
3 bulan kemudian.
Kenmore Apartment, Massachusetts. USA
Hoekk...hoek...
Rangga terus saja memuntahkan cairan kuning ke dalam wastafel, di toilet kampus.
Perutnya serasa diaduk-aduk saking mualnya. Elliot terus saja mengurut tengkuk Rangga dengan sabar.
" Kita perlu ke dokter bro, ini sudah tiga bulan kamu seperti ini.." Ucap Elliot yang prihatin melihat keadaan Rangga selama tiga bulan ini.
" No Elli. Ini tak seberapa... Setidaknya aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan istriku sekarang" Rangga membasuh wajahnya yang tampan dan menatapnya di kaca wastafel.
" Aku sangat respect dengan kalian. Sungguh bro, kalian benar-benar satu hati..."
" Aamiin.., apa kau tahu Ell?, aku akan menjadi daddy dari dua babby, Araku mengandung twins" Ucapnya lagi dengan membasuh wajahnya lagi dan lagi, berharap air yang mengalir bisa menyejukkan nya, mengurangi rasa mualnya.
" Wah...it's that good news. Aku akan jadi uncle dari twins" Teriak Elliot bahagia.
" Apa kau fikir hanya kau saja pamannya, aku juga lah..." Sahut Adam dari belakang mereka.
" Tapi masalah nya, kau itu masih belum jelas Ell, hilalmu belum nampak. Kau itu nantinya jadi unclenya twins atau jadi aunty nya. Sampai hari ini saja kau itu masih sama seperti "Si Nemo" Ikan badut yang berkelamin ganda?, kau ini man or woman? Who's know?" Kelakar Adam yang membuat tawa mereka menggelegar di toilet.
" Nih bro, ini obat pereda muntah. Minum sekarang bro, kita ada kuis tiga puluh menit lagi.." Lanjut Adam sembari mengulurkan sebotol obat pada Rangga.
Rangga mengamati botol itu dengan seksama.
" Aku dapatin itu dari seniorku yang mengalami couvade syndrome sepertimu.., cepat minum! Atau kau akan melewatkan lagi kuis dari mr. Stanley??" Seru Adam.
Tentu saja tidak!. Rangga segera meminum obat itu. Berharap mengurangi rasa mual yang terus mengaduk- aduk perutnya.
Kuis dari mr. Stanley harus bisa ia kerjakan dengan sempurna karena sangat membantu memperlancar kuliahnya di masa depan.
Tentu saja Rangga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Beruntungnya disaat seperti ini Rangga memiliki sahabat yang peduli padanya seperti Elliot dan Adam. Kalau tidak ada mereka entah apa jadinya Rangga sekarang ini.
...***...
Bu Sasti sedang bersama Jessica di ruang guru saat ini.
Rencananya Jessica akan mewakili sekolah dalam ajang Olimpiade Matematika di Jerman tahun depan.
Untuk itu Jessica mendapatkan bimbingan serius dari beliau, selama akhir tahun ini.
Drrtt...drrtt..drtt
Ponsel bu Sasti bergetar diatas meja, tanda ada panggilan masuk.
" Ya....Nella..." Sapanya hangat saat sebelumnya melirik siapa yang menelponnya di jam seperti sekarang ini.
" Hai Sasti, Assalammualaikum... Bagaimana keadaan putriku. Apa menurutmu Liliku masih bisa terus sekolah reguler, perutnya sudah mulai besar Sas, karena di dalamnya ada dua cucuku kan?" Tanya mama Neela to the point.
Bu Sasti tersenyum mendengar kecemasan mama Neela. Kedua pasang pasutri itu sangat menjaga baik calon cucu mereka. Bahkan terkesan sangat posesif dan over protective.
Daddy Hen bahkan berulangkali terlihat mengantarkan Ara ke sekolah bahkan sampai ke depan pintu kelasnya.
Begitu juga papa Syakieb yang rela harus ke Bandung demi mencarikan makanan yang sedang diinginkan putrinya tengah malam.
" Ara masih bisa pergi sekolah seperti biasa selama perutnya belum terlalu besar Nell, masih bisa disembunyikan dengan jaket, lagian kandungannya juga sehat. Putrimu itu tangguh seperti mu Nell, Rangga pasti bangga padanya"
Duaarrrr!!!!
Mata Jessica membola mendengar apa yang keluar dari bibir bu Sasti.
Ara mengandung???
Kak Rangga bangga??
Hah!!! Jadi???
Brengsek
Gue jungkir balik begadang berbulan-bulan lamanya demi bisa menyusul kak Rangga.
