
Adnan masih duduk bersandar di sofa saat Hana keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Sepertinya Hana tidak menyadari kehadirannya.
Karena tadi Hana diantar dulu ke kamar, karena sudah sangat kelelahan. Dan Adnan baru saja masuk.
Hana melepas jubah mandinya begitu saja, dan hanya menyisakan dalaman berwarna hitam yg melekat di tubuhnya.
Adnan menatap istri kecilnya itu dalam diam. Adnan begitu terpaku melihat keindahan yang tersaji dihadapannya. Jakunnya naik turun menahan sesuatu.
Kulit punggung Hana yg putih bersih, dan rambut panjang yang masih basah membuat Adnan tak kuasa mengalihkan perhatiannya. Adnan berasa terhipnotis oleh pesona Hana.
Hana kini duduk di meja rias, tangannya mengambil hairdryer, tapi saat Hana menunduk untuk mencari saklar, tangan kekar mengambil alih hairdryer nya.
" Biar abang saja sayangku...." Ucap Adnan lembut.
" Sejak kapan abang masuk?" Tanya Hana kaget.
" Sejak kamu mandi sayangku..." Jawab Adnan sambil tanganya membantu mengerikan rambut basah Hana.
Wajah Hana bersemu merah mengingat dia melepas jubah mandinya begitu saja, terlihat gadis itu kikuk dan canggung.
Adnan tersenyum melihat reaksi Hana yg menggemaskan.
Tatapan mereka beradu lewat cermin rias dihadapan mereka.
Wangi rambut Hana yang harum, menusuk indera penciuman Adnan. Wanginya membuat Adnan meremang. Kepala nya menunduk lebih dalam dan mendarat pada pucuk kepala Hana.
" Rambutmu sangat wangi sayangku..." Bisik Adnan ditelinga Hana.
Membuat gadis itu memejamkan matanya. Hana tak dapat berkata-kata, lidahnya kelu, dadanya bergetar hebat.
Adnan kini meraih sisir dan menyisir dengan lembut rambut istrinya itu.
Disisirnya dengan berhati-hati, seolah-olah takut membuat kulit kepala Hana terluka.
" Nah...sudah cantik, abang mandi dulu ya..." Adnan membelai rambut yg telah tersisir rapi itu, menatap lekat mata Hana lewat cermin.
Hana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Cup..
Kecupan singkat dipucuk kepala Hana diberikan Adnan sambil tanganya meraih jubah mandi di sisi ranjang.
Dengan berlari kecil Adnan menuju kamar mandi.
Hana melihat ranjang yg penuh dengan taburan kelompok mawar membuatnya merinding dan cemas.
Gadis itu duduk di sisi ranjang menunggu Adnan sambil membuka ponselnya, beberapa pesan dari genk somplak membuatnya tertawa cekikikan.
Natasha:
Han, persiapkan diri lo...jangan lupa minum jamunya ya..πππ
Kak Rayya:
Han, bilang sama bang Adnan untuk pelan-pelan takutnya besok lo gemporππ
Vera:
Han bikin siaran langsung napa, buat edukasi buat kita-kita.
Kak Vino:
Ya elah Ver, yang begituan gak perlu pake edu segala, merem juga bisa.
Vera:
Merem???, emang gak salah masuk ntar? π€£π€£π€£
Kak Vino:
Heh Vera!!π π π
Ara:
Masuk kemana???, apanya?π€π€
Kak Rayya:
Ya ampun !!!, miss sholehah kitaπ€¦ββοΈπ€¦ββοΈπ€¦ββοΈ
Rangga bini lo nih...
Kak Denis:
Cius lo gak tau Ra???, Ga!!!, mana nih Rangga...
Vera:
Ara??? Lo serius nggak tau masuk kemana???π΅π΅
Kak Vino:
Vera!!!π€¬π€¬π€¬
__ADS_1
Vera:
Apa sih kak Vino gak seru ah!!!
Natasha:
Ya ampun Araπππ
Kak Rangga:
Apa???π§
Ara:
Apaan sih???π€π€π€
Kak Denis:
Cewek lo nggak tau MP masukin apa dan kemana tuh!!
Rangga:
Emang apaan yg dimasukin???π€π€
Kak Denis:
π₯΄π₯΄π₯΄π₯΄π₯΄π₯΄
Kak Rayya:
ππππππ
Saat Hana masih cekikikan tertawa melihat chatingan teman-temanya, ponsel Hana segera diserobot Adnan yg kini duduk dihadapanya. Adnan meletakkan ponsel Hana di nakas saat sebelumnya dia mematikan dayanya.
Adnan kini hanya mengenakan handuk sebatas pinggang kebawah, dengan dada yg terbuka sempurna.
Hana mendadak merinding dan panas dingin.
Mata mereka saling menatap dalam diam.
Tatapan mata Adnan bergeser pada bibir Hana yg kini digigit oleh Hana demi mengurangi rasa gugupnya.
" Jangan digigitin sayang..."
Jari jempol Adnan mengusap bibir merah itu.
Jatung Hana seolah melompat-lompat ingin keluar.
Mata elang Adnan tak lepas menatap bibir Hana, perlahan kepala Adnan maju dan semakin maju.
Hana memejamkan mata dan menahan nafas nya.
Adnan tersenyum melihat sikap Hana.
Tuk!!!
"Awww...sakit..."
Adnan menyentil kening Hana dengan gemas.
" Kenapa kaku begitu, kamu takut sama abang...?" Tanya Adnan dengan masih tersenyum.
" Nggak tuh..." Jawaban Hana tak sesuai dengan raut wajahnya yang terlihat sedikit takut.
Adnan kembali tersenyum gemas.
" Jadi mau sekarang atau besok?"
