
---Happy Reading---
"Halo? Ya? Bagaimana keadaan disana?"
"Benarkah? Wah, selamat untuknya, aku masih tidak bisa datang kesana karena musuh masih bersembunyi dan aku dan kakek mesti berjaga jaga dan berhati hati.."
"Kakek mika? Dia masih dirawat, lukanya cukup parah. Jika tau begini aku tidak akan pulang membiarkannya tinggal dimansion sebesar itu sendirian."
"Ya, sedikit menyesal namun tidak semuanya karena aku pulangpun bersama gadisku. Haha, apa kau bertemu dengan crushmu? Oh benarkah siapa itu?"
Tok! Tok! Tok!
"Sudah dulu ya, ada yang datang. Ya, ucapkan salamku untuknya dan bilang aku sangat merindukannya. Dan satu lagi, jangan pernah menceritakan waktu ia dekat dengan seorang pria dan membuatku cemburu sampai tidak bisa mengurusi diri-- Apa?! Kau mengatakannya VAL! Kau benar benar.." tut. sambungannya ditutup secara sepihak, adam. Ia menghela nafas setelah itu mendengus, lalu berteriak dari dalam tanpa melihat pintu.
"Masuk!"
"Selamat siang sir, ini data data yang tuan minta tadi pagi." ujar wanita itu dengan pelan karena ia sedikit gugup karena hawa adam yang dingin dan wajah yang tampan itu. "Ya, taruh saja disitu."
"Apa anda, membutuhkan sesuatu?" tanya wanita itu yang adalah sekertarisnya selama sebulan ini, adam mendongak menatap wanita itu dengan serius. "Kau ingin menggodaku, yang kubutuhkan adalah keluar dari gedung ini dan cari pria untuk jadi sekertaris pria disini. Silahkan keluar."
"Tuan apa anda bercanda? Saya tidak dipecatkan hanya karena bertanya sesuatu untuk anda?"
"Kau ingin saya pecat kamu?" wanita itu menggeleng keras. "Tentu saja tidak!" adam mengangguk, "ya sudah keluar dari ruanganku sekarang, karena aku muak dengan aroma parfummu didalam ruanganku ini."
Wanita itu menunduk karena malu diketahui oleh atasannya saat ia menyemprotkan parfurmnya berkali kali ketubuhnya. "Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, dan maaf."
Baru saja wanita itu ingin membuka pintu ruangannya dan berhenti karena perintah atasannya. "Lebih baik kau memakai parfurm pria saja jika ingin masuk ruangan saya."
"Baik tuan, saya permisi."
Sepeninggal wanita itu adam langsung fokus kepada data data yang dibawa wanita tadi dan mengeceknya, sembari mengecek ia menarik dasinya sedikit kebawah karena gerah entah ia merasa ingin meledak saja melihat data data yang tidak sama seperti permintaannya.
__ADS_1
Adam keluar dari ruangannya dan melangah kearah meja sekertarisnya yang saat ini sibuk dengan kaca riasnya, dengan amarah ia membanting data itu membuat semua orang dilantai yang sama dengannya berhenti bekerja.
BRAK!
"Apa kau memang tidak berminat bekerja diperusahaan saya?!" bentaknya membuat sekertarisnya langsung berdiri dan menunduk karena takut. "Siapa yang membuat data keuangan bulan ini?"
"Saya pak," ujar sekertarisnya dengan pelan. "Keluar kamu dari perusahaan saya, kau tidak dibutuhkan karena pekerjaanmu selama ini hanya merias dan merias, saya tidak terima bawahan yang tidak berguna sepertimu ini. Silahkan pergi dan jangan datang kembali keperusahaan ini."
Ujar adam dan langsung melirik kesekitar pegawai pegawainya. "Jika kalian tidak bekerja dengan benar, kalian akan ditendang seperti dia!" bentaknya sambil menunjuk sekertarisnya yang masih menunduk dan menangis.
"Lemah." gumamnya dan berbalik badan tak lama mendengar ringtone hapenya dan melihat nama siapa dilayar itu, ia pun tersenyum merasa gadisnya menelpon diwaktu yang tepat.
"Halo, sayang? Ada apa?" sapa adam sembari masuk kembali kedalam ruangannya tanpa mengindahkan tatapan penasaran bawahannya yang kaget melihat dan mendengar suara adam yang lembut untuk seseorang disana.
"Maaf aku tidak bisa datang keacaramu karena disini masih zona berbahay untukku keluar dari negera iini."
"Tidak apa apa, hanya saja aku ingin meminta maaf kepadamu karena dulu aku pernah menyakitimu lewat aku yang selalu dekat dengan seorang pria walaupun saat itu aku tidak mengingat sosokmu. Namun aku merasa sosok itu sangat tak asing didalam benakku, jadi maafkan aku."
"Tidak, itu bukan salahmu, itu memang takdirku merasakan hal seperti itu dulu. Dan juga itu masa lalu, sekarang juga aku sudah tau bahwa kalian berdua tidak ada hubungan apapun selain sahabat."
"Me too, darling. Tunggu aku ya setahun delapan bulan lagi. Oh iya, aku tutup terlebih dahulu disini banyak yang harus ku tanda tangani dan dikoreksi lagi."
"Ya, selamat bekerja sayang, jangan lupa untuk mengisi perutmu. Love you."
"Love you too, babe." tut. Sambungan pun terputus karena gadisnya terlebih dahulu mematikan sambungan itu.