Tapi semua sia-sia begini???
Jessica meremat brosur yang ada ditanganya.
Rasa bencinya pada Ara semakin menumpuk. Air mata berderai di pipi nya tidak ia pedulikan lagi. Sakit hatinya tak sebanding dengan rasa bencinya.
__ADS_1
Selama berbulan ini dia berusaha mati-matian untuk bisa menyusul Rangga ke Amerika. Dan lihatlah sekarang!!
Tanpa usaha apa-apa Ara bahkan bisa membawa buah cinta dari Rangga di perutnya.
Giginya gemeretak menahan lahar panas yang ingin meledak dalam dadanya.
Dia mencintai Rangga. Rangga yang baik padanya. Rangga yang perhatian padanya. Rangga yang lembut padanya.
Selama ini tak ada yang memperlakukan nya selayaknya manusia selain Rangga.
Jessica tidak akan mau kehilangan Rangga. Gadis itu bersumpah akan mendapatkan Rangga bagaimanapun caranya.
Berbagai ide terlintas dalam benak Jessica saat ini.
Bibir tipisnya yang merah dan glossy tersenyum menyeringai saat ide jahat terlintas dalam otaknya.
" Tunggu saja kehancuran mu Ara, kau akan menangis darah karena ini..."
...***...
Kembali ke Kenmore Apartment, Massachusetts. USA.
Kuis telah selesai, dan seperti biasa Rangga mendapatkan nilai tertinggi.
Dengan ini tentu Rangga akan di kenali oleh Mr. Stanley. Dengan begitu akan mudah baginya dekat dengan beliau.
Tak kenal maka tak sayang.
Mr. Stanley adalah dosen terbaik saat ini, rekomendasi buku-bukunya akan diperlukan Rangga untuk bisa memangkas masa kuliahnya. Yang mungkin seharusnya lima tahun, bisa dipercepat menjadi sekitar empat tahun lebih.
Rangga tersenyum bahagia saat menatap foto USG yang dikirimkan mommynya beberapa saat lalu.
Rasanya masih seperti mimpi.
Memiliki anak?
Setiap memikirkannya saja Rangga akan terus menyunggingkan bibirnya.
" Kau akan sampai kapan tersenyum begitu bro!!" Seru Elliot sembari melemparkan bungkus coklat ke wajah Rangga.
Sementara Zeehan yang tak tau akar masalahnya hanya mendengarkan obrolan mereka dengan menekuni membaca bukunya.
" Heemmm, kalau bisa rasanya aku ingin lari pulang, sekedar memeluk dan mengelus twins di perutnya. Ya Allah, rasanya aku pingin nangis bro!!!, di sini sesak penuh rindu akan dia..." Keluh Rangga pada sahabatnya.
Adam dan Elliot menepuk punggung Rangga. Berusaha menguatkan sahabat mereka yang sedang terserang deman rindu ini.
Dikecupnya gambar twins dalam ponselnya.
Sebuah foto kembali masuk dari ponselnya, foto kiriman dari mommynya.
Dengan hati berbunga-bunga dan tangan yang bergetar karena bahagia. Rangga segera membuka foto itu dengan tergesa-gesa.
" Wah..." Ucap Elliot dan Adam saat keduanya melongok ikut melihat gambar di ponsel Rangga.
Rangga yang baru sadar keberadaan sahabatnya segera berdiri.
" Hai kalian berdua!!. Lupakan apa yang kalian lihat barusan!, atau kubuat mata kalian buta sekarang juga!!" Seru Rangga marah.
" Ya ampun bro! Iya, iya sorry!!. Kami juga cuma liat dikit kok" Sahut Elliot dan Adam bersama.
" Huh.., kebisaan nggak sopan!, kepo lihat bini orang"
Rangga yang geram karena bagian dari tubuh istrinya terlihat oleh sahabatnya begitu nggondok dan langsung berlari ke kamarnya.
Di keluarganya laptop dari tasnya dan membukanya.
Waktunya bertemu dengan istri tercinta, dan ditambah dengan mereka, twins tentunya.
" Hai Sayang, Assalamualaikum cinta?"
Sapaan yang indah, yang langsung melebur rasa rindu diantara keduanya.
...***...
" Le..., aku pengen makan mie yang seperti kau buat waktu itu" Rengek Ara saat mereka berada di panti Asuhan Casablanca.
" Mie lagi?, kau ini akhir-akhir ini doyan makan banget Ra!, lihat saja pipimu itu! Mirip ikan Gappu tau.."