"Apanya " Tanya Hana.
Adnan mendekatkan wajahnya ke wajah Hana.
" MP sayangku..." Bisiknya lirih di telinga Hana.
Blush!!!
Hana meraih bantal dan menutup mukanya.
Adnan mmenggeleng kan kepalanya gemas.
Diraihnya bantal itu dan dilemparkan ke sembarang.
Kedua tanganya meraih ke kedua sisi pipi Hana.
Dengan perlahan Adnan mendekatkan wajahnya.
Kecupan lembut mendarat di bibir Hana.
Kecupan yg awalnya lembut berubah menjadi lebih menuntut dan menggebu-gebu. Bahkan kini tubuh Hana sudah berada dalam kungkungan tubuh besar Adnan.
******* dan erangan menggema memenuhi ruangan.
Tubuh Hana yang putih dan berisi membuat Adnan semakin gelap mata.
" Siap sayang..." Bisik Adnan dengan suara serak menahan segala hasrat nya.
__ADS_1
Hana mengangguk pelan, dia berusaha menjadi istri yang baik seperti yg dipesan oleh bundanya.
Dengan segera Adnan melucuti kain yng membungkus tubuh Hana dengan tergesa-gesa.
Malam ini menjadi malam bersejarah bagi Adnan dan Hana, dimana mereka telah saling memberi dan saling merima.
Dimana setiap yang mereka lakukan terhadap pasangan nya bernilai ibadah.
Rasa bahagia dirasa oleh keduanya, dimana Hana mempersembahkan mahkotanya pada Adnan, dan Adnan pun bisa menjaga diri seutuhnya untuk Hana.
*****
Sementara itu dikamar pengantin sebelah.
Marvel duduk di tepi ranjang yg indah hasil karya Natasha cs.
Dia menunggu Dian yg masuk kamar mandi beberapa saat lalu.
Kepalanya mendadak pening, kelopak matanya terasa sangat berat.
" Aduduh...jangan ngantuk sekarang dong pleaseee mata gue...." Marvel mengucek matanya yang semakin berat.
" Sial!!!, gue butuh kopi nih....shiit!!!, masa mau unboxing ngantuk begini sih sial!!!!" Umpat Marvel menjadi-jadi saat rasa kantuk menyerangnya dengan hebat.
Marvel melepaskan kemejanya dan kaosnya juga, kini dia bertelanjang dada.
Marvel melakukan gerakan - gerakan pus up untuk mengusir sedikit kantuknya.
" Hoamm..." Lagi-lagi Marvel menguap.
" Dian kenapa lama banget ih...." Umpat Marvel kesal.
Pemuda beristri itu segera melangkahkan kaki menuju ranjangnya.
"Ah tidur sebesar ngga papa kan ya..., Dian juga belum keluar..".
Marvel membaringkan tubuhnya dengan nyaman berharap bisa merilekskan tubuhnya guna persiapan ritualnya dengan Dian.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, Dian keluar dengan handuk menutup dadanya sampai ke lutut. Sedangkan handuk kecil melingkar diatas kepala nya.
Sampai disamping ranjang Dian mendapati Marvel yg tidur dengan dengkuran yg halus.
Dian tersenyum geli melihatnya.
Lihatlah dia, gayanya saja yg luar biasa, sedari tadi menekankan aku untuk bersiap, bahkan apa dia bilang tadi? semalam suntuk akan membuatku terbang melayang.
Bahkan dia terbang sendiri tanpa mengajakku.
Dian meraih piyama tidurnya dan segera mengenakannya. Perlahan Dian naik di sisi ranjang sebelah Marvel.
Di belainya rambut panjang suaminya dengan sayang. Dengan perlahan-lahan Dian mengecupi kening, kedua mata, hidung dan bibir Marvel yg nampak pulas itu
" Good Night hubby..." Bisiknya di telinga Marvel.
****
" Ahhhhh!!!!, Dian kenapa tidak bangunin aku!!!" Teriak Marvel saat matahari masuk dari sela-sela tirai hotel.
" Iya ini juga dibangunin..." Jawab Dian santai karena sesaat lalu dia menepuk lengan Marvel untuk bangun.
"Ya Tuhan.., nasib MP gue..." Ucap Marvel lemas. Kedua telapak tangannya mengusap kasar wajahnya.
" Ya ampun kamu ini.." Tepukan gemas dari Dian bersarang di punggung yang bertato, mendengar keluhan suaminya.
" Sekarang aja yuk wife..." Marvel menarik Dian hingga terjatuh di pangkuan nya. Bibirnya mengecupi leher Dian yg terbuka, karena rambut Dian yang dicepol tinggi.
Gigitan-gigitan gemas bersarang disana.
Dian terkekeh geli.
Sementara Marvel semakin menjadi-jadi, di rebahakanya Dian di ranjang dengan hati-hati. Sementara dia merangkak menaiki tubuh Dian.
Kepalanya menunduk menyambar bibir mungil Dian yg kini menjadi candunya.
Tanganya dengan cepat membuka kancing baju Dian, tapi....
Tok..tok..tok...
" Bro!!, kakek nungguin kita buat sarapan bersama..." Teriak Brian dari balik pintu.
" Akhhh..." Teriak Marvel frustasi, karena harus gagal lagi.
Marvel menatap Dian dibawahnya dengan sendu.
" Maaf sayang..., kita melewatkan malam bersejarah kita..." ******* penyesalan Marvel membuat Dian iba.
" Nggak papa hubby ada hari lain"
" Ah ya, berarti kita bisa melakukannya di Namsan Tower kan..." Lanjut Marvel.
Senyum terbit dari bibir Dian saat mengingat bahwa kakek memberikan mereka hadiah honeymoon ke Korea.
__ADS_1