
Hana mengekori suaminya kemanapun pria muda itu melangkah. Adnan tersenyum kecil melihat tingkah laku istri kecilnya ini.
" Kenapa ngintilin abang terus, nggak mau ditinggal ya?" Tanya Adnan dengan berbalik badan menatap istrinya yg ada dibelakangnya. Tangannya sibuk membereskan berkas- berkas yang terserak di meja kerjanya. Senyuman indahnya terukir dari bibirnya yg merah. Saat Hana berdiri di sampingnya dengan kedua tangan Hana erat memegangi lengan kelarnya.
" Mau ikut...?" Tanyanya dengan mengulum senyum.
Hana mengangguk mengiyakan, tapi juga menggeleng. Membuat Adnan menutup bibirnya, mau tertawa kok nggak pada tempatnya, istrinya ini lagi melow.
Melihat wajah istrinya yang cemberut membuatnya gemas.
Adnan menghembuskan nafasnya berat. Mendudukkan badanya ke sofa kamar dan membaringkan kepalanya pada sandaran sofa.
Tanganya menarik Hana untuk duduk dipangkuan nya.
"Paling lama satu minggu tapi tidak tau pastinya juga, ini proyek kerjasama pertama abang dengan perusahaan teman abang, abang berharap bisa menyelesaikan nya cepat dan segera pulang..."
Hana mengangguk berat, baru menikah seminggu sudah harus ditinggal dinas.
Hubungan masih hangat-hangatnya sudah harus merana.
" Abang titip Lili ya....." Ucap Adnan pelan, sambil menatap mata Hana.
Hana mengangguk dengan mata menatap pada mata suaminya juga.
Bahkan dari dia kecil, Hana sangat tau bagaimana proteksi panglima Syakieb ini pada adiknya.
" Nanti malam abang berangkat sama Gama, kamu dan Lili nggak perlu mengantar..."
" Kenapa..?" Tanya Hana dengan raut wajah yang sedih.
"Abang nggak bisa liat kamu sedih sayangku, abang juga kebetulan ada meeting dulu di kantor Gama, dan langsung ke bandara..."
Adnan menatap langit-langit kamarnya, tanganya membelai rambut Hana yg berbaring di pangkuan nya.
Ada rasa berat meninggal kan istri tercintanya dan adik permata hatinya.
***
Seminggu berlalu tanpa sehari pun Rangga tak menelpon Ara. Dalam keadaan malam yg dingin dan menggigitpun Rangga menyempatkan diri keluar apartemen nya dan menuju telpon umum yg lumayan jauh.
Seperti malam ini, salju turun lumayan deras, tapi langkah kaki Rangga tak gentar menuju telepon umum terdekat.
[ Assalamu'alaikum...] suara yang selalu membuat mood booster nya kembali ngecargh meresap ke dalam indera pendengarannya.
[ Waalaikumsalam sayang...] suara mengigil Rangga terdengar oleh telinga Ara.
[ Kenapa memaksakan diri kak..., nggak perlu seperti ini...]ucap Ara sedih mendengar suara Rangga yang terdengar bergetar menggigil kedinginan.
[ Nggak papa demi cinta abang rela...ha..ha ..] suara tawanya tak mampu menyembunyikan getaran suara yang ditimbulkan oleh rasa dingin yg luar biasa.
Bahkan suara tawa itupun tak mengurangi kesedihan hati Ara yg mendengar nya.
Air mata leleh ke pipinya.
[ Ayangku...., Mas Agaku..., kak Rangganya Lili...please, Lili mohon...istirahatlah yang baik disana...]
Rangga terdiam membisu, dalam hawa dingin yang luar biasa, hatinya menghangat seketika.., sangat hangat, sampai-sampai membuatnya ingin menari-nari seperti orang gila.
__ADS_1
[Besok nggak usah telpon Lili kak, Lili tau kakak sayang Lili.., Lilipun sama, tapi kakak juga harus jaga kesehatan, demi Lili juga..]
Rangga dapat menangkap suara isakan Ara.
[ Jangan menangis sayang .....]
[ Mangkanya kakak nurut Lili...]
[ Iya..., baiklah kakak nurut.., kalo kata Dilan rindu itu berat memang benar...] Rangga menghela nafasnya berat.
[ Sekarang kakak pulang.., istirahat lah yg benar, dapatkan emas untuk Lili...Besok nggak usah telpon Lili...Lufyu mas Aga..Assalamu'alaikum...]
Hati Rangga bagai tersirami cahaya surgawi.
Berhari-hari dia meratapi dengan apa yang terjadi, membuatnya tak enak makan, tak enak tidur, bahkan fokusnya pada Olimpiade pun sedikit oleng.
Tapi hari ini, detik ini..semangat itu datang lagi.
Siapa yang bilang pacaran itu mengganggu belajar???
Buktinya tidak.
Dengan punya pacar juga bisa memberikan motivasi untuk ke arah yang lebih baik.
Ingin mendapatkan dan menunjukkan pada pasangannya bahwa aku mampu dan bisa diandalkan.
Rangga mengangguk berulang-ulang, seolah-olah mencari pembenaran dengan argumennya.