__ADS_1
" Kamu nggak mau masakin?, ya sudah jangan jadi teman baikku lagi" Ancam Ara.
" Ckk.. Kau ini!" Lenox segera menuju dapur panti dan memasak untuk Ara.
Begitulah nasib Lenox dan Janu beberapa bulan ini.
Mereka jadi sasaran bulan-bulanan Ara untuk memenuhi rasa ngidamnya.
Sementara keduanya menurut saja.
Beda dengan Janu yang memang tahu bahwa Ara sedang ngidam.
Disini Lenox jadi korban yang tak tau alasanya menjadi babu dari Ara saat ini, yang dia tahu Ara sedang depresi karena rindu dengan Rangga dan mengalihkan rasa itu dengan terus makan dan makan.
Duh!!, betapa kasihanya nasib Lenox saat ini.
" Kak Araa....."
Teriak seorang gadis muda, sekitaran kelas 3 SMP mengejutkan Ara yang sedang mengelap liurnya demi menunggu mie yang sedang dimasak Lenox matang.
Lenox dan Ara sama-sama menoleh ke pintu masuk dapur.
Gadis imut, cantik, putih dengan mata yang bersinar-bersinar bediri dengan senyumnya yang lebar.
" Phrameswari Mutiara Kalani?"
Ara memastikan penglihatan nya. Gadis ini adalah salah satu adik asuhnya di panti ini. Dan beberapa bulan yang lalu harus berangkat ke Korea Selatan untuk pertukaran pelajar.
" Iya kak ini Wari..." Ucap gadis itu dengan berlari memeluk Ara dengan sayang.
Tampilannya yang lucu dengan baju bergambar crayon Shinchan sungguh membuat siapa saja ingin tertawa melihatnya.
Sementara Lenox cekikikan menahan senyumnya.
" Gadis unik, adik si Shincan, Himawari ha..ha..ha.." Gumam Lenox dengan tawanya.
Matanya kembali melirik gadis imut dengan dua kuncir di atas kepalanya.
" Ya Tuhan imutnya Himawari ini..." Desisnya lagi.
Entah kenapa mata Lenox tak berhenti menatap keimutan gadis yang sedang mengobrol dengan Ara di depanya itu.
Sesekali senyumnya mengembang mendapati kelucuan gaya bicara Wari.
" Wari apa kamu dapat yang kakak minta?" Tanya Ara.
" Tentu saja dapat nih..." Wari membuka tas kecilnya yang berbentuk kepala kucing itu.
"Tuh kak, banyak semua ada..." Wari mengeluarkan setumpuk foto di atas meja.
" Nah ini kak, spesial yang kakak minta Cha Eunwoo..."
" Yeyyy, Akkhhh asyikkk...." Teriak Ara histeris, ditambah dengan jari telunjuk di bibirnya sambil melirik Lenox.
Lenox mengulurkan tangannya mengambil satu foto itu dan dibukanya.
" Ckkk...cewek di mana-mana sama saja, sukanya sama yang nggak sunat!!. Apa asyiknya cowok suka joget macam mereka!" Ketusnya geram.
Di rematnya satu foto bergambar Kim Taehyung member BTS atau yang biasa dikenal dengan V BTS.
" Lenox apaan sih..." Ara menjewer kuping Lenox saat tahu apa yang diperbuat Lenox dengan satu foto idolanya.
Tanpa di duga-duga Wari mencekal tangan Ara.
" Kak, jangan jahat begitu. Kan sakit di jewer begini.." Ucap Wari dan dengan reflek gadis itu meniup-niup telinga Lenox.
Tak tahukah Wari saat ini jantung Lenox seolah ingin melompat keluar.
Ara tersenyum manis melihat Lenox yang mematung dengan kunyahan dimulutnya yang berhenti seketika, karena keterkejutannya dengan sikap Wari.
Oke Lenox, hilal jodohmu sudah nampak.
Alhamdulillah, ya Allah. Jika memang mereka berjodoh dekatkanlah wahai Allah.
Doa Ara dalam hati. Tak ada dendam dihatinya untuk perlakuan Lenox padanya dahulu. Yang ada hanya rasa syukur yang teramat pada Allah, yang telah mengabulkan do'a nya.
Mengembalikan Lenox ke jalan yang benar.
Karena Alhamdulillah, beberapa bulan ini Lenox terlihat sering ikut Ara berpuasa sunah. Dan juga beberapa kali Ara melihatnya pergi ke mushola sekolah untuk ikut sholat dzuhur berjamaah.
__ADS_1