Diluar gedung, luna sedang berdiri dilobby depan menunggu Val mengeluarkan mobilnya kemudian luna mendengar suara langkah disampingnya yang ia tau adalah karel, sahabatnya. Ia berdiam diri, seakan tidak tau bahwa karel disampingnya karena mulai sekarang ia ingin menjaga jarak dari karel jika bisa.
"Mengapa kau tidak menyapaku disaat kau tau bahwa diriku sedari tadi disampingmu, lun? Apa kau menghindar dariku?" tanya karel membuat luna menoleh menatapnya dalam diam. Aluna menghela nafas lalu menatap mata karel dalam, "kau, apa kau masih menyukaiku seperti dulu?" tanya tiba tiba aluna membuat karel mengernyit, walaupun begitu ia tetap menganggukkan kepalanya.
"Ya, sampai sekarang perasaan itu tetap sama."
__ADS_1
Aluna mengangguk, "kalau begitu, lebih baik kita berjaga jarak saja."
"Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Apa karena dia, kamu seperti ini." tanya karel yang merasa tidak adil untuknya. "Kamu tuh gak ngerti karel, sekarang aku hanya menganggapmu sebagai sahabat gak lebih dari itu. Aku pengen kamu menganggapku sebagai sahabat juga, aku gak mau hubungan kita kandas hanya karena perasaan aku lebih suka sama hubungan persahabatan bukan hubungan status."
"Kau lucu luna, kau dulu juga mencintaiku bukan? Lalu apa maksudnya ini? Kau mengatakan bahwa aku harus pergi jauh darimu?" aluna mengangguk. "Iya, kamu harus pergi jauh dariku jika kamu masih memiliki perasaan suka maupun cinta terhadapku."
"Kamu tau aku cinta banget sama kamu lun! Tapi kenapa kamu malah nyuruh aku pergi?" bentak karel dengan mata memerah seperti ingin menangis kemudian kedua tangannya mencengkram kedua bahu luna dengan kencang, aluna saat ini juga sudah menangis dihadapan karel karena bentakkan dan cengkraman tangan karel dibahunya.
"Aku memang dulu pernah menyukaimu tapi apa? Disaat aku suka kamu malah jual mahal dan bilang kesemua orang kalau kamu sama aku gak akan pernah lebih dari seorang teman, dari situ aku tersadar bahwa aku gak pernah dihati kamu dan kamu hanya mengingatkanku dengan seseorang yang aku lupakan dalam ingatanku."
"Maka dari situ aku sudah menghapus dan mengikhlaskan perasaan itu sampai suatu hari kamu jujur ke aku kalau kamu suka sama aku, kamu rindu, kamu ingin melihat aku mengikutimu terus menerus. Dan maka dari itu aku lebih baik mengajakmu sebagai sahabatku tidak lebih dari itu." tutur luna dengan sangat tulus. Sampai membuat kedua tangan karel melonggar dan melepaskan bahu luna.
"Jadi aku terlambat, sejak dulu aku gak pernah bertahan didalam kamu ya lun?" tanya karel dengan suara lirih, luna menggelengkan kepala pelan lalu ia melihat kearah belakang punggung karel mobil val sudah sampai. Val yang melihat mata luna memerah langsung segera keluar dari mobil dan mendorong tubuh karel lalu menarik lengan luna dengan lembut.
"Ayo kita pulang." ajak val namun terhenti saat pergelangan tangan luna satu lagi ditahan oleh karel. "Maaf dan terima kasih luna, mulai saat ini aku akan berjaga jarak seperti yang kamu mau. Aku melepaskanmu mulai saat ini." ujarnya lalu perlahan melepaskan cekalannya dan membiarkan luna dibawa pulang oleh val sepupu adam, tunangan aluna, gadis yang ia cintai.
Sesampai dirumah, val tidak mampir karena sudah malam dan ia lelah seharian berdiri lamanya walaupun ada duduknya juga cuma itu hanya sebentar.
"Tidak masuk terlebih dahulu?" val menggeleng pelan didalam mobil, "sudah malam, tidak enak jika berkunjung salam saja buat mama papa mu." luna mengangguk senyum manis. "Baiklah, hati hati dijalan. Jangan tertidur."
"Apa begini caramu saat adam pamit pulang?" luna menggeleng, "tidak, jika adam yang pulang aku akan memeluknya dan menahannya sebentar. Masa iya aku harus memperlakukan dirimu seperti adam." val tertawa mendengar ucapan gadis didepannya. "Yasudah, masuk gih.. Dan tunggu ada selama dua tahun kedepan ya."
"Iya, tidak perlu diperingatkan aku juga ingat, dah~, makasih untuk hari ini." ujar luna lalu ia masuk kedalam rumah meninggalkan val yang masih menatap punggung luna, kemudian ia menutup jendela mobilnya lalu ia melirih kaca spionnya yang melihat ada satu mobil dibelakangnya yang sedari tadi mengikutinya.
"Rajin sekali mereka mengikutiku sampai kesini, apa kerjaan mereka hanya menguntit kehidupan orang lain?" gumam val kemudian ia langsung pergi dari wilayah komplek rumah aluna dan melihat mobil dibelakangnya yang masih mengikutinya.
Setelah lamanya ia mengalihkan mereka akhirnya val bisa balik kerumahnya dengan selamat sampai dirumahnya ia langsung membersihkan tubuhnya yang merasa gerah dan ingin cepat berendam air dingin miliknya. "Karena mereka yang tidak ada kerjaan itu membuatku harus berendam air dingin agar tidak meledak ditengah jalan dan membahayakan dirinya juga nantinya.
---Bersambung---
__ADS_1
terima kasih sudah membaca.
Sampai jumpa.