Kini kakinya tegak melangkah dengan mantap.
Ya saatnya dia menunjukan siapa dirinya.
Rangga melangkah dengan segenap kepercayaan diri yang luar biasa. Dan semua itu karena Lailia Nafeesa Anara.
Cinta masa kecilnya..., cinta masa yg akan datang, dan cinta untuk selamanya.
Ara yg malu karena ungkapan cintanya, segera menutup telponnya segera.
Wajahnya memerah bagai tomat matang yg siap petik.
Jatungnya maraton luar biasa. Kedua mata indahnya berkaca-kaca saking berdebarnya.
Akal sehatnya meminta untuk tidak mempercayai Rangga, mengingat fotonya dengan Jessica.
Nalarnya meminta untuk percaya pada Jessica mengingat tidak akan mungkin Jessica berbohong dengan semua itu, bahkan gadis itu rela mempertaruhkan dirinya sendiri untuk dikeluarkan dari sekolah dengan menyebar berita kehamilannya dan diketahui seluruh warga SMU Bhakti.
Tapi perasaan tak bisa dibohongi, Ara memegang tinggi rasa kepercayaannya kepada Rangga.
Walaupun hatinya ingin membenci, tapi lagi-lagi cinta datang mendominasi.
Walaupun rasa sakit setengah mati, tetapi rasa rindu menyesakkan hati.
Berhari-hari Ara bermunajat disepertiga malamnya, mencari petunjuk untuk ketetapan hatinya. Dan lagi-lagi rasa itu masih ada, rasanya tetap berpusat pada Rangga.
Demikian pun Rangga, disetiap sujudnya pemuda itu selalu memohon agar ditunjukkan titik terang dan segera dibukakan kebenaran atas fitnah yang yang terjadi padanya.
***
Pagi yang cerah mengawali hari ini, Bi Marni dan Hana sibuk mempersiapkan sarapan.
__ADS_1
Brian terlihat sedang memangku Bianca sambil menyuapinya susu.
Semenjak kepergian Ardi nafsu makan Bianca sungguh buruk. Hanya makan nasi sesuap dua suap saja.
Menghisap susu botol saja malas dan tak pernah habis, jadi Brian berinisiatif untuk menyuapinya menggunakan sendok.
" Brothy...." Panggil Azura lembut yang beberapa saat lalu mendekati nya.
" Ya Azura...." Brian menoleh pada wajah tertunduk dan tertutup cadar itu.
" Nanti malam nggak perlu jemput Azura ke Perpus, soalnya Zura off hari ini " Kata Azura dengan masih menunduk.
" Jadi dijemput disekolah?" Tanya Brian.
" Tidak, Zura langsung pulang ke kontrakan saja, mau bersihin rumah, udah lama nggak di bersihin..." Jawab Azura masih menunduk.
" Hemmm.." Brian pun ikut mengangguk saja.
Azura mengambil Bianca dari pangkuan Brian untuk dimandikanya.
Brian menatap punggung gadis yg usianya sama dengan Ara itu berlalu dari hadapannya dengan tatapan yg dalam.
Ada rasa ingin melindungi gadis ini.
Ada rasa ingin memiliki gadis ini.
Ada rasa ingin mempertaruhkan semua yg ada di bumi ini untuk gadis ini.
Tapi..
Siapakah Brian ini?
Brian yg terlihat ramah dan friendly menyimpan sejuta misteri.
Brian yg terlihat lebih lembut dari Marvel apakah memang seperti itu?
" Nah pagi-pagi ngelamun...." Tepukan pada pundaknya membuat fikiran nya yg melayang tinggi kembali ke bumi.
" Brothy..., tolong Lili..." Ucapnya sambil menyodorkan dasi pada tangan Brian.
" Masih belum bisa pasang juga...?" Tanya Brian heran, tapi tanganya dengan lincah mengalungkan dasi dan memasang kan pada leher Ara.
Ara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum imut.
" Harus belajar dong princess, masa nanti Rangga mau pasang dasi aja minta sama sekertaris nya sih..." Sindir Brian membuat pipi putih Ara kini berubah menjadi merah merona.
Brian gemas dan mencubitnya. Bahkan bukan hanya di cubit tapi diuyel-uyelnya hingga membuat Ara berteriak-teriak marah. Azura yang baru keluar dari kamar bersama Bianca pun terkikik dengan tawanya.
Hana hanya menggelengkan kepala melihat drama ini tiap pagi. Dimana Brian selalu menggoda Ara bahkan sampai Ara menangis baru dia berhenti.
Dan sekutu utama Ara adalah Bianca, gadis kecil itu akan selalu membela Ara dengan menyerang Brian dengan tepukan kecilnya, yang tidak berasa apa-apa pada tubuhnya.
Seperti saat ini, saat melihat Ara memukuli Brian dengan marah, Bianca segera merosot dari gendongan Azura dan berlari ikut memukuli kaki Brian yang panjang.
Sedangkan Brian hanya tertawa dengan amukan Ara dan pijatan kecil Bianca di kakinya.
Bersambung.....
Terimakasih like nya😍😍😍
__ADS_1