihnya.
" Yang jauh itu hanya jarak kita sayang, bukan perasaan kita, yang berjauhan itu hanya tubuh kita sayang, tapi bukan hati kita.." Ucap Rangga lagi.
" Sejauh mana pun kakak pergi, hanya bayang wajahmu yang selalu kakak bawa, hanya namamu Liliku, yang selalu jadi semangatku..."
Di kecupnya bibir Ara yang sedikit terbuka dibawahnya. Tapi ternyata tak hanya kecupan, karena lagi-lagi mereka terbawa perasaan.
Rangga melepaskan pagutanya saat dirasa nafas Ara mulai tersengal.
Perlahan-lahan jari jempolnya mengusap bibir Ara yang merekah merah karena ulahnya. Bibir yang akan selalu dirindukan, rasa yang hanya bisa dia kenang.
" Sayang ini..." Rangga mengeluarkan kotak persegi kecil dari kantung celananya.
" Kakak sudah berjanji mengganti kalung kita di hari ulangtahunmu yang ke 17, dan itu dua bulan lagi. Saat itu tiba kakak sudah tidak disisimu.."
Ara merubah posisinya menjadi duduk didepan Rangga. Gadis itu membuka kotak dengan perlahan-lahan.
" Ini..."
" Kamu suka? Mau pakai sayang?" Tanya Rangga.
Ara mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
" Pegang ini sayang.."
Ara meraih rambutnya dari tangan Rangga dan mengangkatnya keatas kepala.
" Yang ini dilepas ya, diganti dengan yang baru.." Rangga melepas liontin Naruto hijau pemberiannya sepuluh tahun lalu, yang sadar atau tidak sadar waktu itu Rangga telah menandai Ara sebagai miliknya.
Dan Ara mengangguk setuju, walaupun ada sedikit rasa sayang, karena liontin itu selalu membersamainya selama ini.
Setelah liontin terpasang sempurna Rangga merapikan lagi rambut Ara.
" Yang ini kakak satukan dengan yang kakak pakai..." Ucapnya sambil mengecup liontin hijau milik Ara.
Rangga meremas kedua pundak Ara, mengakat dagu mulus itu untuk menatap matanya.
" Sayang, kakak percaya sepenuhnya padamu, kakak tidak akan membatasi pergaulanmu, asal kau tetap ingat statusmu.." Bisik Rangga pelan.
Ara hanya bisa mengangguk, suaranya tidak bisa keluar karena tenggorokannya yang terlalu seret saat ini.
" Berkembanglah seperti gadis normal lainya, jangan karena status pernikahan kita membuatmu terkekang, kakak membebaskamu melakukan apapun yang kau inginkan.."
" Sayang, yakinlah kakak mencintaimu baik dahulu, kemarin, hari ini dan esok hari, akan selalu sama dan tetap sama.."
" He emm" Jawab Ara yang sudah sangat bergetar ingin menangis meraung-raung.
" Sayang, mungkin ini menyakitkan untuk kita sekarang, tapi ini yang terbaik untuk kita. Dengan begini kita akan saling merindu, saling menjaga dan pastinya semakin menebalkan rasa cinta di antara kita, InshaAllah..."
" InshaAllah..." Lirih Ara menghambur kepelukan Rangga.
Mereka menangis dalam pelukan yang erat.
Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata ikut menitikan airmata melihat pemandangan yang mengharukan itu.
...**...
__ADS_1
Semua sudah diposisinya, berbaring menatap langit berbintang.
Rangga diapit kedua wanita cinta dalam hidupnya. Mommy Tara disebelah kiri dan Ara disebelah kanannya.
Sementara dibelakang mommy ada daddy dan Adnan lalu Hana.
Dibelakang Ara ada mana Nela dan papa.
Sementara Vino, Rayya dan Denis masing-masing beradu kepala dengan mereka.
Azura dan Bianca menemani oma Rima dikamar.
" Papa hanya berpesan padamu Rangga, jauhi Alkohol bagaimanapun bentuknya.
Jaga sholat dimanapun kamu berada, karena sholat itu mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar.."
" Baik pah, InshaAllah..."
Ara terlihat menutup matanya dengan kedua tanganya, gadis itu mati-matian menahan tangisnya.
Mama Neela memeluk suaminya karena tak tahan lagi melihat keadaan putrinya.
" Sayang jangan cengeng, Ara gadis yang kuat kan..., sudah cup cup sayang..." Papa Syakieb berpindah kesamping Ara karena keadaan mama Neela pun sama.
Mama Neela bersembunyi dibalik punggung kekar suaminya agar putrinya tak melihatnya menangis.
" He emm..." Hanya suara itu yang keluar dari bibit Ara.
Para sahabat Rangga yang notabene cowok sejati saja ikut meneteskan airmata mereka.
" Ga!!, lo harus rajin puasa!!, kata Hanan puasa bisa menurunkan syahwat lo yang luar biasa itu!! Kan bisa berabe kali lo tiba-tiba pengen!" Celetuk Vino membuat semua yang disana kaget bukan main.
" Bukan kata Hanan dodol!!!, memang itu aturan agamanya, lo pernah ngaji nggak sih?" Tabok Rayya pada pundak Vino.
" Modelan Vino ngaji??, pergi ngajipun bukan belajar dia mah, tapi ngumpetin sendal kawanya pasti nih..." Todong Denis.
" Loh kok lo tau Den??" Ucap Vino heran sambil menggaruk rambutnya, membuat semua tertawa.
Rangga memikirkan ucapan Vino ada benarnya. Ya, dia harus pandai-pandai menjaga diri.
" Ra, gue ada foto Rangga jaman SMP lo mau liat nggak?" Tanya Denis dengan segera duduk besila.
Ara dan Rangga mengubah posisi mereka menjadi tengkurap.
Ara menerima sebuah foto yang dikeluarkan Denis dari dompetnya, dan memberikannya pada Ara.
" Ih...MasyaAllah ganteng amat, ini beneran kamu kak?" tanyanya pada Rangga.
Dan Rangga hanya mengangguk.
Ara yang kepo dengan masa lalu Rangga langsung punya ide untuk mengorek nya dari mereka.
" Kak Rangga punya cewek nggak waktu SMP kak?" Tanyanya pada Denis.
Rangga membaringkan kepalanya dipundak Ara dan matanya mengkode Denis.
" Menurutmu?, cowok populer dan ganteng modelan Rangga apa mungkin nggak punya pacar?" Ucap Denis.
Raut wajah Ara berubah drastis. Rangga bilang nggak pernah ada cewek dan sekarang apa kata Denis?
" Pacarnya cantik kah?" Tanya Ara sedikit ingin menangis. Tanganya meremas bantal yang ada di depanya.
Rayya mencolek Vino dan pemuda itu hanya meletakkan telunjuknya di bibir.
Rangga mengigit bibir bawahnya keras agar tidak tertawa, matanya terpejam rapat. Ada bahagia yang luar biasa di hatinya, melihat istrinya cemburu pada hal yang sebenarnya tidak ada.
Mommy Tara dan daddy Hen membalikkan badan mereka demi menyembunyikan tawa yang seakan ingin meledak.
Keterlaluan Denis..
Membuat menantuku terlihat imut dan menggemaskan saat cemburu buta begitu...batin mommy Tara.
__ADS_1
Bersambung.....